BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom OPINI, Jumat (19/06/2026) ─ Artikel berjudul “Gen Z generasi berani: Melangkah ke Pasar Modal Mencari Arti dari Angka dan Laba” ini ditulis oleh Ina Agustiani, S.Pd., yang sehari-hari bekerja sebagai aktivis pendidikan dan pegiat literasi.
Mereka menyebutnya literasi finansial, modal kecil, mimpi besar,
klik jari jadi tiket menuju dunia spekulasi, namun di balik euforia,
ada ironi yang tersembunyi:
pasar modal bukan sekadar arena belajar,
ia bisa menjelma pusaran risiko.
Gen Z, engkau adalah generasi harapan, jadilah pelopor ekonomi berkeadilan,
bukan sekadar pemain grafik, tetapi penggerak perubahan,
yang meneguhkan takwa, dan menapaki jalan syariat.
Zaman terus berganti, pola kerja dalam dunia ekonomi juga mengikuti, dan ada satu yang menonjol, dialah generasi Z (Gen-Z) yang lahir antara tahun 1997-2012 tampil sebagai wajah baru dalam dunia pasar modal Jawa Barat. Diperkuat dengan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan investor baru dari kalangan muda khususnya gen Z bermunculan. Tentunya dengan kemudahan akses digital dan promosi masif dari berbagai platform investasi.

Kepala Unit Pengelolaan Efek PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), A.M. Anggita Maharani menuturkan bahwa Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah investor terbesar dari 38 provinsi di Indonesia, yaitu sebanyak 5,53 juta orang. Kota Bandung menduduki posisi ke empat dengan jumlah investor mencapai 403.573 atau 7,30%, didominasi oleh investor muda berusia kurang dari 30 tahun dan 31-40 tahun dengan total 71,99%.
Dari sisi pekerjaan, investor di Kota Bandung didominasi oleh profesi karyawan swasta, pegawai negeri, TNI, guru, polisi dan pensiunan dengan total 33,93, dan paling banyak lulusan SMA sebanyak 42,2 %. Fenomena ini punya beragam refleksi, apakah dominasi Gen Z di pasar modal pertanda kemajuan literasi finansial atau ironi dari sistem ekonomi yang menormalisasi sektor non-riil dengan fluktuasi besar?
Mencari Biang Masalah
Fenomena ini menunjukkan dua pandangan, satu sisi meningkatnya partisipasi Gen Z adalah tanda positif, mereka melek finansial, berani ambil risiko, aktif mengelola aset. Namun di sisi lain, pasar modal yang saat ini bercorak kapitalis seringnya menjerat investor muda dalam spekulasi jangka pendek.
Para ahli telah mengkritisi sistem sekuler dan kapitalistik dalam ekonomi. Prof. Joseph Stiglitz ─ peraih Nobel Ekonomi, menegaskan bahwa pasar bebas tanpa regulasi yang kuat cenderung menciptakan ketidakadilan. Dr. Anas Malik menyebut bahwa kapitalisme global menjadikan investasi sebagai arena spekulasi, bukan pembangunan riil. Ini menunjukkan bahwa sistem yang ada belum sepenuhnya berpihak pada keadilan sosial.
Gen Z yang dominan di pasar modal dengan jiwa menggebunya, terkadang masih labil, bisa jadi bukan karena mereka benar-benar memahami esensi investasi, melainkan karena dorongan tren, terlihat prestise di mata sirkelnya. Melihat promosi influencer dan janji keuntungan cepat. Ironi muncul ketika semangat muda justru diarahkan pada spekulasi yang tidak nyata, bukan pada pembangunan ekonomi produktif yang jelas ada yang dihasilkan, membutuhkan sumber daya manusia untuk menggerakan pekerjaannya.
Terlalu cepatnya Gen Z mengambil spekulasi bisa jadi karena tekanan finansial yang tidak bisa dilepaskan dari sistem kapitalis yang lebih mengembangkan sektor finansial yang spekulatif, dibandingkan dengan sektor riil yang butuh lapangan kerja. Sektor pasar modal, properti spekulatif adalah hasil dari sektor non-riil. Jika tidak diimbangi dengan sektor riil, seperti pertanian, industri atau manufaktur, sudah dipastikan memicu krisis lapangan kerja yang disebut financialization (finansialisasi ekonomi).
Pertumbuhan hanya terlihat kuat di atas kertas tanpa memberi angka signifikan manusia yang bekerja. Kapitalisme juga menempatkan materi sebagai standar kebahagiaan yang mengarah ke hedonisme. Punya keinginan kuat untuk menikmati kesenangan instan, hiburan, belanja barang bermerk, tergoda melebihi kemampuan. Akhirnya terjebak di pinjaman kartu kredit, pinjol, dan pay later.
Melangkah dengan menaiki satu demi satu tangga di sektor riil tidak berani ambil resiko, atau tetap bertahan di dunia bisnis spekulatif yang minim risiko ingin instan, itulah gambaran pemuda saat ini.
Dalam sistem demokrasi kapitalisme negara hanya bertindak sebagai regulator yang menunjuk pihak swasta untuk mengelola aset negara, negara mendapat imbalan dari para pekerja.
Skema Islam
Negara dalam perspektif Islam hadir sebagai benteng penyelamat, datang bervisi akhirat untuk melayani kepentingan rakyat, termasuk Gen Z dan millenial. Negara wajib mengatur, memberi dan melayani kebutuhan dasar rakyat untuk menjamin kehidupannya seperti sandang, pangan papan.
Rasulullah saw. mengingatkan, “Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka dan kemiskinan mereka, Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Maryam).
Dengan pendidikan akan diedukasi bahwa sumber finansial harus didapat dengan cara makruf dan sesuai hukum syara. Tentunya negara menyediakan lapangan pekerjaan yang luas. Islam menempatkan investasi bukan sekedar mencari untung, tetapi orientasinya pada keberkahan dan keadilan. Di antaranya investsai harus bebas dari riba, gharar (ketidakjelasan) dan maysir (spekulasi). Kemudian dana umat dikelola untuk proyek produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan bukan hanya spekulasi pasar.
Seperti firman Allah, ”Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (Q.S. Thaha [20]:124).
Sebagai generasi muda seorang muslim memunculkan ketaatan pada setiap aktivitasnya karena letaknya kebahagiaan bukan untuk dunia saja, melainkan ada dimensi akhirat yang abadi.
Negara hadir menemani atas kesejahteraan rakyat dengan mengelola sumber daya alam kategori umum seperti tambang, hutan, laut, dan melarang penyerahan harta milik umum pada individu atau swasta. Pajak tidak pernah ada agenda harian negara, kecuali jika hal terdesak seperti kas negara kosong, itu pun dibebankan pada orang kaya dan mampu saja. Hasilnya adalah kesempatan luas membangun industri strategis seperti kilang minyak, tambang, pertanian, alutsista yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, serta mendorong keterampilan rakyat.
Bayangkan jika diteruskan rantai ini, seorang anak usia 20-an dengan gawai di tangan, membuka aplikasi investasi, melihat setiap waktu grafik naik-turun berharap untung besar. Ternyata sistem itu jalannya salah karena terjebak di arena spekulasi yang menguras semangat dan tabungannya. Dari sini kita belajar bahwa harta adalah titipan, bukan sekadar alat mencari laba. Investasi seharusnya menjadi jalan untuk membangun masyarakat, bukan sekadar menambah angka di portofolio.
Kenyataannya Gen Z di pasar modal Jawa Barat adalah fakta yang tak bisa diabaikan, cita-cita mandiri secara finansial dengan skema Islam bukan sebuah keniscayaan melainkan makin cepat menjadi kenyataan. Wallahu A’lam.
***
Judul:Gen Z generasi berani: Melangkah ke Pasar Modal Mencari Arti dari Angka dan Laba
Penulis: Ina Agustiani, S.Pd.
Editor: JHK
Sekilas Penulis
Ina Agustiani, S.Pd. adalah seorang penulis wanita yang aktif sebagai pendidik dan pegiat literasi di Jawa Barat. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media massa online, di antaranya tulisan berjudul “Putus Sekolah Putus Harapan: Jabar Tertinggi” yang dimuat di media online inijabar.com pada Rabu, 11 Oktober 2023.
Tulisan Ina Agustiani, S.Pd. lainnya berjudul “Derita Keluarga dan Pendidikan di Masa Pandemi” yang terbit di media online radarindonesianews.com pada 29 Desember 2020. Tulisan ini dibuat saat wabah Pandemi Covid-19 sedang melanda Indonesia. Kemudian tulisan berjudul “Merdeka Belajar, Tapi Tak Merdeka Kritik” yang terbit pada 10 November 2020 di media yang sama.
Kemudian tulisan tentang pendidikan berjudul “Saat Kisruh Zonasi Masih Mendominasi” terbit di Suara Muslimah Jabar pada 29 Juli 2023 dan tulisan berjudul “Sawang Sinawang Turunnya Kemiskinan di Jawa Barat” yang terbit di media online terasjabar.co pada 2 Agustus 2023.