BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Kamis (16/04/2026) – Tulisan berjudul “Kedaulatan Data ala China: Rahasia Kemajuan yang Jarang Terbongkar” ini merupakan karya Junaedy Alfan, Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban.
November 2025, sebuah catatan perjalanan yang mengubah cara pandang dan menguatkan saya tentang arti sebuah data bagi masa depan bangsa.
Saya masih ingat dinginnya angin November. Lalu, saat kaki saya untuk kali keduanya menginjak Guangzhou, kota itu terasa hidup dalam keteraturan yang nyaris sempurna. Namun, bukan gedung pencakar langit, bukan kereta cepat, bukan mobil listrik dan buka juga solar farm di pegunungan ataupun gurun Gobi. Satu hal paling mendalam dalam kesan saya sebagai orang IT yang tidak bisa lepas dari Google dengan semua produk turunannya, Search engine, Gmap dan translator-nya. Sebuah pengalaman kecil di sebuah mal modern, sebuah pusat inovasi digital, dan obrolan malam dengan seorang teman lokal yang membuat saya tersadar: China telah memenangkan pertempuran abad ke-21 tanpa menembakkan satu peluru pun. Senjatanya? Data.

Dompet Digital yang Bercerita Banyak
Di Guangzhou, saya bersama keluarga dan putri ketiga saya yang kuliah di Jepang dan sengaja datang ke China untuk memandu perjalanan. Saat Saya hendak membayar dengan kartu kredit internasional ─ seperti biasa yang sering saya lakukan di negara-negara lainnya, Nn yang pernah saya kunjungi. Li Wei ─ kawan saya ─ langsung tertawa kecil, “Lupakan itu. Di sini, uang asing tidak berguna.”
Li Wei mengajarkan saya mengunduh WeChat Pay atau Alipay dan menghubungkannya dengan rekening lokal terbatas. Saya sempat bertanya, “Mengapa tidak pakai PayPal atau Visa atau layanan luar saja?”
Li Wei menjawab diplomatis, tapi tegas, “Karena data kita, untuk kita.”
Sepanjang hari, saya melihat semuanya terekam dalam ekosistem tertutup yang mulus. Dari membeli teh susu, naik bus, hingga check-in hotel. Tidak ada Google Maps, tidak ada WhatsApp, tidak ada Instagram. Semua digantikan oleh peta Baidu, WeChat, dan Douyin.
Pada awalnya saya merasa asing, tapi kemudian saya bertanya, mengapa sebuah negara sebesar ini rela merepotkan diri membangun semuanya dari nol, padahal bisa saja menggunakan produk jadi dari luar? Jawabannya saya temukan keesokan harinya.
Pameran Teknoguangzhou: Sebuah Pemutaran Kesadaran
Saya diajak ke Guangzhou Knowledge City, sebuah pusat inovasi yang begitu futuristik. Di sana, saya melihat seorang pejabat teknologi setempat. Dengan santai dia menunjukkan papan kendali smart city mereka. Setiap lampu lalu lintas, setiap sensor kebisingan, setiap kamera pengenalan wajah terintegrasi dalam satu sistem buatan dalam negeri. Tidak ada satu pun server asing.
Saya bertanya, “Tuan Chen, bukankah menggunakan AWS atau Azure lebih murah dan cepat?”
Dia terdiam sejenak, lalu membalikkan pertanyaan, “Pak, jika data seluruh lalu lintas, pembayaran, dan kesehatan warga kami disimpan di server negara lain, menurut Anda siapa yang sebenarnya memerintah kota ini?”
Saya terdiam. Dia melanjutkan, “Kami belajar dari sejarah. Ketika ekonomi kami bergantung pada perangkat keras asing, kami diancam sanksi. Ketika infrastruktur telekomunikasi kami menggunakan peralatan asing, kami disadap. Maka untuk data, kami tidak mau mengulang kesalahan yang sama. Kedaulatan data adalah fondasi kedaulatan bangsa. Tanpa itu, Anda hanya berdaulat di peta, tapi budak di dunia maya.”
Renungan di Hotel
Saya membuka laptop dan mencoba mengakses portal berita Indonesia. Satupun tidak ada yang bisa diakses. Semua diblokir. Saya sempat kesal, tapi kemudian saya sadar, betapa sering kita di negara berkembang meratapi pembatasan seperti ini tanpa melihat konteks sejarahnya. Walaupun akhirnya saya bisa akses menggunakan VPN.
China dulu membiarkan platform asing seperti Uber, Amazon, dan Google beroperasi bebas. Namun, kemudian mereka melihat bagaimana data perilaku, data ekonomi, dan data geospasial warga mengalir deras ke luar negeri. Lalu mereka mengambil keputusan tegas: membangun tandingan sendiri dan melarang yang lain.
Hari ini, hasilnya tidak perlu diragukan. Dari kecerdasan buatan, kendaraan listrik, hingga sistem perbankan digital semuanya berjalan di atas fondasi data yang sepenuhnya berada di bawah kendali hukum nasional. Tidak ada CEO asing yang bisa tiba-tiba mematikan layanan karena perbedaan kebijakan politik. Tidak ada data kesehatan warga China yang diperjualbelikan di pasar gelap internasional. Tidak ada algoritma asing yang diam-diam memetakan kerentanan infrastruktur mereka.
Apa yang Bisa Kita Petik?
Saya terbang pulang ke Indonesia dengan kepala penuh pertanyaan. Di negara kita, data masih mengalir bebas ke platform asing. Layanan pendidikan, kesehatan, keuangan, bahkan data kependudukan sebagian besar dititipkan di pusat data luar negeri. Kita berbangga dengan startup digital, tapi lupa bahwa tulang punggung teknologinya masih asing.

China mengajarkan satu hal yang keras, tapi benar: Pada era informasi, negara yang tidak menguasai datanya sendiri, tidak akan pernah benar-benar merdeka. Kedaulatan data bukan soal anti globalisasi. Ini soal memastikan bahwa keputusan strategis mulai dari kebijakan pangan, pertahanan, hingga pemilu tidak ditentukan oleh kepentingan korporasi atau negara lain melalui data yang mereka miliki tentang kita.
Guangzhou November 2025 ─ bukan sekadar perjalanan wisata bacpekeran yang jadi hobi kami sekeluarga. Ia adalah panggilan kesadaran. Jika kita tidak segera membangun ekosistem data yang mandiri, berdaulat, dan dilindungi hukum yang tegas maka kita hanya akan menjadi pemasok data bagi kemajuan bangsa lain. Suatu hari, ketika kepentingan berbenturan, kita akan sadar: sudah terlambat.
Saya pulang bukan dengan oleh-oleh, melainkan dengan sebuah keyakinan: Sudah saatnya kita berani mengatakan “cukup” terhadap ketergantungan data karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh senjata atau minyak lagi, tapi oleh data. Data yang tidak berdaulat, sama saja dengan menyerahkan kunci pintu depan rumah kita kepada orang asing.
Maka dengan segera keterbatasan saya sejak 2016 saat kali pertama melihat China, saya membangun Server Mandiri, membangun model Pendidikan Mandiri dan yang terbaru saat ini membangun Energi Mandiri berbasis matahari.
Ya memang belum besar tapi paling tidak kita sudah memulai dan sudah bisa dinikmati walaupun dalam sekala kecil. Sejak saat itu dimana mana setiap ada forum saya selalu berbicara tentang kemandirian atau kedaulatan. (Junaedy Alfan).
***
Judul: Kedaulatan Data ala China: Rahasia Kemajuan yang Jarang Terbongkar
Penulis: Junaedy Alfan
Editor: JHK