BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Rabu (14/10/2026) – Tulisan berjudul “Kuliah Dulu Sambil Menunggu Ekonomi Pulih: Universitas Terbuka, Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang dosen, penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).
Mencari pekerjaan sekarang bukan perkara mudah. Lowongan kerja yang sesuai harapan tidak selalu tersedia, persaingan semakin ketat, sementara membuka usaha sendiri membutuhkan modal, keberanian, dan perhitungan yang matang. Bagi sebagian orang, situasi ini membuat masa depan terasa seperti jalan panjang yang belum menemukan ujungnya.
Lulusan SMA dan SMK yang belum mendapatkan pekerjaan mungkin mulai bertanya-tanya: harus ke mana setelah ini? Melamar pekerjaan sudah berkali-kali, tetapi belum ada panggilan. Mencoba usaha kecil-kecilan pun belum tentu mendatangkan keuntungan. Sementara itu, kebutuhan hidup terus berjalan dan waktu tidak pernah berhenti.
Namun, di tengah keadaan yang serba tidak pasti, ada satu pilihan yang patut dipertimbangkan: melanjutkan pendidikan tinggi sambil menunggu kesempatan kerja dan ekonomi membaik. Salah satu jalan yang realistis untuk ditempuh adalah kuliah di Universitas Terbuka (UT), perguruan tinggi negeri yang menyelenggarakan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Mengapa harus kuliah sekarang? Bukankah biaya hidup sedang menjadi beban dan pekerjaan saja sulit didapatkan?
Justru karena itulah, masa menunggu sebaiknya tidak dihabiskan tanpa kegiatan yang memberi nilai tambah bagi masa depan. Ketika kesempatan kerja belum datang, kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki kualitas diri. Ketika pintu perusahaan belum terbuka, kita bisa mulai membuka pintu pengetahuan.
Jangan Biarkan Masa Menunggu Menjadi Waktu yang Terbuang
Kita tidak bisa memastikan kapan kondisi ekonomi akan pulih sepenuhnya. Demikian pula, tidak ada yang dapat menjamin kapan seseorang memperoleh pekerjaan sesuai keinginannya. Akan tetapi, ada sesuatu yang bisa kita kendalikan, yakni bagaimana memanfaatkan waktu yang tersedia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Agustus 2025 mencapai 4,85 persen. Pada periode yang sama, jumlah angkatan kerja tercatat sebanyak 154 juta orang, sedangkan penduduk yang bekerja mencapai 146,54 juta orang. Data tersebut menggambarkan besarnya dinamika dunia kerja yang harus dihadapi masyarakat.
Dalam situasi seperti ini, memiliki ijazah pendidikan menengah saja mungkin belum cukup untuk memenuhi persyaratan sejumlah posisi pekerjaan. Banyak perusahaan dan lembaga menetapkan kualifikasi pendidikan tertentu, selain pengalaman, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kuliah memang bukan jaminan seseorang langsung mendapatkan pekerjaan atau memperoleh penghasilan besar. Namun, pendidikan tinggi dapat menjadi salah satu bekal untuk memperluas pilihan karier, memperdalam pengetahuan, serta meningkatkan kemampuan yang dibutuhkan di dunia profesional.
Karena itu, daripada membiarkan waktu habis untuk menunggu panggilan kerja, mengapa tidak mulai menyiapkan diri?
Bagi yang belum memiliki pekerjaan, kuliah bisa menjadi investasi jangka panjang. Bagi yang sudah bekerja tetapi ingin meningkatkan posisi, pendidikan tinggi dapat menjadi langkah untuk memperkuat kompetensi. Sementara bagi mereka yang sedang merintis usaha, ilmu yang diperoleh dari bangku kuliah bisa membantu mengelola bisnis secara lebih terencana.
Universitas Terbuka, Kuliah Negeri yang Lebih Fleksibel
Salah satu alasan Universitas Terbuka layak dipertimbangkan adalah sistem pembelajarannya yang dirancang agar masyarakat dapat menempuh pendidikan tinggi tanpa harus selalu hadir di kampus seperti pada perkuliahan konvensional.
Melalui sistem pendidikan jarak jauh, mahasiswa dapat mempelajari materi secara mandiri dengan memanfaatkan modul, bahan ajar digital, video pembelajaran, serta layanan pembelajaran daring. Mahasiswa juga memperoleh dukungan akademik melalui tutor dan berbagai fasilitas bantuan belajar yang disediakan UT.
Keunggulan ini sangat relevan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan waktu, biaya, atau akses menuju perguruan tinggi. Seseorang yang tinggal jauh dari kota pendidikan tetap mempunyai kesempatan melanjutkan kuliah. Begitu pula mereka yang harus membantu orang tua, mengurus keluarga, menjaga toko, bekerja paruh waktu, atau menjalankan usaha kecil.
Bayangkan seorang lulusan SMK yang setiap pagi membantu orang tuanya berdagang. Siang hari, ia mengurus pesanan pelanggan, sedangkan malam hari digunakan untuk belajar. Dengan pengaturan waktu yang baik, kegiatan mencari nafkah dan menempuh pendidikan dapat diupayakan berjalan beriringan.
Contoh lain adalah pekerja yang sudah beberapa tahun bekerja, tetapi belum memiliki gelar sarjana. Ia tidak harus buru-buru meninggalkan pekerjaannya hanya untuk mengejar pendidikan. Melalui sistem belajar jarak jauh, ia memiliki pilihan untuk meningkatkan pendidikan sembari tetap menjalankan tanggung jawab sehari-hari.
Tentu saja, fleksibel bukan berarti kuliah tanpa disiplin. Mahasiswa tetap harus membaca materi, mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan pembelajaran yang diwajibkan, dan menghadapi evaluasi akademik. Justru di sinilah mahasiswa dilatih untuk mandiri, mengatur waktu, dan bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Biaya Lebih Terjangkau, Pilihan Program Studi Beragam
Bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi, biaya kuliah sering menjadi penghalang terbesar. Keinginan melanjutkan pendidikan terkadang harus dikalahkan oleh kebutuhan sehari-hari.
Universitas Terbuka menawarkan pilihan skema biaya pendidikan yang dapat dipertimbangkan sesuai kemampuan dan kebutuhan mahasiswa. Berdasarkan informasi resmi UT mengenai biaya program sarjana dan diploma, terdapat skema Sistem Paket Semester (SIPAS) dan skema Non-SIPAS, dengan biaya yang bergantung pada program studi serta layanan akademik yang dipilih.
Sebagai gambaran, informasi pada laman resmi UT mencantumkan biaya paket tanpa tutorial tatap muka untuk sejumlah program sarjana mulai Rp1.300.000 per semester. Namun, nominal tersebut bukan tarif seragam bagi seluruh program studi. Biaya program tertentu, layanan tutorial, dan komponen akademik lainnya dapat berbeda.
Dengan mengetahui biaya sejak awal, calon mahasiswa dapat membuat perencanaan keuangan yang lebih realistis. Sisihkan dana pendidikan secara berkala, hitung kebutuhan internet dan bahan belajar, serta sesuaikan jumlah mata kuliah yang diambil dengan kemampuan finansial dan waktu yang tersedia.
UT juga menawarkan beragam program pendidikan, mulai dari diploma dan sarjana hingga magister dan doktoral. Bidang yang tersedia mencakup pendidikan, ekonomi dan bisnis, hukum, ilmu sosial dan politik, serta sains dan teknologi. Pilihan program studi perlu disesuaikan dengan minat, kemampuan, pekerjaan yang sedang dijalani, dan arah karier yang ingin dibangun.
Ijazah dan Ilmu untuk Membuka Peluang Karier
Lalu, apa manfaat kuliah di UT bagi karier pada masa depan?
Pertama, pendidikan tinggi dapat membantu memenuhi persyaratan akademik untuk melamar pekerjaan tertentu. Sejumlah posisi di perusahaan, lembaga, maupun organisasi mensyaratkan ijazah diploma atau sarjana. Dengan menempuh program studi yang sesuai dan menyelesaikannya, seseorang dapat memperluas jenis lowongan yang memenuhi kualifikasinya.
Kedua, kuliah memberikan kesempatan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan. Mahasiswa belajar memahami persoalan secara sistematis, menganalisis informasi, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta menyelesaikan tugas berdasarkan target. Kemampuan tersebut berguna dalam berbagai bidang pekerjaan, meskipun penerapannya tetap bergantung pada program studi dan pengalaman masing-masing.
Ketiga, pendidikan dapat memperkuat peluang pengembangan karier bagi mereka yang sudah bekerja. Karyawan yang ingin mengikuti seleksi jabatan, meningkatkan kompetensi, atau berpindah ke bidang pekerjaan tertentu dapat mempertimbangkan pendidikan yang relevan. Meski demikian, keputusan promosi dan penerimaan pegawai tetap ditentukan oleh kebijakan perusahaan, kebutuhan jabatan, pengalaman, serta persyaratan lain yang berlaku.
Keempat, kuliah bisa menjadi bekal untuk mengembangkan usaha. Mahasiswa yang mempelajari ekonomi, manajemen, akuntansi, pemasaran, atau teknologi informasi, misalnya, dapat memperoleh pengetahuan yang berguna untuk menyusun perencanaan usaha, memahami pencatatan keuangan, memasarkan produk, dan memanfaatkan teknologi digital.
Yang tidak kalah penting, proses kuliah juga membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat. Dunia kerja terus berubah. Teknologi baru bermunculan, pola bisnis berkembang, dan sejumlah pekerjaan mengalami perubahan tuntutan keterampilan. Orang yang terbiasa belajar akan memiliki bekal lebih baik untuk menyesuaikan diri.
Namun, perlu diingat bahwa ijazah bukan tiket otomatis menuju kesuksesan. Nilai pendidikan akan semakin kuat apabila disertai keterampilan praktis, pengalaman kerja, portofolio, komunikasi yang baik, integritas, dan kemauan untuk terus belajar.
Tidak Harus Menunggu Kaya untuk Mulai Kuliah
Salah satu anggapan yang perlu diluruskan adalah bahwa kuliah hanya pantas ditempuh oleh mereka yang memiliki uang cukup, usia muda, dan waktu luang. Kenyataannya, kebutuhan dan keadaan setiap orang berbeda.
Ada orang yang baru bisa melanjutkan kuliah setelah bekerja beberapa tahun. Ada pula yang harus membagi waktu antara mencari nafkah dan mengurus keluarga. Sebagian lainnya baru menemukan keberanian untuk kuliah ketika usianya tidak lagi muda.
Universitas Terbuka membuka kesempatan bagi masyarakat dengan latar belakang yang beragam. Calon mahasiswa tidak perlu merasa terlambat hanya karena teman sebaya mereka sudah lebih dahulu lulus. Setiap orang memiliki perjalanan hidup dan waktunya masing-masing.
Bagi lulusan SMA atau SMK yang belum kuliah, sekarang adalah waktu yang baik untuk mulai mencari informasi. Bagi pekerja informal, pedagang kecil, pengemudi, pekerja lepas, maupun pencari kerja, pendidikan tinggi bisa menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk memperbaiki kehidupan.
Mulailah dengan menentukan bidang yang diminati, memeriksa persyaratan pendaftaran, membandingkan biaya, dan menghitung waktu belajar yang realistis. Calon mahasiswa dapat mengakses portal pendaftaran resmi UT atau menghubungi kantor UT daerah untuk memperoleh informasi sesuai program yang dituju.
Jangan mengambil keputusan hanya karena tergiur janji cepat sukses. Pilih program studi dengan pertimbangan matang dan pahami bahwa gelar sarjana membutuhkan proses, kesungguhan, serta konsistensi.
Sambil Menunggu Ekonomi Pulih, Cicil Masa Depan
Pada akhirnya, kita memang tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan ekonomi. Kita tidak bisa memaksa perusahaan membuka lowongan baru, mempercepat pertumbuhan usaha, atau memastikan setiap lamaran berbuah pekerjaan.
Namun, kita bisa memilih untuk tidak menyerah pada keadaan.
Ketika pekerjaan belum datang, kita dapat memperkaya pengetahuan. Ketika modal usaha belum mencukupi, kita bisa mempelajari cara mengelola bisnis. Ketika kesempatan promosi belum terbuka, kita dapat meningkatkan kompetensi. Dengan demikian, masa menunggu tidak menjadi ruang kosong, melainkan masa persiapan.
Bayangkan beberapa tahun mendatang. Ketika kesempatan kerja yang lebih baik muncul, kita tidak lagi datang hanya dengan harapan. Kita membawa pengetahuan yang lebih luas, keterampilan yang terus diasah, pengalaman yang bertambah, dan—jika berhasil menyelesaikan pendidikan—ijazah yang dapat mendukung persyaratan karier tertentu.
Itulah mengapa kuliah di Universitas Terbuka layak dipertimbangkan sebagai salah satu langkah strategis untuk membangun masa depan. Bukan karena UT menjanjikan kesuksesan instan, melainkan karena sistemnya memberi kesempatan kepada lebih banyak orang untuk belajar tanpa harus meninggalkan seluruh aktivitas kehidupannya.
Jadi, bagi Anda yang belum kuliah, jangan buru-buru mengubur cita-cita hanya karena keadaan ekonomi sedang sulit. Bagi Anda yang sedang mencari pekerjaan, jangan biarkan hari-hari berlalu tanpa menambah bekal. Dan bagi Anda yang sudah bekerja, jangan berhenti mengembangkan diri hanya karena merasa sudah cukup.
Daripada uang habis untuk mencoba berbagai hal yang belum tentu berhasil, sisihkan sebagian untuk investasi pendidikan yang terencana. Tentu, kebutuhan pokok tetap harus menjadi prioritas dan biaya kuliah harus disesuaikan dengan kemampuan. Namun, jika ada ruang dalam perencanaan keuangan, mengapa tidak mulai menanam benih masa depan?
Sebab, ilmu bukan sekadar bekal untuk mencari pekerjaan. Ilmu juga membantu kita mengambil keputusan, memahami perubahan, mengembangkan usaha, dan menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri.
Ekonomi boleh saja belum pulih sepenuhnya. Kesempatan kerja mungkin belum datang hari ini. Tetapi, jangan biarkan masa depan ikut berhenti.
Kuliah dulu sambil menunggu ekonomi pulih. Cicil ilmu, bangun kompetensi, dan siapkan masa depan mulai sekarang. Karena ketika kesempatan datang, kita ingin menjadi orang yang sudah siap menyambutnya.
***
TELAH DIBUKA!
GEBYAR PENDAFTARAN KAMPUS NEGERI UNIVERSITAS TERBUKA (UT)
Semester Genap 2026/2027 | Mulai 5 Oktober 2026 s/d 6 Januari 2027
INFORMASI dan BIMBINGAN PENDAFTARAN, Hubungi :
📞 Arie : 0852-1726-0169
📞 Maul : 0818-0909-8960
📞 Yudi : 0878-4281-5097
Yang berminat serius, silakan JAPRI, Konsultasi GRATIS!
atau daftar di Google Form :https://forms.gle/SMUTWAzRcWh3uNir8
Salam Sukses !
Judul: Kuliah Dulu Sambil Menunggu Ekonomi Pulih: Universitas Terbuka, Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK