BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Senin (05/10/2026) – Artikel berjudul “Meluruskan Mitos Marcel Proust: Ketika Sejarah Sastra Diburamkan oleh Romantisasi” ini merupakan tulisan Dimas Saputra, seorang praktisi perbukuan yang kini tinggal di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Dalam sebuah esai puitis yang beredar belakangan ini mengenai Marcel Proust, sang penulis menggambarkan pengarang besar Prancis itu sebagai sosok kesepian yang “tidak pernah melihat seluruh karyanya terbit semasa hidup.” Narasi ini terasa sangat dramatis—menghadirkan gambaran tragis tentang seorang jenius yang meninggal sebelum karyanya diakui dunia. Namun, dari sudut pandang sejarah sastra, klaim tersebut tidak hanya tidak akurat, tetapi juga mencederai fakta perjuangan nyata Proust semasa hidupnya.
Memang benar bahwa mahakarya Proust “À la Recherche du Temps Perdu” (Mencari Waktu yang Hilang), diterbitkan secara bertahap dalam tujuh jilid dan tiga jilid terakhirnya baru diterbitkan setelah kematiannya pada 1922. Namun, menyimpulkan bahwa Proust “tidak pernah melihat karyanya diterbitkan” adalah sebuah kekeliruan fatal yang mengabaikan dinamika nyata dari karier sastranya.

Faktanya, Marcel Proust sempat menyaksikan empat jilid pertama dari ketujuh jilid yang terbit dan dibaca luas oleh publik Prancis. Keempat jilid pertama itu adalah “Du Côté de Chez Swann” yang terbit pada 1913 setelah melalui perjuangan panjang bahkan sempat ditolak oleh beberapa penerbit besar sebelum akhirnya Proust menerbitkannya dengan biaya sendiri (self-publishing) di penerbit Bernard Grasset.
Setelah kesuksesan jilid pertama di Grasset dan setelah Proust memenangkan penghargaan Prix Goncourt untuk jilid keduanya yang berjudul “À L’ombre des Jeunes Filles en Fleurs” (Dalam Bayangan Gadis-Gadis Muda yang Sedang Mekar) yang terbit pada akhir 1918, Proust kemudian memindahkan penerbitan bukunya ke Gallimard. Lalu menerbitkannya sisa jilid dari keseluruhan karya besar tersebut. Karyanya yang kedua inilah yang mengangkat nama Proust ke puncak panggung sastra dunia.
Seri ketiga yang masih disaksikan langsung oleh Proust adalah karyanya yang berjudul “Le Côté de Guermantes” (The Guermantes Ways – Jalan Guermantes) yang terbit pada 1920-1921 (jilid ketiga ini dibuat menjadi dua jilid). Novel ini terbit dan disambut hangat oleh para kritikus kala itu.
Seri keempat yang masih disaksikan penerbitannya oleh Proust berjudul “Sodome et Gomorrhe” (Sodom dan Gomora) yang terbit dalam dua jilid pada rentang tahun 1921–1922. Karya keempat ini terbit beberapa bulan sebelum kematiannya pada bulan November 1922. Artinya, Proust tidak meninggal dalam kegelapan tanpa pengakuan. Ia bukan sekadar “melihat” karyanya terbit, tetapi juga merasakan langsung gelombang kritik, pujian, dan kontroversi yang dipicu oleh buku-bukunya.
Salah satu bukti paling tidak terbantahkan bahwa Proust menikmati buah karyanya semasa hidup adalah kemenangannya dalam ajang Prix Goncourt pada tahun 1919, penghargaan sastra paling bergengsi di Prancis—untuk karya jilid keduanya, “À L’ombre des Jeunes Filles en Fleurs”. Penghargaan tersebut diumumkan pada 10 Desember 1919 di Restaurant Drouant, Paris mengalahkan novel perang karya Roland Dorgelès, “Les Croix de Bois”.
Kemenangan ini sempat memicu perdebatan publik karena Proust dianggap sudah terlalu tua (berusia 48 tahun) untuk kategori penghargaan yang biasanya menyoroti penulis pemula atau lebih muda, serta karena novelnya bukan bertema Perang Dunia I yang sedang disukai kritikus kala itu.
Penghargaan ini membuat namanya melambung di mata internasional. Proust yang saat itu berusia mendekati 50 tahun seketika menjadi tokoh sentral dalam diskursus sastra Eropa. Ia membaca ulasan-ulasan koran tentang dirinya, membalas surat dari para penggemar, dan berdiskusi intensif dengan sesama sastrawan sezaman. Penghargaan tersebut adalah bukti sahih bahwa kejeniusan Proust telah diakui dunia jauh sebelum ia mengembuskan napas terakhir.
Menyebut Proust sebagai sosok kesepian yang “tidak pernah melihat seluruh karyanya terbit semasa hidup” tentu adalah sebuah kekeliruan. Mengapa kekeliruan seperti ini sering muncul dalam tulisan-tulisan naratif populer? Jawabannya terletak pada kecenderungan untuk membesar-besarkan narasi “seniman yang teraniaya oleh zaman” (the unrecognized genius). Ada godaan estetis untuk menggambarkan Proust sebagai sosok tragis yang menulis dalam ruang isolasi berlapis gabus, menyerahkan seluruh hidupnya untuk sebuah mahakarya, lalu meninggal tanpa sempat menikmati hasilnya.
Namun, romantisasi seperti ini justru mengerdilkan kegigihan Proust yang sebenarnya. Perjuangan Proust bukan hanya perjuangan melawan penyakit asma dan waktu, melainkan juga perjuangan taktis di dunia penerbitan: bernegosiasi dengan penerbit, menyunting secara mandiri (proofreading) hingga larut malam, dan mempertahankan visi artistiknya di tengah penolakan awal terhadap karya-karyanya.
Tiga jilid terakhirnya (“La Prisonnière”, “Albertine Disparue”, dan “Le Temps Retrouvé”) memang diterbitkan secara posthumous oleh saudaranya, Robert Proust. Namun, fakta bahwa sebagian jilid terbit setelah ia wafat tidak boleh mengaburkan kenyataan bahwa Proust telah berdiri sebagai raksasa sastra yang diakui publik saat ia masih bernapas.
Marcel Proust adalah arsitek memori yang luar biasa, dan warisannya memang abadi. Namun, menghormati seorang sastrawan berarti juga menghormati fakta sejarah hidupnya. Proust tidak hanya meninggalkan “katedral kata-kata” setelah kematiannya; ia sendiri yang meletakkan batu pertamanya, menyaksikan tiang-tiangnya berdiri kokoh, dan mendengar tepuk tangan dunia saat katedral itu mulai diakui keindahannya.
***
Judul: Meluruskan Mitos Marcel Proust: Ketika Sejarah Sastra Diburamkan oleh Romantisasi
Penulis: Dimas Saputra
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis/Pengarang
Dimas Saputera adalah nama pendek dari Dimas Handi Hijrah Saputra. Pria kelahiran 1982 ini, pada suatu ketika pernah belajar dan lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Dimas pernah menjadi mentor tingkat SD dan SMP untuk pelajaran Bahasa Indonesia pada bimbingan belajar Sony Sugema College. Selepas dari itu, sejak 2009 s.d. sekarang pernah bekerja di berbagai penerbit dan percetakan buku, sebagai editor, layouter, desainer cover, hingga sebagai marketing dan admin.
Selain menjadi karyawan di Penerbit Buku Alfabeta Bandung, Dimas juga aktif di beberapa komunitas kepenulisan maupun sosial. Sampai saat ini tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Bandung Raya, Anggota Radio Antar Penduduk Indonesia Lokal 02 Lembang Wilayah Kabupaten Bandung Barat, Pengurus Pusat IKA UPI, dan Bendahara pada Dewan Kemakmuran Masjid dekat rumahnya.
***