BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Jumat (25/09/2026) – Cerpen berjudul “Nilai Diriku yang Dipuja lalu Diludahi” ini merupakan karya original dari Febri Satria Yazid yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang pengusaha, penulis, dan pemerhati sosial. Penulis yang berasal dari Sumatra Barat ini merupakan anggota Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni) dan Ketua Forum TBM Kota Cimahi Periode 2025-2030.
Arga selalu percaya bahwa harga diri adalah harta yang tidak boleh diperjualbelikan. Baginya, kehilangan uang masih dapat dicari kembali, tetapi kehilangan kehormatan karena menggadaikan integritas adalah kebangkrutan yang sesungguhnya.
Selama puluhan tahun ia menjalani hidup dengan berpegang pada prinsip. Berbagai kesempatan untuk memperkaya diri melalui jalan pintas pernah datang silih berganti. Jabatan, relasi, hingga peluang kolusi dan penyalahgunaan wewenang pernah terbuka di hadapannya. Namun, setiap kali godaan itu datang, ia memilih menolak.
Sudah beberapa kali Arga dihadapkan pada keadaan yang memaksanya memilih antara apa yang menguntungkan dan apa yang benar. Dalam sebuah tender, pernah seseorang datang kepadanya membawa sebuah tawaran yang terdengar seperti jalan keluar yang mudah. Arga tidak perlu memenangkan tender untuk mendapatkan uang. Ia hanya perlu mengikuti permainan dan bersedia mengatur nilai batas negosiasi dari pagu sebuah proyek sesuai kehendak mereka.

“Tidak perlu menang, yang penting bagianmu tetap ada,” begitu kira-kira pesan yang disampaikan kepadanya.
Bagi sebagian orang, mungkin itu kesempatan, sementara bagi Arga, itu adalah penghinaan karena nilainya telah diukur senilai pertukaran yang ditawarkan. Arga memilih ikut tender dengan mengikuti aturan yang ada.
Pada kesempatan lain, ketika membangun sebuah kerja sama bisnis, Arga kembali berhadapan dengan kenyataan yang tidak jauh berbeda. Komitmen yang semula dibicarakan perlahan kehilangan maknanya ketika keuntungan mulai terlihat. Bagian yang seharusnya menjadi haknya tidak diberikan sebagaimana mestinya. Ketika akhirnya rekan bisnisnya menyerahkan sebagian uang kepadanya, Arga justru menolaknya.
Ayuni yang mengetahui hal itu merasa heran, “Kenapa tidak Ayah terima saja?” Tanyanya, “Bukankah lebih baik mendapatkan sebagian daripada tidak mendapatkan apa-apa?”
Arga tidak segera menjawab. Arga menatap putrinya. Ada senyum kecil di wajahnya, tetapi sorot matanya menyimpan sesuatu yang lebih dalam.
“Karena tidak semua yang bisa kita ambil harus kita terima, Yu,” jawab Arga pada putrinya.
Ayuni mengernyitkan kening.
Kemudian Arga melanjutkan kalimatnya, “Kenapa? Karena hidup bukan hanya tentang mendapatkan,” kemudian ia berhenti sejenak, “Kadang-kadang, Nak, hidup justru sedang menguji kita dengan apa yang ditawarkan kepada kita.”
“Jadi Ayah tidak merasa rugi?” Tanya Ayuni penasaran.
Arga tersenyum.
“Rugi?”
Arga mengulang kata itu perlahan.
“Uang bisa dicari. Kesempatan bisa datang lagi. Bisnis bisa dibangun kembali, tetapi ketika seseorang mulai terbiasa membenarkan cara yang salah karena merasa hasilnya menguntungkan, yang berubah bukan lagi keadaan di luar dirinya,” lanjut Arga.
“Lalu apa yang berubah, Yah?” Tanya Ayuni kembali.
“Dirinya,” jawab Arga singkat yang membuat Ayuni diam lebih lama.
“Awalnya kita mengambil sedikit karena merasa tidak apa-apa. Besok mengambil lebih banyak karena sudah terbiasa. Lama-lama hati tidak lagi bertanya apakah itu benar atau salah. Yang ditanyakan hanya: berapa yang saya dapat?”
Arga menatap putrinya dalam-dalam.
“Di situlah manusia mulai kehilangan dirinya.”
Hening sejenak.
“Kalau begitu, bagaimana kita tahu uang yang kita dapat itu benar, Yah?”
Arga tersenyum.
“Pegang dua pertnyaan ini sepanjang hidupmu.”
Ayuni menunggu.
“Pertama: dari mana uang itu didapat?” Kata Arga sambil mengangkat satu jarinya, “Dan kedua: ke mana uang itu digunakan?”
Ayuni mengangguk perlahan,“Sesederhana itu?”
“Pertanyaannya sederhana,” jawab Arga, “Tetapi mempertanggungjawabkannya tidak selalu mudah.”
Arga kemudian berkata dengan suara yang lebih lembut, “Jangan hanya bertanya berapa banyak uang yang bisa kita kumpulkan. Tanyakan juga, apakah kita masih bisa tidur dengan tenang setelah mendapatkannya.”
Ayuni menundukkan wajah.
“Jangan hanya bertanya apa yang bisa uang itu beli. Tanyakan juga, apakah cara kita mendapatkannya akan membuat anak-anak kita kelak bangga atau justru malu.”
Kalimat itu membuat Ayuni terdiam.
Arga menghela napas panjang.
“Ayah tidak ingin mewariskan banyak uang kepadamu, Yu, kalau untuk mendapatkannya Ayah harus kehilangan kehormatan,” ujar Arga sambil tersenyum, “Kalau suatu hari Ayah tidak bisa meninggalkan harta yang banyak, Ayah akan tinggalkan sesuatu yang lebih penting: keyakinan bahwa rezeki yang sedikit tetapi halal dan bersih jauh lebih menenangkan daripada kelimpahan yang diperoleh dengan menggadaikan prinsip.”
Ayuni menatap ayahnya. Untuk pertama kalinya ia memahami bahwa hari itu ayahnya sebenarnya tidak sedang menolak uang. Ayahnya justru sedang memilih sesuatu yang jauh lebih mahal daripada uang. Ayahnya sedang menjaga dirinya agar tidak menjadi manusia yang bisa dibeli oleh keadaan, melainkan seberapa teguh prinsip yang diwariskan.
Semua Arga lakukan bukan karena Arga tidak membutuhkan uang. Ia hanya meyakini bahwa rezeki yang baik harus diperoleh dengan cara yang baik pula. Keyakinan agamanya mengajarkan bahwa keberkahan tidak lahir dari tipu daya, melainkan dari kejujuran, kerja keras, dan keberanian menolak yang haram. Itulah sebabnya banyak orang menghormatinya. Bahkan, sebagian menjadikannya teladan.
Di antara mereka, ada seorang perempuan bernama Ratih. Ratih bukan sekadar orang dekat. Ia adalah seseorang yang selama bertahun-tahun mendampingi Arga sebagai istri yang begitu mengagumi karakter Arga.
Di hadapan banyak orang, Ratih sering memuji keteguhan prinsip Arga, menyebutnya sebagai lelaki yang sulit dibeli, tidak mudah tergoda jabatan, dan tetap teguh meski hidup tidak selalu berpihak kepadanya. Bagi Arga, penghargaan itu bukan sesuatu yang ia cari. Namun, ia bersyukur karena masih ada orang yang memahami jalan hidup yang dipilihnya.
Hingga suatu sore, semuanya berubah. Mereka duduk berhadapan di sebuah ruangan yang sunyi. Pertemuan itu awalnya dimaksudkan untuk membicarakan berbagai kabar yang beredar tentang Arga. Ia datang dengan niat menjelaskan apa yang perlu dijelaskan. Namun, baru beberapa menit percakapan berlangsung, Ratih berubah menjadi seseorang yang nyaris tidak dikenalnya. Nada suaranya meninggi. Tatapannya penuh kemarahan. Kata-katanya meluncur tanpa rem.
“Selama ini kau hanya berpura-pura baik. Kau penipu. Kau munafik. Kau menggunakan agama sebagai topeng. Bahkan, kau pantas diludahi.”
Kalimat demi kalimat menghantam Arga seperti batu yang dilemparkan tanpa belas kasihan. Hal yang paling menusuk bukanlah makian itu sendiri, melainkan tuduhan-tuduhan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut seseorang yang dahulu begitu memujanya.
Ratih menuduhnya telah menghabiskan hartanya. Setiap pemberian yang pernah diterimanya selalu Arga pertanyakan keikhlasannya. Tidak sedikit pemberian yang justru sempat ditolaknya. Ratihlah yang berulang kali meyakinkan bahwa semua itu dilakukan atas dasar kasih sayang, bukan untuk ditagih suatu hari nanti.
Demikian juga untuk beberapa bisnis kecil-kecilan, mereka bersepakat Arga yang mengelola. Juga urusan kerja sama dengan pihak ketiga.
Suatu hari kerja sama bisnis yang dikelola Arga dengan pihak ketiga kandas karena berbagai faktor. Namun, Arga kaget ketika Ratih meminta pertanggungjawaban atas kerugian itu. Bahkan, Ratih curiga dan menuduh Arga telah menyelewengan dananya.
Kini semua berubah menjadi daftar utang moral. Arga memilih untuk mengembalikannya pada saat yang tepat agar Ratih berhenti menghujat dan melukai batinnya. Arga tidak mau membalas dengan menyampaikan juga daftar kebaikannya pada Ratih.
Misalnya dulu, ketika Arga dan Ratih berdua bersepakat untuk mulai berumah tangga, ada saat di mana Ratih berada dalam kondisi rapuh mentalnya dan berada di titik nadir dalam kehidupannya. Argalah yang telah membantu memberinya motivasi sehingga semangat hidupnya pulih kembali.
Kondisi sekarang justru berubah drastis, bagai kata pepatah “kacang lupa kulitnya”. Lebih menyakitkan lagi ketika Ratih menuduh Arga sebagai pezina. Ia menyebut satu per satu nama perempuan yang pernah berinteraksi dengannya, lalu menganggap semuanya memiliki hubungan terlarang. Bahkan, perempuan yang kini telah menjadi istri sah Arga pun ikut diseret ke dalam tuduhan yang sama.
Arga memang mengakui bahwa ia telah menikah lagi. Keputusan itu tidak mudah. Ia sadar bahwa kenyataan tersebut melukai hati Ratih. Namun baginya, pernikahan adalah sesuatu yang sah menurut agama dan hukum. Ia tidak pernah menyembunyikannya ketika saatnya tiba untuk berkata jujur.
Sayangnya, kejujuran Arga itu justru menjadi pintu masuk lahirnya berbagai prasangka. Ratih merasa dikhianati. Merasa seluruh pengorbanannya dibalas dengan air tuba. Bahkan, dalam kemarahannya, ia tidak lagi mampu membedakan antara fakta dan dugaan. Arga hanya diam mendengarkan.
Lima belas tahun sebelumnya, mungkin ia sudah membalas semua tuduhan itu dengan kemarahan yang sama besar. Namun, waktu telah mengajarkannya bahwa tidak semua serangan harus dijawab dengan serangan. Tidak semua fitnah harus dipatahkan dengan pertengkaran.
Ketika Ratih selesai melontarkan seluruh amarahnya, Arga berdiri perlahan. Dengan suara yang tetap tenang ia berkata, “Aku tidak pernah menyangka, hari ini orang yang dahulu begitu menghormatiku justru meludahi kehormatanku dengan kata-kata. Berhati-hatilah terhadap fitnah, terutama ketika engkau menuduh seseorang melakukan dosa yang tidak pernah ia lakukan. Kelak kita semua akan berdiri di hadapan Allah, dan di sana tidak ada satu pun kata yang dapat disembunyikan.”
Arga mencoba mengingatkan Ratih yang kian tersulut emosinya dan bicaranya tidak lagi terkendali. Upaya Arga untuk merem Ratih, sia-sia, Ratih malah melebarkan sayapnya untuk mengungkap kisah rumah tangganya kepada senior Arga yang akhirnya turun tangan karena ada ucapan Ratih agar senior Arga dapat menjembatani dan mendudukkan perkara yang menurut Ratih telah “digantung” Arga. Tidak ada lagi kalimat setelah itu. Arga memilih pergi.
Sepanjang perjalanan pulang, bukan kemarahan yang memenuhi dadanya, melainkan kesedihan. Bukan karena ia kehilangan seseorang yang dicintainya, tetapi karena ia menyaksikan betapa cepatnya pujian dapat berubah menjadi kebencian ketika hati dikuasai prasangka.
Hari-hari berikutnya ia memilih diam. Arga tidak sibuk membersihkan namanya di hadapan manusia dan juga tidak membalas fitnah dengan fitnah. Baginya, ada saat ketika penjelasan hanya akan memperpanjang pertengkaran, sedangkan diam justru menjaga martabat.
Arga menyerahkan semuanya kepada Allah, Sang Maha Mengetahui isi hati manusia. Arga percaya, kebenaran mungkin berjalan lambat, tetapi ia tidak pernah tersesat. Fitnah mungkin mampu mengaburkan pandangan manusia, tetapi tidak akan mampu mengelabui Tuhan.
Sejak saat itu, Arga mengarahkan seluruh tenaganya untuk kembali berkarya, melayani masyarakat, dan menebarkan manfaat. Ia tidak ingin hidupnya habis hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang yang telah memutuskan untuk tidak lagi percaya.
Arga teringat sebuah pelajaran yang selalu dipegangnya: “Kehormatan sejati bukan ditentukan oleh pujian manusia, dan tidak pula hilang oleh makian manusia. Kehormatan sejati lahir dari hati yang tetap lurus di hadapan Allah, meski seluruh dunia salah memahami.”
Mungkin suatu hari nama baiknya akan dipulihkan, mungkin juga tidak. Namun, Arga telah berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua orang ditakdirkan memahami perjalanan hidupnya. Hal yang terpenting baginya kini hanyalah tetap menjaga niat, memelihara integritas, dan terus berbuat baik. Bukan manusia yang akan memberikan putusan terakhir, melainkan Allah Yang Maha Adil, yang tidak pernah keliru menimbang kebenaran.
***
Judul: Nilai Diriku yang Dipuja lalu Diludahi
Jurnalis: Febri Satria Yazid (FSY)
Editor: Jumari Haryadi