BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (11/06/2026) – Artikel berjudul “Membersamai Khaulah: Menjaga Interaksi dengan Al-Qur’an dan Sang Pencipta” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan yang tidak hanya mengajarkan tentang hafalan, tetapi juga tentang kesabaran, ketekunan, dan makna sebuah pendampingan. Di balik setiap ayat yang berhasil dihafalkan, terdapat proses panjang yang penuh dengan dinamika, perjuangan, dan pembelajaran bagi seluruh anggota keluarga.
Perjalanan Khaulah Adzkia Samha El Aliya dimulai ketika usianya baru empat tahun delapan bulan. Saat itu, proses menghafal belum berjalan secara rutin. Berbagai aktivitas keluarga, kehadiran adik yang masih bayi, serta kondisi tumbuh kembang anak membuat perjalanan bersama Al-Qur’an dijalani dengan ritme yang fleksibel. Ada waktu ketika hafalan berjalan lancar, tetapi ada pula masa ketika murojaah harus dilakukan dengan lebih santai agar kecintaan terhadap Al-Qur’an tetap terjaga dan tidak berubah menjadi beban.
Dalam perjalanan tersebut, emosi menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Ada rasa lelah, jenuh, bosan, bahkan keinginan untuk berhenti. Semua itu adalah hal yang wajar, baik bagi anak maupun bagi orang tua yang mendampingi. Namun justru pada fase-fase itulah letak pentingnya komunikasi. Menghafal Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas mengulang ayat demi ayat, melainkan proses membangun kesadaran dan pemahaman tentang tujuan yang lebih besar.

Seiring bertambahnya usia, Khaulah mulai memahami alasan mengapa ia menghafal Al-Qur’an. Bukan untuk mendapatkan pujian, bukan untuk mengejar pengakuan, dan bukan semata-mata untuk mencapai target hafalan tertentu. Menghafal Al-Qur’an adalah ikhtiar untuk menjaga agar interaksi dengan Sang Pencipta tidak pernah terputus.
Ketika ayat-ayat Allah dibaca setiap hari, diulang, dijaga, dan dihafalkan, sesungguhnya sedang terbangun hubungan yang terus hidup antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Al-Qur’an menjadi teman perjalanan yang hadir dalam berbagai suasana; saat semangat maupun saat lelah, saat bahagia maupun saat menghadapi kesulitan.
Pada usia sebelas tahun delapan bulan, perjalanan hingga Juz 28 menjadi salah satu fase yang patut disyukuri. Bukan semata karena jumlah hafalan yang telah dicapai, melainkan karena Allah masih menjaga langkah untuk tetap dekat dengan Al-Qur’an. Sebab tantangan terbesar dalam menghafal bukanlah memulai, melainkan menjaga konsistensi untuk terus bersama Al-Qur’an dalam jangka panjang.
Peran orang tua dalam proses ini menjadi sangat penting, terutama ketika anak berada pada tahap kelelahan. Ada saatnya anak membutuhkan motivasi, ada waktunya membutuhkan teman berbicara, dan ada kalanya hanya membutuhkan kehadiran yang mendengarkan tanpa menghakimi. Pendampingan yang penuh kesabaran sering kali menjadi kekuatan yang membuat anak mampu melanjutkan langkahnya.
Di balik proses yang banyak terlihat dijalani bersama ibu, terdapat pula peran seorang ayah yang tidak kalah penting. Ketika seorang suami dan ayah berjuang mencari nafkah untuk keluarga, sesungguhnya ia juga sedang mengambil bagian dalam perjalanan Al-Qur’an anak-anaknya. Dukungan itu tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan materi, tetapi juga melalui pemahaman terhadap kondisi anak-anak dan istrinya.
Ada masa ketika anak sedang lelah. Ada masa ketika ibu membutuhkan penguatan dan ada saat-saat ketika keluarga membutuhkan suasana yang tenang untuk menjaga proses belajar tetap berjalan. Kehadiran ayah yang memahami, mendukung, mendoakan, dan menguatkan menjadi bagian dari kontribusi besar yang sering kali tidak terlihat, tetapi sangat dirasakan dalam perjalanan ini.
Namun perjalanan ini tentu tidak dijalani sendiri. Penguatan tujuan menghafal dan penjagaan hafalan juga mendapatkan dukungan besar dari para guru di Kuttab Cimahi. Melalui kesabaran, keteladanan, dan pendampingan yang berkelanjutan, para guru tidak hanya membantu menjaga kualitas hafalan anak-anak, tetapi juga terus menanamkan pemahaman tentang makna menghafal Al-Qur’an itu sendiri.
Ketika semangat mulai menurun, guru hadir memberikan motivasi. Ketika hafalan membutuhkan perbaikan, guru membimbing dengan penuh perhatian. Kehadiran para guru menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang menumbuhkan kecintaan anak terhadap Al-Qur’an, serta menjaga semangat mereka untuk terus melangkah dalam perjalanan panjang ini.
Perjalanan ini juga mengajarkan bahwa keberhasilan menghafal Al-Qur’an tidak selalu diukur dari seberapa cepat menyelesaikan hafalan, tetapi dari seberapa kuat hubungan yang terbangun dengan Al-Qur’an itu sendiri. Ketika anak tumbuh dengan mencintai Al-Qur’an, menjadikannya pedoman hidup, dan merasa dekat dengan Allah melalui ayat-ayat-Nya, maka di situlah keberhasilan sesungguhnya.
Perjalanan menghafal Al-Qur’an sesungguhnya adalah kerja bersama antara anak, ayah, ibu, dan guru. Semuanya saling menguatkan dalam satu tujuan yang sama, yaitu menghadirkan Al-Qur’an bukan hanya dalam hafalan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Setiap pihak memiliki peran yang berbeda, tetapi seluruhnya berkontribusi dalam menjaga langkah seorang anak agar tetap dekat dengan firman Allah.
Semoga setiap ayat yang telah dihafalkan menjadi cahaya dalam kehidupan Khaulah Adzkia Samha El Aliya, menjadi penjaga langkahnya, serta menjadi jalan yang senantiasa mendekatkannya kepada Allah SWT. Karena pada akhirnya, tujuan terbesar dari menghafal Al-Qur’an bukanlah sekadar menambah hafalan, melainkan menjaga hati agar selalu terhubung dengan Sang Pencipta.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi untuk dicintai, dijaga, dan dijadikan teman perjalanan menuju ridha Allah. (Maesaroh).
***
Judul: Membersamai Khaulah: Menjaga Interaksi dengan Al-Qur’an dan Sang Pencipta
Penulis: Maesaroh, M.Sos.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Maesaroh, M.Sos., adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.
Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.
Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.
“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”
***