Ketika Pak Natsir dan Al-Attas “Hadir” di Kampung IT: Tiga Jam Pencerahan Bersama Dr. Adian Husaini

BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Rabu (15/04/2026) – Tulisan berjudul “Ketika Pak Natsir dan Al-Attas “Hadir” di Kampung IT: Tiga Jam Pencerahan Bersama Dr. Adian Husaini” ini merupakan karya Junaedy Alfan, Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban.

Solo, 15 April 2026. Fajar di Kampung IT pagi itu terasa berbeda. Udara dingin khas menjelang subuh yang biasanya hanya ditemani dengung inverter panel surya dan bunyi beep server, kali ini berbaur dengan aroma kopi susu yang sengaja disiapkan oleh istri tercinta. Sebab, pagi itu, Kampung IT kedatangan tamu yang bukan sekadar tokoh, melainkan sebuah jembatan intelektual dari dua sosok guru bangsa yang telah tiada: Mohammad Natsir dan Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Kisah ini bermula 12 jam sebelumnya. Tepat pukul 19.11 WIB, 14 April 2026, sebuah notifikasi WhatsApp singkat mengubah rencana sarapan biasa menjadi forum silaturahmi yang padat makna.

“Saya nginep di Hotel Assalam. Kalo ada waktu besok habis shubuh kita ngobrol disini.”

Nama pengirimnya: Dr. Adian Husaini. Tokoh yang kini mengemban amanah sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) lembaga warisan Buya Hamka dan M. Natsir sekaligus pendiri Pesantren At-Taqwa Depok, benteng gagasan Islamisasi ilmu pengetahuan ala Prof. Naquib Al-Attas.

Pertemuan saya dengan Dr. Adian Husaini di Assalaam Syariah Hotel, Solo – (Sumber: https://www.indohotels.id)

Respons spontan saya, “Siap, Ustadz.” Namun, ada rasa ewuh pakewuh sekaligus semangat pamer karya. Masa iya tamu sehebat itu hanya diajak mengobrol di lobi hotel?

Maka, terketiklah usulan balasan yang agak nekat, “Ustaz, jika berkenan, langsung saja ke Kampung IT. Kami undang sarapan sambil lihat implementasi Energi Mandiri dan Elfan Ai Academy.”

Alhamdulillah, beliau setuju.

Dialog Subuh yang Membuka Mata: AI Itu Wajib, Bukan Gaya-gayaan

Begitu beliau menjejakkan kaki di area Kampung IT yang rindang dengan panel surya di atapnya, obrolan langsung mengalir deras. Suasananya santai ditemani kopi susu dan sarapan opor lontong. Namun,  bobot isinya seperti kuliah tamu di pascasarjana.

Saya dan team beserta asatidz Pesantren Qoryatul Quran yang di undang hadir dalam forum tersebut duduk khusyuk menyimak. Dr. Adian Husaini berbicara dengan gaya khasnya: rendah hati namun penuh ketegasan konseptual.

“Pendidikan itu harus adaptasi dengan zaman. Kalau tidak mau tergilas, teknologi terkini seperti AI harus menjadi kurikulum wajib di setiap lembaga pendidikan,” tegas beliau.

Pernyataan itu menohok sekaligus melegakan. Selama ini, banyak yang menganggap AI di pesantren atau sekolah Islam itu “kebarat-baratan”. Namun, pagi itu, dari tangan penerus pemikiran Al-Attas, justru lahir legitimasi bahwa Artificial Intelligence adalah fardhu ain zaman now.

Bayangkan sejenak, jika Anda pengelola sekolah atau pesantren, sudahkah kurikulum Anda siap menghadapi murid yang lebih akrab dengan ChatGPT daripada kamus cetak?

Tak berhenti di situ, beliau menyambung dengan kunci kolaborasi, “Setiap lembaga pendidikan harus kolaborasi mengambil keunggulan dari lembaga yang lain. Jangan sendiri-sendiri.”

Diskusi selama tiga jam itu penuh dengan insight kebangsaan. Beliau mengingatkan bahwa umat Islam saat ini bukan hanya perlu pandai mengaji, tapi juga pandai  memanfaatkan apapun potensi yang ada agar maju dan bisa menjadi pemimpin.

Ke Lantai Tiga: Melihat “Kemandirian energy” di Atas atap

Setelah sarapan, saya memberanikan diri mengajak beliau menaiki anak tangga menuju Lantai tiga Gedung Madinah. Di sanalah jantung Open Lab Energi Mandiri Kampung IT berdenyut. Panel surya berjejer jadi atap dan sumber energi,

Baterai lifepo4 menyimpan daya untuk kebutuhan energy di malam hari, Inverter bekerja menjadi otak yang mengatur distribusi daya dan management otomasi lainnya.

Junaedy Alfan
Junaedy Alfan, Penulis – (Sumber: FB)

Saya menjelaskan bahwa tempat ini bukan sekadar pembangkit listrik, melainkan TUK (Tempat Uji Kompetensi) BNSP untuk Energi Terbarukan. Di sini, santri dan anak muda belajar bahwa energi itu bisa diciptakan, bukan sekadar dibeli dari PLN. Ini adalah lab pembelajaran nyata untuk kemandirian strategis masa depan.

Mata Dr. Adian Husaini berbinar. Ekspresinya berubah dari seorang dosen menjadi seorang insinyur yang antusias melihat prototipe.

“Ini harus diduplikasi di lembaga pendidikan lain dan menjadi model tentang kemandirian energi,” ucap Dr. Adian Husaini dengan nada yang kali ini lebih tinggi, penuh apresiasi.

Kemudian, dengan nada serius namun hangat, beliau berpaling kepada saya, “Tolong buatkan proposal RAB untuk membuat seperti ini.”

Bagi kami, permintaan itu lebih mahal dari sekadar kontrak proyek. Itu adalah trust. Itu adalah perintah dari mata rantai perjuangan M. Natsir: Indonesia harus berdikari, baik secara pangan, pemikiran, maupun energi.

Refleksi: Jejak Kaki Para Guru Bangsa

Saat beliau meninggalkan Kampung IT menuju agenda berikutnya, saya terdiam sejenak memandangi jalanan kecil di depan lab. Terbayang, dua sosok yang telah wafat itu seolah ikut tersenyum: Pak Natsir (melalui Dewan Dakwah) dan Prof. Naquib Al-Attas (melalui model pendidikan ISTAC di Malaysia).

Kehadiran Dr. Adian Husaini adalah pengingat bahwa output peradaban itu panjang. Gagasan besar membutuhkan kader yang sabar dan istiqomah.

Kepada Dr. Adian Husaini, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih tak terhingga. Terima kasih telah singgah, menasihati, dan meyakinkan kami bahwa jalan sunyi mengawinkan IT dengan Adab ini bukanlah jalan yang salah.

Mohon doanya selalu, agar kami bisa terus berinovasi dan tetap istiqomah di jalan-Nya. Semoga proposal yang akan kami kirimkan itu menjadi awal dari kemandirian energi bagi ribuan pesantren di seluruh Indonesia.

Bagaimana dengan Anda? Melihat kisah ini, inovasi apa yang kira-kira bisa segera kita duplikasi di lingkungan tempat tinggal atau lembaga kita hari ini? (Junaedy Alfan).

***

Judul: Ketika Pak Natsir dan Al-Attas “Hadir” di Kampung IT: Tiga Jam Pencerahan Bersama Dr. Adian Husaini

Penulis: Junaedy Alfan

Editor: JHK