BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Rabu (17/06/2026) – Artikel “Catatan Diskusi: Refleksi 25 Tahun Pemajuan Budaya di Kota Cimahi” karya Didin Tulus yang merupakan seorang penulis/pengarang, penggiat buku, dan kini tinggal di Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat.
Dua puluh lima tahun bukanlah angka kecil. Ia adalah rentang waktu yang cukup untuk menakar arah, menimbang capaian, sekaligus menguji konsistensi sebuah kota dalam memajukan kebudayaan. Cimahi, kota yang lahir dari denyut sejarah militer dan tumbuh di tengah arus urbanisasi Bandung Raya, kini berdiri di persimpangan pertanyaan: sudahkah kita naik kelas, atau masih berputar di lingkaran yang sama?
Jejak Sejarah dan Identitas
Cimahi memiliki warisan yang khas: gedung-gedung kolonial yang masih tegak, jejak tangsi militer, hingga permainan tradisional yang pernah meramaikan halaman kampung. Namun, warisan itu sering kali hanya menjadi latar foto atau catatan arsip, belum sepenuhnya dihidupkan sebagai energi budaya. Ajip Rosidi pernah menulis, “Budaya itu bukan benda mati, ia harus dihidupkan dalam keseharian.” Pertanyaannya, apakah Cimahi telah berhasil menghidupkan warisan itu dalam denyut kehidupan warganya?
Festival dan Agenda Budaya
Selama dua dekade lebih, Cimahi memang tidak sepi dari festival. Ada parade seni, lomba menulis, hingga pameran kerajinan. Tetapi, banyak kegiatan berhenti sebagai seremoni tahunan, tanpa kesinambungan yang menumbuhkan ekosistem kreatif. Seorang seniman lokal pernah berujar, “Kami tampil, difoto, lalu hilang dari ingatan.” Kritik ini menyinggung bahwa pemajuan budaya tidak cukup dengan panggung sesaat, melainkan perlu ruang berkelanjutan yang memberi napas bagi komunitas.
Literasi dan Generasi Muda
Literasi menjadi salah satu tolok ukur penting. Cimahi memiliki potensi besar: sekolah, kampus, dan komunitas pembaca. Namun, apakah anak-anak SMP dan SMA di Cimahi sudah akrab dengan memoar, catatan perjalanan, atau karya kreatif yang lahir dari kotanya sendiri? Jika belum, maka pemajuan budaya masih sebatas slogan. Pramoedya Ananta Toer pernah mengingatkan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai karya tulisnya sendiri.” Cimahi perlu menjawab tantangan ini dengan serius.
Kebijakan dan Infrastruktur
Dalam 25 tahun, pemerintah kota memang membangun ruang publik, taman, dan gedung serbaguna, tetapi apakah ruang itu benar-benar menjadi pusat kebudayaan? Atau sekadar tempat singgah tanpa program yang berkelanjutan? Infrastruktur fisik tanpa roh budaya hanya akan menjadi bangunan kosong. Di sinilah letak ujian: apakah kebijakan budaya Cimahi mampu melampaui sekadar laporan kegiatan dan benar-benar menyentuh masyarakat?
Refleksi dan Harapan
Maka, refleksi 25 tahun ini menuntut kejujuran. Cimahi belum sepenuhnya “naik kelas” dalam pemajuan budaya. Ada langkah maju, tetapi juga banyak jalan di tempat. Budaya Cimahi masih mencari bentuk, masih berjuang agar tidak sekadar menjadi catatan pinggir dari Bandung. Harapan ke depan adalah lahirnya strategi yang lebih organik: menghidupkan tradisi, memperkuat literasi, memberi ruang bagi seniman muda, dan menjadikan budaya sebagai denyut utama kota.
Pada akhirnya, pemajuan budaya bukanlah soal angka tahun, melainkan soal keberanian untuk menanam akar dan merawatnya. Cimahi punya modal sejarah, punya komunitas, punya generasi. Tinggal satu pertanyaan yang harus dijawab bersama: apakah kita siap menjadikan budaya sebagai jalan utama, bukan sekadar jalan di tempat?
***
Judul: Catatan Diskusi: Refleksi 25 Tahun Pemajuan Budaya di Kota Cimahi
Penulis: Didin Tulus, Penggiat Buku tinggal di Kota Cimahi.
Editor: JHK
Sekilas Info Penulis
Didin Tulus lahir di Bandung pada 14 Maret 1977. Ia menghabiskan masa kecilnya di Pangandaran, tempat ia menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertama. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA YAS Bandung.

Setelah lulus SMA, Didin Tulus melanjutkan pendidikannya di Universitas Islam Nusantara (Uninus) Fakultas Hukum. Selain itu, ia juga menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, jurusan Seni Rupa.
Aktifitas dan Karir
Didin Tulus memiliki pengalaman yang luas di bidang penerbitan dan kesenian. Ia pernah menjadi marketing pameran di berbagai penerbit dan mengikuti pameran dari kota ke kota selama berbulan-bulan. Saat ini, ia bekerja sebagai editor di sebuah penerbitan independen.
Pengalaman Internasional
Didin Tulus beberapa kali diundang ke Kuala Lumpur untuk urusan penerbitan, pembacaan sastra, dan puisi. Pengalaman ini memperluas wawasannya dan membuka peluang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan komunitas sastra internasional.
Kegiatan Saat Ini
Saat ini, Didin Tulus tinggal di kota Cimahi dan aktif dalam membangun literasi di kotanya. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kesenian dan sastra.
Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman yang luas, Didin Tulus telah membuktikan dirinya sebagai seorang yang berdedikasi dan berprestasi di bidang kesenian dan penerbitan.
***