BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Minggu (30/08/2026) – Tulisan berjudul “Yudi Samudra: Empat Dekade Berkarya sebagai Pelukis di Kota Cimahi” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).
Ada orang yang usianya bertambah, tetapi bagaikan tumpukan angka yang tak bermakna. Namun, ada pula orang yang semakin matang dan justru menjadikannya sebagai tumpukan pengalaman yang berharga. Hal inilah yang terjadi pada diri Yudi Setiawan atau lebih dikenal dengan julukan Yudi Samudra.
Waktu yang telah dilewati Yudi Samudra selama empat dekade telah menjadikannya sebagai sosok seniman sejati yang selalu setia pada profesi yang ditekuninya. Ia berhasil melewati tantangan terbesar dalam hidupnya, yaitu memilih profesi sebagai perupa yang selalu bergelut dengan kanvas, warna, garis, ruang pamer, komunitas, dan jejak panjang pengabdian terhadap dunia seni rupa.

Sejak mulai serius menapaki dunia seni pada 1985, Yudi telah melewati berbagai musim kehidupan seni rupa Indonesia. Selera pasar berubah, teknologi berkembang, generasi datang dan pergi, tetapi satu hal tetap bertahan: kecintaannya kepada seni. Di tangannya, kuas bukan sekadar alat untuk menciptakan gambar. Ia menjadi semacam pena yang menuliskan pengalaman hidup.
Dengan motto “Profesional dan Bertanggung Jawab dalam Pekerjaan” yang menjadi pegangan hidupnya, Yudi Samudra terus berkarya. Ia berusaha bekerja secara profesional agar karyanya bisa dinikmati oleh para penggemarnya sehingga membuat mereka banga memilikinya.
Dari Bangku Sekolah ke Dunia Kanvas
Pria kelahiran Bandung, 30 September 1963 ini tumbuh dan menjalani sebagian besar perjalanan kreatifnya di lingkungan Kota Cimahi. Pendidikan formalnya dimulai di SDN Utama 6 Cimahi, kemudian SMPN 9 Cimahi, dan berlanjut ke SMKN 1 Cimahi hingga lulus pada 1979.
Seperti banyak seniman lainnya, pendidikan sesungguhnya bagi Yudi tidak berhenti ketika ijazah sudah berada di tangannya. Ia justru menemukan sekolah kehidupan di sanggar-sanggar seni.
Tahun 1985 menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup Yudi sebagai seniman. Saat itu ia bergabung dengan Sanggar Chandra Bhaskara di Kota Cimahi. Di tempat inilah minat dan bakatnya mendapatkan ruang untuk tumbuh secara lebih serius.

Yudi belajar bahwa melukis bukan sekadar memindahkan objek ke atas kanvas. Ada proporsi yang harus dipahami, komposisi yang harus diperhitungkan, cahaya yang harus dirasakan, dan emosi yang harus diterjemahkan.
Lima tahun kemudian (1990), Yudi melanjutkan belajarnya ke Museum Barli di Kota Bandung. Belajar di lingkungan yang memiliki jejak kuat maestro Barli Sasmitawinata menjadi pengalaman penting dalam pembentukan kepekaan artistiknya.
Di Museum Barli, Yudi semakin mendalami teknik dan bahasa visual, termasuk bagaimana cahaya, bentuk, anatomi, dan suasana dapat menjelma menjadi kekuatan sebuah karya. Boleh jadi, dari sanalah ketekunan teknisnya semakin terasah. Lukisan yang baik bukan hanya tentang apa yang terlihat oleh mata, tetapi uga tentang apa yang berhasil dirasakan oleh hati.
Ketika Kanvas Mulai Berbicara kepada Publik
Tahun 1994 menjadi momentum lain dalam perjalanan Yudi. Ia mulai memasuki dunia pameran secara lebih terbuka melalui pameran bersama.
Sebuah pameran bagi seorang seniman bukan hanya ruang untuk memajang karya. Di sana ada keberanian untuk membuka diri kepada publik. Kanvas yang selama ini menjadi ruang dialog pribadi tiba-tiba harus berbicara kepada banyak orang.

Tahun 2000, Yudi tampil dalam eksibisi di Gedung Siliwangi, Kota Cimahi. Lima tahun kemudian, cakrawala pamerannya melebar hingga Jakarta melalui Jambore Nasional di Pasar Seni Ancol.
Dari Cimahi menuju Jakarta, perjalanan itu menunjukkan bahwa karya seorang seniman lokal pun memiliki peluang untuk menemukan penikmatnya di ruang yang lebih luas. Pasar Seni Ancol menjadi salah satu panggung penting dalam perjalanan tersebut.
Yudi tidak datang hanya membawa lukisan. Ia membawa pengalaman panjang yang ditempa sejak sanggar, komunitas, hingga berbagai ruang belajar seni. Dunia seni rupa pun mulai mengenal namanya lebih jauh.
Dari Kanvas ke Ruang-Ruang Eksklusif
Memasuki era 2000-an, perjalanan profesional Yudi memasuki babak baru. Ia tidak hanya dikenal sebagai pelukis. Kemampuannya berkembang hingga menyentuh persoalan display dan penataan karya dalam ruang. Pada 2006, Yudi dipercaya mengerjakan kontrak melukis dan penataan display di Hotel Khazanah Bandung.

Setahun berikutnya, ia mendapat kepercayaan serupa di Hotel Grand Preanger Bandung. Pada tahun yang sama, karya-karyanya juga dipamerkan secara eksklusif di Hotel Topas Bandung, termasuk untuk menjangkau pasar tamu mancanegara.
Kemudian pada 2008, karya Yudi hadir di Lirik Galeri Asia Afrika, sebuah kawasan yang lekat dengan sejarah dan denyut kebudayaan Kota Bandung. Perjalanan profesional itu berlanjut melalui kolaborasi dengan pelukis Priyadi pada 2009–2010.
Hal yang menarik, pada 2010, karya Yudi mulai merambah pasar internasional melalui kontrak dengan kolektor di Malaysia. Artinya, perjalanan profesionalnya bukan lagi sekadar perjalanan seorang pelukis dari Cimahi menuju Bandung atau Jakarta. Karyanya telah menemukan jalan untuk menyeberangi batas geografis lintar negara.
“Sebuah karya seni mungkin lahir dari ruang yang kecil, tetapi tidak pernah tahu akan sejauh mana ia melakukan perjalanan.”
Kalimat itu seolah menggambarkan perjalanan Yudi Samudra. Dari ruang belajar dan sanggar di Cimahi, karya-karyanya kemudian menemukan tempat di hotel, galeri, ruang komersial, hingga pasar seni internasional.
Seniman yang Tidak Ingin Berjalan Sendirian
Ada sisi lain dari Yudi Samudra yang tak kalah menarik. Semakin panjang perjalanan kariernya, ia justru semakin dekat dengan komunitas.
Sejak 1996, Yudi terlibat dalam Dewan Kesenian Cimahi (DKC). Keterlibatan ini menunjukkan bahwa perhatiannya terhadap seni tidak hanya berhenti pada karya pribadi, tetapi ia ikut menjadi bagian dari ekosistem. Baginya, seni bukan pulau yang berdiri sendirian. Seni membutuhkan ruang perjumpaan, dialog, komunitas, dan regenerasi.
Semangat itu tetap terjaga hingga 2025 ketika Yudi aktif dalam Forum Pelukis Cimahi. Ia juga dipercaya menjadi tenaga pengajar di Cima’Art Edupreneur dan Mozi Design Institute di Kota Cimahi.
Di sinilah perjalanan panjang Yudi Samudra mendapatkan dimensi baru. Jika dahulu ia belajar dari para guru dan lingkungan seni, kini ia berada pada posisi untuk meneruskan pengetahuan tersebut kepada generasi berikutnya.
Kuas berpindah tangan. Pengetahuan berpindah generasi. Pengalaman yang diperoleh selama puluhan tahun tidak dibiarkan berhenti di dalam dirinya.
Seni, Pengabdian, dan Warisan yang Tak Selalu Berupa Lukisan
Ada warisan yang dapat dihitung dengan angka. Ada pula warisan yang hanya dapat dirasakan.
Bagi seorang seniman, warisan itu tidak selalu berupa lukisan yang tergantung di dinding. Bisa berupa teknik yang diajarkan kepada murid, keberanian yang ditularkan kepada seniman muda, jaringan komunitas yang dirawat, atau semangat untuk tetap berkarya ketika zaman telah berubah. Yudi Samudra tampaknya memilih jalan tersebut.

Pelukis yang dikenal ramah dan mudah tersenyum ini telah melewati masa ketika seni rupa dipasarkan dengan cara-cara konvensional. Yudi menyaksikan perubahan ruang pamer, perilaku kolektor, perkembangan teknologi, dan lahirnya generasi seniman baru. Namun, ia tidak memilih untuk meninggalkan zaman. Ia justru berjalan bersamanya.
Mungkin, inilah rahasia mengapa seorang seniman mampu bertahan selama puluhan tahun: bukan karena ia menolak perubahan, tetapi karena ia mampu menjaga jati diri sembari terus belajar.
Cimahi dan Sebuah Nama yang Terus Menyala
Bagi Kota Cimahi, kehadiran seniman seperti Yudi Samudra memiliki arti tersendiri. Kota tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, pusat perdagangan, dan infrastruktur. Sebuah kota juga membutuhkan ingatan, kreativitas, dan manusia-manusia yang menjaga kebudayaannya. Seniman adalah salah satu penjaga itu.
Melalui karya, para seniman merekam zaman. Melalui komunitas, mereka membangun perjumpaan. Melalui pendidikan, mereka menyiapkan masa depan. Yudi Samudra telah menjalani ketiganya. Ia berkarya, berkomunitas, dan mengajar.
Selama empat dekade perjalanan Yudi Samudra, sesungguhnya ini bukan hanya cerita tentang seorang pelukis. Ini adalah cerita tentang ketekunan seorang manusia dalam merawat pilihan hidupnya.
Dari Cimahi Yudi belajar. Dari Bandung ia menempa diri. Dari panggung nasional ia mendapatkan pengalaman. Dari dunia profesional ia memperluas cakrawala dan melalui komunitas, ia menemukan makna bahwa seni akan jauh lebih berarti ketika dibagikan.
Ketika Kuas Belum Ingin Berhenti
Kini, setelah lebih dari empat puluh tahun menapaki jalan seni, Yudi Samudra masih berada di dunia yang sama. Dunia yang dahulu mungkin dimulai dari rasa ingin tahu sederhana: bagaimana sebuah garis bisa menjadi bentuk, bagaimana warna dapat menciptakan suasana, dan bagaimana sebuah kanvas dapat menyimpan cerita.
Kini rasa ingin tahu itu telah berubah menjadi pengalaman panjang. Namun, pengalaman tidak membuatnya berhenti. Justru sebaliknya. Bagi seniman sejati, perjalanan kreatif tidak mengenal kata selesai. Selalu ada kanvas yang menunggu. Selalu ada warna yang ingin ditemukan. Selalu ada cerita yang belum selesai dituturkan dan selalu ada generasi baru yang membutuhkan tangan-tangan berpengalaman untuk menunjukkan jalan.
Yudi Samudra telah memilih untuk tetap berjalan. Mungkin kelak yang tersisa bukan hanya lukisan-lukisannya, tetapi juga jejak yang ia tinggalkan dalam perjalanan seni rupa Kota Cimahi.
Pada akhirnya, seniman tidak hanya diingat karena apa yang ia lukis, tetapi karena apa yang ia nyalakan di hati orang lain. Selama api itu masih menyala, nama Yudi Samudra akan tetap memiliki tempat dalam denyut seni Kota Cimahi.
Yudi Samudra bukan sekadar pelukis yang telah berkarya selama empat dekade. Ia adalah bagian dari cerita panjang tentang bagaimana seni dirawat, diwariskan, dan terus dihidupkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
***
Judul: Yudi Samudra: Empat Dekade Berkarya sebagai Pelukis di Kota Cimahi
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK