Edukasi Dana Darurat Bagi Siswa Menggunakan Bantuan Perhitungan Aplikasi AI

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Rabu (12/08/2026) –  Literasi keuangan tidak lagi cukup diajarkan ketika seseorang mulai bekerja atau memiliki penghasilan sendiri. Kebiasaan mengelola uang justru perlu dibangun sejak usia sekolah agar generasi muda terbiasa membuat keputusan finansial secara bijak.

Semangat tersebut diwujudkan tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Edukasi Dana Darurat bagi Siswa Menggunakan Bantuan Perhitungan Aplikasi AI” di SMK YPPS Sumedang.

Kegiatan menghadirkan Dr. Fajra Octrina, Dr. Andrieta Shintia Dewi, dan Desma Luluk sebagai pemateri. Para siswa diajak memahami pengelolaan uang saku, pentingnya menabung, sekaligus mengenal dana darurat sebagai salah satu bentuk persiapan menghadapi kebutuhan yang tidak terduga.

Kegiatan Tim Dosen Telkom University di SMK YPPS Sumedang – (Sumber: BJN)

Materi diberikan melalui contoh-contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan pelajar. Siswa belajar membedakan kebutuhan, keinginan, dan keadaan darurat. Misalnya, kebutuhan membeli alat belajar yang rusak, biaya transportasi mendesak, atau keperluan sekolah yang muncul di luar rencana.

Pentingnya edukasi semacam ini sejalan dengan perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terhadap literasi keuangan pelajar. Dalam hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, kelompok pelajar/mahasiswa tercatat memiliki indeks literasi keuangan 62,72 persen, termasuk kelompok dengan tingkat literasi keuangan relatif rendah.

Kegiatan Tim Dosen Telkom University di SMK YPPS Sumedang – (Sumber: BJN)

OJK juga terus mendorong budaya menabung sejak dini melalui berbagai program literasi keuangan. Pesannya sederhana: menabung bukan sekadar menyisakan uang, melainkan membiasakan diri menyisihkan uang untuk tujuan yang direncanakan.

Dalam kegiatan di Sumedang, siswa juga diperkenalkan pada fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan You Only Live Once (YOLO) yang dapat mendorong perilaku konsumtif dan pembelian impulsif. Mereka diajak berhenti sejenak sebelum membelanjakan uang: apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan, apakah harus dibeli sekarang, dan apakah pengeluaran tersebut muncul karena kebutuhan nyata atau sekadar mengikuti tren.

Salah satu strategi yang dikenalkan adalah “Pay Yourself First”, yakni menyisihkan sebagian uang untuk tabungan atau dana darurat sejak awal menerima uang saku. Dengan demikian, menabung tidak dilakukan berdasarkan sisa uang, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan finansial.

Menariknya, siswa juga diajak memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) untuk membuat simulasi dana darurat. Dengan memasukkan angka uang saku, pengeluaran penting, tabungan yang tersedia, dan target dana darurat, AI dapat membantu membuat simulasi jumlah tabungan serta memperkirakan waktu pencapaian target. Namun, AI ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengambil keputusan.

Tim Dosen Telkom University berfoto bersama siswa SMK YPPS Sumedang

Hasil perhitungan tetap perlu diperiksa dan disesuaikan dengan kondisi nyata. Siswa juga diingatkan agar tidak memasukkan data pribadi maupun informasi sensitif ke dalam aplikasi AI. Peringatan tersebut penting karena UNICEF menekankan bahwa penggunaan AI oleh anak menghadirkan peluang sekaligus risiko, terutama berkaitan dengan privasi, keamanan, dan perlindungan data pribadi.

Melalui kegiatan ini, tim dosen Telkom University berharap siswa tidak hanya memahami arti dana darurat, tetapi juga mulai membangun kebiasaan finansial yang sehat serta mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Sebab, membangun kesiapan finansial tidak selalu harus dimulai dengan jumlah uang yang besar. “Mulai kecil, tapi mulai sekarang.” Dari uang saku yang sederhana, kebiasaan menabung dapat tumbuh menjadi bekal penting untuk menghadapi masa depan.

***

Judul: Edukasi Dana Darurat Bagi Siswa Menggunakan Bantuan Perhitungan Aplikasi AI

Kontributor: Asep (HC) Arie Barajati

Editor: JHK