Tidak Beradab yang Paling Rasional, tetapi Tanpa Sadar: Sebuah Refleksi Hubungan Hamba dengan Tuhan dalam Perspektif Hirarki

BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Minggu (19/04/2026) – Tulisan berjudul “Tidak Beradab yang Paling Rasional, tetapi Tanpa Sadar: Sebuah Refleksi Hubungan Hamba dengan Tuhan dalam Perspektif Hirarki” ini merupakan karya Junaedy Alfan, Peneliti IT untuk Pendidikan dan Peradaban.

Suatu sore, ponsel di meja kita bergetar. Layarnya menunjukkan nomor yang tidak asing, sebuah kode etik tertinggi dalam rantai birokrasi: Kantor Istana Negara. Jantung kita sontak berdesir lebih kencang. Di ujung sambungan telepon, sebuah suara berwibawa menyampaikan pesan singkat. Namun, menusuk kesadaran.

“Besok pagi pukul 08.00, Bapak/Ibu dijadwalkan menghadap Yang Mulia Presiden di Istana. Harap tepat waktu. Acara resmi kenegaraan,” demikian bunyi pesan singkat itu.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Malam itu, tidur kita mungkin tidak akan senyenyak biasanya. Pikiran kita langsung bekerja layaknya mesin superkomputer: Jas atau setelan mana yang paling prima? Apakah kemeja putih ini masih cukup kaku kerahnya? Ke manakah sepatu pantofel kulit terbaik yang dua tahun lalu hanya kita pakai sekali saat wisuda? Bahkan mungkin kita rela membuka lemari anak atau pasangan untuk mencari wewangian yang aromanya berkelas.

Junaedy Alfan
Junaedy Alfan, Penulis – (Sumber: FB)

Paginya, kita berangkat dua jam lebih awal. Kita rela bermacet-macet di jalan protokol, berpanas-panas melewati ring satu pemeriksaan ketat Paspampres, hanya untuk duduk manis di ruang tunggu dengan sandaran kursi yang tidak bisa disentuhkan ke punggung karena saking tegaknya postur tubuh.

Saat pintu ruangan utama terbuka dan kita dipersilakan masuk, napas pun terasa dilatih ulang agar tidak terlalu berisik. Seluruh gestur tubuh menunjukkan rasa hormat: tubuh membungkuk sopan, tangan melipat di depan, senyum tertata, mata fokus penuh pada lawan bicara.

Itu semua kita lakukan untuk bertemu seorang pemimpin manusia. Manusia yang sama-sama lahir dari rahim seorang ibu ─ yang perutnya bisa melilit kelaparan, dan yang pada akhirnya nanti akan terbujur kaku di dalam tanah.

Sekarang, mari kita sandingkan dengan adegan kedua yang jauh lebih sering terjadi setiap hari.

Waktu Zuhur tiba. Dari kejauhan, suara Azan berkumandang. Itu bukan sekadar alarm. Itu adalah panggilan resmi. Undangan langsung dari Raja Diraja ─ Pemilik Singgasana Semesta ─ untuk menghadap secara pribadi. Jarak antara Dia dan kita tidak dihalangi oleh protokol Paspampres atau tembok beton istana. Bahkan, jaraknya hanya sejengkal iman. Namun, apa reaksi spontan kita saat mendengar undangan Sang Raja Semesta Alam itu?

Seringkali, kita menundanya, “Ah, bentar lagi, ini tinggal sedikit.” Lalu ketika akhirnya kita berdiri untuk salat, sadarkah kita apa yang melekat di badan?

Seringkali hanya kaos oblong lusuh. Celana pendek selutut yang tadi pagi dipakai menyapu halaman. Kadang bajunya bekas dipakai tidur semalam suntuk, menyimpan aroma apek tubuh yang sudah berjam-jam bergulat dengan debu dan keringat.

Coba renungkan secara rasional: Di manakah letak logika proporsional kita?

Jika kita berani tampil di hadapan seorang presiden dengan pakaian kaos oblong butut dan aroma badan yang tidak sedap, kita akan dianggap kurang waras atau minimal dianggap menghina simbol negara. Itu adalah pelanggaran etika dan adab paling mendasar dalam pergaulan manusia.

Lantas, mengapa kita seringkali menerapkan standar rendah ini kepada Allah? Bukankah ini sebuah ketimpangan logika yang mencolok? Seolah-olah kita lebih takut diejek oleh ajudan presiden daripada diabaikan oleh Sang Maha Pencipta. Seolah-olah mata manusia lebih berhak melihat kemewahan kain kita daripada mata Allah yang Maha Melihat.

Ini bukan soal kemewahan harga baju. Ini soal cara pandang hati.

Sang Raja Diraja tidak pernah menuntut kita untuk membeli gamis seharga jutaan rupiah atau membeli parfum import dari Paris. Dia hanya menginginkan kesadaran kita: bahwa saat suara azan memanggil, kita sedang “dijemput” untuk menghadap ke panggung terhormat.

Jika kita punya baju khusus untuk pesta, olahraga, untuk rapat penting, atau untuk bertemu klien maka sangat logis jika kita menyisihkan pakaian terbaik yang kita miliki untuk menghadap-Nya. Jika tidak ada pakaian bagus, setidaknya pakaian yang khusus sebagai keunikan khusus.

Baju yang kita pakai saat shalat adalah cerminan dari sikap batin kita terhadap undangan itu sendiri. Kaos oblong lusuh mungkin tidak mengurangi sahnya salat, tetapi ia mempertanyakan prioritas kita dalam beradab.

Tidakkah kita merasa malu? Malu ketika kelak di Padang Mahsyar, diri ini memprotes keras saat tidak diizinkan masuk ke dalam golongan orang-orang yang dekat dengan-Nya, padahal selama hidup, untuk sekadar mengganti sarung yang pantas saja kita merasa berat dan malas?

Mari belajar proporsional. Jika hormat pada penguasa fana saja membuat kita mematut diri di depan cermin selama setengah jam maka menghadap Penguasa Abadi seharusnya membuat kita lebih berbenah diri. Sebab yang berbicara di sini bukanlah sekadar kain, melainkan Adab.

Adab adalah penjaga gerbang segala ilmu serta keberkahan. Jika kepada manusia kita bisa beradab tinggi maka kepada Allah ─ Raja Diraja seluruh manusia, sudah sepatutnya adab kita berada di puncak tertinggi.

Dalam hal ini saya untuk diri sendiri mencoba maksimal saat salat agar ada pakaian khusus untuk salat ─ minimal menggunakan peci yang khusus dan tidak selalu kita pakai . Ini juga yang selalu saya ajarkan kepada santri santri saya.

Tentang peci, memang secara fiqih tidak sampai menjadi syarat sah atau batalnya salat. Paling tinggi hanyalah sunah menurut banyak ulama fikih, tapi dalam perspektif adab seperti uraian di atas.

Mari, mulai saat azan berkumandang nanti, kita tanggalkan baju tidur, kita kenakan pakaian terbaik, lalu melangkah dengan dada penuh kesadaran: Kita sedang memenuhi panggilan Raja Sejati harus hadir dengan performa tertinggi dalam segala sisi. Barakallah fikum (Junaedy Alfan).

***

Judul: Tidak Beradab yang Paling Rasional, tetapi Tanpa Sadar: Sebuah Refleksi Hubungan Hamba dengan Tuhan dalam Perspektif Hirarki

Penulis: Junaedy Alfan

Editor: JHK