Sepeda, Sabun, dan Tawa di Pangandaran

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Sabtu (23/05/2026) – Artikel “Sepeda, Sabun, dan Tawa di Pangandaran” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Ada masa yang selalu bikin senyum sendiri kalau diingat: zaman SD di Pangandaran. Bahasa belajar dari acara di sekolah, kadang masih terbawa sampai sekarang. Lucunya, malam itu aku sempat mimpi ketemu Firman. Dalam mimpi, dia cerita tentang masa kecil kita—sering bercanda, main sepeda, sampai aku pernah main ke rumahnya di sisi jalan yang menuju ke hutan. Rumah itu sederhana, tapi penuh kenangan.

Firman masih ingat betul tangan dan kaki aku yang dulu sering luka, entah karena air sabun atau jatuh waktu main. Dulu memang sering sedih, tapi tetap saja ada tawa yang menyelip di antara rasa sakit.

Kemarin, saat duduk bareng Firman, suasana agak aneh. Gelap, aku sempat lupa lagi siapa dia, tapi begitu obrolan mengalir, muncul cerita tentang pertemuan kami di Kopo, Bandung, lalu nama-nama lama ikut hadir: GusTe, Irfan, Tien’s Berlianto. Rasanya seperti membuka album lama yang sudah berdebu. Mendadak aku senang karena ternyata masih bisa bertemu orang-orang yang dulu tak pernah aku sangka akan muncul lagi. 

Firman sendiri, dulu ramping, kulitnya hitam manis, dan selalu tertawa terpingkal-pingkal. Tawa itu khas, bikin suasana jadi ringan. Sekarang ada hal yang bikin aku geli: Firman kalau menyebut dirinya selalu pakai kata “Ane”, gaya Betawi banget, padahal dulu di Pangandaran, kita nggak pernah pakai kata itu. Namun, justru di situlah letak keanehan yang menyenangkan—Firman tetap Firman dengan segala perubahan kecil yang bikin dia unik.

Sepanjang duduk ngobrol, kami kembali ke masa SD. Nakal, iya. Kadang bikin guru geleng-geleng kepala. Tapi di balik kenakalan itu, ada rasa kebersamaan yang nggak bisa diganti. Main sepeda keliling kampung, mampir ke rumah teman, atau sekadar duduk di pinggir jalan sambil bercanda. Luka di tangan dan kaki jadi semacam tanda kenangan, bukti bahwa masa kecil itu penuh petualangan kecil yang sederhana.

Aku sadar, kenangan masa SD di Pangandaran bukan sekadar cerita lama. Ia seperti jendela kecil yang membuka kembali rasa hangat, tawa, dan persahabatan. Firman tidak lupa aku, dan aku pun tidak lupa dia. Walau sempat gelap, sempat lupa, ternyata memori itu tetap ada, hanya menunggu dipanggil kembali lewat obrolan santai. 

Kini, setiap kali mengingat masa itu, aku merasa seperti kembali ke jalan kecil menuju hutan, dengan sepeda yang berdecit, tangan yang perih karena sabun, dan tawa yang pecah tanpa beban. Masa SD memang sederhana, tapi justru di sanalah kebahagiaan paling jujur pernah tumbuh. 

Kalau dipikir-pikir, memoar ini bukan sekadar nostalgia. Ia jadi pengingat bahwa persahabatan bisa bertahan, meski waktu dan jarak memisahkan. Dan mungkin, seperti tawa Firman yang dulu ramping dan hitam manis, kenangan masa kecil akan selalu punya cara untuk membuat kita tertawa lagi.

***

Judul: Sepeda, Sabun, dan Tawa di Pangandaran

Penulis: Didin Kamayana Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.

Editor: JHK

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, penulis dan pegiat literasi – (Sumber: BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan. ***