BERITA JABAR (BJN), Rubrik OPINI, Jum’at (13/03/2026) – Esai berjudul “Fatamorgana Kebenaran dan Tipuan Berjalan Berdampingan” ini adalah sebuah esai karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Ada masa dalam perjalanan manusia ketika segala sesuatu terasa jelas ketika kebenaran berdiri tegak, kesalahan tampak terang, dan hati manusia masih mampu membedakan keduanya tanpa terlalu banyak keraguan. Namun zaman berubah. Dunia bergerak semakin cepat, dan di tengah percepatan itu, batas antara yang nyata dan yang semu mulai kabur.

Kini kita hidup di sebuah zaman yang terasa ganda, seperti fatamorgana di tengah padang yang luas. Di kejauhan tampak kilau yang menenangkan, seolah ada telaga yang siap menghapus dahaga. Orang-orang bergegas menuju ke sana dengan penuh harapan. Namun ketika langkah mendekat, yang ditemukan hanyalah hamparan pasir yang sama. Kilau itu ternyata hanya permainan cahaya.
Kebenaran dan tipuan kini berjalan bersisian. Kadang keduanya memakai pakaian yang sama. Kadang suaranya pun terdengar serupa. Orang yang mencari kebenaran harus berjalan lebih pelan, lebih hati-hati, sebab yang tampak terang belum tentu benar-benar cahaya.
Di tengah dunia yang riuh oleh suara dan sorotan, popularitas telah menjadi semacam matahari baru. Ia memancarkan cahaya yang kuat, memanggil perhatian, dan mengundang banyak orang untuk berkumpul di sekitarnya.
Ada orang yang menjadi terkenal bukan karena kedalaman pikirannya, melainkan karena riuh suaranya. Ada gagasan yang meluas bukan karena kebijaksanaannya, tetapi karena kemampuannya menarik perhatian. Dunia seakan bergerak mengikuti irama yang ditentukan oleh apa yang paling ramai, bukan apa yang paling benar.
Di sinilah fatamorgana zaman bekerja dengan begitu halus, yang semu terlihat nyata, yang dangkal tampak dalam. Tetapi popularitas sendiri sebenarnya hanyalah alat. Ia seperti api yang dapat menghangatkan, namun juga dapat membakar. Di tangan yang bijak, ia bisa menjadi lentera yang menuntun banyak orang menuju jalan yang lebih terang. Di tangan yang keliru, ia berubah menjadi panggung bayangan tempat ilusi dipertontonkan.
Ada mereka yang menggunakan sorotan untuk memperluas kebaikan, menyebarkan gagasan yang memerdekakan pikiran, dan menyalakan harapan bagi banyak orang. Namun ada pula yang memanfaatkannya untuk membangun citra, menebalkan ilusi, dan memikat manusia agar lupa pada kedalaman makna.
Di tengah keadaan seperti ini, manusia sering merasa letih, letih oleh hiruk pikuk kata-kata., pertunjukan yang tak pernah selesai dan kenyataan bahwa kebenaran kadang kalah oleh kemasan. Dalam keletihan itu, manusia perlu diajak untuk kembali kepada sesuatu yang lebih bermakna yaitu kejernihan hati. Kejernihan yang berani berhenti sejenak untuk bertanya pada diri apakah ini benar, atau hanya sekadar tampak benar? Barangkali itulah kebijaksanaan yang paling dibutuhkan di zaman fatamorgana yaitu kemampuan untuk melihat lebih dalam daripada yang tampak bahwa tidak semua yang berkilau adalah cahaya.
Sering kali kebenaran berjalan dengan langkah yang tenang, hampir tak terdengar, tidak selalu hadir di panggung yang terang, akan tetapi tumbuh dalam ruang-ruang kecil, dalam percakapan yang jujur, dalam tulisan yang lahir dari keheningan, dalam tindakan sederhana yang tidak menunggu tepuk tangan.
Mungkin dunia memang akan selalu dipenuhi fatamorgana. Kilau ilusi akan terus muncul di cakrawala zaman, menggoda manusia untuk mengejarnya. Kita tidak selalu mampu menghentikan kemunculannya.
Namun kita selalu memiliki pilihan apakah akan berlari menuju kilau itu, atau tetap berjalan menuju mata air yang sesungguhnya, karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling banyak dilihat yang akan dikenang oleh waktu, melainkan siapa yang tetap setia pada kebenaran ketika dunia sedang sibuk memuja bayangan.(fsy).
***
Judul: Fatamorgana Kebenaran dan Tipuan Berjalan Berdampingan
Penulis: Febri Satria Yazid
Editor: FSY