Mengenang Irawati Durban: Maestro Tari yang Tak Lekang oleh Zaman

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Rabu (11/03/2026) – Esai berjudul “Mengenang Irawati Durban: Maestro Tari yang Tak Lekang oleh Zaman” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Dalam setiap gerak gemulai penari Sunda, ada jejak langkah seorang maestro yang tak pernah pudar: Irawati Jogasuria Ardjo, lebih dikenal sebagai Irawati Durban atau akrab disapa Bi Yayang. Ia bukan hanya seorang seniman, melainkan penjaga dan pewaris luhur budaya Indonesia. Kehidupannya adalah sebuah tarian panjang yang didedikasikan sepenuhnya untuk melestarikan dan menghidupkan kembali pesona tari tradisional.

Irawati Durban, sang maestro tari Indonesia – (Sumber; nomilknocry.wordpress.com)

Lahir di Bandung, 22 Mei 1943, Irawati Durban sudah menunjukkan bakat seni yang luar biasa sejak kecil. Debutnya sebagai penari pada tahun 1955 menandai awal dari sebuah perjalanan artistik yang penuh makna. Ia adalah sosok yang melihat tarian bukan sekadar pertunjukan, melainkan sebuah bahasa universal yang mampu menjembatani masa lalu dan masa kini.

Salah satu kontribusi Irawati Durban yang paling monumental adalah renovasi Tari Merak pada 1965. Di tangannya, tarian ikonis ini kembali bersinar dengan keanggunan dan detail yang lebih kaya.  Mampu menangkap esensi keindahan burung merak dan menerjemahkannya ke dalam gerak tari yang memukau. Selain itu, ia juga merevitalisasi Tari Surengpati dan Srenggana, memastikan tarian-tarian klasik ini tetap relevan dan dicintai oleh generasi baru.  

Namun, Irawati Durban bukan hanya seorang pelestari. Ia juga seorang inovator. Dengan jiwa seninya yang bebas dan kreatif, ia menciptakan tarian-tarian baru yang menembus batas tradisi, seperti Tari Balon (1956), Tari Bambu (1961), Tari Puspa Apsari (1977), dan Tari Simbar Kembar (1979). Karya-karya ini membuktikan bahwa tradisi dapat berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan identitasnya. Mereka adalah wujud nyata dari visinya tentang seni yang terus berkembang, bernapas, dan hidup.

Meskipun menempuh pendidikan formal di bidang Arsitektur Interior di Institut Teknologi Bandung (ITB), takdirnya justru mengarahkannya ke panggung tari. Pilihan ini adalah bukti dari panggilan jiwa yang tak bisa ia abaikan. Seni tari adalah takdirnya, dan ia menjalaninya dengan totalitas. Perjalanan akademisnya di ITB justru memberinya perspektif unik tentang ruang, struktur, dan estetika yang kemudian ia terapkan secara intuitif dalam setiap koreografinya.

Dedikasinya tak berhenti di situ. Ia menjadi pengajar di Universitas Parahyangan dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, mencetak ribuan penari muda yang kini menjadi penerus warisannya. Melalui pengajaran,  menanamkan bukan hanya teknik, tetapi juga filosofi, etika, dan kecintaan pada budaya Sunda. Pensiun pada tahun 2008 tak menghentikan langkahnya. Ilmu dan semangatnya terus mengalir melalui murid-muridnya, menjadi mata rantai yang tak terputus.

Irawati Durban, sang maestro tari Indonesia – (Sumber: nomilknocry.wordpress.com)

Pada 1974, Irawati membawa keindahan budaya Sunda ke panggung internasional. Sebagai pengajar Tari Sunda di Centre for World Music, University of California, ia mengenalkan pesona tarian Indonesia kepada dunia. Ia adalah duta budaya yang memperkenalkan keunikan dan kedalaman seni Sunda, membuktikan bahwa seni tidak mengenal batas geografis. Ia adalah jembatan budaya yang menghubungkan dua dunia yang berbeda melalui bahasa universal tarian.

Melihat potret ini, ada rasa haru dan bangga. Senyum yang hangat dan penuh kebijaksanaan, serta tatapan mata yang memancarkan keteduhan, seakan berbicara tentang perjalanan hidup yang penuh pengabdian. Di sampingnya, seorang sosok yang beruntung bisa mengabadikan momen bersama seorang legenda. Foto ini bukan hanya kenang-kenangan, tetapi juga pengingat akan kebesaran jiwa seorang seniman yang telah memberikan segalanya untuk seni dan budaya.

Irawati Durban telah tiada, tetapi warisannya abadi. Setiap kali Tari Merak memukau penonton, setiap kali Tari Puspa Apsari dibawakan, kita mengenang sosoknya.  tidak hanya menciptakan tarian, ia menciptakan cerita. Cerita tentang cinta, dedikasi, dan pengabdian yang tak pernah lekang oleh waktu. Ia adalah maestro yang tak hanya menari, tetapi juga menginspirasi dunia untuk menari bersama, dalam irama keindahan budaya Indonesia. (Didin Tulus).

***

Judul: Mengenang Irawati Durban: Maestro Tari yang Tak Lekang oleh Zaman

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan. ***