Menyemai Literasi, Menyulam Peradaban: Cimahi dalam Cahaya Kata

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Minggu (15/02/2026) – Esai berjudul “Menyemai Literasi, Menyulam Peradaban: Cimahi dalam Cahaya Kata” ini adalah karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.

Di tengah riuh kota yang terus tumbuh, Cimahi menyimpan denyut yang lebih halus—denyut literasi. Kota ini bukan sekadar ruang fisik dengan jalan-jalan dan bangunan, melainkan sebuah lanskap kultural yang bisa ditata melalui kekuatan kata, buku, dan gagasan. Membangun literasi menuju Cimahi sebagai kota peradaban adalah sebuah ikhtiar yang tidak hanya menyangkut pendidikan formal, tetapi juga menyangkut cara kita merawat ingatan, membentuk karakter, dan menumbuhkan kebijaksanaan kolektif. 

Literasi sebagai Fondasi Peradaban 

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia adalah kemampuan memahami dunia, menafsirkan pengalaman, dan mengolah pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Paulo Freire pernah menulis, “Membaca dunia selalu mendahului membaca kata.” Kalimat ini mengingatkan kita bahwa literasi sejati adalah keterampilan untuk membaca realitas sosial, budaya, dan sejarah, lalu menuliskannya kembali dalam bentuk refleksi yang bermakna. 

Cimahi, dengan sejarah militernya, dengan denyut masyarakat urban yang berlapis tradisi Sunda, memiliki peluang besar untuk menjadikan literasi sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan. Peradaban tidak lahir dari gedung-gedung tinggi semata, melainkan dari kemampuan masyarakatnya untuk berdialog dengan pengetahuan. 

Ilustrasi: Kota Cimahi masa depan – (Sumber: Arie/BJN)

Rumah, Jalan, dan Perpustakaan Hidup 

Bayangkan setiap rumah di Cimahi menjadi perpustakaan kecil, setiap jalan menjadi lorong cerita, dan setiap warung kopi menjadi ruang diskusi. Literasi tumbuh bukan hanya di sekolah, tetapi juga di ruang-ruang keseharian. Ki Hadjar Dewantara pernah menekankan, “Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Maka, literasi adalah tuntunan hidup masyarakat, bukan sekadar kurikulum. 

Di Cimahi, gerakan literasi bisa lahir dari hal sederhana: membaca bersama keluarga, menulis catatan harian tentang kehidupan kota, atau menghidupkan kembali tradisi mendongeng di ruang publik. Dengan begitu, literasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas akademis, melainkan sebagai bagian dari ritme hidup. 

Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh 

Falsafah Sunda yang berbunyi silih asah, silih asih, silih asuh adalah inti dari literasi yang beradab. Silih asah berarti saling mengasah pengetahuan, silih asih berarti saling mengasihi dalam perbedaan, dan silih asuh berarti saling membimbing menuju kebaikan. Ketiganya adalah pilar peradaban yang bisa ditanamkan melalui gerakan literasi. 

Ketika masyarakat Cimahi membaca dan menulis dengan semangat silih asah, mereka tidak hanya memperkaya diri, tetapi juga memperkaya komunitas. Ketika mereka berdialog dengan kasih, literasi menjadi ruang empati. Dan ketika mereka saling membimbing, literasi menjadi jalan menuju kebijaksanaan bersama. 

Literasi Digital dan Ruang Kreatif 

Di era digital, literasi tidak berhenti pada buku cetak. Cimahi bisa menjadi kota peradaban dengan memanfaatkan ruang digital sebagai wadah kreatif. Kanal YouTube, blog, dan media sosial bisa menjadi perpanjangan tangan dari perpustakaan. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjadikan ruang digital sebagai ruang yang beradab, bukan sekadar arena konsumsi cepat. 

Seperti yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah.” Kutipan ini menegaskan pentingnya menulis sebagai jejak peradaban. Maka, Cimahi perlu mendorong warganya untuk menulis: tentang kota, tentang keluarga, tentang pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, Cimahi tidak hanya menjadi kota yang sibuk, tetapi juga kota yang meninggalkan jejak kata. 

Jalan Menuju Kota Peradaban 

Membangun Cimahi sebagai kota peradaban melalui literasi adalah perjalanan panjang. Ia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, keluarga, dan individu. Peradaban tidak lahir dari satu pihak, melainkan dari kesediaan bersama untuk merawat kata dan makna. 

Langkah-langkah kecil bisa dimulai dari:  1) Membuka ruang baca di setiap kelurahan; 2) Mengadakan festival literasi yang merayakan karya lokal; 3) Menyediakan pojok baca di angkutan umum atau taman kota, dan; Mendorong penulisan sejarah lokal agar generasi mendatang tidak kehilangan akar. 

Dengan langkah-langkah ini, Cimahi bisa meneguhkan dirinya sebagai kota yang tidak hanya bergerak secara fisik, tetapi juga tumbuh secara kultural. 

Pamungkas: Kata sebagai Cahaya 

Literasi adalah cahaya yang menuntun masyarakat menuju peradaban. Cimahi, dengan segala keunikannya, bisa menjadikan literasi sebagai identitas kota. Seperti yang pernah dikatakan R.A. Kartini, “Habis gelap terbitlah terang.” Kata-kata itu bukan hanya slogan, melainkan pengingat bahwa setiap upaya literasi adalah upaya menyalakan terang dalam kehidupan bersama. 

Cimahi kota peradaban bukanlah mimpi yang jauh. Ia bisa dimulai dari satu buku yang dibaca, satu catatan yang ditulis, satu cerita yang dibagikan. Dari hal-hal kecil itulah, cahaya peradaban akan tumbuh, menyinari rumah, jalan, dan hati masyarakatnya. (Didin Tulus).

***

Judul: Menyemai Literasi, Menyulam Peradaban: Cimahi dalam Cahaya Kata

Kontributor: Didin Tulus

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas Info Penulis

Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Didin Tulus
Didin Tulus, Penulis – (Sumber: Didin Tulus/BJN)

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.

Aktifitas dan Karir

Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.

Pengalaman Internasional

Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.

Kegiatan Saat Ini

Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.

Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.

***