Tiga Pilar yang Retak di Era Digital

BERITA JABAR (BJN), Artikel, Selasa (12/05/2026) – Artikel berjudul “Tiga Pilar yang Retak di Era Digital” ini adalah sebuah artikel karya Febri Satria Yazid, seorang penulis dan pemerhati sosial, tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Di tengah derasnya arus digital, media sosial kini bukan sekadar alat komunikasi. Ia telah berubah menjadi ruang berkumpul, tempat bertukar pikiran, arena debat, bahkan panggung mencari pengaruh. Dalam konteks budaya Minangkabau, fenomena ini menarik jika dibandingkan dengan fungsi lapau pada masa lalu.

Lapau, dalam tradisi Minang, bukan sekadar warung kopi atau tempat makan ringan. Ia adalah “universitas rakyat”. Tempat orang berbincang tentang politik, agama, ekonomi, adat, sampai persoalan dunia. Di sana, petani bisa berdiskusi dengan perantau, pemuda bisa belajar mendengar orang tua, bahkan kritik sosial lahir dari obrolan sederhana di sudut meja kayu.

Tak heran jika ada yang menyebut media sosial hari ini sebagai representasi modern dari lapau. Pandangan itu menarik karena sejalan dengan pemikiran Prof.Dr.Musril Zahari,M.Pd dalam bukunya Surau, Dangau, Lapau dan Peradaban. Ia menjelaskan bahwa masyarakat Minangkabau dibangun oleh tiga pilar penting yaitu  surau, dangau, dan lapau.

Surau membentuk spiritualitas dan karakter. Dangau melahirkan etos kerja dan kedekatan dengan alam. Lapau menumbuhkan kecerdasan sosial dan budaya diskusi. Ketiganya saling melengkapi. Namun hari ini muncul pertanyaan besar: mengapa fungsi surau dan dangau terasa makin terpinggirkan, sementara “lapau digital” justru semakin dominan?

Media sosial memang memiliki daya tarik luar biasa. Informasi bergerak cepat. Semua orang bisa bicara. Semua orang bisa berkomentar. Bahkan seseorang yang tak dikenal bisa mendadak menjadi pusat perhatian hanya karena satu unggahan.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Demokrasi informasi menjadi lebih terbuka. Anak muda bisa belajar banyak hal tanpa harus meninggalkan rumah. Diskusi lintas negara terjadi dalam hitungan detik.

Tetapi di sisi lain, media sosial juga membawa watak lapau yang kehilangan batas. Jika dahulu orang berdiskusi sambil saling menatap wajah, kini banyak orang berbicara tanpa tanggung jawab. Jika dulu ada rasa malu kepada ninik mamak atau tokoh masyarakat di lapau, kini komentar kasar dapat ditulis tanpa beban. Hoaks menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Perdebatan lebih sering mencari kemenangan daripada kebenaran.

Lapau digital akhirnya bukan hanya ruang bertukar pikiran, tetapi juga arena pertengkaran tanpa ujung. Ironisnya, masyarakat modern justru makin betah berada di dalamnya.

Di tengah keramaian media sosial, surau perlahan kehilangan daya tariknya bagi sebagian generasi muda. Padahal dahulu surau bukan hanya tempat ibadah. Surau adalah pusat pendidikan karakter. Tempat anak muda belajar sopan santun, ilmu agama, silat, sastra, hingga nilai kehidupan. Dari surau lahir pribadi-pribadi tangguh yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Kini banyak orang merasa cukup belajar agama lewat potongan video satu menit. Ceramah dipilih berdasarkan siapa yang paling lucu atau paling viral. Kedalaman ilmu sering kalah oleh popularitas. Akibatnya, masyarakat menjadi cepat menghakimi tetapi miskin pemahaman. Banyak yang rajin berkomentar tentang agama, tetapi malas memperbaiki diri.

Ini bukan salah media sosial sepenuhnya. Masalahnya terletak pada cara manusia menggunakannya. Ketika surau kehilangan perannya sebagai tempat pembentukan jiwa, maka ruang digital dengan mudah mengambil alih perhatian manusia.

Selain surau, dangau juga makin jarang dibicarakan. Dangau dalam tradisi Minang bukan sekadar pondok di sawah. Ia melambangkan hubungan manusia dengan kerja keras, alam, kesabaran, dan proses kehidupan. Di dangau, orang belajar bahwa hasil tidak datang instan. Padi harus ditanam, dirawat, lalu dipanen dengan kesabaran.

Nilai inilah yang mulai hilang di era digital. Hari ini banyak orang ingin terkenal secara cepat, kaya secara instan, dan viral tanpa proses panjang. Dunia digital membentuk budaya serba segera. Akibatnya, generasi muda semakin jauh dari makna perjuangan yang nyata. Dangau dianggap kuno karena tidak menghadirkan sensasi cepat seperti media sosial. Padahal justru dari dangau manusia belajar tentang keseimbangan hidup.

Apakah Surau dan Dangau Layak Diabaikan? Pertanyaan ini penting. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa surau dan dangau memang sudah tidak relevan dengan zaman modern. Dunia telah berubah. Teknologi telah menggantikan banyak fungsi lama. Namun benarkah demikian? Sesungguhnya yang harus ditinggalkan bukan nilai surau dan dangau, melainkan sisi negatif yang mungkin pernah melekat di dalamnya.

Jika surau dulu pernah menjadi tempat doktrin sempit, maka yang diperbaiki adalah cara berpikirnya, bukan fungsi pembinaan moralnya. Jika dangau dianggap identik dengan keterbelakangan ekonomi, maka yang dibenahi adalah sistem pengelolaannya, bukan semangat kerja keras dan kedekatannya dengan alam.

Karena tanpa surau, manusia kehilangan arah batin. Tanpa dangau, manusia kehilangan makna proses. Tanpa kendali nilai, lapau digital bisa berubah menjadi ruang gaduh tanpa hikmah. Media sosial tidak perlu dimusuhi. Ia adalah bagian dari perkembangan zaman. Tetapi masyarakat perlu mengembalikan keseimbangan tiga pilar tadi dalam bentuk baru.

Surau harus hadir kembali sebagai ruang pendidikan akhlak dan ketenangan jiwa di tengah dunia yang bising. Dangau harus diterjemahkan sebagai budaya kerja, produktivitas, dan kesabaran menghadapi proses hidup. Sedangkan lapau, termasuk media sosial, seharusnya menjadi ruang dialog yang sehat, bukan tempat saling menjatuhkan.

Minangkabau sejak dahulu besar karena keseimbangan nilai-nilai itu. Ketika satu pilar terlalu dominan dan dua lainnya diabaikan, masyarakat akan kehilangan arah. Tantangan terbesar zaman sekarang,  bagaimana tetap modern tanpa tercerabut dari akar kebijaksanaan budaya sendiri.(fsy)

Penulis : Febri Satria Yazid

Editor : Tiyut