Aksara Identitasku: Sebuah Autobiografi Maesaroh

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Senin (06/07/2026) – Artikel berjudul “Aksara Identitasku: Sebuah Autobiografi Maesaroh” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.

Perkenalkan, namaku Maesaroh. Teman-teman biasa memanggilku May. Aku adalah seorang penulis, komunikator, pendidik keluarga, dan ibu yang memiliki kecintaan besar terhadap dunia literasi. Selain itu, aku juga menyukai dunia pendidikan, komunikasi dakwah, serta pengembangan fitrah anak dalam keluarga.

Ketertarikanku pada dunia kepenulisan tumbuh sejak masa SMA melalui kebiasaan menulis puisi, catatan harian, artikel reflektif, dan berbagai tulisan sederhana. Kebiasaan ini perlahan menjadi ruang bertumbuh, sekaligus jalan dalam menemukan jati diriku.

Aku (Kanan) bersama suami (paling kiri) dan anak-anakku (tengah) – (Sumber: BJN)

Perjalanan hidup yang penuh dinamika membentuk karakterku menjadi pribadi yang akrab dengan dunia aksara. Kehilangan sosok ayah pada usia lima belas tahun telah menjadi salah satu titik balik penting dalam kehidupanku.

Dari kehilangan itulah muncul kesadaran untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan mencari makna kehidupan melalui tulisan. Menulis menjadi ruang paling tenang untuk menuangkan kegelisahan, harapan, dan doa, serta proses berdamai dengan kehidupan.

Kecintaan terhadap dunia literasi kemudian membawaku aktif dalam berbagai organisasi kepenulisan sejak masa sekolah. Saat duduk di bangku Aliyah, aku dipercaya menjadi Ketua Bidang Minat dan Bakat OSIS dan mulai membangun forum kepenulisan di lingkungan sekolah.

Dari ruang kecil itulah semangat literasi tumbuh dan berkembang hingga akhirnya aku dipercaya menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Purwakarta ─ sebuah organisasi kepenulisan nasional ─ yang mempertemukanku dengan banyak penulis dan pegiat literasi dari berbagai daerah.

Semangat belajar dan kegigihanku dalam dunia pendidikan telah mengantarkanku memperoleh beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak B.J. Habibie hingga berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana, biidznillah. Kesempatan tersebut menjadi salah satu penguat langkah dalam perjalanan akademik dan kehidupan yang dijalaninya di tengah berbagai keterbatasan.

Pendidikan S1 aku tempuh di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Jurusan Jurnalistik. Alhamdulillah aku berhasil lulus dengan IPK 3,67.

Selama masa kuliah, aku aktif menjadi jurnalis majalah kampus, reporter freelance, editor naskah, penulis lepas, hingga penyiar radio. Dunia jurnalistik dan media menjadi ruang belajar yang membentuk keberanian, dan kemampuan komunikasi, serta ketajaman dalam memandang kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Tidak berhenti sampai di sana, kecintaanku terhadap ilmu komunikasi dan dakwah membawaku melanjutkan pendidikan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan berhasil lulus dengan IPK 3,90. Selama menempuh pendidikan magister, aku juga berhasil mempublikasikan dua artikel jurnal ilmiah di bidang komunikasi dan dakwah sebagai bentuk kontribusi akademik dan pengembangan keilmuan yang aku tekuni.

Aku dan kampus tercintaku: UIN Sunan Gunung Djati – (Sumber: BJN)

Setelah menikah pada 2014, fokus kehidupanku lebih banyak diarahkan pada peran sebagai istri dan full time mom. Bagiku, membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah besar sekaligus fase kehidupan yang sangat berharga.

Di tengah aktivitas domestik, aku memilih menikmati proses pengasuhan dengan pendekatan berbasis fitrah, yaitu memahami potensi unik setiap anak melalui kedekatan emosional, komunikasi yang hangat, dan keterlibatan langsung dalam kehidupan sehari-hari anak.

Meski memilih fokus membersamai keluarga, dunia menulis tidak pernah aku tinggalkan. Menulis justru menjadi bagian penting dalam proses refleksi, dakwah, pembelajaran hidup, dan kontribusi bagi sesama.

Di sela aktivitas sebagai ibu rumah tangga, aku tetap aktif menulis artikel, puisi, cerpen, dan opini, hingga buku-buku bertema keluarga, pendidikan, dan kehidupan perempuan.

Hingga saat ini, aku telah menulis tiga belas buku antologi bersama para penulis lain, menerbitkan satu buku solo, serta sedang menuntaskan buku solo keduaku yang berfokus pada parenting, komunikasi keluarga, dan pola pengasuhan berbasis fitrah antara orang tua dan anak.

Selain aktif menulis, aku juga beberapa kali mengisi pelatihan kepenulisan, parenting, komunikasi, serta kegiatan literasi di berbagai komunitas dan lembaga pendidikan.

Bagiku, menulis bukan sekadar hobi ataupun profesi. Menulis adalah jalan kehidupan. Jalan untuk menjaga nilai, mengabadikan perjalanan, menyampaikan makna, serta meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun manusia telah tiada.

Melalui berbagai tulisan aku berharap dapat menghadirkan manfaat, menguatkan sesama perempuan dan ibu, serta mengajak lebih banyak keluarga untuk membangun kehidupan yang hangat, bertumbuh, dan penuh kesadaran dalam membersamai anak-anak.

Jejak yang Menjadi Aksara

Hidup tidak selalu berjalan sebagaimana yang dibayangkan manusia. Ada jalan panjang yang harus dilalui dengan air mata, kehilangan, perjuangan, serta doa-doa yang diam-diam terus dilangitkan. Namun dari setiap peristiwa itulah manusia belajar mengenal dirinya sendiri, mengenal makna kehidupan, dan mengenal kebesaran Allah dalam setiap takdir yang ditetapkan-Nya.

Tulisan ini lahir bukan dari kehidupan yang sempurna, melainkan dari kisah perjalananku ─ seorang perempuan biasa yang bertumbuh melalui luka, kehilangan, pendidikan, pernikahan, dan keibuan, serta dunia literasi yang membersamai setiap fase kehidupanku.

Pada usia lima belas tahun, aku telah kehilangan sosok ayah. Hal inilah yang menjadi titik balik dan akan mengubah arah kehidupanku. Sosok yang selama ini menjadi tempat pulang, pelindung, sekaligus sumber kekuatan keluarga harus pergi untuk selamanya.

Kehilangan sosok ayah itu menghadirkan ruang kosong yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata. Namun, justru dari kehilangan itulah tumbuh kesadaran untuk mulai memperbaiki diri, mencari makna hidup, dan menemukan arah perjalanan yang sesungguhnya.

Menulis kemudian hadir sebagai ruang paling tenang untuk berdialog dengan diri sendiri. Dari puisi-puisi sederhana, catatan harian, hingga tulisan refleksi kehidupan, aksara perlahan menjadi sahabat yang tidak pernah pergi. Menulis bukan lagi sekadar hobi, tetapi menjadi cara untuk bertahan, menyembuhkan diri, dan menghidupkan harapan.

Perjalanan hidup terus membawa langkah pada dunia organisasi, pendidikan, dan jurnalistik. Kesempatan memperoleh beasiswa dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak B.J. Habibie menjadi salah satu bentuk kasih sayang Allah yang membuka jalan pendidikan hingga perguruan tinggi. Dunia literasi mempertemukan banyak pengalaman, banyak perjuangan, sekaligus banyak pelajaran kehidupan.

Perjalanan seorang perempuan tidak berhenti pada pendidikan dan mimpi pribadi saja. Pernikahan, kehamilan, dan keibuan menghadirkan fase kehidupan yang jauh lebih dalam. Menjadi ibu mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya. Mengajarkan tentang pengorbanan, kesabaran, dan ketulusan yang sering kali tidak terlihat oleh dunia.

Di tengah peranku sebagai ibu rumah tangga, dunia menulis tetap dijaga agar tetap hidup. Dari rumah sederhana, lahirlah tulisan-tulisan tentang kehidupan, keluarga, parenting, komunikasi, dan dakwah, serta refleksi perjalanan diri.

Bagiku, rumah bukan penghalang untuk berkarya. Rumah justru menjadi sekolah kehidupan paling besar yang menghadirkan begitu banyak pelajaran tentang cinta dan makna.

Tulisan ini tidak ditulis untuk menunjukkan bahwa hidup selalu kuat dan baik-baik saja. Ada fase lelah yang panjang. Ada ketakutan yang tidak selalu mampu diceritakan. Ada perjuangan yang sering kali dijalani dalam diam. Namun, dari semua itu, selalu ada harapan yang membuat langkah tetap bertahan.

Melalui tulisan ini, tersimpan cerita tentang kehilangan seorang ayah, perjuangan mencari arah hidup, perjalanan menulis, dunia jurnalistik, perjuangan pendidikan, menjadi istri, menjadi ibu, hingga proses membersamai anak-anak dalam menemukan fitrah terbaiknya.

Setiap halaman dalam buku ini adalah jejak kehidupan. Jejak tentang bagaimana luka mampu melahirkan kekuatan. Jejak tentang bagaimana kehilangan mampu mengajarkan arah. Jejak tentang bagaimana seorang perempuan tetap dapat bertumbuh di tengah berbagai perannya.

Semoga tulisan ini dapat menjadi teman perjalanan bagi siapa saja yang sedang berjuang menjalani hidupnya. Bagi perempuan yang sedang belajar menjadi ibu. Bagi anak-anak yang sedang mencari arah kehidupan. Bagi siapa pun yang pernah merasa kehilangan, lelah, atau berjalan sendirian.

Pada akhirnya, setiap manusia sedang berjuang dalam ceritanya masing-masing. Mungkin, tulisan adalah salah satu cara agar jejak kehidupan tetap hidup. Bahkan, ketika manusia telah lama pergi.

Ketika Luka Menemukan Kata

Angin dingin dini hari perlahan menyusup hingga ke tulang. Sunyi begitu lekat menyelimuti ruangan kecil yang hanya diterangi cahaya lampu temaram. Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 pagi, ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam tidur yang panjang. Namun pada saat seperti itu, mata ini justru sulit kembali terpejam dan hati terasa penuh oleh berbagai pikiran yang tidak selalu bisa dijelaskan.

Dalam keheningan itu, jemari mulai bergerak perlahan di atas keyboard laptop. Tidak ada keramaian, tidak ada suara lain selain ketikan yang pelan, tetapi pasti. Malam-malam seperti inilah yang kemudian menjadi saksi lahirnya banyak tulisan, puisi, catatan hati, dan percakapan sunyi dengan diri sendiri. Dari ruang kecil itulah, perlahan aku belajar bahwa menulis bukan sekadar aktivitas, tetapi cara untuk bertahan.

Sejak saat itu menulis menjadi tempat paling nyaman untuk pulang. Bukan rumah dalam bentuk bangunan, tetapi ruang yang hadir dalam kata-kata. Di sana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Menulis memberi ruang untuk bernapas ketika hidup terasa terlalu sesak.

Awalnya semua berjalan begitu sederhana dan tidak pernah direncanakan menjadi sesuatu yang besar. Hanya puisi-puisi kecil yang ditulis diam-diam lalu dibagikan kepada teman melalui pesan singkat. Tidak ada tujuan untuk dikenal atau diapresiasi, hanya sekadar menyalurkan apa yang ada di dalam hati. Namun perlahan, dari hal sederhana itu, aku mulai melihat bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

Tidak pernah terbayangkan bahwa tulisan-tulisan sederhana itu kelak menjadi jalan panjang kehidupan. Setiap apresiasi yang datang menghadirkan rasa bahagia yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ada perasaan hangat ketika seseorang merasa tersentuh oleh tulisan yang lahir dari kesederhanaan. Kata-kata seolah mampu menyembuhkan ruang-ruang kosong dalam hati yang tidak mampu dijelaskan kepada siapa pun.

Dalam beberapa perjalanan hidup, aku juga pernah menggunakan nama pena “Maesaroh Al Ayubi” sebagai bentuk penghormatan kepada ayah tercinta. Nama itu bukan sekadar identitas, tetapi juga pengingat tentang seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Dari nama itu pula, aku belajar bahwa identitas sering kali lahir dari cinta dan kenangan.

Ternyata, perjalanan hidup tidak selalu berjalan lembut sebagaimana harapan manusia. Usia lima belas tahun menjadi titik ketika dunia terasa runtuh begitu saja tanpa peringatan. Pada usia yang masih sangat muda, kehilangan besar datang tanpa aba-aba dan mengubah banyak hal dalam hidupku. Sosok ayah yang selama ini menjadi pusat kehidupan harus pergi untuk selamanya.

Tidak ada tanda-tanda, tidak ada persiapan, dan tidak ada waktu untuk benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Kehilangan itu datang begitu cepat dan meninggalkan luka yang begitu dalam di hati seorang anak.

Dunia terasa hening dengan cara yang berbeda, seolah semua hal tetap berjalan, tetapi tanpa makna yang sama. Saat itu aku belum sepenuhnya mengerti, tetapi aku merasakan ada sesuatu yang hilang untuk selamanya.

Ayah bukan hanya kepala keluarga dalam rumah dengan tiga belas anak, tetapi juga pelindung dan penenang dalam kehidupan kami. Beliau adalah sosok pekerja keras yang tidak pernah banyak mengeluh meskipun beban hidup begitu besar.

Segala yang ayah lakukan selalu ditujukan untuk anak-anaknya, tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Dalam kesederhanaannya, beliau tetap berusaha menghadirkan kasih sayang yang utuh untuk keluarga.

Di mata seorang anak perempuan, ayah adalah definisi laki-laki terbaik dalam hidup. Sosoknya tegas, tetapi lembut. Penyabar, tetapi penuh wibawa dalam setiap keputusan. Bahkan, dalam hal-hal kecil, beliau selalu meninggalkan pelajaran kehidupan yang tidak akan pernah terlupakan. Dari beliau aku belajar bahwa cinta tidak selalu hadir melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan yang dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Ketika keinginan untuk membahagiakan mulai tumbuh, waktu justru tidak lagi memberi kesempatan. Penyesalan hadir bersamaan dengan kehilangan yang begitu tiba-tiba. Masa SMP yang dulu dijalani tanpa banyak kesadaran perlahan berubah menjadi fase perenungan panjang dalam hidupku. Ada begitu banyak hal yang belum sempat dilakukan untuk ayah, dan ada banyak kebanggaan yang belum sempat dipersembahkan.

Sejak saat itu hidup terasa berbeda dan tidak lagi sama seperti sebelumnya. Ada bagian dalam diri yang mulai berubah secara perlahan tanpa aku sadari sepenuhnya. Kehilangan itu kemudian perlahan mengubah arah kehidupanku menjadi lebih dalam dan penuh perenungan. Aku mulai belajar bahwa hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua untuk mengulang waktu.

Perubahan kecil mulai dijalani sedikit demi sedikit dalam keseharian. Aku belajar memperbaiki diri, memahami hidup, menjaga diri, dan mulai mengenal makna kedewasaan. Tidak semua proses itu mudah, karena banyak hal harus dijalani dalam diam. Dalam proses itulah aku mulai menemukan bahwa menulis adalah ruang paling aman untuk menampung semua rasa yang tidak bisa diucapkan.

Tulisan menjadi tempat untuk menuangkan kerinduan kepada ayah yang tidak pernah selesai. Di dalamnya tersimpan kegelisahan yang tidak bisa dibagikan kepada siapa pun. Harapan, luka, dan doa-doa panjang yang diam-diam terus dilangitkan juga kutuliskan di sana. Menulis membuat hati terasa lebih tenang, seolah setiap kata mampu menjadi pelukan yang menenangkan diri sendiri.

Memasuki masa Aliyah, dunia organisasi mulai dikenal lebih dekat dalam kehidupanku. Aku dipercaya menjadi Ketua Bidang Minat dan Bakat OSIS yang menjadi awal dari tanggung jawab baru. Dari sana aku mulai berani mengajak teman-teman untuk membangun ruang literasi sederhana di sekolah. Bersama mereka, kami membuat forum kepenulisan, buletin mingguan, dan diskusi karya.

Semua itu aku lakukan dengan sederhana tanpa fasilitas yang lengkap atau sistem yang sempurna. Namun, dari kesederhanaan itulah semangat untuk menulis mulai tumbuh lebih kuat. Tidak pernah disangka bahwa forum kecil itu berkembang begitu cepat dan meluas. Banyak pelajar lain mulai bergabung karena memiliki kegelisahan dan mimpi yang sama tentang dunia literasi.

Dari ruang kecil di sekolah itu, kegiatan kepenulisan kemudian melibatkan pelajar dari luar sekolah. Perjalanan itu akhirnya mempertemukanku dengan Forum Lingkar Pena (FLP) yang membuka dunia baru dalam perjalanan literasi. Di sana aku bertemu banyak orang yang memiliki latar belakang berbeda namun disatukan oleh cinta pada tulisan. Dari situ aku semakin memahami bahwa setiap orang membawa cerita yang tidak selalu terlihat.

Perjalanan literasi semakin terbuka luas dan memberi banyak pelajaran kehidupan. Dunia menulis tidak lagi dipandang sekadar hobi, tetapi berubah menjadi jalan kehidupan yang membentuk identitas diri. Banyak perjalanan baru dimulai dari sana, banyak orang hebat ditemui, dan banyak pengalaman hidup yang membuka cara pandang baru. Menulis menjadi jembatan untuk memahami manusia dan kehidupan secara lebih dalam.

Menulis perlahan mengubah cara pandangku terhadap kehidupan secara keseluruhan. Aku belajar bahwa luka bisa diubah menjadi karya yang bermakna. Aku juga memahami bahwa kehilangan tidak selalu berarti akhir, tetapi bisa menjadi awal dari arah yang baru. Dari proses itu aku menyadari bahwa seseorang tidak harus lahir dari kehidupan yang sempurna untuk bisa memberi manfaat bagi orang lain.

Kecintaan terhadap dunia literasi kemudian mengantarkan langkahku menuju bangku perkuliahan di Jakarta. Aku memilih jurusan jurnalistik dengan penuh keyakinan meskipun sempat diragukan oleh keluarga. Dunia menulis terasa terlalu dekat untuk ditinggalkan begitu saja. Aku percaya bahwa tulisan mampu membuka banyak jalan kehidupan yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Masa kuliah menjadi fase perjuangan yang penuh warna dalam hidupku. Di tengah keterbatasan ekonomi dan kehidupan rantau, aku menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan. Aku menjadi jurnalis majalah kampus, reporter freelance, editor naskah, penyiar radio, hingga penulis lepas di berbagai media. Semua dijalani dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari proses belajar kehidupan.

Dunia jurnalistik mengajarkan banyak hal tentang keberanian dan ketangguhan. Aku belajar bagaimana berbicara dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Aku juga belajar memahami kehidupan dari sudut pandang yang tidak selalu sama dengan diriku sendiri. Dari semua itu, aku belajar bahwa bertahan hidup membutuhkan keberanian untuk terus mencoba.

Dari hasil menulis, perlahan kebutuhan kuliah mulai bisa terpenuhi. Aku bisa membeli buku-buku yang dibutuhkan untuk belajar. Bahkan, kamera DSLR untuk tugas fotografi juga berhasil kumiliki dari hasil kerja sendiri. Sebagian biaya hidup pun mampu kutanggung tanpa selalu bergantung pada orang lain.

Di tengah perjalanan itu, Allah menghadirkan jalan yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Aku mendapatkan beasiswa dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak B.J. Habibie. Bantuan itu bukan hanya meringankan biaya pendidikan, tetapi juga menjadi penguat harapan dalam hidupku. Aku merasa seperti diingatkan bahwa setiap perjuangan yang sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia.

Sejak saat itu, keyakinan terhadap dunia literasi semakin kuat dalam diriku. Menulis bukan lagi sekadar kemampuan merangkai kata, tetapi telah menjadi cara untuk bertahan hidup. Menulis juga menjadi sarana untuk bertumbuh, menyembuhkan diri, dan memahami makna kehidupan yang lebih luas. Dari sana aku mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda.

Hingga hari ini, aku tetap merasa bahwa aksara adalah rumah paling tenang untuk pulang. Bukan tempat yang selalu sempurna, tetapi selalu menerima tanpa syarat. Di dalamnya aku menemukan diriku sendiri berulang kali. Dan di dalam aksara pula, aku memahami bahwa identitasku tidak pernah lepas dari kata-kata.

Menulis dan Bertahan Hidup

Menjadi mahasiswa di kota rantau bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada banyak fase yang harus dilalui dengan ketahanan hati, keberanian, dan keyakinan bahwa setiap perjuangan pasti memiliki jalannya sendiri.

Jakarta menjadi kota yang membuka begitu banyak pengalaman baru dalam kehidupan. Di kota yang tidak pernah benar-benar tidur itu, setiap langkah dijalani perlahan, sambil membawa mimpi yang sederhana, tetapi bermakna: menyelesaikan pendidikan dan tetap mampu bertahan hidup dengan kemampuan sendiri.

Dari hari ke hari, kehidupan rantau mengajarkan bahwa bertahan bukan hanya soal fisik, tetapi juga tentang keteguhan mental dan kesediaan untuk terus belajar.

Pilihan masuk Jurusan Jurnalistik di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sempat dipandang sebelah mata oleh sebagian keluarga. Dunia menulis dianggap tidak memiliki masa depan yang jelas dan terlalu penuh ketidakpastian. Namun, di dalam hatiku ada keyakinan yang tidak pernah benar-benar padam bahwa dunia aksara adalah tempat terbaik untuk bertumbuh dan menemukan jati diri. Menulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata, melainkan ruang untuk memahami kehidupan, membaca realitas, dan menemukan makna di balik setiap peristiwa yang dialami.

Hari-hari perkuliahan dijalani dengan penuh kesungguhan, meski tidak selalu mudah. Di tengah tugas kampus yang terus berdatangan, kehidupan rantau mengajarkan banyak hal tentang kemandirian dan tanggung jawab.

Tidak semua kebutuhan bisa dipenuhi dengan mudah dan ada masa-masa ketika harus benar-benar berhitung untuk sekadar makan, membeli buku, membayar transportasi, hingga memenuhi kebutuhan kuliah lainnya. Dalam kondisi seperti itu, setiap keputusan terasa berarti, dan setiap usaha kecil menjadi bagian dari perjuangan besar untuk tetap melangkah.

Justru dalam keterbatasan itulah keberanian mulai tumbuh dan menguat. Keadaan yang serba terbatas perlahan membentuk ketangguhan untuk tidak mudah menyerah pada keadaan.

Di tengah tekanan hidup, selalu ada dorongan kecil untuk tetap mencoba, meskipun hasilnya belum pasti. Dari situlah perlahan lahir keyakinan bahwa keterbatasan bukan akhir dari perjalanan, melainkan titik awal untuk menemukan jalan-jalan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Dunia menulis kemudian perlahan membuka jalan kehidupan yang lebih luas. Kesempatan demi kesempatan datang melalui keberanian sederhana untuk mencoba, meski dengan rasa ragu yang selalu mengiringi.

Berawal dari mengikuti lomba kepenulisan di lingkungan kampus, langkah kecil itu perlahan mempertemukan dengan dunia jurnalistik yang sesungguhnya, sebuah dunia yang sebelumnya hanya dibayangkan dari kejauhan. Dari ruang-ruang kecil itulah, perlahan terbentuk kepercayaan diri untuk terus melangkah lebih jauh.

Salah satu pengalaman yang masih begitu membekas adalah ketika fakultas mengadakan lomba menulis dengan tema “Surat untuk Dekanku.” Tulisan itu lahir dari kegelisahan yang dirasakan sendiri sebagai mahasiswa baru, tentang kondisi kampus, tentang harapan terhadap lingkungan akademik, dan tentang berbagai keresahan yang selama ini hanya disimpan dalam diam.

Aku sama sekali tak menyangka, melalui tulisan yang kuanggap sangat sederhana itu justru berhasil memenangkan perlombaan dan menjadi titik awal kepercayaan diri yang baru.

Di atas panggung auditorium yang luas, namaku dipanggil sebagai pemenang. Momen tersebut menjadi pengalaman yang sangat berarti bagiku karena dari sana tumbuh kesadaran bahwa tulisan yang jujur dan lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk didengar. Sejak saat itu, ada keberanian baru yang tumbuh dalam diri untuk tidak lagi meremehkan kekuatan kata-kata.

Dari titik itu, langkah mulai bergerak lebih jauh dan lebih terarah. Dunia kampus mempertemukan dengan banyak orang yang memiliki kecintaan yang sama terhadap literasi dan dunia tulis-menulis. Kesempatan untuk menjadi bagian dari majalah kampus pun mulai terbuka, meskipun harus melalui proses yang tidak mudah.

Dengan penuh keyakinan, aku melangkah memberanikan diri mendatangi salah satu dosen yang menjadi penanggung jawab majalah jurnal wisuda kampus, yaitu Bapak Ilyas Tahir. Dengan membawa harapan besar dan perasaan gugup yang tidak bisa disembunyikan.

Dalam pertemuan singkat itu, tidak banyak percakapan yang terjadi. Hanya sebuah tantangan sederhana yang diberikan, yaitu mengirimkan tulisan melalui email untuk dinilai kelayakannya. Tantangan itu diterima tanpa ragu, meskipun di dalamnya tersimpan kecemasan: apakah tulisan tersebut akan diterima atau tidak? Namun, proses itu tetap dijalani dengan sungguh-sungguh, sebagai bagian dari perjalanan belajar yang harus ditempuh.

Tulisan akhirnya dikirim dengan penuh harap, lalu ditunggu dalam suasana yang penuh kecemasan dan doa. Hingga akhirnya kabar baik datang bahwa tulisan tersebut diterima dan kesempatan untuk menjadi bagian dari tim penulis majalah kampus pun terbuka. Dari momen itu, perjalanan di dunia jurnalistik mulai dijalani dengan lebih serius dan penuh tanggung jawab.

Setiap dua bulan sekali, rapat redaksi menjadi bagian dari rutinitas kehidupan mahasiswa. Di dalamnya, berbagai proses kreatif terjadi, mulai dari menentukan tema tulisan, membagi tugas liputan, menyusun konsep majalah, hingga mengejar tenggat waktu yang sering kali menegangkan.

Dunia jurnalistik perlahan mengajarkan banyak hal penting dalam kehidupan, seperti disiplin, keberanian menyampaikan gagasan, tanggung jawab terhadap pekerjaan, serta ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas. Dari proses itu, satu per satu tulisan mulai lahir dan memenuhi halaman-halaman majalah kampus.

Berbagai jenis tulisan dikerjakan, mulai dari kronik kehidupan kampus, biografi tokoh, artikel utama, hingga tulisan-tulisan reflektif yang menggambarkan realitas sosial dan kehidupan mahasiswa. Pada titik ini, menulis tidak lagi sekadar menjadi hobi, tetapi telah berubah menjadi bagian dari cara bertahan hidup dan membangun kemandirian.

Pada masa kuliah sarjana, pekerjaan menulis justru semakin banyak dan beragam. Selain menulis artikel dan liputan, juga sering diminta mengedit naskah panjang, bahkan melakukan transkripsi video menjadi teks. Pekerjaan tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang mengasah ketelitian, kesabaran, dan kedisiplinan dalam bekerja dengan kata-kata. Hampir setiap kesempatan yang datang selalu berhubungan dengan dunia tulisan, seolah jalan hidup memang dituntun ke arah itu.

Di balik kemudahan dan banyaknya kesempatan tersebut, tidak semua pengalaman berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika sudah mengerjakan tugas besar berupa editing naskah sekitar empat ratus halaman, dengan tenaga dan waktu yang cukup panjang, tetapi pada akhirnya tidak mendapatkan pembayaran sebagaimana yang dijanjikan. Peristiwa itu menjadi salah satu pelajaran penting tentang dunia kerja, tentang keikhlasan, sekaligus tentang bagaimana tidak semua usaha selalu dihargai dengan adil.

Meski begitu, pengalaman tersebut tidak memadamkan semangat untuk terus menulis. Justru dari berbagai pengalaman naik turun itulah semakin dipahami bahwa dunia literasi bukan hanya tentang karya dan penghasilan, tetapi juga tentang keteguhan hati untuk tetap berjalan meskipun tidak selalu sesuai harapan. Dari situlah perlahan tumbuh kedewasaan dalam memaknai proses.

Pengalaman menerima honor pertama dari menulis menjadi salah satu momen yang tidak pernah terlupakan. Saat itu, satu halaman tulisan dihargai seratus ribu rupiah, dan jika menulis dua hingga tiga halaman, jumlah yang diterima bisa mencapai dua hingga tiga ratus ribu rupiah. Meskipun bagi sebagian orang jumlah itu mungkin tidak besar, tetapi bagi seorang mahasiswa rantau yang sedang berjuang mandiri, nilai tersebut terasa sangat berarti dan membahagiakan.

Dari hasil menulis itulah berbagai kebutuhan hidup perlahan dapat terpenuhi. Buku-buku kuliah mulai bisa dibeli sendiri tanpa harus selalu bergantung pada orang tua. Kebutuhan tugas fotografi seperti kamera DSLR akhirnya dapat dimiliki untuk menunjang kegiatan akademik. Bahkan, beberapa kebutuhan sehari-hari pun bisa dipenuhi secara mandiri, sehingga beban keluarga pun sedikit berkurang.

Ada rasa bangga yang tumbuh diam-diam dalam proses itu. Sebuah kesadaran bahwa tulisan ternyata tidak hanya mampu menguatkan hati dan pikiran, tetapi juga mampu membuka jalan rezeki yang nyata dalam kehidupan. Dari sana, kepercayaan terhadap kemampuan diri semakin bertumbuh dan menguat.

Tidak berhenti di situ, kesempatan lain mulai berdatangan satu per satu. Tawaran menulis buku tokoh muslim hadir dan dijalani dengan penuh semangat serta kesungguhan. Dalam waktu singkat, puluhan halaman berhasil diselesaikan dan dari karya tersebut hadir penghargaan yang tidak hanya bernilai materi, tetapi juga pengalaman yang sangat berharga dalam dunia kepenulisan.

Dunia menulis benar-benar mengubah banyak hal dalam perjalanan hidup ini. Dari menulis pula terbuka kesempatan menjadi reporter freelance, editor naskah, penyiar radio kampus, hingga jurnalis di berbagai media. Kehidupan kampus tidak lagi hanya sebatas hadir di ruang kelas dan menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga menjadi ruang belajar yang nyata untuk menghadapi dunia profesional dengan segala dinamikanya.

Salah satu tulisanku ada dalam buku antologi yang ditulis bersama Gol A Gong dkk. – (Sumber: BJN)

Di tengah perjuangan itu, Allah menghadirkan jalan yang tidak pernah disangka sebelumnya. Kesempatan memperoleh beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak B.J. Habibie menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidup. Bantuan tersebut bukan hanya meringankan beban biaya pendidikan, tetapi juga menghadirkan keyakinan baru bahwa setiap perjuangan yang dijalani dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia di hadapan Allah.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan ketika menyadari bahwa dunia literasi telah membawa langkah sejauh ini. Dari seorang remaja yang pernah kehilangan arah setelah kepergian ayahnya, perlahan tumbuh menjadi pribadi yang mampu bertahan, menemukan arah, dan membangun kehidupan melalui tulisan.

Beberapa buku yang pernah aku tulis – (Sumber: BJN)

Menulis telah menjadi teman perjalanan hidup yang paling setia. Di tengah kesedihan, tulisan menjadi pelukan yang menenangkan. Di tengah kebingungan, tulisan menjadi arah yang memberi kejelasan. Dan di tengah kerasnya kehidupan rantau, tulisan menjadi jalan untuk tetap bertahan dan melangkah.

Dari seluruh perjalanan itu semakin diyakini bahwa setiap manusia memiliki cara yang berbeda untuk bertahan dalam hidupnya. Bagiku, aksara adalah salah satu bentuk pertolongan Allah yang paling lembut, paling tenang, dan paling menenangkan dalam seluruh perjalanan kehidupan.

Gelar Terindah Menjadi Ibu

“Bersungguh-sungguhlah dalam menjalani proses kehidupan. Menjadi ibu adalah fitrah perempuan maka pelajari setiap suka dukanya. Ada pesan Ilahi tercatat dalam setiap peristiwanya.” — Maesaroh, M.Sos

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa kehidupan dapat berubah begitu cepat dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada saat banyak orang seusia masih sibuk menikmati masa muda, merancang masa depan, dan mengejar cita-cita pribadi, kehidupan justru mempertemukan dengan peran baru yang jauh lebih besar dan penuh tanggung jawab, yaitu menjadi istri sekaligus calon ibu. Perubahan ini datang bukan perlahan, tetapi seolah mengalir cepat dan langsung menggeser seluruh rencana yang sebelumnya telah disusun.

Tahun 2014 menjadi salah satu titik paling penting dalam perjalanan hidup. Pada saat itu, pernikahan hadir di tengah proses penyusunan skripsi yang belum selesai. Di satu sisi, tugas akhir masih harus diperjuangkan dengan segala tekanan akademik yang menyertainya. Namun, di sisi lain kehidupan baru sebagai seorang istri juga mulai dijalani. Dua dunia yang sama-sama menuntut kesiapan lahir dan batin harus dijalani secara bersamaan tanpa jeda.

Dua hari setelah akad berlangsung, langkah kaki meninggalkan Jakarta menuju Cimahi bersama suami tercinta. Perpindahan itu bukan sekadar perpindahan tempat tinggal, tetapi juga perpindahan fase kehidupan yang sangat besar. Di dalam hati tersimpan harapan yang kuat untuk tetap bisa menyelesaikan kuliah tepat waktu, meskipun realitas kehidupan telah berubah sepenuhnya dan menuntut penyesuaian yang tidak sederhana.

Allah kembali menghadirkan kejutan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dalam waktu yang sangat dekat. Tidak lama setelah pernikahan, kabar kehamilan pertama datang membawa perasaan yang campur aduk antara bahagia, takut, bingung, dan haru.

Satu sisi ada rasa syukur yang sangat dalam karena dipercaya untuk merasakan anugerah menjadi seorang ibu. Namun, di sisi lain ada tanggung jawab besar yang masih harus diselesaikan sebagai mahasiswi tingkat akhir.

Hari-hari setelah itu menjadi fase perjuangan yang tidak mudah untuk dijalani. Kondisi tubuh mulai sering melemah, rasa mual hadir hampir setiap hari, dan perubahan fisik berlangsung secara perlahan. Namun, pasti. Di tengah kondisi tersebut, perjalanan Cimahi–Jakarta tetap harus ditempuh untuk bimbingan skripsi dan berbagai urusan administrasi kampus. Perjalanan panjang menggunakan bus seorang diri menjadi bagian dari rutinitas yang harus dijalani dengan penuh kesabaran.

Ada hari-hari tertentu ketika tubuh terasa begitu lelah hingga muncul keinginan untuk menyerah. Duduk berjam-jam dalam perjalanan dengan kondisi hamil muda bukanlah hal yang ringan untuk dilalui. Tidak jarang air mata jatuh diam-diam, bukan karena lemah, tetapi karena merasa terlalu berat menjalani semuanya dalam waktu yang bersamaan. Namun, di balik semua itu, ada kekuatan yang terus memaksa untuk bertahan dan melangkah.

Di tengah kondisi yang penuh tantangan tersebut, Allah menghadirkan sosok suami yang begitu sabar dan setia membersamai setiap proses. Suami bukan hanya hadir sebagai pasangan hidup, tetapi juga menjadi teman perjuangan yang selalu berusaha menguatkan langkah di saat kondisi mulai melemah. Ketika tubuh tidak lagi mampu beraktivitas secara maksimal, beliau hadir membantu menyelesaikan berbagai urusan kampus yang masih harus dijalankan.

Saat rasa lelah datang bertubi-tubi, kehadirannya menjadi penenang yang menghadirkan kembali ketenangan dalam hati. Bahkan, dalam beberapa kondisi, beliau rela menggantikan untuk datang ke kampus demi mengurus administrasi skripsi ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan untuk bepergian jauh. Ada pula malam-malam panjang ketika laptop dibuka bersama dan beliau dengan sabar mengetikkan kalimat-kalimat penyemangat di sela proses penyelesaian tugas akhir.

Perhatian-perhatian kecil itu mungkin tampak sederhana jika dilihat dari luar. Namun, dalam perjalanan kehidupan, hal tersebut menjadi penguat yang sangat berarti. Kehadiran yang konsisten di saat sulit justru menjadi salah satu bentuk dukungan paling nyata yang membantu menjaga semangat untuk tetap bertahan hingga akhir proses.

Akhirnya, seluruh perjuangan panjang itu sampai pada titik penyelesaian yang penuh kelegaan. Skripsi berhasil diselesaikan tepat waktu sesuai dengan harapan yang terus dijaga sejak awal perjalanan. Semua lelah, air mata, dan perjuangan yang mengiringi proses tersebut seolah menemukan titik akhirnya yang paling indah dan menenangkan.

Hari wisuda menjadi salah satu momen paling mengharukan dalam perjalanan hidup. Dengan kondisi kehamilan yang sudah memasuki usia lima bulan, langkah kaki memasuki auditorium terasa begitu berbeda dari sebelumnya. Di sana hadir sosok ibu yang selama ini membesarkan dengan penuh perjuangan, serta suami yang selalu membersamai dengan penuh cinta dan kesabaran.

Hari itu bukan sekadar tentang kelulusan akademik semata. Lebih dari itu, hari tersebut adalah simbol dari perjalanan panjang yang penuh perjuangan, kesabaran, dan keteguhan hati. Semua proses yang sebelumnya terasa berat akhirnya menemukan titik tenangnya dalam satu momen yang penuh makna.

Seiring berjalannya waktu, perlahan disadari bahwa gelar sarjana bukanlah pencapaian paling membahagiakan dalam kehidupan. Ada gelar lain yang jauh lebih besar maknanya dan membawa perubahan mendalam dalam cara memandang hidup. Gelar itu adalah menjadi seorang ibu, sebuah peran yang tidak hanya melekat secara sosial, tetapi juga secara emosional dan spiritual.

Ketika anak pertama lahir ke dunia, hadir perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Pada saat itu, untuk pertama kalinya benar-benar dipahami bahwa cinta seorang ibu memiliki kedalaman yang sangat luas dan tidak terbatas. Ada ikatan batin yang begitu kuat, yang bahkan tidak mampu diwakili oleh bahasa apa pun yang dikenal manusia.

Tangisan kecil bayi itu membawa perubahan besar dalam kehidupan sehari-hari. Dari sana mulai belajar tentang makna begadang tanpa keluhan, tidur yang tidak lagi teratur, serta makan seadanya di sela-sela menggendong bayi. Bahkan, proses menenangkan anak di tengah tubuh yang masih dalam masa pemulihan menjadi bagian dari rutinitas baru yang harus dijalani.

Anehnya, semua proses yang melelahkan itu tetap menghadirkan kebahagiaan yang tidak tergantikan. Ada rasa haru setiap kali melihat wajah kecil yang tertidur di dada, serta rasa syukur yang dalam ketika mendengar tawa pertamanya. Bahkan, tangisan yang dahulu terasa melelahkan, perlahan berubah menjadi suara yang justru dirindukan ketika tidak terdengar.

Anak pertama tersebut diberi nama Khaulah Adzkia Samha El Aliya. Kehadirannya membawa banyak pelajaran tentang cinta, kesabaran, dan makna kehidupan yang lebih dalam. Dari perjalanan bersama seorang anak kecil, perlahan dipahami bahwa menjadi ibu bukan hanya tentang merawat anak, tetapi juga tentang membesarkan hati sendiri setiap hari.

Anak pertamaku: Khaulah Adzkia Samha El Aliya – (Sumber: BJN)

Perjalanan menjadi ibu juga membawa banyak proses pendewasaan dalam diri. Ada mimpi-mimpi pribadi yang harus ditunda sementara waktu, ada rasa lelah yang sering kali dipendam sendiri, dan ada hari-hari ketika pekerjaan rumah terasa tidak pernah ada habisnya. Namun, di balik semua itu, selalu ada kebahagiaan sederhana yang tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Pelukan anak setelah seharian lelah, tatapan mata kecil yang penuh percaya, serta suara lembut yang memanggil “Ibu” menjadi sumber kekuatan yang tidak ternilai. Hal-hal sederhana itu justru menjadi alasan untuk terus melangkah meskipun dalam keadaan lelah sekalipun.

Seiring waktu, cara memandang kehidupan pun ikut berubah secara perlahan. Jika dahulu kesuksesan sering diukur dari pencapaian akademik atau pekerjaan, kini maknanya menjadi jauh lebih dalam. Keberhasilan kini dipahami sebagai kemampuan untuk membersamai anak tumbuh dengan cinta, menghadirkan rumah sebagai tempat paling aman, serta memastikan anak merasa didengar, dipeluk, dan diterima sepenuhnya.

Dari perjalanan keibuan itu lahir banyak refleksi kehidupan yang sangat berharga. Tentang pentingnya kesabaran, tentang proses memahami fitrah anak, dan tentang bagaimana seorang ibu sejatinya sedang membangun peradaban dari dalam rumahnya sendiri. Peran ini mungkin terlihat sederhana dari luar, tetapi di dalamnya terdapat perjuangan yang sangat besar dan tidak selalu terlihat.

Aku (ketiga dari kanan) bersama teman-temanku – (Sumber: BJN)

Seorang ibu menjalani perannya tanpa jeda, tanpa hari libur, dan sering kali tanpa pengakuan yang sepadan. Namun, justru dari ruang rumah yang sederhana itulah lahir kekuatan yang luar biasa. Rumah perlahan berubah menjadi sekolah kehidupan, tempat belajar tentang cinta, komunikasi, pengorbanan, dan makna keikhlasan yang sesungguhnya.

Dari seluruh perjalanan panjang itu akhirnya dipahami satu hal yang sangat mendalam. Menjadi ibu bukanlah akhir dari mimpi seorang perempuan. Sebaliknya, menjadi ibu justru merupakan awal dari lahirnya versi diri yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih bermakna dalam menjalani kehidupan.

Aksara yang Tidak Pernah Padam

Hidup pada akhirnya tidak selalu berjalan sesuai rencana manusia. Ada banyak hal yang datang tanpa permisi: kehilangan yang meninggalkan ruang kosong, perjuangan yang menguras tenaga, serta tanggung jawab yang harus dipikul di saat yang bersamaan. Dalam setiap fase itu, manusia dipaksa untuk terus melangkah meski tidak selalu siap, meski tidak selalu mengerti ke mana arah hidup akan mamba.

Justru dari ketidakteraturan itulah kehidupan perlahan membentuk seseorang menjadi lebih matang. Setiap luka menyimpan pelajaran, setiap jatuh menyisakan kekuatan yang tidak disadari, dan setiap keterbatasan membuka jalan-jalan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia, karena di balik setiap peristiwa selalu ada makna yang sedang disusun oleh waktu.

Dari kehilangan seorang ayah di usia yang masih sangat muda, lahirlah proses panjang untuk memahami hidup dengan cara yang berbeda. Dari dunia literasi, tumbuh keberanian untuk bermimpi dan percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah arah hidup. Dari pernikahan dan keibuan, hadir pemahaman baru tentang cinta yang tidak lagi sekadar perasaan, tetapi juga tentang pengorbanan, kesabaran, dan ketulusan yang dijalani setiap hari tanpa banyak kata.

Perjalanan sebagai mahasiswa rantau, pengalaman di dunia jurnalistik, serta dinamika kehidupan keluarga semuanya menyatu menjadi satu rangkaian cerita yang saling menguatkan. Ada masa ketika jalan terasa lapang, tetapi ada pula saat-saat ketika segalanya terasa berat dan tidak pasti. Namun, pada setiap keadaan itu selalu ada satu hal yang tetap bertahan: keyakinan bahwa hidup harus terus dijalani, apa pun bentuk ujiannya.

Di tengah perjalanan sarjana, dunia kepenulisan membuka banyak kesempatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Menulis, mengedit naskah, hingga mentranskripsi video menjadi tulisan adalah bagian dari keseharian yang mengasah kemampuan sekaligus menjadi jalan rezeki. Semua itu datang dengan berbagai kemudahan yang terasa seperti anugerah, namun tidak selalu berjalan tanpa ujian.

Ada masa ketika pekerjaan menumpuk dan tanggung jawab terasa ringan karena terbiasa dijalani. Namun di sisi lain, pernah pula hadir pengalaman yang meninggalkan luka tersendiri, ketika sebuah pekerjaan mengedit naskah hingga ratusan halaman telah diselesaikan dengan penuh tanggung jawab, tetapi hasilnya tidak dibayarkan sebagaimana yang dijanjikan. Pengalaman itu menjadi pelajaran tentang keikhlasan, kehati-hatian, sekaligus keteguhan untuk tetap profesional dalam setiap keadaan.

Meski demikian, perjalanan tidak berhenti di titik itu. Justru dari pengalaman-pengalaman tersebut tumbuh kedewasaan dalam memandang dunia kerja, memahami nilai usaha, serta belajar menata ekspektasi tanpa kehilangan semangat untuk terus berkarya. Tidak semua hal berjalan sesuai harapan, tetapi setiap proses tetap membentuk karakter dan memperkuat langkah ke depan.

Aku (kedua dari kanan) dan teman-temanku – (Sumber: BJN)

Pada akhirnya, semua perjalanan ini bermuara pada satu kesadaran yang sederhana, tetapi dalam: bahwa manusia hanya diminta untuk terus berusaha, sementara hasil dan jalan hidup sepenuhnya berada dalam ketetapan Allah. Dari sana, hati belajar untuk lebih tenang dalam menghadapi kehilangan, lebih sabar dalam menghadapi ujian, dan lebih ikhlas dalam menerima setiap ketentuan.

Hingga hari ini, aksara tetap menjadi ruang pulang yang paling aman. Tempat segala cerita disimpan, segala luka ditenangkan, dan segala harapan terus dihidupkan. Karena tulisan tidak pernah benar-benar mati; ia tetap hidup, bahkan ketika waktu dan manusia telah lama berganti.

Puisi: Aksara yang Menjaga

Di antara lelah yang tak bersuara,

aku belajar menata langkah dalam doa.

Kehilangan pernah mengajarkan sunyi,

namun dari sunyi itu aku mengerti diri.

.

Kata-kata bukan sekadar tinta di kertas,

ia luka yang perlahan menjadi bekas.

Ia rumah ketika dunia terasa jauh,

ia peluk ketika hati nyaris runtuh.

.

Jika hidup adalah perjalanan yang tak selalu mudah,

biarlah aksara menjadi cahaya yang tak pernah lelah.

Sebab di setiap jatuh dan bangkit yang berulang,

ada Allah yang selalu memegang langkah pulang.

“Tidak semua yang hilang berarti akhir,

sebagian hanya sedang Allah alihkan untuk menguatkan arah.” ~ Maesaroh, M.Sos

***

Judul: Aksara Identitasku: Sebuah Autobiografi Maesaroh

Penulis: Maesaroh, M.Sos.

Editor: JHK