Dari Tokyo ke Bandung, Seniman Jepang Menyelami Rahasia Daluang dan Birunya Tarum Sunda

Berita Jabar News (BJN), Kota Bandung, Jawa Barat, Minggu (30/08/2026) – Dari sebuah pohon yang nyaris terlupakan hingga warna biru yang pernah menjadi bagian penting perjalanan kebudayaan Sunda, semuanya bertemu dalam sebuah ruang kreatif di Bandung.

Pada Minggu, 30 Agustus 2026, Yayasan Buana Varman Semesta (YBVS) menerima kunjungan istimewa dari seniman lukis asal Tokyo, Jepang, Natsumi Dorothy Ito. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan persahabatan, melainkan sebuah perjalanan artistik untuk menyelami kembali jejak material, pengetahuan, dan tradisi yang tumbuh dari alam.

Natsumi hadir bersama Mufid Sururi, seniman musik sekaligus pegiat pelestarian pohon saeh (Broussonetia papyrifera) asal Bandung. Keduanya datang dalam rangkaian kegiatan residensi seni yang tengah dijalani Natsumi di bawah pendampingan Mufid.

Ini merupakan kali kedua Natsumi menjalani residensi seni bersama Mufid Sururi. Sebelumnya, pengalaman serupa telah dilakukannya pada 2025. Namun, residensi tahun ini membawa eksplorasi yang lebih jauh dengan mempertemukan dua warisan material yang sama-sama memiliki sejarah panjang dalam kebudayaan Sunda: pohon saeh dan tanaman tarum.

Pohon saeh bukan sembarang pohon. Pada masa silam, kulit batangnya menjadi bahan utama pembuatan daluang, sejenis kertas tradisional yang dibuat melalui proses pengolahan manual. Kulit batang diambil sesuai kebutuhan, kemudian dipipihkan secara bertahap dengan menggunakan palu kayu. Dari proses yang membutuhkan ketelatenan itulah lahir daluang, material yang bukan hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga menyimpan jejak pengetahuan masyarakat masa lalu.

Menariknya, pemanfaatan daluang ternyata tidak hanya berkaitan dengan media tulis. Dalam naskah Sunda Kuno Sanghyang Swawarcinta dari abad ke-16, daluang disebut sebagai salah satu bahan yang digunakan dalam berbagai perlengkapan busana. Catatan itu memperlihatkan bagaimana masyarakat masa lampau mampu mengolah kekayaan alam menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kini, pohon saeh dan pengetahuan tentang pengolahannya kembali dihidupkan melalui kerja pelestarian yang dilakukan Mufid Sururi. Semangat tersebut sejalan dengan aktivitas YBVS melalui Pataruman – Indigo Experimental Station yang berfokus pada revitalisasi tanaman tarum dan pengembangan kembali pewarna biru alami atau nila.

Saeh dan Tarum Seolah Memiliki Kisah yang Sama

Saeh pernah berada di ambang kelupaan. Tarum pun mengalami nasib serupa. Bukan hanya tumbuhannya yang semakin jarang ditemukan, tetapi juga pengetahuan dan praktik budaya masyarakat dalam memanfaatkannya perlahan memudar. Melalui residensi seni kali ini, dua warisan tersebut justru dipertemukan kembali.

Mufid Sururi mencoba menstimulasi proses kreatif Natsumi dengan mempertemukan daluang hasil olahan pohon saeh dengan tarum areuy (Marsdenia tinctoria), serta warna biru alami yang dihasilkan dari proses pengolahan tumbuhan tersebut. Di sinilah seni menemukan ruang dialognya.

Daluang yang lahir dari kulit pohon bertemu dengan warna biru yang berasal dari daun. Material tradisional yang pernah menjadi bagian kehidupan masyarakat masa lalu kini kembali dibaca dan ditafsirkan melalui perspektif seni kontemporer.

Kedatangan Natsumi dan Mufid disambut Pembina YBVS, Prof. Dr. Chye Retty Isnendes, M. Hum., Ketua YBVS Gelar Taufiq Kusumawardhana, Direktur Pataruman Deni Ramdani, serta pengurus Pataruman Lalitya Dwi Rachma dan Nugraha Budi Ramdani.

Suasana pertemuan antara Pengurus Yayasan Buana Varman Semesta dan Pataruman – Indigo Experimetal Station bersama dengan Mufid Sururi dan Natsumi Dorothy Ito di kediaman Prof. Dr. Chye Retty Isnendes (Pembina YBVS) – (Sumber: YBVS)

Dalam pertemuan tersebut, Mufid menyerahkan pohon saeh kepada YBVS. Pohon itu diterima langsung oleh Gelar Taufiq Kusumawardhana sebagai simbol persahabatan sekaligus semangat bersama untuk menjaga warisan budaya yang hidup di tengah perubahan zaman. Chye Retty Isnendes kemudian membuka perspektif yang lebih luas mengenai kedekatan hubungan kebudayaan Indonesia dan Jepang.

Guru besar Universitas Pendidikan Indonesia yang memiliki kepakaran di bidang Antropologi Sastra itu menyinggung kajiannya mengenai kemungkinan pengaruh langgam puisi Jepang, haiku, terhadap perkembangan puisi Sunda modern. Ia juga mengajak peserta pertemuan menelusuri perjalanan warna biru dalam kebudayaan Sunda. Jejaknya dapat ditemukan dalam tradisi lisan hingga naskah Sunda Kuno Bujangga Manik dari abad ke-15.

Salah satu ungkapan yang tercatat adalah “Neuleum Nyuar Nyangkuduan”. Kata neuleum merujuk pada proses mewarnai benang, kain, atau pakaian menjadi biru menggunakan zat pewarna alami yang berasal dari tumbuhan nila atau tarum.

Bagi Deni Ramdani, pertemuan tersebut membuka kemungkinan lahirnya jembatan baru antara Indonesia dan Jepang. Ia berharap Pataruman – Indigo Experimental Station suatu hari dapat menjalin hubungan dan pertukaran pengetahuan dengan para praktisi indigo di Jepang yang juga memiliki tradisi panjang dalam mengolah tanaman seperti Tade-ai (Persicaria tinctoria/Polygonum tinctorium) dan Ryukyu-ai (Strobilanthes cusia).

“Saya berharap bukan hanya tentang pertukaran teknik pewarnaan, melainkan juga tentang bagaimana tradisi dapat tetap hidup tanpa kehilangan akarnya ketika berhadapan dengan dunia modern,” ungkap Deni.

Setelah perbincangan, Natsumi mendapat pengalaman langsung bersama tim Pataruman. Ia diajak memetik daun tarum areuy dari pekarangan dan mencoba proses pencelupan daluang menggunakan daun segar. Dalam eksperimen tersebut, daun yang telah dicuci digunakan dalam proses pewarnaan dengan penambahan garam dan kapur sebagai alternatif bahan pendukung.

Kegiatan memetik daun tarum areuy dari pekarangan sekitar rumah Prof. Dr. Chye Retty Isnendes (Pembina YBVS) – (Sumber: YBVS)

Meski teknik pencelupan menggunakan pasta, cake, maupun bubuk pewarna indigo belum diterapkan, Natsumi tetap diperkenalkan pada prinsip dasar perubahan daun hijau menjadi zat pewarna biru melalui simulasi sederhana. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari proses residensinya.

Pataruman – Indigo Experimental Station sendiri masih terus melakukan pembenahan dan pengembangan melalui berbagai tahapan research and development. Perjalanan untuk menghidupkan kembali tradisi ini tentu tidak singkat. 

Saat ini yang sedang dilakukan bukan sekadar menanam kembali tarum atau menghasilkan warna biru. Lebih dari itu, ada upaya untuk menyambung kembali mata rantai pengetahuan, seni, dan kebudayaan yang sempat terputus dan mengalami masa mati suri selama sekitar satu abad.

Natsumi Dorothy Ito (kanan, baju merah) sedang belajar mempraktikkan cara membuat pewarna alami dari bahan tanaman tarum – (Sumber: YBVS)

Langkahnya mungkin masih panjang. Tantangannya pun tidak sedikit. Namun, pertemuan antara seorang seniman dari Tokyo, pegiat budaya dari Bandung, dan para pelestari warisan Sunda pada Ahad itu memperlihatkan satu hal penting: tradisi tidak selalu harus tinggal di masa lalu.

Tradisi bisa tumbuh kembali, menemukan bentuk baru, berbicara dengan dunia modern. Bahkan, menyeberangi batas negara.

Bagi Natsumi Dorothy Ito, pengalaman residensi di Bandung akan menjadi bagian dari perjalanan kreatif berikutnya. Hasil eksplorasi tersebut rencananya akan dibawa ke Tokyo untuk memasuki tahap ekshibisi dan diseminasi pada Oktober 2026.

Dari kulit pohon saeh, lembaran daluang, hingga birunya tarum, sebuah percakapan budaya kini sedang bergerak dari Bandung menuju Tokyo. Mungkin, dari sana, warisan yang pernah nyaris hilang itu justru akan menemukan kehidupan barunya. (GTK/BJN).

***

Judul: Dari Tokyo ke Bandung, Seniman Jepang Menyelami Rahasia Daluang dan Birunya Tarum Sunda

Kontributor: GTK/BJN

Editor: JHK