BAJA BANGKIT: Jembatan kebudayaan Bandung – Jakarta

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Rabu (27/05/2026)  – Tulisan berjudul “BAJA BANGKIT: Jembatan kebudayaan Bandung – Jakarta” adalah buah karya  Dede Priana, seorang seniman dan Ketua Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) Bandung Raya.

Dalam dunia material, baja dikenal sebagai logam yang kokoh, lentur, dan mampu menahan beban besar tanpa kehilangan bentuknya. Baja tidak hanya kuat, tetapi juga adaptif mampu dibentuk menjadi struktur yang menghubungkan ruang, menopang bangunan, dan menciptakan jalur perlintasan yang aman. Filosofi inilah yang menjadi landasan konseptual pameran Asosiasi Pelukis Nusantara Bandung – Jakarta (BAJA).

BAJA dalam konteks ini bukan sekadar akronim geografis, melainkan sebuah metafora: sebuah jembatan kultural yang menghubungkan dua simpul penting dalam peta seni rupa Indonesia Bandung dan Jakarta. Dua kota ini memiliki sejarah panjang, karakter visual yang khas, serta dinamika perkembangan seni yang berbeda namun saling melengkapi. Bandung sering diidentikkan dengan eksplorasi akademik dan eksperimentasi visual, sementara Jakarta menghadirkan energi urban, kompleksitas sosial, dan arus kontemporer yang dinamis.

Dede Priana, penulis (Ketua ASPEN Bandung Raya) – (Sumber: Aspen)

Melalui pameran ini, para perupa yaitu : Chryshnanda Dwilaksana, Dede Priana, Heri Heriana, Kembang Sepatu, Mas Wit, Pustanto, Sarnadi Adam, Supriatna, Syakieb Sungkar dan Warli Haryana. Mereka tidak hanya menghadirkan karya sebagai objek visual, tetapi juga sebagai medium dialog. Setiap lukisan menjadi “struktur baja” yang menyusun jembatan imajiner—menghubungkan gagasan, pengalaman, serta latar sosial-budaya yang beragam. Di dalamnya terdapat tegangan, pertemuan, bahkan perbedaan, yang justru memperkuat konstruksi kebudayaan itu sendiri.

BAJA juga merefleksikan harapan akan ketahanan komunitas seni dalam menghadapi perubahan zaman. Di tengah arus globalisasi, digitalisasi, dan pergeseran nilai, para perupa dituntut untuk tetap kokoh dalam identitas, namun lentur dalam pendekatan. Seperti baja yang ditempa melalui panas dan tekanan, karya-karya dalam pameran ini lahir dari proses panjang—refleksi, kritik, dan pencarian makna.

Lebih jauh, pameran ini menjadi ruang temu: antara generasi, antara pendekatan artistik, dan antara wilayah. Membuka kemungkinan kolaborasi yang berkelanjutan, memperluas jejaring, serta memperkuat posisi seni rupa sebagai bagian penting dari pembangunan kebudayaan.

Akhirnya, BAJA bukan hanya simbol kekuatan, tetapi juga komitmen. Komitmen untuk terus membangun, menghubungkan, dan merawat kebudayaan melalui praktik seni rupa. Sebuah jembatan yang tidak hanya menghubungkan Bandung dan Jakarta, tetapi juga menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan seni Indonesia.

Bangkit

Kebangkitan tidak hadir sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai proses panjang kesadaran akan sejarah, akan luka dan harapan, serta tanggungjawab menjaga jati diri bangsa. Pameran ini memposisikan seni rupa sebagai medium untuk membaca kembali makna  kebangkitan nasional dalam kontek hari ini.

Karya-karya dalam pameran ini tidak diarahkan untuk merayakan kebangkitan secara heroik semata, tetapi juga pengungkapan lapiran-lampiran reflektif kegelisahan sosial, krisis identitas, pergeseran nilai hingga upaya perlawanan kultural melalui seni.

Tiga Poros kuratorial:

1. Memori, karya yang berangkat dari sejarah , simbol perjuangan, tokoh dan ingatan kolektif bangsa. Memori menjadi fondasi kebangkitan tanpa ingatan, bangsa kehilangan arah;

2. Identitas, karya yang merefleksikan keberagaman Nusantara tradisi, budaya lokal, mitologi hingga realitas sosial masyarakat hari ini. Indonesia dipahami sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan terus dinegosiasikan;

3. Masa Depan, karya yang menawarkan tafsir harapan, kritik dan visi tentang Indonesia kedepan baik dalam konteks kebudayaan, lingkungan, kemanusiaan maupun relasi global.

Terima kasih kepada Kurator Amuya Gallery A.  Dimas Adji Saka yang sudah sering memberikan fasiltasnya kepada  Asosioasi Pelukis Nusantara (ASPEN) semoga kerjasama baik ini akan terus langgeng.

Kurang lebih ada 35 karya lukisan dan satu  instalasi berjudul “Titi Mongso” salah satu karya   Kembang Sepatu yang juga sebagai ketua umum Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN).

Titi Mongso, Instalasi karya Kembang Sepatu  Titi Mongso, menghadirkan sebuah kursi goyang kayu tua yang dipenuhi paku-paku tajam (duri)  pada hampir seluruh permukaanya. Kursi yang lazim dimaknai sebagai simbol jabatan, kenyamanan dan keuasaan diubah menjadi objek menyakitkan.

Seni instalasi bertajuk “Titi Mongso” karya Kembang Sepatu – (Sumber: Aspen)

Dalam karya instalasi ini, Kembang Sepatu menempatkan kekuasaan bukan sebagai ruang aman, melainkan sebagai beban sejarah yang penuh luka, tekanan dan konsekuensi sosial. Titi mongso yang mengajak kita merenungi waktu sebagai jembatan antar generasi.

Kursi goyang berduri ini simbol dari perlintasan waktu-tempat dimana kenyamanan dan ketidaknyamanan , kenangan dan harapan, bertemu dalam satu titik. Durinya adalah penanda jejak waktu: setiap duri adalah musim yang telah berlalu, sekaligus pelajaran yang membentuk kita.

Pameran yang dibuka dengan pertunjukan Tari Betawi Kembang Kemayoran dihadiri oleh beberapa pejabat sekaligus sambutan dari Bapak Maman Rahmawan, S.St., M.Si., Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi dan Kreatif Republik Indonesia (EKRAF) dan diresmikan Kepala Dinas Kebudayaan DKI Jakarta yang diwakili oleh Bapak Dipta Dwipakusuma, Kepala Sub Kelompok  Komunitas dan Masyarakat Bidang Pembinaan Kebudayaan. Sebelum pembukaan pameran acara dimulai dengan diskusi (artist Talks)  yang sangat antusias diikuti oleh pengunjung pameran.

Maman Rahmawan, Analis Kebijakan Ahli Madya Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementeian Ekonomi Kreatif RI – (Sumber: Aspen)

Artist talks peserta pameran “BANGKIT” Dr. Warli Haryana memberikan pemaparan

Masih dalam satu rangkaian kegiatan pameran seni rupa “BANGKIT” BAJA akan diadakan workshop drawing yang akan di ikuti oleh pelajar SMP dan SMA/Sederajat pada 30 Mei 2026 di Amuya Gallery.

Dr. Warli Haryana memberikan pemaparan dalam acara diskusi bertajuk “Artist Talk” yang berlangsung hangat dan menarik – (Sumber: Aspen)

Pada akhir workshop akan dipilih lima karya terbaik dari masing-masing katagori. Pameran dibuka untuk umum setiap hari dari pukul 10.00 – 20.00 WIB, berlangsung dari tanggal 24 Mei sampai 4 Juni 2026. Selamat mengapresiasi.

***

Judul: BAJA BANGKIT: Jembatan kebudayaan Bandung – Jakarta

Penulis/kontibutor: Dede Priana, Ketua Asosiasi Pelukis Nusantara (ASPEN) Bandung Raya

Editor: JHK