Jalan yang Kehilangan Penjaganya

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Jumat (21/11/2025) – Artikel berjudul “Jalan yang Kehilangan Penjaganyamerupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.

Senja turun di sebuah jalan provinsi. Di sana, seorang ayah berdiri kaku menatap bekas rem yang menggores aspal, tempat anaknya, Fajar, kehilangan nyawa karena truk yang remnya blong.

“Jadi Fajar enggak salah, Pak?” Tanya seorang bocah.

Sang ayah menghela napas, kemudian berkata, “Banyak nyawa hilang bukan karena kesalahan pengemudi… tapi karena sistem yang membiarkan kelalaian jadi budaya.”

Ummu Fahhala, S. Pd.
Ummu Fahhala, S. Pd., Penulis – (Sumber: BJN)

Beberapa hari kemudian, Gubernur Jawa Barat mengumumkan data mengejutkan: 3.300 korban kecelakaan jiwa dalam setahun, lebih tinggi dari korban bencana alam. Pemerintah menyiapkan pos layanan jalan terpadu, lengkap dengan derek dan tim medis. Upaya itu penting, tetapi hanya menyentuh permukaan.

Di sebuah warung, para sopir truk berbincang lirih, “Pos layanan ada,” ujar Darto, “tapi jalanan tetap berlubang. Lampu banyak mati. Mau seberapa terpadu kalau sistemnya masih abai?”

Kecelakaan lalu lintas memang bisa disebut musibah. Namun, jika jumlahnya ribuan setiap tahun, itu bukan lagi takdir, melainkan akibat dari sistem yang rusak.

Di sisi lain, seorang pemuda bernama Andi hampir celaka dengan motor cicilannya. Ia selamat, tetapi menyadari sesuatu: rakyat dipermudah untuk memiliki kendaraan, tetapi tidak dipastikan selamat mengendarainya.

Konsumtivisme, kredit berbunga, dan kapitalisasi otomotif membuat jalanan sesak, namun keselamatan menjadi barang mewah.

Amanah yang Terabaikan

Dalam sebuah forum kecil, pemerhati kebijakan publik, Ibu Iin, berbicara tegas, “Kecelakaan yang terjadi berulang bukan musibah, tetapi bukti negara gagal menjaga amanah.”

Ibu Iin lalu mengutip sabda Rasulullah saw., “Setiap pemimpin adalah penggembala dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (H.R. Bukhari No. 893 dan Muslim No. 1829).

Jalan rusak
Ilustrasi: Sebuah truk tergelicir karena melintasi jalan yang rusak parah di tepi hutan – (Sumber: Arie/BJN)

Menurut Ibu Iin, dalam Islam, keselamatan bukan program teknis, melainkan kewajiban syar’i. Negara harus menyediakan jalan aman, kendaraan layak, sopir terlatih, dan sistem transportasi publik yang manusiawi. Bukan menyerahkannya pada operator swasta yang mengejar laba.

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh saling membahayakan,” tambah Ibu Iin.

Itulah prinsip dasar yang pernah menjadikan peradaban Islam unggul. Umar bin Khattab r.a. memperbaiki jalan-jalan utama, menunjuk pejabat khusus untuk mengawasi keamanan transportasi, dan memastikan rakyat tak menempuh bahaya untuk mencari rezeki.

Andai prinsip itu kembali tegak hari ini, jalan-jalan di Jawa Barat tidak lagi menjadi saksi sunyi atas ribuan nyawa yang melayang. Jalan itu akan kembali ramai oleh tawa kebahagiaan, bukan isak kehilangan.

Keselamatan rakyat bukan soal anggaran, regulasi, atau program terpadu. Ia adalah amanah kepemimpinan dan amanah tidak boleh diabaikan. (Ummu Fahhala).

***

Judul: Jalan yang Kehilangan Penjaganya
Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *