BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (12/07/2026) – Artikel berjudul “Catatan Wisuda PPI XI: Merayakan Perjalanan, Meneguhkan Langkah” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.
Suasana hangat, penuh semangat, sekaligus haru menyelimuti pelaksanaan Wisuda Pendidikan Perempuan Indonesia (PPI) XI pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kegiatan yang menjadi penutup perjalanan pembelajaran selama enam bulan ini mempertemukan 54 perempuan hebat dari berbagai usia, profesi, dan latar belakang dalam sebuah momentum yang sarat makna. Bagi para peserta, wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan perayaan atas proses belajar, perjuangan, dan pertumbuhan diri yang telah dilalui bersama.
Acara diawali dengan pembacaan doa yang menambah kekhidmatan suasana. Doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan rasa syukur atas kesempatan belajar bersama selama enam bulan terakhir, sekaligus harapan agar seluruh ilmu, pengalaman, dan persahabatan yang terjalin dalam PPI XI menjadi keberkahan serta memberikan manfaat yang luas bagi keluarga maupun masyarakat.

Setelah itu, seluruh peserta dan tamu undangan berdiri untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana kemudian semakin hangat ketika Janji Hati dibacakan dan Mars PPI dinyanyikan bersama.
Lirik yang begitu akrab di telinga peserta seolah mengajak setiap orang menelusuri kembali perjalanan selama mengikuti program. Terlebih pada bagian yang selalu membangkitkan semangat, “Aku bisa, pasti bisa, aku pasti bisa.” Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan energi yang selama ini menguatkan para perempuan untuk terus belajar, bertumbuh, dan berani melangkah menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak. Sambutan dimulai dari Ketua PPI XI, Ibu Dewi Tri Handayani. Ia selalu memberikan semangat dan rasa haru dalam bertutur kata begitu pun saat sambutan di hari wisuda mengenang perjuangan, proses menuntaskan amanah yang diembannya sebagai ketua.
Lalu Hadir Ibu Lurah Kelurahan Cibabat periode sebelumnya yang mendampingi perjalanan PPI XI sejak awal pelaksanaan program, serta Ibu Lurah yang menjabat saat ini. Kehadiran keduanya menjadi simbol keberlanjutan dukungan Kelurahan Cibabat terhadap program pemberdayaan perempuan.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Founder PPI, dr. R. Adj. Irma Indriyani yang kembali mengingatkan pentingnya perempuan untuk terus belajar, mengembangkan potensi diri, dan memperluas manfaat bagi lingkungan sekitar.
Turut memberikan sambutan Ketua Meridian Berkah Gemilang, H. Nunu yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas semangat dan ketekunan mereka selama mengikuti program.
Memasuki sesi pertama, suasana semakin semarak dengan berbagai penampilan yang dipersembahkan oleh peserta dan tamu undangan. Penampilan diawali oleh Grup Koi Mill Gaya yang membawakan Senam Kreasi Koimilgaya dengan penuh semangat dan keceriaan. Gerakan yang kompak dan energik berhasil menghidupkan suasana serta mengundang tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Suasana kemudian berubah menjadi lebih khidmat ketika Saudari Iin dan Saudari Komang Suci membacakan puisi karya peserta PPI XI yang mengangkat tema perjuangan perempuan dan ketangguhan seorang ibu. Dengan pembacaan yang penuh penghayatan, setiap bait puisi terasa hidup dan menyentuh hati para hadirin. Kata demi kata mengalir membawa pesan tentang cinta, pengorbanan, kesabaran, dan kekuatan perempuan dalam menjalani berbagai peran kehidupan.
Penampilan berikutnya datang dari PKK Kelurahan Cibabat melalui pertunjukan bertajuk “Cibabat Matak Tibeulat”. Penampilan tersebut menjadi gambaran semangat kebersamaan, kekompakan, dan dukungan terhadap upaya pemberdayaan perempuan di lingkungan masyarakat.
Setelah jeda istirahat, acara dilanjutkan dengan sesi kedua yang diawali oleh penampilan Tarian Wonderland. Tarian yang memukau tersebut menghadirkan perpaduan gerak, musik, dan ekspresi yang menggambarkan semangat, keindahan, serta harapan untuk terus melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Penampilan berikutnya adalah tarian Medley Nusantara yang dibawakan oleh pengurus PPI. Dengan balutan busana yang berwarna-warni dan gerakan yang kompak. Tarian tersebut menghadirkan semangat kebhinekaan, sekaligus menjadi simbol keberagaman latar belakang peserta yang dipersatukan dalam ruang belajar yang sama.
Turut memberikan sambutan Ketua Meridian Berkah Gemilang, H. Nunu yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta atas semangat dan ketekunan mereka selama mengikuti program.
Selanjutnya peserta mengikuti seminar bertema “Komunikasi Empati: Membangun Relasi yang Tulus Melalui Kekuatan Mendengar, Memahami, dan Merespons dengan Hati.” Materi ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian wisuda karena memberikan bekal praktis bagi perempuan dalam membangun hubungan yang sehat di keluarga, lingkungan sosial, maupun dunia kerja.


Peserta diajak memahami bahwa empati bukan sekadar merasa iba kepada orang lain, tetapi kemampuan untuk hadir, mendengar, memahami, dan merespons dengan penuh penghargaan.
Setelah seminar, tibalah salah satu momen yang paling dinantikan, yaitu pengumuman karya-karya terbaik peserta PPI XI. Selama mengikuti program, peserta mendapatkan berbagai tugas yang bertujuan menggali potensi diri sekaligus menumbuhkan keberanian untuk berkarya.
Penghargaan diberikan kepada tiga peserta terbaik kategori Dreambook, tiga peserta terbaik kategori Duta Kebaikan, dan tiga peserta terbaik kategori Autobiografi. Selain itu, diumumkan pula penerima penghargaan Juara Umum PPI XI sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi, konsistensi, dan capaian selama mengikuti seluruh rangkaian program.

Puncak acara ditandai dengan prosesi wisuda bagi 54 peserta PPI XI. Satu per satu peserta dipanggil ke depan sebagai simbol telah menyelesaikan perjalanan pembelajaran selama enam bulan. Momen tersebut menjadi saat yang penuh kebanggaan sekaligus haru. Di balik sertifikat yang diterima, tersimpan kisah perjuangan masing-masing perempuan dalam membagi waktu antara keluarga, pekerjaan, aktivitas sosial, dan komitmen untuk terus belajar.
Menjelang penutupan acara, Grup Mawar membawakan lagu Kemesraan. Lagu yang sarat makna persahabatan dan kebersamaan tersebut mengajak seluruh peserta mengenang perjalanan yang telah dilalui bersama. Senyum, tawa, dan rasa haru berpadu dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Suasana semakin mengharukan ketika seluruh peserta bersama-sama menyanyikan Lagu Pileuleuyan. Lagu perpisahan khas Sunda itu mengalun lembut mengiringi rasa syukur atas kebersamaan yang telah terjalin selama enam bulan terakhir.
Banyak kenangan, pembelajaran, dan persahabatan yang tumbuh selama mengikuti PPI XI. Meski program telah berakhir, ikatan yang terjalin di antara para peserta akan tetap hidup dalam kenangan dan perjalanan kehidupan masing-masing.
Wisuda PPI XI bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah program. Lebih dari itu, ia menjadi simbol lahirnya perempuan-perempuan pembelajar yang semakin percaya diri, berdaya, dan siap memberikan kontribusi terbaik bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Perjalanan belajar mungkin telah sampai pada garis akhir, tetapi semangat untuk bertumbuh, berkarya, dan memberi manfaat akan terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan. (Maesaroh).
***
Judul: Catatan Wisuda PPI XI: Merayakan Perjalanan, Meneguhkan Langkah
Penulis: Maesaroh, M.Sos.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Maesaroh, M.Sos adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.
Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.
Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.
“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”
***