Dewasa dalam Mengelola Amarah Adalah Bagian dari Ketakwaan

BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Selasa (22/09/2026) – Tulisan berjudul “Dewasa dalam Mengelola Amarah Adalah Bagian dari Ketakwaan” ini merupakan karya Shamsi Ali Al-Nuyorki, Board Member, Islamic Society of North America (a new amanah).

Dewasa bukan berarti tak pernah marah, tak pernah kecewa, tak pernah terluka. Dewasa adalah ketika hati bergolak, tetapi lisan tetap terjaga; ketika emosi memuncak, tetapi tindakan tetap terarah.

Jiwa yang matang tidak menjadikan amarah sebagai pedang untuk melukai, kekecewaan sebagai palu untuk menghukum, dan luka sebagai alasan untuk membalas dendam.

Ilustrasi: Termenung memikirkan cara mengatasi emosi dalam diri sendiri – (Sumber: BJN)

Islam tidak pernah meminta kita menjadi manusia tanpa rasa. Marah adalah fitrah, denyut kemanusiaan yang Allah titipkan. Hal yang diajarkan Islam adalah bagaimana menuntun gejolak itu agar tidak menjelma menjadi kerusakan.

Allah SWT berfirman dengan indah, “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali Imran: 134).

Lihatlah bahasa langit itu. Allah tidak memuji mereka yang tak pernah marah, tetapi mereka yang mampu “menahan” amarah. Rasa itu boleh hadir, boleh menyala. Namun, seorang mukmin tidak akan membiarkannya membakar akal, menghanguskan iman, dan melukai lewat lisan dan perbuatan.

Shamsi Ali Al-Nuyorki, Penulis: (Sumber: BJN)

Marah adalah Rasa, Menyakiti adalah Pilihan

Kita tak kuasa menolak kecewa saat diperlakukan tidak adil. Amarah bisa saja menyelinap ke dada, tetapi kita selalu berkuasa memilih cara meresponsnya. Kedewasaan mengajarkan kita untuk lebih memilih diam daripada mencaci, berbisik dengan tenang daripada berteriak dengan bentakan, merajut solusi daripada mengurai pertengkaran, dan memeluk maaf daripada memelihara dendam.

Rasulullah SAW berbisik lembut sebagai pengingat, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat. Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya ketika marah.” (H.R. Bukhari & Muslim).

Kekuatan sejati bukanlah pada kemampuan membalas atau memenangkan perdebatan. Kekuatan sejati adalah ketika engkau mampu menaklukkan egomu sendiri di detik amarah memuncak.

Berapa banyak cinta yang retak, persaudaraan yang patah, bukan karena besarnya masalah, tetapi karena emosi yang tak terjaga. Kata-kata tajam meluncur, rahasia terkuak, kehormatan tercabik, dan keputusan-keputusan yang mematikan diambil saat hati sedang terbakar api.

Maka ingatlah: Diam tidak selalu berarti kalah. Menunda jawaban bukan tanda pengecut dan memaafkan tidak berarti membenarkan kesalahan. Di situlah letak kedewasaan yang hakiki: hati tetap bening, akal tetap jernih.

Sering kali kita memang tak bisa mengatur bagaimana dunia memperlakukan kita. Namun,  kita selalu bisa belajar mengatur bagaimana kita membalas perlakuan itu.

Jangan biarkan kesalahan orang lain mendikte pikiranmu, meracuni perasaanmu, dan mengendalikan perilakumu. Jangan biarkan luka mengubah jati dirimu yang paling dalam. Jangan biarkan amarah sesaat membuatmu mengkhianati akhlak mulia yang selama ini kau jaga dengan susah payah. Oleh karena itu, sebelum kata terucap dan langkah terayun, tanyakanlah pada jiwamu sendiri dalam hening:

“Apakah sikapku ini akan mendekatkanku kepada Allah, atau justru menjauhkanku dari-Nya?”

Seorang mukmin akan selalu memilih jalan yang mendekatkannya kepada Rabb-nya. Sebab merespons kesalahan dengan cara yang benar adalah cermin dari ketakwaan itu sendiri.

Semoga Allah menjaga hati kita tetap lembut dalam marah, dan kuat dalam memaafkan.

***

Judul: Dewasa dalam Mengelola Amarah Adalah Bagian dari Ketakwaan

Penulis: Shamsi Ali Al-Nuyorki

Editor: JHK