BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik SASTRA/CERPEN, Sabtu (07/11/2026) – Cerpen berjudul “Catatan di Pinggir Halaman” ini adalah sebuah tulisan karya Dimas Saputra, seorang praktisi perbukuan yang kini tinggal di Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Naskah pertama yang saya sunting datang lewat surel, berupa lampiran berkas .doc dengan nama FINAL_revisi_baru_fix2. Penulisnya, Tama, menulis dengan semangat seorang pemuda yang yakin dunia sedang menunggunya. Koma di naskahnya bertebaran seperti beras yang tumpah dari karung.
“Mas Danu,” katanya di telepon, “Jangan diubah terlalu banyak, ya. Ini mengalir dari jiwa.”
Saya mengiyakan. Malamnya saya memindahkan tujuh puluh satu koma, membuang empat paragraf yang mengalir dari jiwa, tetapi tidak ke mana-mana, dan mengganti kalimat pembuka. Yang lama berbunyi Hujan turun seperti hujan. Yang baru: Hujan turun dan ibuku masih belum pulang.

Buku itu terbit bersampul biru dengan nama Tama besar-besar di atasnya. Nama saya tidak ada. Tentu saja. Saya belum tahu bahwa itu akan menjadi kebiasaan dan saya belum tahu pula apa yang pekerjaan ini akan lakukan pada mata saya.
Lama-lama, mata saya bekerja sendiri, tanpa digaji. Di tiang listrik dekat rumah ada selembar kertas yang ditempel dengan lakban: RUMAH DI JUAL. Hub. Pemilik. Kata “di” dan “jual” dipisahkan jarak sejauh dua orang yang sedang bertengkar.
Saya berdiri di depan tiang listrik itu lama sekali. Tangan saya sudah merogoh saku dan tas selendang yang selalu kudus terhampirkan di bahu, mencari pulpen. Pemilik rumah itu tidak tahu bahwa ia menjual rumahnya dengan satu kekeliruan kecil yang sungguh tidak akan menurunkan harga. Namun, saya tidak bisa pergi sebelum kata itu tersambung di kepala saya.
Musim pemilu lebih parah. Di sepanjang jalan kampung terpasang spanduk seorang calon legislatif, wajahnya tersenyum seperti baru menang arisan: KITA RUBAH NASIB KAMPUNG INI! Pilih Bpk. H. Budiman, S.E., Putra Daerah Yg Amanah.
Kalau dibaca apa adanya, calon legislatif itu ingin mengajak seluruh warga menjadi rubah. Saya sempat membayangkan seekor rubah bernama Nasib berkeliaran di gang-gang dan harus menahan tawa di dalam angkot, sendirian, di lampu merah.
Warung dekat kantor memasang papan: Di larang parkir disini!!! Tidak ada toleransi!!! Tidak ada toleransi, tetapi ada tiga tanda seru, satu spasi yang hilang, dan satu spasi yang datang tanpa diundang. Di kaca belakang angkot ada stiker bertuliskan “Anda sopan kami segan” dan saya yang sudah lelah hanya mengangguk hormat karena kali ini kalimatnya benar.
Yang paling merepotkan adalah ketika saya membaca buku untuk bersenang-senang. Dulu membaca bagi saya adalah pulang. Sekarang pulpen memang tak ada di tangan, tetapi mata saya tetap mencoret.
Dalam novel yang paling saya sukai sekalipun, ketika adegannya sedang genting dan sang tokoh akhirnya menemukan surat itu, saya tersangkut pada kata “mengkonsumsi” dan seketika kehilangan arah, seperti penonton yang tiba-tiba melihat kabel dan tangga kayu di balik panggung. Cerita tetap berjalan. Saya yang tertinggal di belakang, memegang koma.
Puncaknya terjadi di sebuah toko buku, pada suatu sore yang tadinya tenang. Di rak depan terpajang buku berjudul “Rahasia Penulis: Bukan Hanya Tips Menulis”. Pengarangnya penulis ternama, wajahnya ada di poster perpustakaan dan spanduk gerakan membaca, bergelar duta literasi, dan kutipannya sering dibagikan orang di media sosial dengan huruf besar-besar dan latar senja. Saya membeli bukunya dengan perasaan hormat yang tulus.
Saya membuka halaman pengantar penulis di antrean kasir. Kalimat pertamanya: Menulis itu bukan sekedar bakat, tapi kerja keras yang di lakukan setiap hari. Saya berhenti. Saya membacanya lagi. Dua kekeliruan dalam satu kalimat pembuka dan kalimat itu berbicara tentang kerja keras.
Sampai kasir menyebutkan jumlah yang harus dibayar, saya sudah menghitung sebelas kekeliruan di halaman pengantar saja. Ada “di anggap” yang seharusnya “dianggap”, ada “merubah” yang menyelinap tiga kali, ada tanda baca yang berpindah-pindah seperti penumpang yang tak kebagian kursi.
Saya membuka halaman hak cipta dengan jantung berdebar. Di sana tertera nama penulis, penata letak, dan perancang sampul. Bahkan, pencetak dan tahun cetak. Kolom penyunting tidak ada.
Saya berdiri di depan kasir yang menunggu, memegang buku itu seperti memegang rumah yang dibangun tanpa tukang. Bukan marah yang saya rasakan, lebih mirip kecewa seorang tukang yang melihat tembok megah berdiri miring dan tak bisa menegurnya.
Apakah buku ini diedit? Apakah penerbitnya sempat membaca atau sekadar mencetak? Jika ada yang membacanya, apakah ia tidak sanggup atau tidak berani?
“Mau pakai kantong, Pak?” Tanya kasir.
“Tidak usah,” kata saya, “Saya bawa pulang apa adanya.”
Di rumah saya baru sadar bahwa rahasia terbesar para penulis yang dijanjikan di sampul buku itu, justru tidak ada di dalam isinya. Rahasianya adalah seseorang yang duduk di belakang, membereskan koma. Buku itu, tanpa sengaja, membocorkannya dengan cara paling jujur: lewat ketiadaannya.
Sementara itu novel Tama sudah cetak ulang kesembilan kali. Ia diundang ke televisi, ke siniar para influencer yang mengais rezeki dari ketenaran orang dan viewer mereka, selalu memakai kemeja batik, dan ditanya apa rahasia kalimat pembuka novelnya yang terkenal itu.
“Ilham, Mbak,” jawabnya sambil memejamkan mata, “Datang begitu saja, waktu saya sedang menunggu hujan reda.”
Saya menonton dari kantor bersama Bu Retno, pemegang kunci pantri yang menaruh pisang goreng di meja saya tanpa komentar. Beliau tahu. Hanya beliau yang tahu dan beliau tidak pernah menyinggungnya, sehingga bagi saya beliau adalah manusia paling berbudi di penerbitan itu.
Di acara keluarga bulan berikutnya, Bibi saya bertanya, “Danu, sekarang kerjanya apa? Masih ngetik-ngetik naskah?”
“Menyunting, Bi.”
“Oh, yang cari salah ketik itu.”
Saya sudah berhenti menjelaskan. Saya mengambil sepotong lemper.
Di peluncuran buku lain, buku yang kemudian menang penghargaan, saya berdiri dekat meja kudapan, tempat favorit semua editor sedunia. Seorang ibu menghampiri dan bertanya dengan ramah, “Bapak dari mana?”
“Dari penerbit.”
“Oh, kenalannya penerbit!” katanya, lalu menepuk bahu saya penuh simpati, seakan itu penyakit ringan yang bisa dimaklumi.
Saya pulang membawa tiga kue lapis dan satu pemikiran yang aneh: bahwa ada sekitar dua ratus ribu orang di negeri ini yang pernah menangis di halaman 212 sebuah novel dan halaman itu, sampai ke titik dan komanya adalah milik saya. Tidak ada yang bisa saya ceritakan soal itu. Kalau saya katakan di warung kopi, mereka akan menyarankan saya minum air putih.
Para penulis makin berani. Tentu saja karena mereka makin jauh dari jangkauan pulpen merah saya.
“Mas Danu, kalimat ini jangan dipotong. Ini napas saya.”
“Napasnya empat puluh dua kata, Mbak.”
“Ya, saya memang napasnya panjang.”
Saya belajar bahwa seni terbesar seorang editor bukan mencoret, melainkan membuat penulis merasa dirinyalah yang memutuskan untuk mencoret. Kadang saya membiarkan satu kalimat panjang lolos sebagai upeti. Kalimat itu biasanya yang paling dipuji pembaca dan kami berdua, penulis dan saya, sama-sama tak sanggup mengakui bahwa itu justru yang terlemah.
Keponakan saya, Nala, menunjukkan layar ponselnya kepada saya pada suatu akhir pekan. Seseorang mengunggah foto novel Tama, lengkap dengan kutipan: “Hujan turun dan ibuku masih belum pulang.” Di bawahnya tertulis kalimat paling indah yang pernah aku baca dan tiga ribu orang menyukainya.
“Om pernah baca ini?” Tanya Nala.
“Sedikit,” kata saya.
“Penulisnya pasti keren banget. Om kenal?”
“Kenalan,” kata saya, “Kenalannya penerbit.”
Nala tertawa, mengira saya bercanda. Saya membiarkannya mengira begitu.
Suatu hari Tama menerbitkan buku barunya. Di halaman ucapan terima kasih, ia berterima kasih kepada istrinya, kopinya, kucingnya, dan “seluruh tim penerbit”. Saya membaca daftar itu dua kali, mencari diri saya seperti orang mencari nama di papan pengumuman kelulusan. Tidak ada, tentu saja.
Pada acara peluncurannya, saat saya berdiri di tempat biasa dekat kudapan, seorang gadis berseragam SMA mendekat sambil membawa buku Tama yang sampulnya sudah lusuh. Edisi pertama. Sampul biru.
“Permisi, Pak. Bapak tahu ndak, siapa yang nyunting buku ini? Aku pengin ketemu.”
Saya membuka mulut. Bu Retno yang kebetulan ada di dekat sana, menatap saya dengan sorot mata seseorang yang sudah menunggu bertahun-tahun.
“Wah,” kata saya, “Editornya biasanya orang yang nggak penting-penting amat.”
“Padahal,” ujar gadis itu, membuka halaman pertama, “Kalimat ini bagus banget. Yang nulis kalimat ini pasti orang yang ngerti banget caranya kehilangan.” Ia mengangkat wajah dan tersenyum, “Kalau ketemu orangnya, bilangin ya, Pak. Makasih.”
Telinga saya menghangat. Saya mengangguk, mengambil sepotong risol dari meja, dan menghabiskannya perlahan sekali.
Dalam perjalanan pulang, di dalam angkot, saya mengeluarkan pulpen merah dari saku jaket, pulpen yang sudah kusam. Tidak ada naskah di pangkuan saya, jadi saya hanya menimang-nimangnya.
Saya berpikir: bilangin ya, Pak.
Kalimat itu, kalau saya sunting, terlalu sederhana. Tidak ada yang perlu dicoret.
***
Judul: Catatan di Pinggir Halaman
Penulis: Dimas Saputra
Editor: Jumari Haryadi
Sekilas tentang Penulis/Pengarang
Dimas Saputera adalah nama pendek dari Dimas Handi Hijrah Saputra. Pria kelahiran 1982 ini, pada suatu ketika pernah belajar dan lulus dari Universitas Pendidikan Indonesia, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
Dalam perjalanan hidupnya, Dimas pernah menjadi mentor tingkat SD dan SMP untuk pelajaran Bahasa Indonesia pada salah satu Bimbingan Belajar besar di Bandung. Selepas dari itu, sejak 2009 s.d. sekarang pernah bekerja di berbagai penerbit dan percetakan buku, sebagai editor, layouter, desainer cover, hingga sebagai marketing dan admin. Kini masih bekerja di sebuah Penerbit di Bandung.
Dimas juga aktif di beberapa komunitas kepenulisan maupun sosial. Sampai saat ini tercatat sebagai anggota Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Bandung Raya, Anggota komunitas briker Radio Antar Penduduk Indonesia Lokal 02 Lembang Wilayah Kabupaten Bandung Barat, dan sebagai salah satu anggota Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Pendidikan Indonesia (IKA UPI).
***