Sang Penjinak Warna dari Cimahi: Bahar Malaka, Pelukis Eksentrik yang Menaklukkan Kanvas dan Meraih Anugerah Kebudayaan

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Jumat (28/08/2026) – Tulisan berjudul “Sang Penjinak Warna dari Cimahi: Bahar Malaka, Pelukis Eksentrik yang Menaklukkan Kanvas dan Meraih Anugerah Kebudayaan” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).

Di sebuah sudut Kota Cimahi, ketika hiruk-pikuk kehidupan berjalan dalam ritmenya sendiri, ada seorang seniman yang memilih berbicara melalui warna. Ia tidak berpidato di podium, tidak pula mengajar di ruang kuliah. Namun, setiap goresan kuasnya mampu menyampaikan pesan yang kadang lebih lantang daripada ribuan kata. Dialah Bahar Malaka, perupa asal Cimahi yang namanya telah menjadi bagian penting dari perjalanan seni rupa di kota yang dijuluki Kota Tentara tersebut.

Bahar Malaka
Bahar Malaka saat melakukan Art Preformance di Kota Cimahi – (Sumber: BJN)

Nama aslinya Bahar Gunawan. Namun di kalangan seniman dan pecinta seni rupa, ia lebih dikenal sebagai Bahar Malaka. Sosoknya sederhana, jauh dari gemerlap popularitas. Akan tetapi, di balik kesederhanaan itu tersimpan keteguhan seorang seniman yang menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara jiwa, pengalaman hidup, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam banyak karyanya, Bahar tidak sekadar melukis objek. Ia melukis gagasan, kegelisahan, dan harapan. Bahkan, jejak sejarah yang membentuk kehidupan manusia.

Perjalanan panjang pelukis berambut gimbal ini di dunia seni rupa bukanlah kisah yang dibangun dalam semalam. Bahar Malaka dikenal sebagai pelukis otodidak yang menempuh jalan berkesenian dengan penuh ketekunan. Ia belajar dari kehidupan, dari pergaulan dengan sesama seniman, dari perenungan, dan dari keberaniannya untuk terus bereksperimen di atas kanvas. Baginya, melukis bukan sekadar profesi, melainkan cara hidup. Kanvas adalah ruang tempat ia menumpahkan pikiran, menyimpan kenangan, dan merawat nilai-nilai yang diyakininya.

Bahar Malaka

Di Kota Cimahi, nama Bahar Malaka juga tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan komunitas seni rupa. Ia tercatat sebagai salah satu pendiri Forum Pelukis Cimahi (FORKIS), sebuah komunitas yang lahir dari kepedulian para seniman terhadap kemajuan seni dan budaya daerah. Komunitas tersebut menjadi wadah penting bagi para pelukis untuk berkumpul, berdiskusi, berpameran, dan menumbuhkan semangat berkarya. Bahkan, Sanggar Lukis Teupas milik Bahar Malaka pernah menjadi salah satu pusat aktivitas kreatif para seniman Cimahi.

Dedikasi panjang itulah yang akhirnya mengantarkan Bahar Malaka menerima penghargaan bergengsi dari Pemerintah Kota Cimahi. Pada Anugerah Kebudayaan Kota Cimahi Tahun 2024, Bahar Malaka ditetapkan sebagai penerima penghargaan dalam kategori Pencipta dan Pengembang Kebudayaan.

Penghargaan Anugerah Kebudayaan Kota Cimahi diberikan kepada insan budaya yang dinilai memiliki kontribusi nyata dalam mengembangkan, melestarikan, dan memajukan kebudayaan daerah. Pengakuan itu bukan sekadar penghargaan personal, melainkan simbol penghormatan atas perjalanan panjang seorang seniman yang terus menjaga nyala kreativitas di tengah perubahan zaman.

Lukisan karya Bahar Malaka
Salah satu lukisan karya Bahar Malaka – (Sumber: BJN)

Sesungguhnya, nilai terbesar dari Bahar Malaka bukan terletak pada trofi atau piagam penghargaan yang diterimanya. Nilai terbesar itu berada pada konsistensinya menjaga marwah seni sebagai jalan peradaban. Pada saat banyak orang melihat lukisan hanya sebagai benda dekoratif, Bahar melihatnya sebagai medium untuk menyampaikan filosofi hidup. Ia menghadirkan karya-karya yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga mengajak penikmatnya berpikir, merenung, dan menemukan makna.

Bahar Malaka adalah contoh bahwa seni sejati tidak lahir dari kemewahan fasilitas, melainkan dari ketulusan hati. Ia membuktikan bahwa seorang pelukis daerah mampu memberi warna besar bagi kebudayaan kota tempatnya berpijak. Melalui karya-karyanya, ia telah menegaskan bahwa Cimahi bukan hanya kota industri dan militer, tetapi juga kota yang memiliki denyut seni yang kuat dan terus tumbuh.

Bahar Malaka
Salah satu aksi Bahar Malaka ketika tampil melukis secara langsung dalam sebuah acara di Kota Cimahi – (Sumber: BJN)

Di tengah arus zaman yang bergerak semakin cepat, sosok Bahar Malaka hadir laksana penjaga mercusuar kebudayaan. Ia mengingatkan kita bahwa kemajuan tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa. Bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi imajinasi dan kreativitas harus tetap dipelihara. Dan bahwa sebuah kota akan dikenang bukan hanya karena gedung-gedungnya yang menjulang, melainkan juga karena para seniman yang setia menyalakan cahaya kebudayaan di dalamnya.

Bahar Malaka telah melakukan itu sepanjang hidupnya. Dengan kuas di tangan dan filosofi di hati, ia terus menulis sejarah. Bukan dengan tinta, melainkan dengan warna-warna yang menjelma keabadian.

***

Judul: Sang Penjinak Warna dari Cimahi: Bahar Malaka, Pelukis Eksentrik yang Menaklukkan Kanvas dan Meraih Anugerah Kebudayaan

Penulis: Jumari Haryadi

Editor: JHK