Tentang Adikku dan Pelajaran Hidup dari Buku Ibu

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Selasa (02/06/2026) – Artikel berjudul “Tentang Adikku dan Pelajaran Hidup dari Buku Ibu” ini merupakan karya Khaulah Adzkia Samha El-Aliya, seorang anak berusia 11 tahun yang memiliki hobi menulis dan menggambar.

Perkenalkan, nama lengkap saya “Khaulah Adzkia Samha El-Aliya” binti Muhammad Ali, anak dari Ibu Maesaroh. Usia saat ini usia saya 11 tahun, lahir di Purwakarta di Rumah Sakit Siloam pada tahun 2014. Saya anak pertama dari dua bersaudara.

Saya punya adik bernama Alkhalifi Sidqi El Ali Ramadhan. Ia adalah adik laki-laki yang sering menemani saya bermain di rumah. Kadang-kadang kami bermain bersama dengan gembira, tetapi tidak jarang juga bertengkar karena hal-hal kecil seperti mainan atau perbedaan keinginan. Namun begitu, rasa sayang saya kepada adik tetap besar.

Khaulah Adzkia Samha El-Aliya (tengah) bersama ayah, ibu, dan adiknya – (Sumber: Koleksi pribadi)

Dulu pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa lebih baik tidak memiliki adik. Rasanya hidup akan lebih tenang jika sendiri, tetapi seiring waktu, saya mulai menyadari bahwa mempunyai adik itu bisa membuat hidup kami tidak sepi. Ada teman di rumah untuk bermain, berbagi cerita, dan membuat hari-hari menjadi lebih berwarna.

Sekarang saya mulai belajar menjadi kakak yang lebih sabar. Saya harus bisa mengalah, tidak mudah marah, dan lebih memahami perasaan adik. Kadang saya terpikir juga bahwa adik mungkin merasa iri atau belum mendapatkan hal yang sama seperti yang pernah dirasakan dulu. Oleh karena itu, sikap saya harus lebih dijaga agar adik tidak merasa sedih atau tidak disayang. Harapan terbesar saya  adalah menjadi kakak yang baik dan bisa menjadi contoh sehingga membuat adik saya merasa dihargai.

Selain itu, harapan juga ada agar hubungan sebagai saudara bisa semakin baik saat dewasa nanti. Ingin tumbuh bersama sebagai kakak dan adik yang saling menyayangi, bukan yang sering bertengkar.

Selain tentang adik, ada kebiasaan membaca buku milik ibu. Ibu sangat suka menulis. Tulisannya indah dan penuh makna, seperti menyimpan banyak pelajaran kehidupan.

Saya pernah membaca buku ibu yang berjudul “Kenangan Terakhir Bersama Bapak”. Dari buku itu, dipahami bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, tetapi tidak ada yang tahu kapan datangnya. Bisa saat sedang bahagia, sedih, atau saat beribadah. Dari situ mulai disadari bahwa hidup ini sangat singkat. Oleh karena itu, manusia harus rajin beribadah, banyak bersyukur kepada Allah SWT, dan selalu berbuat baik kepada sesama.

Selain itu, juga dianjurkan untuk mendoakan saudara-saudara di Palestina agar selalu diberi perlindungan dan kekuatan oleh Allah SWT.

Dari semua pengalaman kecil ini, dipahami bahwa keluarga adalah hal yang sangat berharga. Menjadi kakak bukan hanya tentang usia, tetapi tentang tanggung jawab, kesabaran, dan kasih sayang.

***

Judul: Tentang Adikku dan Pelajaran Hidup dari Buku Ibu

Penulis: Khaulah Adzkia Samha El-Aliya

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Khaulah Adzkia Samha El Aliya lahir di Purwakarta pada 4 Oktober 2014. Ia adalah anak pertama dari dua bersaudara, kakak dari Alkhalifi Sidqi El Ali Ramadhan.

Sejak kecil, Khaulah sudah menunjukkan ketertarikan pada dunia seni, terutama menggambar. Pensil warna, krayon, dan kertas putih menjadi sahabat setianya saat imajinasinya mengalir bebas. Banyak karyanya yang menggambarkan dunia dari mata anak-anak yang penuh warna dan harapan.

Selain menggambar, Khaulah juga memiliki semangat tinggi dalam belajar Al-Qur’an. Saat ini, ia sedang menuntaskan hafalan Juz 28 dengan tekun dan sabar. Setiap ayat yang dihafalnya ia anggap sebagai cahaya yang menuntun langkahnya.

Khaulah rajin mengikuti setoran hafalan kepada mama dan guru-gurunya dengan senyum semangat. Ia juga senang mendengarkan kisah-kisah nabi dan sahabat untuk menambah cintanya pada Islam.

Akhir-akhir ini, Khaulah juga senang membaca buku, terutama tulisan-tulisan mama. Kehidupan sehari-harinya dipenuhi aktivitas positif yang membentuk karakter mandiri dan lembut. Ia sangat menyayangi adiknya dan sering membantu orang tua di rumah.

Khaulah bercita-cita menjadi hafidzah sekaligus seniman yang menginspirasi. Doakan Khaulah agar terus istiqamah dalam belajar dan hafalan Qur’an-nya. Semoga setiap langkahnya menjadi bagian dari jalan menuju kebaikan yang diridhai Allah.

***