BERITA JABAR (BJN), Rubrik Cerpen, Rabu (10/06/2026) – Cerpen berjudul “Sebelum Namamu Dipanggil ” ini adalah sebuah cerpen karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Malam itu hujan turun perlahan di atas atap rumah sederhana milik Arman dan Ratih. Bunyi rintiknya seperti nyanyian lama yang akrab di telinga. Dari jendela ruang tamu, cahaya lampu jalan tampak berpendar di antara tirai air yang jatuh tanpa tergesa.
Di atas meja kayu yang mulai kusam dimakan usia, tergeletak sebuah buku catatan tua. Sampulnya sudah memudar, sudut-sudutnya mengelupas, namun isinya tetap terjaga seperti kenangan yang enggan pergi.
Ratih membuka halaman pertama. “Mas masih ingat ini?” tanyanya pelan. Arman mendekat. Senyum tipis muncul di wajahnya ketika membaca tulisan tangan yang sudah puluhan tahun tersimpan.
“Belajar menjadi orang tua sebelum menjadi ayah dan ibu.”
Arman mengangguk perlahan. “Bagaimana mungkin aku lupa?” jawabnya.
Tulisan itu membawa mereka kembali ke masa tiga puluh tiga tahun silam. Masa ketika mereka belum memiliki rumah. Belum memiliki tabungan. Bahkan belum memiliki kepastian tentang masa depan. Saat itu Arman hanyalah pegawai muda dengan penghasilan yang cukup untuk bertahan hidup dari bulan ke bulan. Ratih sedang merintis usaha kecil yang lebih sering rugi daripada untung.
Namun di tengah segala keterbatasan itu, mereka memiliki satu mimpi yang sama. Mereka ingin menjadi orang tua yang baik. Bukan orang tua yang kaya, bukan orang tua yang terkenal, tetapi orang tua yang mampu mengantarkan seorang anak tumbuh menjadi manusia yang utuh. Maka mereka mulai belajar.
Mereka membaca buku tentang pengasuhan, berdiskusi hingga larut malam tentang kehidupan rumah tangga. Mereka belajar meminta maaf, belajar mengendalikan amarah, belajar mendengarkan sebelum berbicara.
Suatu malam Ratih bertanya, “Kalau suatu hari Tuhan menitipkan anak kepada kita, apakah kita sudah siap?”. Pertanyaan sederhana itu terus tinggal di hati mereka selama bertahun-tahun. Mereka sadar, menjadi orang tua bukanlah hak. Menjadi orang tua adalah amanah.
Waktu berjalan seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir, mereka menikah. Menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh warna. Ada masa ketika usaha Ratih bangkrut dan mereka harus menjual sebagian perhiasan untuk bertahan hidup. Ada masa ketika Arman kehilangan pekerjaan dan berbulan-bulan mencari nafkah ke sana kemari. Ada masa ketika mereka bertengkar karena kelelahan menghadapi hidup. Namun setiap kali badai datang, mereka kembali mengingat tujuan awal mereka. Membangun rumah yang layak bagi seorang anak untuk bertumbuh.
Ketika Ratih akhirnya mengandung, kebahagiaan memenuhi rumah mereka. Namun kebahagiaan itu juga membawa rasa takut yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Setiap malam Arman meletakkan telinganya di perut Ratih. Ia berbicara kepada bayi yang belum pernah dilihatnya. “Halo, Nak. Ayah sedang belajar menjadi ayah.”
Ratih tertawa mendengarnya, namun diam-diam air matanya jatuh. Ia menyadari bahwa ada kehidupan yang sedang bertumbuh dalam dirinya. Sebuah jiwa yang suatu hari akan memiliki mimpi sendiri.
Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi perempuan, mereka menamainya Alya. Saat pertama kali menggendong putrinya, Arman menangis, tangisan yang tidak mampu ia tahan. Tubuh kecil itu terasa begitu ringan. Jari-jarinya mungil, matanya masih tertutup rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Arman merasakan cinta yang begitu besar sekaligus ketakutan yang begitu dalam.
Di ruang bersalin yang sederhana itu, ia berbisik dalam hati, “Ya Tuhan, aku tahu ia bukan milikku. tolong tuntun aku menjaganya.”
Hari-hari berikutnya dipenuhi cerita yang tak pernah tertulis dalam buku mana pun. Malam-malam tanpa tidur ketika Alya demam, kepanikan saat suhu tubuhnya tiba-tiba naik. Tawa ketika ia mengucapkan kata pertama. Kebahagiaan sederhana ketika ia berhasil melangkah tanpa jatuh.
Tahun demi tahun berlalu, Alya tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan hangat hati. Ia senang membaca, senang membantu teman-temannya dan memiliki kepedulian yang besar terhadap orang lain. Ketika teman-temannya bercita-cita menjadi dokter, insinyur, atau pengusaha, Alya justru memiliki mimpi yang berbeda.
Ia ingin menjadi guru, bukan guru di kota besar. Melainkan guru di daerah-daerah terpencil yang kekurangan tenaga pendidik. Mimpi itu mulai tumbuh sejak ia mengikuti kegiatan sosial semasa sekolah. Ia melihat anak-anak yang harus berjalan jauh untuk belajar. Anak-anak yang membaca buku lusuh dengan mata berbinar. Anak-anak yang memiliki semangat besar meski fasilitas mereka sangat terbatas. Sejak saat itu, hatinya telah menentukan arah.
Namun tidak semua mimpi mudah diterima. Suatu malam, Alya mengumpulkan keberanian untuk berbicara. “Ayah, Ibu, aku sudah memutuskan.” Arman dan Ratih menatapnya. “Aku ingin menjadi guru di daerah pelosok.” Ruangan mendadak sunyi. Jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Arman terdiam, Ratih menunduk.
Bertahun-tahun mereka membayangkan masa depan putrinya. Mereka berharap Alya menjadi dokter atau mengembangkan usaha keluarga. Mereka ingin putrinya hidup nyaman dan aman, tetapi kenyataan berjalan ke arah yang berbeda.
Malam itu Arman tidak bisa tidur, ia duduk sendirian di ruang tamu. Ia teringat saat pertama kali menggendong bayi mungil itu, teringat doa-doa yang pernah dipanjatkannya, teringat janji yang pernah diucapkannya kepada Tuhan bahwa dirinya hanyalah penjaga, bukan pemilik. Saat itulah sebuah kesadaran menampar hatinya.
Selama ini ia mengira telah mendidik anak dengan baik, namun diam-diam ia masih ingin memiliki hidup anaknya, ingin menentukan masa depan Alya dan mengarahkan jalan yang harus ditempuh.
Amanah berarti menjaga sesuatu yang suatu hari harus dikembalikan. Air mata mengalir di pipinya, ia memahami bahwa cinta yang sejati tidak selalu berarti menggenggam, tetapi kadang cinta berarti melepaskan.
Pagi harinya Arman menemui Alya, Putrinya sedang menyiram tanaman di halaman.
“Alya.”
“Ya, Ayah?”
“Maafkan Ayah.”
Alya menoleh kebingungan.
“Maaf karena Ayah terlalu sibuk memikirkan apa yang Ayah inginkan.”
“Padahal tugas Ayah bukan menentukan jalan hidupmu.”
“Jadi Ayah tidak kecewa?”, mata Alya berkaca-kaca.
Arman tersenyum dan menjawab lirih “Tidak.”
Ia mengusap kepala putrinya seperti saat Alya masih kecil.
“Tugas Ayah bukan membuatmu menjadi seperti Ayah.”
“Tugas Ayah adalah membantumu menjadi dirimu sendiri.” Alya memeluk ayahnya erat, pelukan itu terasa hangat. Sehangat pelukan seorang anak yang tahu dirinya diterima tanpa syarat.
Beberapa tahun kemudian Alya benar-benar mengajar di sebuah daerah terpencil. Ia tinggal di rumah sederhana, jauh dari kemewahan, jauh dari kenyamanan kota. Namun ia hidup dengan hati yang penuh makna.
Suatu sore sebuah surat datang ke rumah Arman dan Ratih. Di dalamnya terdapat foto-foto anak-anak yang sedang belajar membaca. Ada yang duduk di lantai kayu, ada yang belajar di bawah pohon, ada yang tersenyum sambil memegang buku pertama dalam hidup mereka. Di bagian bawah foto itu Alya menulis: “Ayah dan Ibu, hari ini seorang muridku berhasil membaca satu halaman penuh tanpa bantuan siapa pun. Ia memelukku sambil menangis bahagia. Saat itu aku teringat Ayah dan Ibu”. “Terima kasih karena tidak memaksaku menjadi bayangan dari mimpi-mimpi Ayah dan Ibu.” “Terima kasih karena telah membantuku menemukan diriku sendiri.”
Ratih menangis, Arman memejamkan mata. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Mereka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini dicari sepanjang perjalanan menjadi orang tua. Anak bukanlah perpanjangan ambisi orang tua, bukan pula alat untuk memenuhi impian yang gagal diwujudkan. Anak bukan milik orang tua. Anak adalah amanah dari Tuhan. Ia datang melalui orang tua, tetapi bukan untuk dimiliki oleh orang tua.
Ia lahir dalam keadaan lemah, lalu tumbuh membawa bakat, karakter, dan panggilan hidup yang unik. Tugas orang tua bukan membentuk anak sesuai kehendaknya. Tugas orang tua adalah membantu anak menemukan jati dirinya, bukan menguasai, melainkan mendampingi dan membimbing. Cinta yang dewasa memberi ruang untuk bertumbuh.
Matahari mulai tenggelam di balik jendela rumah mereka. Langit memerah dengan indah. Arman membuka kembali buku catatan tua yang telah menemani perjalanan hidup mereka selama puluhan tahun. Pada halaman terakhir ia menulis sebuah kalimat baru dengan tangan yang mulai bergetar dimakan usia: “Menjadi orang tua bukan dimulai saat anak lahir.”
Menjadi orang tua dimulai jauh sebelum namanya dipanggil ke dunia dan berhasil menjadi orang tua adalah ketika kita mampu mengantarnya kembali kepada Tuhan sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai versi yang kita inginkan.(fsy).
Penulis : Febri Satria Yazid
Editor : Tiyut