RAUNG MAUNG #2: Setelah 10 Tahun, Semangat Seni Rupa Kembali Menggema di Babakan Siliwangi Bandung

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Selasa (27/10/2026) – Artikel berjudul “RAUNG MAUNG #2: Setelah 10 Tahun, Semangat Seni Rupa Kembali Menggema di Babakan Siliwangi Bandung” merupakan karya tulis Yoppy Yohana, seorang seniman, pendidik, dan alumni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Sepuluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, bagi para seniman yang tergabung dalam Angkatan Seni Rupa ’98, waktu ternyata tidak mampu memadamkan semangat untuk terus berkarya, bersilaturahmi, dan merawat kecintaan terhadap seni. Setelah satu dekade, mereka kembali berkumpul dalam sebuah perhelatan seni rupa dan desain bertajuk RAUNG MAUNG #2 yang digelar di Galeri Sanggar Olah Seni (SOS), kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, Kota Bandung.

Pameran yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 8 November 2026 ini bukan sekadar ajang memajang karya. Lebih dari itu, RAUNG MAUNG #2 menjadi ruang pertemuan gagasan, ekspresi artistik, dan refleksi tentang hubungan manusia dengan alam serta tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

Momentum Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, memberikan makna tersendiri bagi pameran ini. Semangat persatuan dan kebersamaan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda seolah menemukan bentuknya melalui perjumpaan para seniman yang telah menempuh perjalanan hidup dan profesi berbeda, tetapi tetap terhubung oleh akar kreativitas yang sama.

Flyer Pameran Seni Rupa & Desain RAUNG “Maung #2” – (Sumber: Yoppy Yohana)

Berawal dari Mural PON XIX Jawa Barat

Kisah RAUNG MAUNG sesungguhnya bermula dari sebuah gagasan spontan pada 2016. Kala itu, Jawa Barat menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX. Untuk menyemarakkan perhelatan olahraga nasional tersebut, tembok panjang di kawasan Babakan Siliwangi, Bandung, disulap menjadi ruang ekspresi seni melalui karya-karya mural dari berbagai komunitas di Jawa Barat.

Pemandangan tembok yang dipenuhi goresan artistik itu menjadi tantangan tersendiri bagi Angkatan Seni Rupa ’98. Mereka merasa terpanggil untuk turut ambil bagian, menyumbangkan gagasan, sekaligus meninggalkan jejak kreativitas di salah satu ruang publik ikonik Kota Bandung tersebut.

Komunikasi sederhana melalui grup WhatsApp menjadi awal pertemuan kembali para alumni. Tanpa proses yang berbelit-belit, mereka sepakat untuk berkolaborasi, mempertemukan alumni seni rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam kegiatan mural tersebut, mereka menggunakan nama Isola Barokah Putra (IBP). Nama komunitas diperlukan sebagai salah satu persyaratan untuk berpartisipasi dalam kegiatan itu.

Pemilihan nama tersebut bukan tanpa alasan. Isola mengingatkan mereka pada Gedung Isola dan lingkungan kampus UPI, tempat kenangan masa kuliah tertanam kuat. Meski empat orang di antara mereka melanjutkan perjalanan akademis ke Seni Rupa ITB pada 1999, ikatan Angkatan Seni Rupa UPI ’98 tetap terjaga hingga sekarang.

Waktu boleh berlalu, profesi boleh berubah, dan kesibukan hidup bisa membawa setiap orang ke jalan yang berbeda. Namun, persahabatan yang tumbuh sejak masa kuliah membuat mereka tetap menyempatkan diri untuk bersilaturahmi, berkumpul, dan berkarya bersama.

Dari sebuah kegiatan mural, benih kebersamaan itu kembali tumbuh. Ada kerinduan untuk mengulang pengalaman berkarya bersama, bukan hanya di tembok jalanan, melainkan juga dalam ruang pamer yang memungkinkan gagasan artistik berkembang lebih luas.

Pameran Maung #1: Lahir dari Kerinduan Berkarya Bersama

Setelah kegiatan mural Babakan Siliwangi berakhir pada Oktober 2016, kerinduan untuk kembali berkarya bersama semakin terasa. Dua bulan kemudian, tepatnya pada Desember 2016, mereka menggelar Pameran Maung #1 di Griya Seni Popo Iskandar (GSPI), Bandung. Pameran tersebut menjadi representasi semangat Angkatan Seni Rupa UPI ’98 dalam menjaga tradisi berkarya sekaligus memperkuat ikatan persahabatan yang telah terjalin sejak masa mahasiswa.

Lantas, mengapa memilih nama Maung? Gagasan itu berawal dari logo Isola Barokah Putra yang memadukan Gedung Isola dengan kepala maung. Ide tersebut tercetus dalam sebuah pertemuan di rumah Anton. Dari sana, muncul kesamaan gagasan dan resonansi simbolis yang kemudian melahirkan nama Pameran Maung.

Bagi mereka, maung bukan sekadar simbol visual yang menarik untuk diolah menjadi karya seni. Sosok harimau juga menyimpan makna tentang keberanian, ketajaman naluri, kewaspadaan, dan kekuatan.

Maung yang menjadi inspirasi mereka merujuk pada harimau Sunda atau harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), yang dalam narasi pameran dikenang sebagai satwa yang telah lama dinyatakan punah. Kehilangan tersebut mengingatkan manusia pada kerusakan alam, perburuan liar, kebakaran hutan, dan berbagai bentuk eksploitasi yang mengancam keseimbangan lingkungan.

Di balik simbol maung, tersimpan kesadaran tentang sesuatu yang hilang akibat ulah manusia. Kepunahan satwa bukan sekadar hilangnya satu spesies dari muka bumi, melainkan juga peringatan tentang rapuhnya hubungan manusia dengan alam yang menopang kehidupannya.

Dari sanalah Maung memperoleh makna yang lebih dalam. Ia menjadi simbol kekuatan sekaligus pengingat bahwa keberanian sejati tidak semestinya digunakan untuk merusak, melainkan untuk menjaga kehidupan.

Sepuluh Tahun Kemudian, RAUNG MAUNG #2 Kembali Menggema

Sejak Pameran Maung #1 pada 2016, perjalanan waktu membawa masing-masing anggota Angkatan Seni Rupa ’98 pada kesibukan dan tanggung jawab profesinya. Selama satu dekade, mereka belum kembali menggelar pameran bersama. Namun, ikatan persahabatan dan semangat berkesenian itu tidak benar-benar hilang. Gagasan yang pernah tumbuh pada 2016 akhirnya menemukan momentumnya kembali pada 2026 melalui RAUNG MAUNG #2: Pameran Seni Rupa dan Desain.

Pameran ini diikuti 14 seniman dengan latar belakang dan profesi yang beragam. Mereka adalah Agung Gumbira (Jack), Anton Susanto, Arief Yuliarso Caturputra (Borip), Arlagan (Gink), Asep Wahyu, Asayani, Denny Sassen, Donny Hamdani (Boris), Ira Rengganis, Januar Benthoni Thamrin, Nurochman, Rachmat Suhenrawan, Taufik Aziz, dan Yoppy Yohana (Ki Ibun).

Keberagaman latar belakang tersebut menjadi kekuatan tersendiri. Setiap seniman membawa pengalaman, sudut pandang, dan perjalanan kreatif masing-masing. Ketika semua itu dipertemukan dalam sebuah pameran, lahirlah ruang dialog yang memperkaya pemaknaan terhadap seni dan kehidupan.

RAUNG MAUNG #2 sekaligus menjadi bukti bahwa seni dapat menjaga hubungan antarmanusia melampaui batas usia, profesi, dan perjalanan waktu. Persahabatan yang berawal dari bangku kuliah ternyata masih mampu melahirkan karya dan gagasan baru setelah puluhan tahun berlalu.

Bagi para senimannya, pameran ini bukan semata-mata upaya mengulang kenangan masa lalu. Sebaliknya, pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali dunia yang terus berubah dan merespons berbagai persoalan yang dihadapi manusia saat ini.

Maung sebagai Simbol Keberanian dan Tanggung Jawab Manusia

RAUNG MAUNG #2 lahir dari kesadaran kolektif para senimannya untuk mengekspresikan kepekaan terhadap lingkungan sekitar, keberadaan bumi, serta dinamika kehidupan global.

Dalam konteks tersebut, maung menjadi simbol sekaligus sumber inspirasi untuk terus berusaha menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang berani berpikir, bertindak, dan bertanggung jawab; manusia yang mampu menciptakan peradaban serta menjalankan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari maung, manusia dapat belajar tentang keberanian, kewaspadaan, kepekaan, kepedulian, serta ketajaman dalam melihat dan mendengar. Nilai-nilai tersebut relevan dengan kehidupan manusia modern yang sering kali terjebak dalam kesibukan, persaingan, dan ambisi pribadi.

Di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, kepekaan menjadi sesuatu yang penting. Manusia tidak cukup hanya mampu melihat apa yang terjadi di sekelilingnya, tetapi juga perlu memahami makna di balik setiap peristiwa. Tidak cukup hanya mendengar kabar tentang kerusakan lingkungan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan kemanusiaan, tetapi juga harus berani mengambil peran untuk menghadirkan perubahan.

Dalam pandangan spiritual yang melandasi gagasan pameran ini, manusia merupakan wakil Tuhan di muka bumi yang memiliki tanggung jawab untuk merawat kehidupan. Tanggung jawab tersebut menuntut manusia agar tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga menjaga kelestariannya.

Bumi bukan sekadar tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bumi adalah ruang bersama yang harus dirawat agar tetap mampu menopang kehidupan generasi sekarang dan mendatang. Oleh karena itu, manusia tidak seharusnya hanya menjadi pelaku yang merusak. Manusia juga harus mampu mencipta, berkreasi, mengeksplorasi potensi, dan menghasilkan sesuatu yang membawa kebahagiaan serta manfaat bagi sesama.

Seni, dalam hal ini, memiliki peran penting. Melalui karya, seniman dapat menyampaikan kegelisahan, membangun kesadaran, menggugah perasaan, dan mengajak masyarakat melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Sebuah karya seni mungkin tidak serta-merta menyelesaikan persoalan lingkungan atau kemanusiaan. Namun, karya dapat menjadi pemantik pemikiran, membuka percakapan, dan menggerakkan kesadaran yang pada akhirnya mendorong lahirnya tindakan nyata.

Di sinilah RAUNG MAUNG #2 menemukan relevansinya. Pameran ini tidak berhenti pada ekspresi estetika, tetapi juga mengajak publik merenungkan kembali posisi manusia di tengah alam semesta dan tanggung jawabnya terhadap kehidupan.

Seni, Persahabatan, dan Masa Depan Bumi Pertiwi

Sepuluh tahun perjalanan dari Maung #1 menuju RAUNG MAUNG #2 memperlihatkan bahwa semangat berkesenian dapat tumbuh bersama perjalanan hidup. Apa yang bermula dari percakapan sederhana dan kolaborasi mural pada 2016 kini berkembang menjadi pertemuan gagasan yang lebih luas.

Di Galeri Sanggar Olah Seni, kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi, para seniman kembali menyuarakan kegelisahan sekaligus harapan mereka melalui seni rupa dan desain. Tempat penyelenggaraan pameran ini pun menghadirkan konteks yang selaras dengan pesan tentang hubungan manusia dan alam.

Babakan Siliwangi bukan hanya ruang hijau di tengah Kota Bandung, melainkan juga pengingat bahwa kehidupan urban tetap membutuhkan ruang alami yang harus dijaga keberadaannya.

Melalui RAUNG MAUNG #2, para seniman mengajak masyarakat untuk tidak memandang seni sebatas keindahan visual. Seni juga dapat menjadi medium refleksi, ruang perjumpaan, dan sarana untuk merawat nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, raungan maung yang menjadi semangat pameran ini bukanlah seruan untuk menaklukkan kehidupan. Ia merupakan panggilan agar manusia kembali menyadari keberanian dan tanggung jawabnya.

Yoppy Yohana
Yoppy Yohana, Penulis – (Sumber: Koleksi pribadi)

Berani berpikir jernih, berani bertindak benar, berani mengakui kesalahan, dan berani memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Keberanian yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi menjelma menjadi karya dan tindakan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Bumi ini tidak hanya membutuhkan manusia yang pandai memanfaatkan sumber dayanya, melainkan membutuhkan manusia yang memiliki kepedulian, kebijaksanaan, dan kesediaan untuk menjaga keseimbangan kehidupan.

Seperti maung yang menjadi simbol keberanian dan kewaspadaan, manusia pun dituntut untuk lebih peka terhadap tanda-tanda kerusakan di sekelilingnya. Jangan sampai keserakahan membuat kita kehilangan bukan hanya kekayaan alam, melainkan juga rasa kemanusiaan.

Melalui RAUNG MAUNG #2, Angkatan Seni Rupa ’98 kembali menegaskan bahwa berkarya adalah salah satu cara untuk merawat kehidupan. Persahabatan menjadi energi, seni menjadi bahasa, dan kepedulian menjadi pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.

Pada akhirnya, Bumi Pertiwi tidak hanya membutuhkan kekaguman kita, tetapi juga bakti dan tanggung jawab kita semua.

Selamat Berpameran dan Berapresiasi.

“Gaurkeun Maung Maharaja Sunda, Koétkeun Kuku-Kukuna Kana Tangkal Kahirupan Sangkan Manfaat Dunia Akhérat”.

***

Judul: RAUNG MAUNG #2: Setelah 10 Tahun, Semangat Seni Rupa Kembali Menggema di Babakan Siliwangi Bandung

Penulis: Yoppy Yohana


Editor: JHK