BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Minggu (07/06/2026) – Artikel berjudul “Self Wellness: Menemukan Sehat dan Bahagia dari Dalam Diri” ini merupakan karya Maesaroh, seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak.
Kesehatan sering kali dipahami sebagai kondisi tubuh yang bebas dari penyakit, padahal kesehatan yang sesungguhnya tidak hanya berkaitan dengan fisik, tetapi juga mencakup keseimbangan pikiran, emosi, hubungan sosial, kemampuan intelektual, dan spiritualitas. Ketika seluruh aspek tersebut berada dalam kondisi yang baik, seseorang dapat menjalani hidup dengan lebih sehat, produktif, dan bahagia. Konsep inilah yang dikenal sebagai self wellness atau kesejahteraan diri secara menyeluruh.
Menurut dr. R. Adj. Irma Indriyani, manusia merupakan satu kesatuan yang utuh. Tubuh, pikiran, emosi, dan spiritualitas saling memengaruhi satu sama lain. Ketika salah satu aspek mengalami gangguan, aspek lainnya pun dapat ikut terdampak. Oleh karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik, tetapi juga perlu merawat kesehatan mental, emosional, sosial, intelektual, dan spiritual secara seimbang.

Pandemi yang pernah melanda dunia menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya soal tubuh yang kuat. Banyak orang menyadari pentingnya ketenangan batin, kemampuan mengelola emosi, dukungan sosial, dan kedekatan kepada Tuhan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Dari pengalaman tersebut, semakin banyak orang memahami bahwa kesehatan dan kebahagiaan sejati lahir dari keseimbangan berbagai aspek kehidupan.
Dalam konsep self wellness, terdapat lima komponen utama yang perlu dijaga. Pertama, kesehatan spiritual, yaitu kemampuan menemukan makna hidup, memperoleh ketenangan batin, serta membangun kedekatan dengan Allah SWT. Kesehatan spiritual membantu seseorang memiliki arah hidup yang jelas, hati yang tenang, dan kemampuan untuk menghadapi berbagai ujian dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.

Kedua, kesehatan fisik, yaitu kondisi tubuh yang memungkinkan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Kesehatan fisik dapat dijaga melalui pola makan yang bergizi, olahraga teratur, istirahat yang cukup, serta penerapan gaya hidup sehat.
Ketiga, kesehatan intelektual, yaitu kemampuan untuk terus belajar, berpikir kritis, mengembangkan wawasan, dan menggali potensi diri. Kesehatan intelektual mendorong seseorang untuk terbuka terhadap pengetahuan baru dan mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi di sekitarnya.
Keempat, kesehatan sosial, yaitu kemampuan membangun dan memelihara hubungan yang harmonis dengan keluarga, sahabat, rekan kerja, dan lingkungan sekitar. Hubungan sosial yang baik memberikan dukungan emosional dan menciptakan rasa memiliki yang penting bagi kesejahteraan seseorang.
Kelima, kesehatan emosional, yaitu kemampuan mengenali, memahami, menerima, dan mengelola perasaan secara sehat. Kesehatan emosional membantu seseorang menghadapi tekanan hidup, mengelola stres, serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana.
Kesehatan emosional memiliki pengaruh besar terhadap kualitas hidup seseorang. Emosi yang tidak terkelola dengan baik dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun psikologis. Sebaliknya, emosi yang dikelola dengan bijaksana dapat membantu menciptakan keseimbangan dalam diri. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengenali perasaan, memahami sumber emosi, dan mengelolanya secara sehat.
Salah satu pendekatan yang menjelaskan hubungan antara emosi dan tubuh adalah konsep Lima Unsur Alam (Wu-Sing/Wu Xing) dalam pengobatan tradisional Timur. Konsep ini menjelaskan bahwa setiap unsur memiliki keterkaitan dengan organ tubuh dan emosi tertentu. Ketika emosi berada dalam kondisi seimbang, tubuh dapat berfungsi lebih optimal. Sebaliknya, emosi yang berlebihan dan berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan.
Pertama, unsur Kayu yang berkaitan dengan liver (hati) dan kantung empedu berhubungan dengan emosi marah. Dalam kadar yang tepat, kemarahan dapat menjadi energi untuk bertindak dan melakukan perubahan. Namun, jika berlebihan, kemarahan dapat menimbulkan ketegangan dan mengganggu keseimbangan tubuh.
Kedua, unsur Api yang berkaitan dengan jantung dan usus halus berhubungan dengan emosi gembira. Perasaan gembira penting bagi kesehatan, tetapi jika berlebihan dapat menyebabkan kegelisahan atau ketidakstabilan emosi.
Ketiga, unsur Tanah yang berkaitan dengan limpa dan lambung berhubungan dengan aktivitas berpikir, rasa cinta, dan kerinduan. Ketika tidak seimbang, seseorang dapat terjebak dalam kekhawatiran atau pikiran yang berlebihan.
Keempat, unsur Logam yang berkaitan dengan paru-paru dan usus besar berhubungan dengan emosi sedih. Kesedihan merupakan bagian alami dari kehidupan, tetapi jika berlangsung terlalu lama dapat memengaruhi kesehatan fisik dan mental.
Kelima, unsur Air yang berkaitan dengan ginjal dan kandung kemih berhubungan dengan emosi takut. Rasa takut dapat membantu seseorang waspada terhadap bahaya. Namun, jika berlebihan dapat menghambat keberanian dan perkembangan diri.
Pemahaman mengenai hubungan antara emosi dan tubuh ini mengingatkan bahwa emosi bukan sekadar perasaan yang muncul dalam pikiran, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan kondisi fisik seseorang. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan emosi melalui rasa syukur, berpikir positif, ibadah, relaksasi, olahraga, dan hubungan sosial yang sehat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh.
Salah satu pesan penting yang disampaikan dalam materi ini adalah bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan alami untuk memperbaiki dan menyembuhkan dirinya sendiri. Kemampuan tersebut akan bekerja lebih optimal apabila didukung oleh pola hidup sehat, pikiran yang positif, emosi yang seimbang, hubungan sosial yang baik, serta kedekatan spiritual kepada Allah SWT.
Selain itu, rasa syukur dan prasangka baik juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan diri. Dalam setiap peristiwa kehidupan, baik yang menyenangkan maupun yang penuh ujian, seseorang diajak untuk tetap bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap pengalaman. Sikap ini membantu menjaga ketenangan hati sekaligus membangun ketahanan mental dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Pada akhirnya, self wellness mengajarkan bahwa sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat. Sehat adalah kondisi ketika fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual berjalan selaras. Ketika kelima aspek tersebut berada dalam keseimbangan, seseorang tidak hanya memiliki tubuh yang sehat, tetapi juga hati yang damai, pikiran yang jernih, hubungan yang harmonis, serta kehidupan yang lebih bermakna.
Karena itu, menjaga kesehatan sejati dimulai dari dalam diri. Dengan membangun gaya hidup sehat, mengelola emosi dengan baik, memperkuat hubungan sosial, terus belajar, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT, kita dapat menemukan kebahagiaan yang lebih utuh dan berkelanjutan.
“Sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi tentang keseimbangan antara fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual dalam menjalani kehidupan,” ungkap dr. R. Adj. Irma Indriyani. (Maesaroh).
***
Judul: Self Wellness: Menemukan Sehat dan Bahagia dari Dalam Diri
Penulis: Maesaroh, M.Sos.
Editor: JHK
Sekilas tentang Penulis
Maesaroh, M.Sos., adalah seorang penulis lepas, komunikator, dan ibu pembelajar yang memiliki perhatian besar pada dunia pendidikan, keluarga, serta pengembangan fitrah anak. Baginya, setiap anak lahir dengan potensi dan keunikannya masing-masing. Karena itu, tugas orang tua bukan mengubah anak sesuai keinginan, melainkan menangkap sinyal fitrah yang telah Allah titipkan sejak lahir.

Kecintaannya pada dunia literasi tumbuh sejak masa SMA. Dari kebiasaan menulis itulah, biidznillah, ia mendapatkan beasiswa bantuan pendidikan dari Yayasan Anak Bimbingan Ibu Ainun Habibie dan Bapak BJ Habibie hingga menyelesaikan pendidikan S1. Sejak saat itu, menulis menjadi bagian dari perjalanan hidup yang terus ia rawat hingga hari ini melalui artikel, puisi, cerpen, antologi, dan proses penyelesaian buku solo yang sedang diusahakan.
Setelah menikah pada 2014, Maesaroh lebih banyak membersamai anak-anak sebagai full time mom. Baginya, masa membersamai tumbuh kembang anak adalah amanah berharga yang tidak akan terulang kembali. Di tengah aktivitas rumah tangga, ia tetap aktif menulis setiap hari, belajar, serta berusaha menghadirkan karya yang bermanfaat bagi sesama.
Sebagai lulusan Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam, Maesaroh aktif berkarya dalam bidang komunikasi, dakwah, pendidikan, parenting, dan literasi keluarga. Ia juga dipercaya menjadi Tutor Universitas Terbuka pada 2026. Melalui tulisan dan proses belajar yang terus dijalani, ia berharap dapat menghadirkan manfaat, menginspirasi banyak orang, serta menebar kebaikan melalui karya dan keteladanan hidup.
“Berkarya dengan hati, menginspirasi negeri.”
***