Hilangnya Wibawa Guru: Cermin Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Selasa (28/04/2026) – Artikel berjudul “Hilangnya Wibawa Guru: Cermin Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.

Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh peristiwa yang memprihatinkan. Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sejumlah siswa bersikap tidak sopan terhadap gurunya di dalam kelas. Dalam video itu, para siswa tampak mengejek dengan menunjukkan gestur jari tengah yang dinilai sebagai bentuk pelecehan terhadap sosok guru yang semestinya dihormati.

Suryani
Suryani, penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Pihak sekolah telah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari. Namun, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi  menilai hukuman tersebut belum tentu menjadi solusi efektif untuk membina karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk sanksi yang lebih bersifat edukatif dan memberi dampak langsung terhadap perubahan perilaku siswa.

Analisa Permasalah

Kasus pelecehan terhadap guru di Purwakarta tersebut menunjukkan adanya krisis moral di dunia pendidikan. Hal ini tidak lepas dari sistem pendidikan sekuler-liberal yang lebih fokus pada nilai akademik dan prestasi, tetapi kurang memberi perhatian pada pembentukan adab dan penghormatan kepada guru, padahal guru adalah sosok yang seharusnya dihormati, bukan dilecehkan.

Perilaku ini juga dipengaruhi budaya media sosial, di mana banyak anak muda ingin viral dan mendapat pengakuan dari teman-temannya. Demi dianggap lucu atau keren, ada yang rela membuat konten dengan merendahkan guru. Ini menunjukkan sebagian pelajar lebih mengejar popularitas daripada menjaga etika dan menghormati gurunya.

Kejadian ini juga menunjukkan lemahnya wibawa guru. Mengapa siswa berani melakukan tindakan seperti itu? Bisa jadi karena sanksi di sekolah kurang tegas atau guru merasa serba salah saat menegur siswa karena khawatir dipermasalahkan, apalagi didukung dengan orang tua salah satu siswa yang melakukan pelanggaran termasuk orang berpengaruh disekolah atau di daerah setempat. Jika guru kehilangan kewibawaan dan disiplin makin longgar maka siswa bisa makin berani melanggar batas.

Kasus ini juga menjadi kritik bagi program pendidikan karakter termasuk Profil Pelajar Pancasila. Karena jika penghormatan kepada guru saja masih lemah, berarti program tersebut belum benar-benar membentuk karakter siswa dan masih banyak berhenti pada konsep atau formalitas.

Karena itu, masalah ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan skorsing, tetapi perlu pembenahan yang lebih mendasar. Pendidikan harus kembali menekankan pentingnya adab, menghormati guru, memperkuat disiplin, serta melibatkan peran orang tua dan masyarakat agar terbentuk generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.

Solusi Islam

Kurikulum pendidikan harus dibangun berlandaskan akidah Islam, agar mampu mencetak generasi yang memiliki kepribadian Islam (syakhshiyah islamiyyah), yaitu pola pikir dan sikap yang sesuai syariat. Pendidikan tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk akhlak, adab, dan rasa hormat kepada guru sehingga siswa tumbuh menjadi pribadi yang berilmu sekaligus berkarakter.

Negara juga harus berperan menjaga moral generasi, salah satunya dengan menyaring konten digital yang merusak, seperti tayangan yang menormalisasi pembangkangan, pelecehan, kekerasan, atau perilaku tidak beradab. Sebab apa yang sering dilihat anak-anak di media akan memengaruhi cara berpikir dan perilaku mereka.

Selain itu juga harus ada kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua supaya bisa selaras dalam membimbing dan membina karakter dan kepribadiannya.

Dalam Islam ada sistem sanksi yang tegas dan mendidik, bukan sekadar menghukum. Sanksi berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa bagi pelaku) dan zawajir (pencegah agar orang lain tidak meniru). Dengan sanksi yang adil dan memberi efek jera, pelanggaran seperti merendahkan guru tidak dianggap hal sepele dan tidak mudah terulang.

Dalam Islam, guru dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Guru dipandang sebagai sosok penting pembentuk generasi sehingga negara wajib memberikan penghargaan tinggi dan jaminan hidup yang layak bagi para guru. Dengan posisi yang terhormat dan didukung negara, wibawa guru akan kuat di mata murid maupun masyarakat, sehingga penghormatan kepada guru benar-benar terjaga.

***

Judul: Hilangnya Wibawa Guru: Cermin Sistem Pendidikan Sekuler Kapitalis

Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga

Editor: JHK