BERITA JABAR (BJN), Kolom OPINI, Kamis (29/10/2026) – Tulisan berjudul “Saat Rakyat Butuh Didengar” ini merupakan karya Mariska Lubis, seorang penulis berpengalaman yang pernah bekerja di berbagai majalah nasional, di antaranya Femina Grup.
“Saat rakyat sudah tidak tahu lagi harus bagaimana, yang mereka butuhkan adalah DIDENGAR” – kutipan buku Serial Apa Kata Rakyat “Bagaimana Mencari Uang di Bandung” karya Ariyo Bimmo.
Dunia mengalami banyak perubahan dalam beberapa tahun terakhir dan Indonesia pun mendapatkan imbasnya. Perubahan iklim, cara hidup, ekonomi, keuangan, bisnis, politik, hukum, teknologi, dan budaya, serta migrasi berdampak besar dalam kehidupan. Tidak bisa dihindari dan butuh waktu serta proses untuk adaptasi atas perubahan-perubahan tersebut. Tidak juga mudah, sebab selalu ada kebutuhan mendasar yang selalu menjadi prioritas di dalam menjalaninya.

Berbagai masalah muncul silih berganti dan solusi sedemikian sulit diterapkan. Segalanya menjadi seperti semakin tidak karuan. Tentu saja yang menjadi korban adalah rakyat. Sementara para pejabat yang berpikir keras pun sulit melaju, kalah oleh korupsi, kolusi, dan nepotisme. Rakyat berteriak keras, pemerintah semakin sulit bergerak, kapitalisme memeras segalanya tanpa ampun.
Bandung sebagai Kota Kembang yang selama ini selalu menjadi salah satu kota pusat perhatian Indonesia juga tidak luput dari perubahan. Kota yang dikenal berhawa dingin, ramah, pusat pendidikan, pusat mode, pusat seni, pusat kuliner, pusat belanja, dan menawarkan banyak tempat pariwisata menarik yang mampu menyedot banyak pengunjung dari berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, tak sedikit para pelancong dari luar negeri. Kota ini laksana bunga mawar nan indah dipandang. Namun, menyakitkan bila tertusuk durinya. Penduduk Bandung banyak yang mengeluh.
Selama ini suara turun dari atas ke bawah, sementara suara dari bawah sulit untuk sampai ke atas. Bukan hanya keluhan, tetapi juga solusi atas masalah-masalah yang ada, jarang yang sampai ke atas. Menjadi ironi tersendiri karena sesungguhnya ada banyak inspirasi yang semestinya didapat dari rakyat. Bahkan, inspirasi itu bisa saja berasal dari lapisan masyarakat yang dianggap paling bodoh sekalipun.
Banyak survei dilakukan, tetapi kebanyakan dilakukan tanpa wawancara ataupun diskusi langsung, hanya mengisi kuesioner pendek dan berupa pilihan ganda atau ya/tidak. Feel atau rasa yang sebenarnya ada di dalam benak dan hati rakyat, sungguh tidak terasa sama sekali. Wajar jika banyak yang mempertanyakan hasil dari survei-survei yang dilakukan meskipun secara metode dan teori tidak ada yang salah.
Ketika Ariyo Bimmo, penulis buku Serial Apa Kata Rakyat mengutarakan keresahan dan keinginannya untuk mendengarkan suara rakyat langsung lewat wawancara, lalu membukukannya, tentunya saya anggap sebagai sebuah solusi yang belum diperlukan. Apalagi semua temanya adalah soal kehidupan sehari-hari di seputar Bandung Raya, tanpa ada unsur politik.
Seri pertama buku Apa Kata Rakyat yang membahas soal “Bagaimana Mencari Uang di Bandung” ini sangat menarik, apalagi orang yang diwawancarai berasal dari berbagai kalangan usia, status sosial dan ekonomi, pekerjaan, dan status pendidikan. Walaupun mereka yang diwawancarai terbatas jumlahnya yaitu antara 50-70 orang saja, tetapi bisa jadi lebih akurat dibandingkan dengan survei biasa. Pertanyaan yang diajukan juga tidak semata bisa dijawab mudah, siapapun yang menjawab harus berpikir sesuai dengan pengalaman pribadi dan pemikiran masing-masing.

Hasil wawancara ditelaah satu persatu dan menjadi acuan untuk mendapatkan kerangka yang lebih jelas terhadap fakta dan kenyataan yang terjadi di lapangan – semestinya bisa menjadi acuan bagi siapapun, terutama pemerintah untuk mempelajari lebih mendalam dan mencari solusi atas masalah-masalah yang terjadi. Bahkan, alangkah baiknya bila cara yang dilakukan oleh Bimmo ini dijadikan contoh di dalam melakukan survei dan untuk mengapresiasi pendapat rakyat. Diharapkan, komunikasi yang lebih baik antara pemerintah dan rakyat bisa dilakukan dengan lebih baik lewat cara yang lebih baik.
Bimmo berencana akan melanjutkan Serial Buku Apa Kata Rakyat ini dengan tema yang berbeda-beda. Wawancara langsung juga akan terus dilakukan dan tentunya dengan pertanyaan-pertanyaan berbeda.
Terlepas dari pro dan kontra atas apa yang dilakukan oleh Bimmo ini, ada baiknya kita juga berpikir lebih jauh lagi. Bila memang ada pemikiran dan cara yang lebih baik agar suara rakyat benar didengar, tidak perlu ada perdebatan, tetapi diskusi agar solusi lebih bisa dicari, sekaligus juga menghargai pemikiran rakyat, kenapa tidak dilakukan?
Ucapan pemikiran dan kritik yang hanya sekedar wacana, tidak diwujudkan, pada akhirnya tidak akan menghasilkan perubahan apa-apa. Sementara dunia terus berubah, sampai kapan kita stagnan dengan kebiasaan dan cara yang itu-itu saja?
Dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat, sudah waktunya diterapkan dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya sekedar slogan, tetapi menjadi budaya yang terus dikembangkan, agar semua masalah dan perubahan yang ada dapat dihadapi bersama, tanpa ada kesenjangan. (Mariska Lubis).
***
Judul: Saat Rakyat Butuh Didengar
Kontributor: Mariska Lubis
Editor: JHK
Sekilas tentang penulis

Mariska Lubis adalah salah seorang tokoh literasi nasional yang sangat berpengalaman. Wanita kelahiran Bandung, 6 Agustus 1974 ini pernah bersekolah di TK-SDK Yahya, lalu meneruskan di SMPN 5 Bandung. Ketika kelas 3 SMP, ia pindah sekolah di SMPN 3 Manggarai, Jakarta dan lanjut ke SMAN 8 Jakarta.
Wanita yang pernah dijuluki blogger seks terpopuler oleh Grasindo (PT Gramedia Widiasarana Indonesia) ini melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Trisakti pada 1992 dengan mengambil Jurusan Ekonomi dan lulus pada 1996. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Sydney, Australia dengan mengambil Jurusan International Studies dengan topik utamanya Politik Asia Tenggara.
Selain menulis dan membaca, Mariska memiliki hobi melukis, travel, dan fotografi. Ia pernah menerbitkan lima buah buku yaitu buku berjudul “Wahai Pemimpin Bangsa! Belajar Dari Seks, Dong!”, “Ayahku Inspirasiku”, “Seni, Politik, & Perjuangan”, “Gelegar Suara Kalbu”, dan “Mewarnai Gambar Puisi Mariska”.
***