Diah Rachmawati: Perempuan yang Mengubah Limbah Menjadi Keindahan, Rumah Menjadi Galeri Jiwa, dan Dapur Menjadi Ruang Cinta

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Senin (31/08/2026) – Tulisan berjudul “Diah Rachmawati: Perempuan yang Mengubah Limbah Menjadi Keindahan, Rumah Menjadi Galeri Jiwa, dan Dapur Menjadi Ruang Cinta” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni). 

Ada rumah-rumah yang hanya menjadi tempat pulang. Namun, ada pula rumah yang menjelma menjadi ruang lahirnya harapan, tempat seni bertumbuh, dan tempat orang-orang menemukan kembali makna hidup dari benda-benda yang pernah dianggap tak berguna.

Rumah itu bernama Griya Rahma. Di sebuah sudut Kota Cimahi, rumah sederhana itu menyimpan kisah seorang perempuan yang tak pernah berhenti berkarya. Namanya Diah Rachmawati, seorang perupa, pelukis, pengrajin, sekaligus pegiat kuliner yang percaya bahwa setiap benda memiliki kesempatan kedua untuk menjadi indah.

Bagi Diah, limbah bukanlah akhir dari sebuah benda. Limbah bisa disulapnya menjadi sesuatu yang berharga, punya nilai yang tinggi, dan justru di sanalah cerita baru dimulai.

Diah Rachmawati ketika sedang berkarya di rumahnya – (Sumber: Koleksi pribadi)

Melukis Kehidupan dari Barang yang Terbuang

Di tangan banyak orang, plastik bekas, bungkus kopi sachet, compact disc rusak, batu kerikil, hingga berbagai limbah rumah tangga hanyalah sampah yang menunggu tempat pembuangan. Namun, di tangan Diah Rachmawati, semuanya berubah menjadi karya seni yang memikat mata dan membuat hati menjadi tenang, seperti pantai dengan deburan ombak dan semilir angin sejuk yang menyapanya.

Perempuan kelahiran Jakarta, 7 Juli 1970 ini dikenal sebagai pelukis dengan gaya mixed media. Ia mampu memadukan cat warna dengan berbagai limbah anorganik rumah tangga sehingga menghasilkan tekstur, dimensi, dan karakter yang unik dalam setiap lukisannya.

Diah Rachmawati bersama salah satu lukisannya yang sudah terjual – (Sumber: BJN)

Setiap karya memiliki napas sendiri. Plastik yang kusut berubah menjadi kelopak bunga. Pecahan CD memantulkan cahaya seperti serpihan pelangi. Bungkus kopi menjadi ornamen yang tak lagi dikenali bentuk asalnya.

Diah tidak sekadar melukis di atas kanvas. Ia sedang menyelamatkan benda-benda yang nyaris kehilangan harga dirinya. Baginya, seni adalah cara paling lembut untuk mengajarkan manusia mencintai bumi.

Craft karya Diah Rachmawati yang terbuat dari bahan daur ulang – (Sumber: BJN)

Griya Rahma, Rumah yang Menjadi Galeri Kehidupan

Ketika melangkahkan kaki ke Griya Rahma, pengunjung akan merasakan suasana yang berbeda. Dinding-dinding rumah dipenuhi karya lukisan. Sudut ruangan dihiasi dekorasi dari bahan daur ulang. Pot bunga, aksesori, pajangan, hingga ornamen interior lahir dari kreativitas yang tak mengenal batas.

Rumah itu bukan sekadar galeri. Ia adalah ruang berbagi. Diah membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang ingin belajar, berdiskusi, atau sekadar menikmati prosesnya berkarya. Ia percaya bahwa seni memiliki kekuatan menyembuhkan luka batin.

Di Griya Rahma, proses menciptakan karya menjadi bagian dari self healing. Saat tangan sibuk menyusun potongan plastik, memilih warna, atau menempelkan serpihan limbah pada kanvas, pikiran perlahan menjadi tenang.

Seni menjadi terapi  – tempat menghilangkan segala kerumitan yang membuat fisik dan jiwa merana. Setiap orang dipersilakan merasakan pengalaman itu, bukan hanya sekadar memandang karya yang sudah tersaji, tetapi ikut serta belajar menciptakannya.

Perjalanan Panjang Seorang Perempuan Kreatif

Alumni SMAN 2 Cimahi ini bukan hanya dikenal sebagai pelukis. Sejak muda, ia menjelajahi berbagai dunia usaha kreatif dengan semangat yang sama: menciptakan sesuatu yang bermanfaat, sekaligus bernilai estetika.

Dunia kuliner menjadi salah satu jejak panjang perjalanannya. Diah membangun berbagai usaha seperti Sarah Cake, Sari Mojang, Dapur Rahma, hingga Kukkii yang melayani tumpeng, nasi dus, snack box, katering, bolu pengantin, hingga aneka kue kering. Namun, kreativitas wanita kreatif ini tidak berhenti di dapur.

Diah Rachmawati bersama salah satu karyanya – (Sumber: Koleksi Pribadi)

Diah juga menciptakan Widi Bag –  tas kasual dari celana jeans bekas dan tas pesta berbahan bulu sintetis. Lalu hadir D’ Rahma untuk aksesori dan lukisan, D’ Art Collection serta Blassbluss untuk bedcover, sprei, sarung bantal, dan kerajinan patchwork, hingga AuliaCraft yang berfokus pada kerajinan daur ulang.

Semua lahir dari satu benang merah: mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Dengan kreativitasnya, Diah tidak ingin melihat sampah atau benda tak berguna lainnya menjadi sesuatu yang sia-sia. Baginya, semua itu bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat bagi kehidupan.

Dapoer Rahma, Saat Seni Hadir di Atas Piring

Bila Griya Rahma adalah galeri untuk mata maka Dapoer Rahma adalah galeri untuk rasa. Di dapur inilah tradisi dan cita rasa bertemu. Diah menghadirkan hidangan rumahan yang hangat untuk keluarga, sahabat, dan berbagai acara istimewa.

Salah satu sajian yang paling menjadi ciri khas adalah tumpeng. Bagi Diah, tumpeng bukan sekadar makanan. Ia adalah simbol syukur, doa, persatuan, dan warisan budaya Indonesia yang kaya makna. Oleh karena itu, setiap tumpeng dibuat dengan sentuhan artistik, penuh detail warna dan komposisi, layaknya sebuah karya seni.

Tak heran kalau Diah berulang kali mengikuti lomba cipta karya makanan dan lomba tumpeng, mulai dari tingkat RT hingga tingkat Provinsi Jawa Barat. Melalui tangan dinginnya, dapur pun menjadi ruang kreativitas.

Mengajar, Berbagi, dan Menghidupkan Komunitas

Seni akan kehilangan makna jika berhenti pada diri sendiri. Mungkin itulah yang diyakini Diah. 

Selama bertahun-tahun Diah aktif memberikan pelatihan kerajinan kepada berbagai komunitas perempuan, ibu-ibu PKK, guru TK, organisasi IWAPI, hingga kelompok masyarakat di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Craft karya Diah Rachmawati yang terbuat dari bahan daur ulang – (Sumber: BJN)

Diah mengajarkan cara membuat bunga dari tisu dapur dan sumpit bekas, kaktus dari batu kerikil, kerajinan dari bungkus kopi sachet, plastik bekas, hingga compact disc yang sudah tak terpakai.

Bagi peserta, kegiatan itu bukan sekadar belajar membuat kerajinan. Mereka belajar melihat peluang ekonomi dari barang sederhana. Mereka belajar bahwa kreativitas bisa dimulai dari rumah sendiri.

Langkah yang Mengantar ke Berbagai Panggung Pameran

Perjalanan Diah Rachmawati sebagai seniman tidak dibangun dalam semalam. Sejak tahun 2009, ia konsisten mengikuti pameran, workshop, kompetisi, hingga kegiatan seni di berbagai kota.

Namanya hadir dalam pameran kerajinan nasional di Tegallega Bandung, Luxury Trans Hotel Bandung, Gedung Sate, Technopark Cimahi, INACRAFT Jakarta, Kriyanusa Senayan, hingga berbagai agenda Dekranasda Jawa Barat.

Salah satu pencapaiannya adalah Juara III Dekranas Award Cimahi 2022 dan kembali mengikuti Dekranas Award Cimahi 2024 dengan karya bertema Cimahi Military City.

Diah juga menjadi narasumber dalam kegiatan Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Cimahi, menerima berbagai kunjungan komunitas perempuan dari luar daerah, serta aktif berbagi pengalaman mengenai seni berbasis daur ulang.

Konsistensi itu membuat namanya semakin dikenal sebagai salah satu pelopor kerajinan recycle art di Kota Cimahi.

Menembus Panggung Seni yang Lebih Luas

Semangat belajar membuat Diah terus melangkah. Tahun 2024 ia mengikuti Lomba Lukis UOB tingkat Asia Tenggara, sebuah pengalaman penting yang mempertemukannya dengan dunia seni rupa yang lebih luas.

Karya-karya seni rupa Diah yang selama ini cuma tersimpan di rumah mulai tampil ke publik. Pada 2025, beberapa karya lukisannya berbahan mixed media mulai dipamerkan diberbagai event setelah melalui proses kurasi oleh seniman-seniman senior Kota Cimahi. Tentu saja ini merupakan sebuah pengakuan atas keseriusannya dalam mengembangkan lukisan berbahan recycle yang telah dilakukannya selama ini.

Salah satu lukisan mixed media buah karya Diach Rachmawati – (Sumber: BJN)

Tahun 2026 menjadi salah satu babak baru. Diah tampil dalam Pameran Lukisan bertajuk “Episentrum Seni Rupa Cimahi: Merdeka Berkarya“ yang digelar Cima’Art Eduprenuer di Lantai 1, Cimahi Mall, Jalan Gandawijaya Nomor 1, Kota Cimahi. 

Salah satu lukisan mixed media buah karya Diach Rachmawati – (Sumber: BJN)

Dia juga mengikuti  pameran bersama komunitas ASPEN dalam Pameran Seni Rupa KDM di Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat. Kegiatan yang dibuka oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat tersebut berlangsung selama dua minggu yaitu pada 17-30 Agustus 2026

Pada setiap pameran yang diikutinya, Diah membawa selalu membawa pesan yang sama: seni dapat lahir dari kepedulian terhadap lingkungan.

Perempuan yang Menanam Harapan dari Hal-Hal Sederhana

Melihat perjalanan Diah Rachmawati, orang mungkin akan melihat banyak profesi dalam satu sosok: pelukis, pengrajin, pengusaha kuliner, pembuat aksesori, perajin tekstil, narasumber, hingga fasilitator pelatihan. Namun di balik semua itu ada satu identitas yang paling kuat: seorang perempuan yang mencintai proses mencipta.

Diah membuktikan bahwa kreativitas tidak selalu membutuhkan bahan mahal. Rumah bisa menjadi galeri. Dapur bisa menjadi ruang budaya. Sampah bisa menjadi karya dan berkarya bisa menjadi jalan menyembuhkan diri.

Di Kota Cimahi, Diah Rachmawati menghadirkan inspirasi yang sederhana, tetapi mendalam: keindahan sering kali lahir bukan dari sesuatu yang sempurna, melainkan dari keberanian melihat harapan pada apa yang telah dibuang. Di tangan seorang seniman, setiap limbah selalu memiliki kesempatan untuk hidup kembali—lebih indah, lebih bermakna, dan lebih bercerita.

***

Judul: Diah Rachmawati: Perempuan yang Mengubah Limbah Menjadi Keindahan, Rumah Menjadi Galeri Jiwa, dan Dapur Menjadi Ruang Cinta

Penulis: Jumari Haryadi

Editor: JHK