BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (20/08/2026) – Di tengah kehidupan modern yang semakin lekat dengan teknologi, gawai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian keluarga. Telepon pintar dan tablet bukan hanya digunakan orang dewasa untuk bekerja dan berkomunikasi, tetapi juga kerap menjadi “teman” bagi anak-anak, bahkan sejak usia sangat dini.
Bagi sebagian orang tua, memberikan gawai kepada anak dianggap sebagai solusi praktis. Ketika anak mulai rewel, sulit makan, atau mengganggu aktivitas orang tua, layar digital sering menjadi jalan keluar yang dianggap paling mudah. Anak tenang, orang tua pun dapat melanjutkan pekerjaan atau beristirahat. Namun, di balik ketenangan sesaat itu, Hermana HMT melihat persoalan yang jauh lebih serius.
Menurut Hermana, kebiasaan memberikan gawai kepada anak di bawah umur secara berlebihan bukan semata persoalan pola asuh, melainkan dapat berpengaruh terhadap perkembangan anak sekaligus masa depan kebudayaan bangsa. Bahkan, mantan Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC) 2020-2023 tersebut menyebut fenomena ini sebagai bagian dari “kehancuran budaya”. Pandangannya berangkat dari kekhawatiran bahwa teknologi secara perlahan menggantikan ruang interaksi yang seharusnya diisi oleh orang tua, keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Pernyataan tersebut dikeluarkan Hermana saat menjadi salah satu narasumber dalam acara Podcast “Harmoni Cima’Art” bertajuk “Temu Seniman: Ngopi, Ngobrol, dan Berkarya” yang berlangsung di Cima’Art Room, Lt.1 Cimahi Mall, Jalan Gandawijaya, Kota Cimahi pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Lebih lanjut Hermana mengatakan bahwa pada usia dini, terutama sekitar 0 hingga 6 tahun, anak berada dalam fase penting perkembangan otak. Mereka membutuhkan pengalaman yang kaya melalui gerak, sentuhan, percakapan, permainan, eksplorasi lingkungan, serta interaksi langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Dunia anak bukan hanya tentang apa yang mereka lihat di layar, tetapi juga tentang bagaimana mereka menyentuh, bergerak, bertanya, meniru, merespons dan membangun hubungan emosional.

“Karena itu, persoalan penggunaan gawai tidak cukup dilihat dari berapa lama anak menatap layar. Yang lebih penting adalah apa yang hilang ketika waktu anak terlalu banyak terserap oleh perangkat digital,” ungkap Hermana.
Ketika gawai menjadi pengasuh pengganti, kesempatan anak untuk bercakap-cakap dengan orang tua dapat berkurang, padahal percakapan sederhana—menjawab pertanyaan anak, membacakan cerita, bernyanyi, atau mengajak mereka mengenali benda di sekitar—merupakan bagian penting dari proses belajar bahasa dan membangun kemampuan sosial.
Hermana menggunakan istilah “stunting kecerdasan” dan “speed delay” untuk menggambarkan kekhawatirannya terhadap dampak penggunaan gawai yang berlebihan pada anak. Istilah tersebut menjadi metafora keras untuk mengingatkan bahwa keterlambatan perkembangan tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele.
Pesan terpenting dari pandangan Hermana sebenarnya bukan sekadar larangan terhadap teknologi. Gawai, bagaimanapun, merupakan bagian dari perkembangan zaman dan memiliki banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Persoalannya terletak pada bagaimana orang tua menempatkan teknologi dalam kehidupan anak.
“Orang tua, dalam konteks ini, bukan sekadar pihak yang menyediakan makanan, pakaian, pendidikan, dan fasilitas teknologi. Mereka adalah lingkungan pertama tempat anak belajar mengenal dunia. Ketika orang tua memilih memberikan layar demi mendapatkan ‘kedamaian dan ketenangan’, mereka perlu bertanya kembali: ketenangan untuk siapa?” Ujar Hermana dengan nada tinggi.

Menurut Hermana, anak yang diam di depan layar belum tentu sedang belajar. Anak yang tidak rewel belum tentu sedang berkembang secara optimal. Rumah yang sunyi karena anak sibuk dengan gawai belum tentu merupakan rumah yang sehat secara komunikasi.
Kekhawatiran Hermana kemudian bergerak lebih jauh, yakni menyangkut identitas bangsa. Ia mengingatkan, “Identitas masa depan bangsa Indonesia akan hancur ketika budaya asing melalui teknologi menyerap semuanya.”

Pernyataan itu menjadi ajakan bagi orang tua untuk tidak menyerahkan sepenuhnya proses tumbuh kembang anak kepada teknologi. Anak perlu mengenal cerita, bahasa, permainan tradisional, seni, lingkungan alam, nilai keluarga, dan kebudayaan lokal. Mereka juga membutuhkan percakapan nyata dengan ayah, ibu, kakek, nenek, guru, dan teman sebaya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar orang tua di era digital bukanlah menjauhkan anak dari teknologi, melainkan memastikan teknologi tidak mengambil alih peran manusia. Sebab, masa depan seorang anak tidak dibentuk oleh seberapa canggih gawainya, tetapi oleh seberapa kaya pengalaman hidup yang ia terima.
Di tengah derasnya arus digital, orang tua tetap menjadi “gawai” pertama yang paling penting bagi anak: tempat pertama untuk belajar berbicara, mengenal kasih sayang, memahami nilai, dan menemukan jati dirinya. (Asep (HC) Arie Barajati/BJN)
***
Judul: Ketika Gawai Menggantikan Pelukan: Hermana HMT Soroti Peran Orang Tua dalam Menjaga Masa Depan Anak
Jurnalis: Asep (HC) Arie Barajati
Editor: JHK