Cerpen “Liefje WIM: Bagian 1”

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom SASTRA, Senin (13/07/2026) – Cerpen berjudul “Liefje WIM: Bagian 1” ini merupakan karya tulis Dewi Tri Handayani, S.T., seorang pejuang lingkunganyang tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat. 

Kriiiiing…Kriiiiing….

“Dewi, kan het gedrag van Willy niet uitstaan, hij blijft eisen stellen.” (Dewi, aku tidak tahan dengan Willy, dia terus menerus menggangguku).

“Ok Wim, geeft hem wat hij wilt, of stop ermee me voortdurend te bellen.” (Ok Wim, berikan ke dia, atau stop menghubungi aku terus).

Itu kata-kata terakhir yang keluar dari bibirku yang sampai detik ini tak termaafkan. Aku menyesal. Aku rindu semua. Aku ingin dunia kembali seperti delapan tahun lalu. Ya Tuhan.

Aku berkenalan selayaknya familie atau saudara jauh. Aku tidak mengerti apa yang mereka obrolkan, bahasa yang sangat aneh, terdengar seperti orang menggumam dan banyak kata-kata asing yang belum pernah sekali pun kudengar.

Aku lahir dan dibesarkan di ibukota dengan segala kemajuannya. Kemudian aku pindah ke kota kecil ini sesungguhnya bukan keinginanku. Tidak masuk akal, aku bisa seperti ini sekarang.

Dia datang sebagai sosok yang unik dengan mata birunya dan seolah-olah selalu ingin tahu apa yang aku lakukan. Aku anggap wajar, mungkin karena dia orang asing.

Aku pikir dia menganggapku sebagai orang aneh, orang kampung yang naif, atau gadis yang bodoh. Karena perhatian dan keingintauannya yang sangat besar tentang tingkah lakuku, membuatku lama-lama tersihir seperti juga ingin tahu, mau apa dia sebenarnya.

William Van der Hooft, nama yang asing. Dia sepupu jauh, datang dari negeri  Kincir angin, 18 jam perjalanan, melewati dan transit di Malaysia atau Singapura. Setiap kali kedatangannya identik dengan coklat, baju-baju bekas sekali pakai, dan parfum. Bahkan, majalah-majalah yang bahasanya rumit. Namun, semakin lama aku semakin ingin dekat dan ngobrol dengan situasi apapun. Datang setiap situasi yang sangat memungkinkan.

Apapun kulakukan walau sulit luar biasa, akhirnya aku bisa. Aku punya kendali, setelah bisa bahasanya, aku ingat sekali ketika kuulangi perkenalan kami, “Hai Wim, Ik heet Dewi, hoe ‘t met U?” (Hai Wim aku Dewi, apa khabar?).

Mata William yang biru terbelalak bingung, “Hi, schatje welkom, ben erg verrasing.” (Hai sayang, keren banget).

Sejak itu obrolan makin mulus dan meluas, seluas samudra, apapun bisa kuceritakan seenakku. Aku tak peduli dunia. Aku fokus hanya aku dan dia.

Dua puluh tahun. Ya, persis dua puluh tahun kami bersama dan dunia mati. Aku pun hidup dalam kebingungan. Aku tidak mampu menangis karena tidak ada alasan untuk menangis. Aku hanya yakin seyakin-yakinnya bahwa setiap gerakan dan apapun yang kulakukan, dia selalu mengamati.

Aku melihat dari kejauhan, dia mengangguk seperti yang dulu dia lakukan apabila kekagumannya datang. Ujung jalan depan rumahku selalu jadi saksi keberadaannya. Di sana biasanya perpisahan itu hadir, sampai bayangannya pun tak sanggup lagi kuhadirkan kini.

Rumah yang penuh kenangan pun kini sudah rata, diratakan pemilik baru, seperti hatiku kini yang sudah rata.

Wim, verfeeg me dat ik niet veel over je kan zeggen, je bent zo dierbaar dat ik de woorden niet kan vinden om dat volledig uit te drukken. (Wim, maafkan aku. Aku tak sanggup melanjutkan semua ceritaku tentangmu. Kamu begitu berharga. Aku tak sanggup menemukan kata-kata tentangmu seluruhnya).

Aku janji tidak akan menyakiti siapapun, Wim. Alap in de eeuwigheid. (Tidurlah dalam keabadian, aku kesepian).

Bersambung ke bagian 2

***

Judul: Liefje WIM: Bagian 1

Penulis: Dewi Tri Handayani, S.T.

Editor: JHK

Sekilas tentang Penulis

Dewi Tri Handayani bukanlah orang asli Cimahi. Ia sama sekali tak membayangkan kalau akhirnya akan tinggal di kota ini. Namun, jodohlah yang telah menuntunnya hadir dan menjadi bagian dari kisah yang tumbuh di sini.

Dewi Tri Handayani, penulis/pengarang – (Sumber: BJN)

Di Kota Cimahi ini, Dewi tidak hanya menemukan rumah, tetapi juga kesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas. Selain budaya Sunda yang hangat dan penuh kearifan, ia belajar memahami budaya lain yang turut mewarnai perjalanan hidupnya. Dari sana, ia mengenal bahasa ibu yang berbeda. Bahkan, bahasa Belanda yang pernah begitu dekat dalam kesehariannya.

Waktu berjalan, dan perlahan banyak kenangan tentang Belanda mulai memudar dari ingatan Dewi. Meski demikian, jejak tentang negeri bunga tulip tersebut tetap terukir dalam relung hatinya yang paling dalam. Ada nilai, cerita, dan rasa yang tidak pernah benar-benar hilang, sekalipun jarak dan waktu terus berlalu.

Kini, wanita yang terlihat selalu ceria ini mencintai kedua budaya itu dengan cara yang istimewa. Keduanya telah membentuk cara pandang Dewi, memperkaya jiwanya, dan menjadi bagian dari identitas yang melekat dalam dirinya. Menurutnya, mengenal dua budaya ini sama artinya dengan mengenal dirinya sendiri—lebih dalam, lebih utuh, dan lebih bermakna.

***