Jejak Spiritual dan Budaya Warnai Perjalanan Kirab Ngarak Cai Cimahi di Jawa Barat

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Cimahi, Jawa Barat, Kamis (07/05/2026) – Kirab Ngarak Cai asal Kota Cimahi turut ambil bagian dalam rangkaian perayaan budaya besar yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui agenda Milangkala Tatar Sunda 2026. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai komunitas budaya dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat yang menggelar kirab budaya di sejumlah daerah.

Rangkaian acara dimulai pada 2 Mei 2026 di Sumedang, kemudian berlanjut ke Kawali Ciamis pada 3 Mei, Tasikmalaya 4 Mei, Garut 5 Mei, Cianjur 6 Mei, Kota Bogor 8 Mei, Karawang 9 Mei, Kota Cirebon 10 Mei, dan ditutup di Kota Bandung pada 16 Mei 2026.

Hermana HMT (kiri) bersama para seniman Kota Cimahi – (Sumber: Her/BJN)

Ketua Yayasan Kebudayaan Bandoeng Mooi sekaligus pimpinan rombongan Kirab Ngarak Cai Kota Cimahi, Hermana HMT, mengungkapkan rasa bangganya karena komunitas yang dipimpinnya dipercaya menjadi bagian dari perhelatan budaya tersebut.

Menurut Hermana, komunitas budaya dari Cimahi mendapat undangan langsung dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengikuti safari budaya berupa kirab selama lima hari berturut-turut di beberapa daerah di Jawa Barat.

“Kami merasa terhormat bisa ikut memeriahkan Milangkala Tatar Sunda 2026. Ini menjadi kesempatan berharga untuk memperkenalkan budaya Kota Cimahi kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Hermana.

Hermana menjelaskan, Kirab Ngarak Cai pertama kali digagas pada 2010 dan mulai dilaksanakan saat peringatan Hari Jadi Kota Cimahi tahun 2011. Gagasan itu lahir dari keprihatinannya terhadap semakin hilangnya sumber mata air di Kota Cimahi akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman.

Hermana menuturkan, di kampung halamannya di Babakan Loa RW 07, Kelurahan Pasirkaliki, Kecamatan Cimahi Utara, dulunya terdapat lebih dari tujuh sumber mata air. Namun, kini hanya tersisa satu karena sebagian besar telah tertutup pembangunan perumahan.

Berangkat dari kondisi tersebut, Hermana bersama para pelaku budaya kemudian membuat gerakan budaya yang mengajak masyarakat menjaga lingkungan, terutama tanah, air, sungai, dan pepohonan sebagai sumber kehidupan. Pesan itu disampaikan melalui seni pertunjukan budaya bertajuk Kirab Budaya Ngarak Cai dan Ngalokat Cai Cimahi dengan semangat “Jaga Lemah, Jaga Cai, Jaga Budaya”.

Hermana menegaskan, keterlibatan Kirab Ngarak Cai dalam Milangkala Tatar Sunda 2026 bukan sekadar menampilkan atraksi budaya, tetapi juga menjadi perjalanan batin yang penuh makna.

“Bagi kami, kegiatan ini bukan hanya seremoni budaya. Ini menjadi simbol kebangkitan masyarakat Sunda agar kembali kuat, unggul, dan bermartabat,” kata Hermana.

Selama lima hari perjalanan budaya di lima kabupaten, rombongan yang melibatkan sekitar 110 pelaku budaya dari Kota Cimahi itu membawa air dari sumber mata air Kampung Ciawitali. Air tersebut kemudian dipersembahkan kepada Gubernur Jawa Barat, serta kepala daerah di setiap wilayah yang disinggahi sebagai simbol penghormatan terhadap sumber kehidupan.

Hermana mengaku banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama mengikuti kirab budaya tersebut. Selain menjadi sarana promosi budaya lokal Kota Cimahi, perjalanan itu juga memberikan pengalaman spiritual yang mendalam bagi seluruh peserta.

Proses Kirab Ngarak Cai Kota Cimahi yang melibatkan 110 orang pelaku budaya – (Sumber: Her/BJN

“Meskipun harus menghadapi rasa lelah, kurang tidur, hingga hujan sepanjang perjalanan, semua itu justru memperkuat kecintaan kami terhadap budaya Sunda. Kami semakin yakin bahwa nilai-nilai warisan karuhun Sunda masih sangat relevan di tengah kehidupan modern dan serba digital saat ini,” ungkap Hermana.

Pada akhir keterangannya, Hermana mengajak masyarakat Sunda untuk terus menjaga persatuan dan melestarikan nilai budaya leluhur melalui semangat silih asah, silih asih, dan silih asuh.

“Bangsa Sunda akan tetap berdiri kuat jika masyarakat Sundanya sendiri mau menjaga dan merawat warisan budayanya. Mari saling mendukung dan bergotong royong demi menjaga martabat budaya Sunda,” pungkas Hermana. (Her/BJN).

***

Judul: Jejak Spiritual dan Budaya Warnai Perjalanan Kirab Ngarak Cai Cimahi di Jawa Barat

Editor: JHK

Jurnalis: Her