BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Opini/Artikel/Feature, Sabtu (05/09/2026) – Artikel berjudul “Living Lab Vokasi: Saat Pendidikan Tidak Lagi Menunggu Dunia Kerja” ini ditulis oleh Asep (HC) Arie Barajati, seorang pengamat sosial, seni, budaya, dan pendidikan yang tinggal di Kabupaten Bandung Barat.
Selama bertahun-tahun, kita sering mendengar istilah link and match antara dunia pendidikan dan dunia industri. Namun, pertanyaan besarnya adalah: sudah sejauh mana keterhubungan itu benar-benar terjadi?
Dunia kerja terus bergerak. Teknologi berubah. Perilaku konsumen bergeser. Jenis pekerjaan baru bermunculan dan kebutuhan industri semakin spesifik. Sementara itu, pendidikan tidak boleh berjalan dengan kecepatan yang sama seperti masa lalu.
Kini sudah waktunya pendidikan vokasi tidak hanya mempersiapkan siswa untuk memasuki dunia kerja, tetapi membawa dunia kerja masuk ke dalam proses pendidikan itu sendiri. Di sinilah Living Lab Vokasi menawarkan sebuah paradigma baru.
Living Lab Vokasi bukan sekadar ruang praktik, bukan pula sekadar program magang yang selesai setelah beberapa bulan. Ia merupakan sebuah ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pemerintah, institusi pendidikan, dunia industri, mall, UMKM, komunitas, dan asosiasi bisnis dalam satu gerakan nyata.

Gagasannya sederhana, tetapi dampaknya bisa sangat besar: siswa belajar dari dunia nyata, menghasilkan karya nyata, kemudian menguji dan memasarkannya di pasar nyata.
Bayangkan seorang siswa tidak hanya belajar bagaimana membuat sebuah produk di ruang praktik. Setelah produk selesai, ia dapat melihat langsung bagaimana konsumen menilainya. Apakah desainnya menarik? Apakah harganya sesuai? Apakah kualitasnya mampu bersaing? Bagaimana cara memasarkannya? Mengapa konsumen memilih produk tertentu dan mengabaikan produk lainnya?
Semua pertanyaan itu menjadi bagian dari proses belajar. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada nilai ujian. Keberhasilan pembelajaran dapat dilihat dari kemampuan siswa menciptakan solusi, menghasilkan produk, berkomunikasi dengan konsumen, bekerja dalam tim, memahami teknologi, dan membaca peluang bisnis.
Kelas berubah menjadi laboratorium. Industri berubah menjadi mentor. Mall berubah menjadi ruang belajar. Konsumen berubah menjadi pemberi umpan balik. Siswa berubah dari sekadar peserta didik menjadi calon profesional sekaligus calon entrepreneur. Perubahan seperti ini tentu membutuhkan kolaborasi.
Pemerintah dapat menjadi penggerak melalui regulasi, kebijakan, fasilitasi pembiayaan, infrastruktur, serta penciptaan ruang kolaborasi. Institusi pendidikan menghadirkan talenta, kurikulum, riset, kompetensi, dan inovasi. Dunia industri menyediakan pengalaman, standar profesional, mentoring, sekaligus akses terhadap kebutuhan pasar.
Mall dan UMKM pun memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari ekosistem ini. Mall dapat membuka ruang bagi produk-produk karya siswa dan UMKM untuk dipamerkan, serta diuji langsung di hadapan konsumen. Pelaku usaha dapat menjadi mentor bagi generasi muda. Bahkan, kerja sama tersebut dapat melahirkan produk baru, bisnis baru, dan peluang ekonomi baru.
Inilah yang membuat Living Lab Vokasi berbeda. Ia tidak hanya berbicara tentang mencetak tenaga kerja, tetapi juga tentang menciptakan nilai ekonomi.
Sekolah mendapatkan ruang aktualisasi. Siswa mendapatkan pengalaman. Industri memperoleh talenta dan inovasi. UMKM memperoleh energi baru. Mall mendapatkan fungsi strategis sebagai pusat edukasi dan kreativitas. Pemerintah mendapatkan model konkret penguatan ekonomi berbasis pendidikan vokasi.
Semua pihak mendapatkan manfaat dan sesuatu yang lebih penting, ekosistem ini dapat menjadi tempat lahirnya generasi muda yang tidak takut menghadapi dunia kerja karena mereka sudah mengenalnya sejak masih belajar.
Mereka tidak hanya bertanya, “Di mana saya akan bekerja setelah lulus?” Mereka mulai belajar bertanya, “Apa yang bisa saya ciptakan?” Pertanyaan kedua inilah yang dapat mengubah masa depan.
Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi yang mampu menciptakan produk, membangun usaha, mengembangkan teknologi, membuka lapangan pekerjaan, dan menjadikan kreativitas sebagai kekuatan ekonomi.
Living Lab Vokasi karena itu bukan sekadar proyek pendidikan. Ia adalah investasi jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia dan masa depan ekonomi kreatif Indonesia. Kini saatnya para pemangku kepentingan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Pemerintah, sekolah vokasi, perguruan tinggi, mall, industri, UMKM, komunitas, dan asosiasi bisnis dapat duduk bersama, menyatukan kekuatan, lalu membangun ekosistem yang memungkinkan proses belajar berlangsung tanpa batas.
Mari menjadikan Living Lab Vokasi sebagai ruang bersama untuk belajar, berkarya, berinovasi, dan menciptakan peluang karena masa depan tidak cukup hanya dipelajari. Masa depan harus diciptakan.
Mungkin, tempat terbaik untuk mulai menciptakannya adalah ketika sekolah bertemu industri, inovasi bertemu pasar, dan generasi muda diberi kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.
Living Lab Vokasi — belajar hari ini, berkarya hari ini, menciptakan masa depan mulai hari ini.
***
Judul: Living Lab Vokasi: Saat Pendidikan Tidak Lagi Menunggu Dunia Kerja
Penulis: Asep (HC) Arie Barajati
Editor: JHK