BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Jumat (19/06/2026) – Artikel berjudul “Godzilla El Nino dan Sampah Butuh Solusi Mengakar” merupakan karya tulis Ummu Fahhala, S. Pd., seorang Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi yang tinggal di Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Fenomena El Nino pada 2026 kembali mengingatkan manusia pada keterbatasannya. Sebagian pihak bahkan menyebut kemungkinan “Godzilla El Nino” untuk menggambarkan dampak yang besar. Walau peluang ekstrem dinilai kecil, ancaman tetap nyata. Perubahan pola hujan dan peningkatan suhu membawa konsekuensi serius. Dampak tersebut menjalar ke sektor lain. Air menjadi terbatas. Produksi pangan menurun. Biaya meningkat. Ketergantungan pada sumber daya luar memperburuk keadaan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali menggelar langkah koordinatif dalam menghadapi persoalan lingkungan. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memimpin rapat penanganan sampah dan mitigasi kemarau panjang tahun 2026. Pertemuan berlangsung di Markas Besar TNI Angkatan Darat pada Kamis, 4 Juni 2026. Agenda ini memperlihatkan keseriusan menghadapi dua isu yang saling berkaitan. (Bisnis.com, 5 Juni 2026).

Peristiwa ini mengajak kita untuk tidak sekadar melihat apa yang tampak. Persoalan sampah dan ancaman El Nino bukan sebagai kejadian mendadak. Ia merupakan hasil dari proses panjang yang sering luput dari perhatian. Para ahli telah memberi peringatan. Peneliti BRIN, Eddy Hermawan (Kompas.com, 22 Mei 2026) menyampaikan bahwa potensi El Nino ekstrem masih terbatas. Namun, ia tetap menekankan pentingnya kesiapan.
Lingkungan selalu merespons cara manusia mengelolanya. Ketika kebijakan hanya berfokus pada hasil cepat, keseimbangan sering terabaikan. Lahan berubah fungsi tanpa perhitungan matang. Ruang terbuka hijau menyusut. Sumber daya dimanfaatkan tanpa batas yang jelas. Semua ini berjalan perlahan, tetapi pasti.
Kemudian, persoalan sampah menjadi bukti nyata. Produksi meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Namun, pengelolaan tidak berkembang sebanding. Sistem yang ada lebih banyak memindahkan masalah, bukan menyelesaikan. Akibatnya, beban lingkungan terus bertambah. Saat kondisi ekstrem datang, beban itu berubah menjadi krisis. Dalam situasi ini, terlihat bahwa persoalan lingkungan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sistem ekonomi dan kebijakan yang lebih luas.
Solusi Islam
Islam memandang alam sebagai amanah yang harus dijaga. Manusia tidak hanya memanfaatkan, tetapi juga merawat. Kepemimpinan memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ini. Rasulullah saw. bersabda, “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (H.R Bukhari). Hadis ini menegaskan bahwa tanggung jawab tidak berhenti pada tindakan saat krisis, tetapi juga pada pencegahan.
Islam mengatur pengelolaan sumber daya dengan prinsip keberlanjutan. Negara memastikan lahan dimanfaatkan secara optimal. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (H.R. Tirmidzi dan Abu Dawud). Prinsip ini mendorong produktivitas sekaligus mencegah penelantaran.
Negara juga hadir untuk membantu masyarakat. Petani mendapat dukungan, baik dalam bentuk modal maupun teknologi. Distribusi kebutuhan diatur agar tidak terjadi ketimpangan. Dengan pendekatan ini, masalah tidak dibiarkan membesar sebelum ditangani.
Lebih jauh, Islam menekankan pentingnya kemandirian. Ketahanan pangan tidak dibangun dari ketergantungan, tetapi dari kekuatan internal. Negara mengelola sumber daya secara adil dan merata. Jika terjadi kekurangan di satu wilayah, wilayah lain membantu. Sejarah mencatat bagaimana Khalifah Umar bin Khaththab mengatasi krisis dengan solidaritas antarwilayah.
Pendekatan ini menciptakan keseimbangan yang lebih kokoh. Lingkungan terjaga. Produksi stabil. Masyarakat terlindungi. Kebijakan tidak hanya merespons masalah, tetapi juga mencegahnya sejak awal.
Penutup
Akhirnya, persoalan sampah dan El Nino bukan sekadar isu teknis. Ia adalah cermin yang memantulkan cara manusia mengelola amanah. Ketika cermin itu retak maka hal yang perlu diperbaiki bukan hanya permukaannya, tetapi juga cara kita melihatnya. Dari sana, perubahan yang lebih mendasar dapat dimulai secara perlahan, tetapi pasti. (Ummu Fahhala).
***
Judul: Godzilla El Nino dan Sampah Butuh Solusi Mengakar
Penulis: Ummu Fahhala, S. Pd., Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi
Editor: JHK