Jejak yang Bertaut: Antara Panji Tisna, Ajip Rosidi, dan Saya

BERITA JABAR NEWS (BJN)Kolom OPINI, Kamis (04/06/2026) – Artikel “Jejak yang Bertaut: Antara Panji Tisna, Ajip Rosidi, dan Saya” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Hubungan saya dengan AA Panji Tisna maupun Ajip Rosidi tentu bukan hubungan darah, bukan pula ikatan keluarga. Jaraknya jauh sekali. Saya hanyalah seorang pembaca dan penggemar yang menemukan diri saya berulang kali singgah di halaman-halaman karya mereka. Namun, justru dalam jarak itulah tumbuh kedekatan batin: sebuah ikatan yang lahir dari kata-kata, dari jejak yang mereka tinggalkan di dunia literasi dan kebudayaan. 

Ajip Rosidi pernah menuliskan tentang kedekatannya dengan Panji Tisna dalam buku “Mengenang Hidup Orang Lain”. Dari sana saya tahu bahwa Ajip pernah diundang ke Istana Buleleng, Bali, oleh Panji Tisna. Undangan itu bukan sekadar pertemuan pribadi, melainkan sebuah peristiwa yang menandai persilangan dua tokoh besar: seorang sastrawan Sunda yang teguh menjaga tradisi dan seorang raja sekaligus penulis Bali yang membuka pintu pariwisata dengan cara yang berakar pada budaya lokal. 

Buku “Mengenang Hidup Orang Lain” karya Ajip Rosidi – (Sumber: Didin)

Kedekatan itu berlanjut dalam bentuk lain. Ajip, lewat Pustaka Jaya, menerbitkan karya Panji Tisna berjudul “Ni Rawit Ceti Penjual Orang”. Sebuah langkah yang mempertemukan dua dunia: Sunda dan Bali, tradisi dan modernitas dalam satu ruang penerbitan. Saya membacanya dengan rasa takjub, seolah menyaksikan bagaimana kata-kata bisa menjadi jembatan lintas pulau, lintas generasi. 

Lalu, pada 2015, takdir membawa saya sendiri ke Buleleng. Bukan sebagai sastrawan besar, bukan pula sebagai tokoh yang diundang ke istana, melainkan sebagai seorang penggiat kecil yang ingin merawat ingatan.

Saya datang atas undangan cucu Panji Tisna, Agung Brawida untuk meresmikan sebuah museum kecil yang kami gagas bersama. Di sana saya menyerahkan buku biografi Panji Tisna yang diterbitkan lewat Tulus Pustaka ─ sebuah buku yang saya harap bisa menjadi pintu masuk bagi generasi baru untuk mengenal sosok yang pernah disebut sebagai Bapak Pariwisata Bali. 

Buku biografi Panji Tisna yang diterbitkan lewat Tulus Pustaka – (Sumber: Didin/BJN)

Saya masih ingat, Agung Brawida memberikan dana sepuluh juta rupiah sebagai bentuk dukungan. Bukan jumlah yang besar jika dibandingkan dengan proyek-proyek pariwisata hari ini, tetapi bagi saya, itu adalah simbol kepercayaan. Sebuah tanda bahwa usaha kecil untuk merawat ingatan tidak pernah sia-sia. 

Di titik inilah saya merasa hubungan saya dengan Panji Tisna dan Ajip Rosidi menemukan bentuknya. Bukan hubungan keluarga, bukan pula hubungan formal, melainkan hubungan yang lahir dari kesetiaan pada kata-kata dan ingatan. Ajip menulis tentang Panji Tisna, Panji Tisna menulis tentang dunia yang ia cintai, dan saya—dengan segala keterbatasan—berusaha menjaga agar jejak mereka tetap hidup. 

Memoar ini bukan sekadar catatan perjalanan, melainkan pengakuan bahwa saya adalah bagian dari lingkaran pembaca yang percaya: karya sastra dan kebudayaan tidak pernah mati selama ada yang merawatnya. Panji Tisna dengan Lovina dan Buleleng, Ajip dengan Pustaka Jaya dan obituarinya, dan saya dengan museum kecil serta buku biografi. Tiga titik yang berbeda, tetapi saling bertaut dalam garis panjang sejarah kebudayaan Indonesia. 

Mungkin itulah hubungan saya dengan mereka: sebuah hubungan yang lahir dari membaca, dari mengingat, dan dari usaha kecil untuk menjaga warisan. Hubungan yang sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya, terasa lebih jujur dan lebih dalam. 

***

Judul: Jejak yang Bertaut: Antara Panji Tisna, Ajip Rosidi, dan Saya

Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Didin Tulus
Didin TUlus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***