BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Senin (28/09/2026) – Artikel berjudul “Terlahir Berbeda, Bukan Terlahir Kalah” merupakan karya tulis Sirojudin, Sarjana Strata Satu (S1) di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung, Fakultas Syariah, Program Studi Ekonomi Syariah
Saya tidak pernah diberi pilihan soal bagaimana tubuh saya terbentuk. Sejak lahir, tangan dan kaki saya memiliki keterbatasan. Tidak ada momen dramatis di mana saya “menerima kenyataan”. Kenyataan itu sudah ada di sana sejak saya membuka mata pertama kali. Yang berproses justru cara saya memandangnya dan itu makan waktu jauh lebih lama daripada yang orang kira.
Masa kecil punya cara sendiri untuk mengajarkan hal-hal yang berat lewat cara yang sederhana. Waktu masuk sekolah dasar, saya mulai sadar bahwa tidak semua orang melihat perbedaan dengan cara yang sama. Ada yang penasaran, ada yang biasa saja, dan ada yang menjadikannya bahan ejekan. Bagi mereka mungkin itu cuma candaan anak-anak. Bagi saya, ejekan-ejekan itu menempel jauh lebih lama daripada yang mereka bayangkan.

Saya masih ingat rasanya jadi anak yang ditertawakan bukan karena salah, tapi karena beda. Ada masa saya bertanya-tanya, kenapa harus saya? Pertanyaan seperti itu wajar muncul di kepala anak kecil. Saya juga tidak langsung punya jawaban yang membuat semuanya terasa baik-baik saja.
Di sekolah, saya melihat teman-teman melakukan banyak hal yang bagi saya membutuhkan cara berbeda. Mereka berlari, bermain, menulis, dan bergerak tanpa harus terlalu memikirkan bagaimana caranya. Saya sering memperhatikan mereka dari jauh. Kadang saya ingin seperti mereka. Kadang saya merasa iri. Ada juga saat-saat ketika saya ingin tidak diperhatikan siapa pun.
Namun, kehidupan tetap berjalan. Saya tetap harus masuk sekolah, belajar, bertemu teman, pulang ke rumah, lalu kembali lagi keesokan harinya. Pelan-pelan saya mulai menemukan satu hal yang bisa saya pegang. Saya mungkin tidak bisa mengubah tubuh saya, tetapi saya masih bisa menentukan apa yang ingin saya lakukan dengan hidup saya.
Sesuatu yang saya punya waktu itu cuma satu pilihan kecil, tetapi ternyata pilihan itu menentukan banyak hal ke depannya: saya bisa membiarkan ejekan itu mendefinisikan saya, atau saya bisa mulai membangun sesuatu yang membuat definisi itu tidak relevan lagi. Saya memilih belajar.
Bukan karena saya anak yang luar biasa rajin sejak kecil. Saya belajar karena di situlah saya merasa memiliki ruang untuk menentukan sesuatu bagi diri sendiri. Ketika ada pelajaran yang belum saya pahami, saya bisa mencoba lagi. Ketika mendapat nilai kurang baik, saya bisa belajar lebih banyak. Ada sesuatu yang bisa saya usahakan sendiri.
Dari sana saya mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi kita pilihan tentang keadaan awal. Namun, masih ada pilihan tentang apa yang akan kita lakukan setelahnya.
Itu titik awal yang sering dilewatkan orang ketika membicarakan perjuangan semacam ini. Orang suka fokus pada hasil akhirnya—gelar, penghargaan, beasiswa. Jauh sebelum semua itu ada, seseorang harus melewati hari-hari ketika dirinya sendiri belum yakin akan mampu sampai ke mana.
Saya juga pernah ragu. Pernah merasa minder. Pernah bertanya apakah saya akan mampu menjalani kehidupan seperti orang lain. Saya tidak punya jawaban untuk semua pertanyaan itu. Yang saya lakukan hanya terus menjalani satu hari, kemudian satu hari berikutnya.
Saya belajar bahwa keberanian tidak selalu terlihat seperti seseorang yang berdiri tegak dan berkata bahwa dirinya kuat. Kadang keberanian hanya berupa keputusan untuk datang ke sekolah lagi setelah kemarin ditertawakan. Membuka buku lagi setelah merasa tidak mampu. Mencoba lagi setelah gagal. Hal-hal kecil seperti itu yang kemudian perlahan membentuk seseorang.
Kalau Kamu Ada di Posisi Ini
Mungkin bukan kondisi fisik yang membuatmu merasa berbeda. Bisa jadi warna kulit, logat bicara, keadaan ekonomi, atau sesuatu tentang dirimu yang tidak bisa kamu ubah dalam semalam. Pertanyaannya bukan “kenapa saya begini” karena pertanyaan itu jarang punya jawaban yang memuaskan. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: dengan kondisi ini, ruang mana yang masih bisa saya kendalikan sepenuhnya hari ini?
Pertanyaan itu pernah menjadi penting bagi saya. Tidak semua persoalan harus selesai hari itu juga. Ada hal-hal yang memang membutuhkan waktu untuk diterima. Yang penting, jangan sampai keadaan yang tidak bisa kita pilih mengambil seluruh kesempatan yang masih bisa kita perjuangkan.
Saya kemudian mengenal kisah Nick Vujicic, motivator yang lahir tanpa lengan dan kaki. Kisahnya membuat saya melihat keterbatasan dengan cara yang berbeda. Ia membangun karier, keluarga, dan menyampaikan ribuan ceramah dari kondisi yang sejak awal mungkin dianggap banyak orang sebagai keadaan yang sangat sulit.
Saya tidak perlu menjadi Nick Vujicic. Saya punya perjalanan sendiri, pengalaman sendiri, dan cara sendiri untuk menjalani hidup. Yang saya tahu, saya memang terlahir berbeda. Namun, berbeda tidak berarti terlahir kalah. (Sirojudin).
***
Judul: Terlahir Berbeda, Bukan Terlahir Kalah
Penulis: Sirojudin
Editor: Fikri
Sekilas tentang Penulis
Sirojudin lahir di Tasikmalaya pada 19 September 1999. Ia berdomisili di Kp. Tataru RT 007 RW 004, Desa Tenjonagara, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
Anak kedua dari pasangan Bapak Jajang Komarudin dan Ibu Hasanah ini menyelesaikan pendidikan di SD Tarunamekar (2006–2012), SMPN SATAP 3 Cigalontang (2012–2015), dan SMK Al-Huda (2015–2018). Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan Sarjana Strata Satu (S1) di Universitas Islam KH. Ruhiat Cipasung, Fakultas Syariah, Program Studi Ekonomi Syariah, pada 2020–2024.
Sirojudin merupakan sarjana pertama di keluarga besarnya dan satu-satunya dari angkatannya di SMK yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister melalui jalur beasiswa LPDP. Saat ini, ia sedang menempuh pendidikan di Magister Ekonomi Syariah (MES) UIN Sunan Kalijaga.