BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Opini, Senin (27/04/2026) ─ Tulisan berjudul “FLS3N 2026 Tingkat Kota Cimahi: Akankah Menjadi Penguat Kreativitas atau Justru Hanyalah Formalitas?” ini adalah buah karya Kamila Azlaini Mustaffa. Ia merupakan siswi SMAN 3 Cimahi dan berhasil menjadi Juara 1 ajang FLS3N 2026 Tingkat Kota Cimahi pada Sabtu (25/04/2026) di SMAN 3 Cimahi dan berhak mengikuti lomba sejenis untuk tingkat Provinsi Jawa Barat.
SMA Negeri 3 Cimahi yang kerap disebut sebagai Smaluchi kembali ramai dengan hilir mudik pendatang pada Sabtu, 25 April 2026. Bahkan, sejak fajar menyingsing hingga terik matahari yang menghangatkan tubuh dan jiwa, para pendatang itu tidak beristirahat. Semua itu dilakukan karena mereka harus memenuhi agenda kegiatan yang cukup padat.
Derap langkah para pendatang itu menyapa ruang hampir di setiap penjuru area SMA Negweri 3 Cimahi, menandakan adanya kesibukan dengan satu tujuan, yakni mengikuti pergelaran Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 Tingkat Kota Cimahi.

Dilansir dari laman Pusat Prestasi Nasional, FLS3N adalah perlombaan yang diadakan oleh Badan Pusat Prestasi Nasional sejak tahun 2004. Meskipun mengalami transformasi nama yang berbeda-beda dari tahun ke tahun, festival ini tidak mengenal tanda titik untuk mencapai tujuannya; yakni melahirkan pilar-bangsa dengan kreativitas dan karakter mereka yang luar biasa.
Ketua MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah) Tingkat Kota Cimahi yang juga merupakan Kepala SMA Negeri 3 Cimahi, Drs. Endi Diana Ruskandi, M.Pd., menyatakan dalam pidato sambutannya bahwa perlombaan ini dengan sengaja diadakan sebagai wadah kreativitas dan penguatan karakter pelajar di Kota Cimahi, khususnya tingkat SMA/MA/SMK/Sederajat.
“FLS3N adalah lomba bagi kreativitas siswa dan untuk karakter siswa SMA/MA/SMK/Sederajat yang pada tahun ini dilaksanakan di SMA Negeri 3 Cimahi,” papar Endi Diana, Sabtu (25/04/2026). Namun, hal yang perlu diperhatikan: Apakah FLS3N benar-benar merupakan media yang tepat untuk menjadi penopang kuat bagi kreativitas dan karakter siswa atau justru hanyalah formalitas belaka?
Pergelaran kompetisi berbasis seni dan sastra ini lagi-lagi dimeriahkan oleh para pelajar dan pengajar di seluruh sekolah menengah Kota Cimahi. Setelah melalui euforia yang tidak menyentuh hati pada tahun 2025 lalu akibat dilaksanakan dalam jaringan atau online, kini mereka kembali dipertemukan di satu titik yang sama. Para pejuang yang memiliki rona latar belakang yang berbeda, kini mengisi Smaluchi dengan semangat yang serupa.


Pak Yuyu, satpam yang bertugas menjaga dan mengontrol area Smaluchi pada Sabtu (25/04/2026) mengungkapkan bahwa ramainya pendatang membuatnya lebih sibuk dari hari biasanya.
“Situasi sekolah sekarang sangat ramai ya, jadi saya juga lebih sibuk dan harus datang lebih pagi. Saya harus jaga gerbang, sesekali saya juga harus kontrol juga ke area yang lain,” ungkap Pak Yuyu.
Kesibukan Pak Yuyu tidak melunturkan semangatnya. Ia bertekad untuk membantu kelancaran kegiatan FLS3N) 2026 Tingkat Kota Cimahi yang pelaksanaannya berlangsung di SMA Negeri 3 Cimahi, meskipun sekadar menjaga gerbang sekolah.
Hal ini terbukti, festival ini memang diikuti oleh pelajar sekolah menengah atas di Kota Cimahi, tetapi tujuan dari FLS3N tidak terpacu pada siapa yang ikut serta di dalamnya. la tidak hanya tertuju pada mereka yang merupakan siswa sesuai dengan persyaratannya. la tertuju pada khalayak umum, sesederhana Pak Yuyu selaku satpam di Smaluchi, di mana karakter disiplin dan pribadi berperikemanusiaannya meningkat.
Ketika terik matahari dan angin pagi menerpa sekitar gerbang sekolah dan parkirannya, di sisi lain, Aula SMA Negeri 3 Cimahi mempertahankan kesejukan dari kipas angin yang senantiasa berputar menghidupi atmosfer di dalamnya. Gerakan kipas angin ini tidak mengenal kata berhenti meski hanya sepersekian detik. Angin sejuknya seakan berkata dengan lembut, “Tenanglah, pejuang. Kemampuanmu tidak diukur dari kalah ataupun menang, tetapi dari bagaimana dirimu sesederhana bertekad untuk datang.”
Salah satu peserta lomba Vokal Solo Putri, Aghsa Aizar Raihana, ikut merasakan langsung bisikan lembut tersebut. Di tengah ketegangan yang tercipta di dalam ruangan, Aghsa justru memiliki keyakinan 100% bahwa ia bisa berhasil.

“Aku berani taruh bahwa aku yakin 100% aku bisa. Dari dua bulan latihan mandiri dan kurang dari satu bulan latihan dengan pembimbing, aku percaya usahaku tidak akan mengkhianati hasil,” ujar Aghsa dengan penuh senyuman, Sabtu (25/04/2026).
Siswi SMA Negeri 1 Cimahi ini mengungkapkan bahwa ini kali keempatnya ia mengikuti FLS3N. Sejak menduduki bangku kelas 7 SMP hingga kini menjadi siswi kelas 11 SMA, Aghsa tidak pernah melunturkan ketekunannya dalam bidang musik.
“Dulu aku pertama kali ikut FLS2N tuh kelas 7 SMP, waktu itu aku ikut cabang Karawitan yang jadi bagian menyanyi, terus mendapatkan posisi harapan 3. Terus kelas 8 ikut Karawitan lagi dan dapat juara ke-1. Kemarin tahun 2025, aku ikut lagi, tapi cabang Vokal Solo Putri, dan dapat juara ke-2,” ungkap Aghsa dengan antusias.
Aghsa menambahkan, menurutnya mengikuti perlombaan yang sama di bidang yang serupa berkali-kali tidak setitik pun menimbulkan kebosanan dalam dirinya. Justru, semakin ia mendalami minat dan bakatnya dalam menyanyi, semakin ia menemukan sejatinya dari kebudayaan menjadi penopang kehidupan. Pernyataannya membuktikan pencapaian tujuan FLS3N sudah dapat terlihat dalam progres peserta mengikuti perlombaannya.
Berlangsungnya festival ini juga sudah sangat memperlihatkan kreasi dan inovasi siswa sekolah menengah di Kota Cimahi. Melodi indah dari peserta Vokal Solo, lekukan lemah gemulai dari peserta Tari Kreasi, sampai ketajaman penyampaian monolog oleh peserta Monolog, meningkatkan karakter kreativitas dan inovatif dalam diri mereka dengan baik.
Di samping itu, festival ini juga menjadi wadah yang tepat untuk meningkatkan kultur literasi pelajar khususnya di Kota Cimahi. Ketika data dari dunia mengungkapkan bahwa Indonesia berada di urutan kedua dari akhir terkait literasi dunia, yakni ke-62 dari 70 negara (PISA 2022), FLS3N digelar kembali di Kota Cimahi sebagai salah satu langkah kuat untuk melemahkan pernyataan tersebut.
Hal tersebut tercermin pada pernyataan salah satu juri perlombaan FLS3N 2026 cabang Jurnalistik, Romli Burhani. Ia menyatakan bahwa kultur literasi Indonesia sangatlah rendah, terutama setelah digitalisasi merajalela pada kehidupan remaja.

“Kultur literasi di Indonesia sangatlah rendah, apalagi setelah adanya gadget. Semuany serba instan dan membuat minat baca pelajar berkurang,” ungkap Romli, Sabtu (25/04/2026).
Meskipun ini adalah kali pertamanya menjadi juri di pergelaran FLS3N, Romli membeberkan bahwa ia sudah terjun di bidang menulis sejak 2004 sehingga sudah memenuhi kriteria sebagai penilai karya Jurnalistik yang baik karena banyaknya pengalaman yang dimilikinya. Ia pun dapat mengetahui bagaimana fungsi dari pergelaran FLS3N untuk bisa tercapai tujuan utama, yakni memperkuat kreativitas, memperkokoh karakter, dan mampu meningkatkan kultur literasi pelajar.
“FLS3N ini sangat bagus ya karena bisa membangun kreativitas siswa. Selain itu, FLS3N juga bisa membantu untuk meningkatkan kultur literasi di Indonesia, terutama karena saya bergelut di bidang menulis,” papar Romli.
Berdasarkan sumber yang dikumpulkan, dapat dibuktikan bahwa FLS3N memang menjadi ajang penguatan kreativitas pelajar, bukan hanya menjadi formalitas belaka. Setiap jenis lomba yang diciptakan, meningkatkan kemampuan mereka dalam berkreasi dan berinovasi. Bahkan, minat literasinya, baik dari saat-saat mereka latihan hingga waktunya pertunjukan.
***
Judul: FLS3N 2026 Tingkat Kota Cimahi: Akankah Menjadi Penguat Kreativitas atau Justru Hanyalah Formalitas?
Jurnalis: Kamila Azlaini Mustaffa
Editor: JHK