BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Selasa (18/08/2026) – Artikel berjudul “Nasionalisme Dimulai dari Rumah” ini ditulis oleh Petrus Antonius Ayub Adha, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Dwijendra Denpasar, Bali.
Setiap tanggal 17 Agustus, suasana negeri ini berubah. Gang-gang sempit disulap jadi arena lomba panjat pinang, balap karung, dan makan kerupuk. Bendera merah putih berkibar di setiap sudut rumah, dari gang kecil hingga gedung pencakar langit. Lagu-lagu perjuangan diputar keras-keras, anak-anak berbaris ikut upacara, dan media sosial dibanjiri ucapan “Dirgahayu Indonesia”. Selama sehari penuh seluruh bangsa ini benar-benar bersatu dalam satu semangat: cinta tanah air.
Coba tanyakan pada diri sendiri: setelah tanggal 18 Agustus, ke mana semangat itu pergi?
Bendera diturunkan, disimpan di gudang. Lagu kebangsaan berhenti diputar. Semangat “kita satu bangsa” perlahan luntur, digantikan rutinitas harian yang jauh dari kata nasionalis. Fenomena ini menunjukkan sesuatu yang perlu kita renungkan bersama: nasionalisme sering dianggap sebagai urusan negara, urusan seremoni, urusan pemerintah—bukan urusan rumah tangga, padahal, sebuah bangsa tidak dibangun dari upacara yang berlangsung satu jam setahun sekali. Bangsa dibangun dari kebiasaan yang berulang setiap hari, di tempat yang paling dekat dengan kita: rumah.

Apa jadinya kalau cinta Indonesia tidak pernah diajarkan di rumah, tetapi cuma dihafal pas upacara? Pertanyaan ini penting untuk dijawab karena jawabannya menentukan seperti apa wajah generasi bangsa ini sepuluh, dua puluh, tiga puluh tahun ke depan. Jika nasionalisme hanya hidup di lapangan upacara dan mati begitu bel pulang berbunyi maka yang tumbuh bukanlah cinta tanah air yang sejati, melainkan sekadar hafalan seremonial yang kosong makna.

Nasionalisme sejati tidak lahir dari paksaan menghafal Pancasila atau menyanyikan lagu wajib. Ia lahir dari kebiasaan, dari cerita yang didengar sebelum tidur, dari cara orang tua bicara tentang negeri ini di meja makan, dari kebanggaan kecil yang ditanamkan tanpa disadari. Nasionalisme dimulai di rumah—dan sudah saatnya kita membicarakannya secara serius.
Lima Bentuk Nasionalisme dari Dalam Rumah
1. Bahasa: Jembatan Identitas yang Sering Terlupakan
Bahasa adalah rumah pertama bagi identitas sebuah bangsa. Ketika sebuah keluarga membiasakan diri berbahasa Indonesia yang baik di rumah, sekaligus tetap bangga menggunakan bahasa daerah, di situlah identitas bangsa mulai dijaga.
Sayangnya, tidak sedikit anak yang tumbuh dengan rasa malu terhadap logat daerahnya sendiri. Logat Jawa, Batak, Makassar, Papua, atau Sunda dianggap kurang keren dibanding aksen yang terdengar “internasional”, padahal logat dan bahasa daerah adalah kekayaan yang tidak dimiliki bangsa lain. Rumah adalah tempat pertama di mana anak belajar apakah ia harus malu atau bangga dengan asal-usulnya.
Membiasakan anak berbicara bahasa Indonesia dengan baik, sambil tetap merawat bahasa ibu atau bahasa daerah adalah bentuk nasionalisme yang sangat mendasar—dan seringkali terlewat begitu saja.
2. Cerita dan Nilai: Warisan yang Lebih Berharga dari Tanggal
Coba tanyakan pada anak-anak sekarang, siapa nama pahlawan nasional yang mereka kenal? Banyak yang justru lebih hafal nama-nama superhero Marvel atau tokoh anime dibanding nama Cut Nyak Dhien, Pattimura, atau Sultan Hasanuddin.
Ini bukan salah anak-anak. Ini soal siapa yang bercerita lebih sering kepada mereka. Ketika orang tua meluangkan waktu mendongengkan kisah perjuangan pahlawan, kisah gotong royong warga desa, atau cerita tentang pengorbanan demi kepentingan bersama, anak-anak sedang menyerap nilai—bukan sekadar informasi.
Nilai kejujuran, rela berkorban, dan gotong royong itulah yang sebenarnya diwariskan lewat cerita. Bukan tanggal 17 Agustus yang dihafal, melainkan semangat di baliknya yang ditanamkan lewat cerita ringan sebelum tidur atau obrolan santai di sore hari.
3. Kebiasaan Kecil Sehari-hari: Nasionalisme adalah Tindakan
Nasionalisme sering disalahpahami sebagai sesuatu yang besar dan seremonial, padahal bentuknya bisa sesederhana kebiasaan rumah tangga sehari-hari.
Mematikan lampu saat tidak digunakan adalah bentuk tanggung jawab terhadap negeri. Memilih produk lokal dibanding produk impor adalah dukungan nyata terhadap perekonomian bangsa. Makan tempe dan tahu, dua makanan sederhana khas nusantara adalah cara sederhana merawat kearifan lokal. Menghargai perbedaan agama dan suku di dalam keluarga besar sendiri adalah latihan toleransi yang paling dekat dan paling nyata.
Semua ini terlihat sepele, tetapi justru dari hal-hal kecil dan konsisten inilah nasionalisme tumbuh menjadi kebiasaan, bukan sekadar slogan yang diteriakkan setahun sekali.
4. Ruang dan Simbol: Membuat Rumah Terasa “Indonesia Banget”
Rumah yang menanamkan nasionalisme biasanya punya jejak-jejak kecil yang terasa di ruangnya. Ada bendera kecil terpasang di pojok ruang tamu meski bukan bulan Agustus. Lagu Indonesia Raya sesekali diputar di pagi hari sebagai pengingat, bukan hanya saat upacara sekolah. Ada momen keluarga duduk bersama menonton berita, lalu berdiskusi santai tentang apa yang terjadi di negeri ini.
Simbol-simbol kecil ini bukan sekadar hiasan. Mereka menciptakan suasana yang membuat anak-anak, tanpa perlu diceramahi, merasakan bahwa keluarganya peduli dan terhubung dengan negeri tempat mereka tinggal. Rumah yang “Indonesia banget” tidak butuh dekorasi mewah—cukup kehadiran simbol dan kebiasaan kecil yang konsisten.
5. Digital: Rumah yang Kini Juga Hidup secara Online
Di era digital, rumah tidak lagi terbatas pada ruang fisik. Grup WhatsApp keluarga adalah bentuk rumah baru yang tak kalah penting untuk dijaga.
Sebuah keluarga yang sadar nasionalisme akan menjadikan grup WA-nya bukan tempat berseliwerannya hoaks dan provokasi, melainkan ruang berbagi informasi budaya, promosi UMKM lokal saudara atau tetangga, serta saling mengingatkan pentingnya toleransi dan persatuan. Rumah digital ini punya pengaruh besar, terutama bagi anggota keluarga lintas generasi yang mungkin jarang bertemu langsung.
Menjaga rumah digital tetap sehat dan positif adalah bentuk nasionalisme yang relevan dengan zaman sekarang—dan sama pentingnya dengan menjaga rumah secara fisik.
Tantangan Zaman Sekarang
Di tengah lima bentuk nasionalisme di atas, kita juga harus jujur mengakui tantangan yang semakin nyata. Banyak anak-anak masa kini justru lebih fasih berbahasa asing dibanding bahasa daerah leluhurnya sendiri. Produk luar negeri sering dianggap lebih “keren” dan lebih layak dibanggakan dibanding produk buatan lokal. Tidak sedikit anak yang jauh lebih hafal nama-nama konten kreator luar negeri dibanding nama pahlawan bangsanya sendiri.
Ini bukan salah teknologi, bukan pula salah globalisasi semata. Ini adalah cermin dari siapa yang lebih banyak “bersuara” di telinga dan pikiran anak-anak kita setiap hari.
Jika rumah memilih diam—tidak bercerita, tidak membiasakan, tidak menunjukkan kebanggaan terhadap identitas bangsa—maka ruang itu akan diisi oleh suara lain yang belum tentu menanamkan nilai yang sama. Sebaliknya, jika rumah aktif menjadi ruang pertama yang menanamkan rasa cinta tanah air maka pengaruh dari luar pun akan punya fondasi kuat untuk disaring.
Pertanyaannya kembali pada kita semua: kalau rumah diam, siapa yang akan menanamkan nasionalisme itu?

Aksi Nyata yang Bisa Dimulai Besok
Nasionalisme tidak harus dimulai dengan hal besar. Berikut tiga langkah sederhana yang bisa dilakukan keluarga mana pun, mulai besok:
1. Satu Cerita, Satu Minggu Setiap akhir pekan, luangkan waktu saat makan malam untuk bercerita tentang satu tokoh atau satu budaya Indonesia. Tidak perlu panjang—cukup lima hingga sepuluh menit yang konsisten setiap minggunya.
2. Satu Produk Lokal, Satu Bulan Sengaja pilih dan bangga menggunakan satu produk UMKM lokal setiap bulan. Ini bisa berupa makanan, pakaian, atau kerajinan tangan dari usaha kecil di sekitar kita.
3. Satu Aturan Rumah Tanamkan satu prinsip sederhana namun kuat sebagai aturan keluarga: “Di rumah kita hormati beda pendapat, karena itu Indonesia.” Aturan sesederhana ini, jika dijalankan konsisten akan membentuk karakter toleransi yang mengakar.
Ketiga langkah ini kecil, sederhana, dan bisa dilakukan siapa saja—tanpa perlu menunggu momentum 17 Agustus.
Negara besar tidak dibangun di gedung DPR saja. Ia dibangun di ruang tamu, di dapur, di cara kita menyapa tetangga. Rumah adalah negara terkecil dan keluarga adalah warga negara pertama kita.
***
Judul: Nasionalisme Dimulai dari Rumah
Penulis: Petrus Antonius Ayub Adha, Mahasiswa Magister Hukum Universitas Dwijendra Denpasar, Bali.
Editor: JHK