Eksplorasi Persepsi Mahasiswa DKV Terhadap Fungsi Tipografi dalam Proyek Desain

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (13/04/2026) – Bidang desain komunikasi visual modern tidak hanya sekadar keindahan estetika karena setiap elemen yang divisualisasikan memiliki makna komunikasi yang strategis. Fenomena inilah yang melatarbelakangi tim peneliti dari Universitas Widyatama Bandung dalam melaksanakan program Hibah Penelitian Wajib Individu tahun anggaran 2025/2026.

Penelitian yang dibiayai oleh Biro Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat dan Modal Intelektual  (Biro P2M)  ini dipimpin oleh Dr. Ijah Hadijah, S.Pd., M.Pd., didampingi oleh Drs. Budiman, M.M.Pd., serta Drs. Muhamad Firdaus Benyamin, M.SN dengan anggota mahasiswa Muhammad Holilulloh dan Wardhana Muhammad Fajar  dari Program Studi Desain Grafis.

Suasana kuliah di kelas FDKV UTama – (Sumber: FDKV Utama)

Fokus utama eksplorasi ini adalah menemukan bagaimana mahasiswa Desain Komunikasi Visual memaknai tipografi bukan hanya sebagai pelengkap visual melainkan sebagai instrumen penting dalam menyampaikan pesan yang efektif, menarik dan bermakna kepada audiens.

Tipografi pada dasarnya merupakan seni dan teknik pengaturan huruf dalam ruang visual yang menjadi bagian integral dalam proses pembelajaran desain. Namun, tantangan yang sering muncul di lapangan adalah adanya kesenjangan antara kemampuan teknis mengoperasikan perangkat lunak dengan pemahaman konseptual mengenai fungsi tipografi itu sendiri.

Tim peneliti melihat bahwa persepsi mahasiswa terhadap tipografi sangat dipengaruhi oleh referensi visual dari media sosial seperti Instagram dan TikTok yang cenderung mengutamakan tren estetika sesaat. Akibatnya muncul kecenderungan mahasiswa seringkali mengacu pada penggunaan tipografi eksperimental atau distorsi huruf yang ekspresif tanpa mempertimbangkan prinsip dasar seperti keterbacaan, konteks narasi dan karakter audiens.

Permasalahan yang ditemukan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa masih memilih jenis huruf tanpa landasan filosofis yang kuat seperti penggunaan font dekoratif untuk teks panjang yang membutuhkan keterbacaan tinggi atau ketidaksesuaian antara nada pesan dengan bentuk huruf yang digunakan. Hal ini menjadi urgensi bagi institusi pendidikan untuk merancang metode pengajaran yang mampu menyeimbangkan kebebasan berekspresi dengan pemahaman prinsip dasar komunikasi visual.

Tipografi seharusnya dipahami sebagai bentuk empati desainer terhadap audiens dimana pengaturan jarak antar karakter, spasi antar baris hingga pemilihan anatomi huruf yang tepat akan menentukan kenyamanan pembaca dalam menyerap informasi. Tanpa hierarki visual yang jelas, audiens akan mengalami kebingungan kognitif karena tidak mengetahui urutan informasi mana yang harus diprioritaskan.

Dr. Ijah Hadijah, S.Pd., M.Pd. (Kedua dari kanan) bersama para mahasiswanya – (Sumber: FDKV UTama)

Ketuan Peneliti dan tim Hibah Penelitian Wajib Individu menekankan pentingnya penguatan literasi visual agar mahasiswa menyadari bahwa setiap huruf memiliki suara visual dan kepribadian tertentu. Dengan mengubah paradigma mahasiswa dari sekadar penyusun gambar menjadi arsitek informasi, kualitas proyek desain yang dihasilkan akan meningkat secara signifikan baik dari segi fungsionalitas maupun akuntabilitas komunikasi.

Hasil eksplorasi ini pada akhirnya memberikan rekomendasi strategis bagi pengembangan kurikulum DKV di Universitas Widyatama agar lebih adaptif terhadap kebutuhan industri desain kontemporer. Melalui standar evaluasi mandiri yang objektif, mahasiswa diharapkan mampu mengaudit karya mereka sendiri secara kritis sebelum digunakan ke ruang publik sehingga setiap huruf yang ditempatkan bukan lagi sekadar pajangan melainkan sebuah pesan yang memiliki kekuatan retoris dan emosional yang kuat.

Judul: Eksplorasi Persepsi Mahasiswa DKV Terhadap Fungsi Tipografi dalam Proyek Desain

Jurnalis: IH/BJN

Editor: Jumari Haryadi