Prosa dari Barat ke Timur

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu (26/08/2026) – Artikel “Prosa dari Barat ke Timur” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Kawan,  perjalanan ini seperti garis panjang yang ditarik dari barat menuju timur, dari Bandung ke Singaraja. Dua puluh empat jam penuh tubuh diguncang roda, mata dipaksa menatap kaca, dan hati berulang kali berbisik: “Sampai kapan?” Namun justru di situlah keindahan perjalanan bersemayam—pada rasa lelah yang berubah jadi kenangan, pada pegal yang menjelma cerita.  

Jam dua dini hari, Tuban menjadi persinggahan. Di warung sederhana, nasi hangat dan teh manis menenangkan otot-otot yang kaku. Ada rasa syukur yang sederhana: bahwa tubuh masih kuat, bahwa perjalanan masih berlanjut. Malam kembali menelan jalan, dan aku tertidur di kursi sempit bus, sementara dunia di luar hanya bayangan hitam yang tak bisa kutangkap.  

Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pagi membuka tirainya di Probolinggo. Matahari remang-remang, kabut tipis menutupi perkebunan tebu. Ada kesan mistis, seolah jalan ini bukan sekadar lintasan, melainkan lorong waktu yang membawa kita dari satu dunia ke dunia lain. Di Situbondo, bus berhenti sejenak. Nafas panjang dihirup, kaki diregangkan, dan aku merasa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan ziarah batin.  

Menjelang siang, pelabuhan Ketapang menyambut. Laut terhampar, biru dan luas, seakan berkata: “Kau akan menyeberang, meninggalkan tanah Jawa, menuju pulau yang lain.” Satu jam kemudian, bus masuk ke perut kapal feri. Ombak menggoyang perlahan, dan aku berdiri di dek, menatap garis horizon. Ada rasa haru: bahwa sebentar lagi aku akan menginjak tanah Bali, tanah yang selama ini hanya hadir dalam buku dan cerita.  

Gilimanuk menjadi gerbang. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan bus kecil, hanya empat orang penumpang. Jalan berliku, udara semakin lembap, dan bayangan laut sesekali muncul di sela pepohonan. Hingga akhirnya, jam 16:45, Singaraja menyambut. Aku segera mengabarkan pada Pak Agung lewat pesan singkat: “Saya sudah sampai di depan Puri.”  

Ibunda Pak Agung menyambut dengan senyum hangat, saudaranya ikut hadir. Kamar hotel sudah disiapkan: asri, sejuk, bersih. Aku mandi, lalu duduk di beranda. Deburan ombak terdengar jelas, lembut, menandakan pantai di sini tidak ganas. Rasa penasaran mendorong langkahku.  

Gang kecil bergapura kutelusuri, tak sampai dua puluh langkah, dan tiba-tiba dunia terbuka: pantai indah dengan matahari yang perlahan tenggelam. Sunset itu, kawan, bukan sekadar pemandangan. Ia adalah jawaban atas segala lelah, segala pegal, segala keriput kulit karena AC bus. Cahaya jingga memantul di permukaan laut, seolah berkata: “Selamat datang di timur, selamat datang di tanah yang kau impikan.”  

Aku berdiri lama, membiarkan matahari menulis puisi di cakrawala. Ombak kecil berlari ke bibir pantai, pasir dingin menyentuh telapak kaki. Semua rasa penat lenyap, berganti dengan rasa syukur yang tak terucapkan.  

Perjalanan dari barat ke timur ini bukan sekadar perpindahan ruang. Ia adalah perjalanan batin, sebuah prosa panjang yang ditulis oleh jalan, laut, dan matahari. Dari Bandung yang riuh, Tuban yang sunyi, Probolinggo yang berkabut, Situbondo yang tenang, Ketapang yang sibuk, Gilimanuk yang menjadi gerbang hingga Singaraja yang menyambut dengan senja.  

Aku tahu kawan bahwa setiap langkah ini adalah bagian dari cerita yang lebih besar: cerita tentang manusia yang mencari, yang menempuh jarak, yang akhirnya menemukan dirinya di tepi pantai dengan matahari yang tenggelam perlahan.  

***

Judul: Prosa dari Barat ke Timur

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***