BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (07/05/2026) – Artikel berjudul “Refleksi Hardiknas: Saatnya Jujur Melihat Buramnya Wajah Pendidikan” ini ditulis oleh Lilis Suryani yang berprofesi sebagai seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Putra Sukamanah Sejahtera yang beralamat di Jalan Sasak Besi No 4, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat.
Setiap 2 Mei, peringatan Hari Pendidikan Nasional kembali digelar dengan penuh seremoni. Pidato optimisme disampaikan, harapan masa depan pendidikan digaungkan. Namun, di tengah perayaan itu, publik tidak bisa menutup mata terhadap realitas yang justru mengundang keprihatinan. Dunia pendidikan kita hari ini sedang tidak baik-baik saja.
Berbagai fakta menunjukkan kemunduran yang nyata. Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan terus meningkat. Bahkan, melibatkan pelajar dan mahasiswa. Sekolah dan kampus yang semestinya menjadi ruang aman justru kerap menjadi tempat yang rawan. Di sisi lain, praktik kecurangan akademik seperti joki ujian dan plagiat semakin meluas dan seolah menjadi hal biasa. Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan cerminan rapuhnya integritas dalam dunia pendidikan.

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar. Generasi muda yang diharapkan menjadi tulang punggung masa depan justru terjebak dalam perilaku destruktif. Bahkan, relasi antara siswa dan guru pun mengalami pergeseran yang mengkhawatirkan. Rasa hormat terhadap pendidik kian memudar, tergantikan oleh sikap permisif yang kadang berujung konflik hingga ke ranah hukum.
Situasi ini seharusnya menjadi alarm keras. Hardiknas tidak cukup dimaknai sebagai perayaan simbolik, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi mendasar. Ada persoalan serius dalam arah dan implementasi pendidikan kita. Sistem yang ada tampaknya belum mampu melahirkan generasi yang utuh yaitu cerdas sekaligus berkarakter. Sebaliknya, muncul kecenderungan lahirnya individu yang pragmatis, serba instan, dan minim kompas moral.
Tidak bisa dimungkiri, orientasi pendidikan saat ini cenderung berfokus pada capaian material dan kompetisi semata. Ukuran keberhasilan seringkali direduksi menjadi nilai, gelar, dan pekerjaan, sementara pembentukan karakter ditempatkan di pinggiran. Dalam konteks ini, praktik curang menjadi “jalan pintas” yang dianggap lumrah. Nilai kejujuran, tanggung jawab, dan etika perlahan tergerus.
Di sisi lain, penegakan aturan yang lemah turut memperburuk keadaan. Banyak pelanggaran serius yang dipandang sebagai kenakalan biasa sehingga tidak memberikan efek jera. Pada saat yang sama, pendidikan nilai terutama yang bersumber dari ajaran agama, belum mendapat porsi yang memadai. Akibatnya, kebebasan yang berkembang tidak diimbangi dengan tanggung jawab moral.
Dalam perspektif yang lebih mendasar, pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencerdaskan, tetapi juga membentuk manusia yang berkepribadian. Misalnya dalam tradisi Islam, pendidikan dibangun di atas fondasi akidah yang kuat. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan individu yang cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan moral yang tinggi.
Sejarah menunjukkan bagaimana pendidikan berbasis nilai mampu membentuk generasi yang berintegritas. Misalnya Rasulullah saw. memulai proses pendidikan dengan menanamkan keyakinan yang benar sebelum mengajarkan aturan hidup. Ketika muncul pemahaman keliru di masyarakat, seperti anggapan bahwa gerhana berkaitan dengan kematian seseorang, beliau meluruskannya dengan penjelasan rasional dan berbasis wahyu. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak boleh lepas dari nilai kebenaran.
Beliau saw. mengatakan kepada mereka, “Sungguh matahari dan rembulan merupakan dua ayat dari ayat-ayat Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian maupun kehidupan seseorang. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Lebih jauh, pendidikan yang ideal tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga membentuk kepribadian yang selaras antara pola pikir dan perilaku. Dalam konsep Islam, ini dikenal sebagai pembentukan syakhsiyah yaitu kepribadian yang utuh. Dengan fondasi ini, seorang pelajar tidak hanya memahami mana yang benar, tetapi juga terdorong untuk mengamalkannya. Dari sinilah integritas lahir.
Selain itu, sistem pendidikan yang sehat memerlukan dukungan penegakan aturan yang adil dan tegas. Tanpa itu, pelanggaran akan terus berulang. Lingkungan yang kondusif juga penting, di mana nilai-nilai kebaikan menjadi budaya bersama, bukan sekadar wacana. Dalam hal ini, peran negara, keluarga, dan masyarakat harus berjalan seiring.
Keluarga adalah fondasi pertama pendidikan, lingkungan menjadi ruang pembiasaan, dan negara bertanggung jawab memastikan sistem berjalan dengan arah yang benar. Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ketika sinergi ini terbangun di atas nilai yang kokoh maka pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia cerdas, tetapi juga berintegritas.
Refleksi Hardiknas semestinya menjadi titik balik. Keberanian untuk jujur melihat masalah adalah langkah awal menuju perbaikan. Jika akar persoalan tidak disentuh maka krisis ini akan terus berulang dari tahun ke tahun. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan utamanya: membentuk manusia yang utuh yaitu cerdas secara intelektual, kuat secara moral, dan memiliki arah hidup yang jelas.
***
Sekilas tentang Penulis
Lilis Suryani adalah seorang guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Yayasan Putra Sukamanah Sejahtera yang beralamat di Jalan Sasak Besi No 4, Desa Gadobangkong, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat. Disela-sela kesibukan mengajar, ia sering menulis artikel opini yang berkaitan dengan hal-hal yang tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat.

Sebagai seorang pendidik, Lilis berpikir harus peka terhadap apa yang tengah terjadi di tengah masyarakat. Hal ini merupakan salah satu bentuk kepeduliannya terhadap masa depan generasi muda yang ada di daerahnya.
Beberapa karya tulis dalam bentuk artikel (opini) yang telah dibuat Lilis tertuang dalam naskah-naskah yang sudah tersebar diberbagai media online di Jawa Barat, di antaranya Walimedia.Id, Dobrak.co, Inijabar.com, Kabarfajar.com dan banyak lagi media lainnya. Ia berharap tulisannya bisa menjadi penerang bagi para pembaca media online di tanah air. (Lilis Suryani).
***
Judul: Refleksi Hardiknas: Saatnya Jujur Melihat Buramnya Wajah Pendidikan
Penulis: Lilis Suryani, Guru dan Pegiat Literasi
Editor: JHK