BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI, Sabtu (05/09/2026) – Tulisan berjudul “Mang Ujang La’ip: Menjaga Ingatan Sunda dari Goresan Aksara” ini adalah sebuah artikel populer karya Jumari Haryadi atau biasa disingkat J. Haryadi. Ia merupakan seorang penulis, jurnalis, pendiri Komunitas Penulis Kreatif (KPKers) Indonesia dan Komunitas Penulis Cimahi (Kompeni).
Siapa yang tak kenal dengan Mang Ujang La’ip di Kota Cimahi? Pria paruh baya yang bernama lengkap Yudistira Purana Shakyakirti ini memiliki kemampuan membaca lebih dari 32 aksara dan termasuk manusia langka yang patut dilestarikan ilmunya. Pemerintah Kota Cimahi sendiri menempatkannya sebagai tokoh/maestro aksara Sunda yang masih aktif berkarya dan melibatkan dirinya dalam pengembangan pembelajaran aksara Sunda di kota tersebut.
Tak banyak orang yang mau mempelajari sesuatu yang sudah berlalu atau hal-hal yang dianggap kuno dan ketinggalan zaman. Namun, berbeda dengan Mang Ujang La’ip. Pria yang satu ini justru mendedikasikan hidupnya dengan kembali ke masa lalu, mencari sesuatu yang hampir hilang, lalu membawanya pulang untuk diperkenalkan kepada generasi hari ini.

Mang Ujang La’ip bukan pejabat. Bukan juga pengusaha. Bukan akademisi yang setiap hari berada di ruang kuliah. Ia hanya manusia biasa yang kebetulan memiliki ilmu warisan dari leluhurnya yang musti dibagikan ke generasi masa kini yang mulai kehilangan jati diri.
Secara formal, pendidikan Mang Ujang La’ip tidak tinggi-tinggi amat, seperti halnya kaum intelektual yang memiliki pangkat dan deretan gelar yang panjang. Ia hanya lulusan sekolah teknik menengah (STM) – sekarang berubah menjadi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) yang pernah bekerja sebagai buruh harian lepas. Namun, perjalanan hidupnya mempertemukan dirinya dengan dunia yang jauh lebih luas: kebudayaan, aksara, sastra Sunda, dan naskah-naskah kuno. Di situlah kisahnya menjadi menarik.
Di tengah Kota Cimahi yang tumbuh bersama gedung-gedung modern, jalan raya, pusat perdagangan dan teknologi digital, Mang Ujang justru memilih merawat sesuatu yang bagi sebagian orang tampak seperti masa lalu: aksara. Bukan sekadar belajar membaca dan menulis. Ia menekuni aksara sebagai bagian dari identitas. Sebagai ingatan. Sebagai jalan untuk memahami bagaimana manusia Sunda pada masa lampau menyimpan pengetahuan dan memandang kehidupan.
Dalam sebuah wawancara dengan sebuah media online, Mang Ujang La’ip pernah berkata, “Aksara daerah bukan hanya simbol komunikasi, melainkan ciri, jati diri, dan kebanggaan sebuah bangsa atau suku bangsa.”
Pemikiran itulah yang tampaknya menjadi napas panjang perjalanan kebudayaan Mang Ujang La’ip.
Ketika Seorang Buruh Memasuki Dunia Naskah
Perjalanan Mang Ujang tidak lahir dari jalan yang lurus. Sebelum dikenal sebagai penggiat aksara dan budaya, ia memiliki pengalaman panjang dalam dunia kerja dan organisasi. Pada dekade 1980-an hingga 1990-an, ia aktif dalam organisasi buruh di Kabupaten Bandung. Ia pernah menjadi Ketua PC SBPP DPC FBSI Kabupaten Bandung, kemudian Ketua PC SBLK DPC FBSI, dan selanjutnya menjadi pengurus DPC SPSI Kabupaten Bandung.
Ada pengalaman lain yang ikut membentuk dirinya. Ia pernah mengikuti pendidikan dasar manajemen koperasi, pelatihan motivator koperasi buruh, serta sejumlah pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan motivasi dan produktivitas. Mungkin justru dari sanalah terbentuk kebiasaan untuk belajar dan berorganisasi. Pada akhirnya, perjalanan itu membawanya ke dunia kebudayaan.

Sejak 2008, Mang Ujang dipercaya memimpin Perkumpulan Gentra Pamitran Cimahi. Sejak saat itu, namanya semakin lekat dengan kegiatan pelestarian aksara dan seni budaya Sunda. Ia juga tercatat sebagai anggota Kawargian Abah Alam dan pengurus bidang pendidikan PANCANAKA Kabupaten Bandung.
Kemampuannya pun tidak berhenti pada Aksara Sunda yang dikenal masyarakat sekarang. Ia mempelajari Carik Sunda, Sunda Baku, Carakan, Cacarakan, Pegon, dan Kawi, serta aksara Buda/Gunung/Buyut. Mungkin bagi orang awam, semua itu terdengar seperti istilah yang asing, tetapi bagi Mang Ujang, setiap aksara adalah pintu. Ya, pintu menuju sebuah zaman. Pintu menuju suara leluhur. Mungkin juga pintu menuju pertanyaan sederhana: siapa kita sebenarnya?
Aksara yang Tidak Mau Mati
Ada ironi dalam perjalanan aksara Sunda. Di satu sisi, Jawa Barat memiliki tradisi literasi daerah yang panjang. Di sisi lain, aksara tersebut tidak lagi menjadi bagian utama komunikasi sehari-hari masyarakat modern.
Latin menjadi dominan. Telepon pintar menjadi tempat orang menulis. Pesan dikirim dalam hitungan detik. Anak-anak tumbuh bersama layar dan algoritma. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan aksara lama tentu bukan pekerjaan ringan, tetapi Mang Ujang La’ip tidak memilih untuk mengurung aksara di museum. Justru ia membawanya keluar.
Mang Ujang La’ip menjadi pemateri sosialisasi Aksara Sunda di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran pada 2013. Ia mengikuti berbagai kegiatan bedah naskah, seminar sejarah dan filologi, workshop kebudayaan, pelestarian naskah kuno, serta kegiatan literasi aksara daerah. Namanya kemudian semakin sering muncul dalam berbagai kegiatan kebudayaan di Cimahi dan sekitarnya.
Pada 2018, ia terlibat dalam pembuatan lukisan kaligrafi Aksara Buhun berukuran besar di Gedung Pendopo DPRD Kota Cimahi. Pada tahun yang sama, Pemerintah Kota Cimahi menganugerahkan Anugerah Seni Budaya Kota Cimahi kepadanya dalam kategori Seni Sastra dan Aksara.
Tidak berhenti di situ. Mang Ujang La’ip ikut memprakarsai batik aksara dengan tipe Carakan dan Ratu Pakuan. Ia menjadi penerjemah segel hibah tahun 1950 dari aksara Cacarakan berbahasa Sunda ke aksara Latin berbahasa Indonesia. Ia menyelenggarakan workshop seni Tarawangsa, menjadi inisiator kegiatan Hari Aksara Internasional, dan tampil sebagai narasumber berbagai forum mengenai aksara daerah.

Pemerintah Kota Cimahi pun kemudian semakin sering melibatkan Mang Ujang dalam kegiatan kebudayaan. Bahkan, dalam Pekan Kebudayaan Daerah Kota Cimahi 2023, workshop Aksara Sunda bersama Mang Ujang menjadi salah satu rangkaian kegiatan. Pemkot menyebut pekan kebudayaan tersebut sebagai ruang untuk mengembangkan, melestarikan dan mempromosikan potensi budaya daerah.
Menyalin Masa Lalu agar Bisa Dibaca Masa Kini
Ada satu pekerjaan Mang Ujang La’ip yang mungkin jauh lebih sunyi daripada tampil di panggung kebudayaan. Ia menyalin naskah kuno. Di sinilah ketekunan seorang penggiat budaya benar-benar diuji.
Naskah-naskah yang dikerjakan Mang Ujang La’ip bukan sekadar tulisan biasa. Dalam daftar karyanya terdapat sejumlah naskah yang dialihaksarakan, antara lain Wawacan Seccanala, Wawacan Elmu Nyawah, Wawacan Katrangan Miara Lauk Cai, Wawacan Tauhidullah, Wawanén Jeung Kasatiaan, Pangéran Kornél, Demang Dongkol, Guguritan Laut Kidul dan Hikayat Siti Tawadud.
Budayawan Kota Cimahi ini juga menyalin sejumlah naskah penting seperti Bujangga Manik, Carita Parahyangan, Sewaka Darma/Kawih Panyaraman, Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Sanghyang Sasana Maha Guru dan Amanat Galunggung.
Pekerjaan seperti ini membutuhkan kesabaran yang berbeda dengan pekerjaan kebanyakan orang. Membaca huruf lama berarti harus berdamai dengan waktu. Harus teliti terhadap setiap bentuk karakter. Harus memahami bahasa dan konteksnya. Satu goresan yang keliru bisa mengubah pembacaan.

Ketika seseorang menyalin naskah kuno, sesungguhnya ia sedang melakukan lebih dari sekadar pekerjaan teknis. Ia sedang menjadi jembatan antara dua zaman dan Mang Ujang La’ip menjalani peran tersebut.
Pada 2024, Mang Ujang La’ip bekerja sama dalam kegiatan penyalinan naskah kuno. Dalam dokumennya tercatat pula keterlibatan dalam berbagai kegiatan alih wahana dan pelestarian manuskrip.
Pemerintah Kota Cimahi juga mencatat pelestarian dan penyalinan sejumlah naskah Sunda kuno, termasuk Bujangga Manik, Carita Parahyangan, Sewaka Darma, Sanghyang Siksa Kandang Karesian dan Sanghyang Sasana Maha Guru.
Dengan demikian, apa yang dikerjakan Mang Ujang La’ip bukan hanya menyelamatkan bentuk tulisan. Ia ikut menyelamatkan kemungkinan bagi generasi berikutnya untuk membaca kembali pikiran manusia dari masa lampau.
Dari Rumah, Sekolah, hingga Ruang Pemerintahan
Menariknya, Mang Ujang La’ip tidak membatasi kegiatan pada kalangan tertentu. Ia datang ke sekolah. Ia hadir di komunitas. Ia berbicara di forum pemerintah. Ia masuk ke pesantren. Ia berdiskusi dengan akademisi. Ia mengisi kegiatan kebudayaan.
Berbagai aktivitas Mang Ujang La’ip dari berbagai kegiatan yang memberinya peran sebagai narasumber, antara lain Art and Sundanese Day di lingkungan SMP-SMA Bersama Darul Hikam, Pendidikan Keaksaraan Daerah bersama Pondok Pesantren Mukhul Ibadah Kadaun Seureuh, Workshop Aksara Sunda di Technopark Cimahi, Talkshow “Kenal Aksara Sunda Yuk”, hingga kegiatan BISA FEST yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Pada 2024, Mang Ujang La’ip juga menjadi narasumber dalam talkshow tentang alih wahana naskah kuno yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Bandung. Pada tahun yang sama Mang Ujang La’ip dan Mang Ino bersama beberapa penggiat aksara lainnya terdaftar sebagai Penggiat Aksara dan Naskah Kuno Kabupaten Bandung berdasarkan Surat Keputusan Bupati Bandung Nomor: 000.5.1/KEP.652-DISPUSIP/2024 tentang Penetapan Penggiat Aksara dan Naskah Kuno Kabupaten Bandung yang ditandatangani Pjs. Bupati Kabupaten Bandung, Dikky Achmad Sidik pada 25 Oktober 2024.

Tahun 2025 dan 2026 pun bukan akhir perjalanan. Mang Ujang La’ip masih menjadi pemateri dalam kegiatan kebudayaan dan naskah kuno. Bahkan, pada Januari 2026, ia tampil sebagai pemateri sekaligus penyelenggara utama kegiatan “Mupusti Tradisi ku Pangarti” dengan tema Ngararat Naskah Wangsakerta: Pustaka Radya-radya i Bhumi Nusantara. Beberapa bulan kemudian, ia kembali berbicara mengenai Sasakala Karajaan Kendan.
Jadi, ketika orang menyebut Mang Ujang La’ip sebagai “maestro aksara Sunda”, sebutan itu tidak muncul tanpa perjalanan. Bahkan, Pemerintah Kota Cimahi sendiri menyebutnya sebagai maestro Aksara Buhun dan berharap pembelajaran aksara Sunda terus dikembangkan Mang Ujang La’ip bersama Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).
Ketika Kesalahan Satu Huruf Menjadi Persoalan Identitas
Peran Mang Ujang La’ip dalam menjaga aksara juga terlihat ketika muncul polemik mengenai penulisan aksara Sunda pada gapura lingkungan Pemerintah Kota Cimahi pada Januari 2026. Persoalannya bukan semata-mata soal bentuk huruf. Ada perbedaan antara aksara yang digunakan dengan aksara yang sebelumnya telah dipasang pada sejumlah penanda jalan di Cimahi.
Mang Ujang La’ip menilai persoalan semacam itu perlu mendapat perhatian karena aksara yang ditampilkan di ruang publik membawa konsekuensi terhadap identitas budaya kota. Pihak Pemkot Cimahi kemudian menyatakan akan memperbaiki penulisan tersebut dan mengarahkan penggunaan Aksara Sunda Buhun dengan merujuk pada arahan Mang Ujang La’ip.
Peristiwa itu sebenarnya memberi pelajaran penting bahwa aksara bukan dekorasi. Ia bukan sekadar ornamen agar sebuah bangunan tampak lebih “Sunda”. Ketika aksara diletakkan di ruang publik, ia menjadi bagian dari representasi identitas masyarakat. Oleh karena itu, satu huruf pun dapat memiliki arti dan satu kesalahan pun dapat menjadi persoalan.
Menjaga yang Hampir Dilupakan
Di tengah perjalanan panjang itu, mungkin ada satu hal yang membuat Mang Ujang La’ip berbeda. Ia tidak sekadar berbicara tentang kebudayaan. Ia mengerjakannya. Pelan-pelan. Kadang sunyi. Kadang jauh dari sorotan, tetapi terus-menerus.
Mang Ujang La’ip belajar dari naskah. Ia membaca aksara. Ia menyalin manuskrip. Ia mengajar anak-anak. Ia berdiskusi dengan akademisi. Ia mendampingi kegiatan pemerintah. Ia menghidupkan kembali aksara di ruang publik.
Beberapa media yang menulis tentang perjalanan panjang Mang Ujang La’ip menyebut bahwa ia berusaha membawa aksara Sunda keluar dari buku dan museum agar kembali bersentuhan dengan kehidupan masyarakat. Bahkan, pelatihan dan workshop disebut dilakukan secara rutin dan gratis untuk memperkenalkan aksara kepada generasi muda.
Di sinilah makna pengabdian itu terasa. Sebab kebudayaan tidak selalu hilang karena dihancurkan. Kadang ia hilang karena ditinggalkan. Tidak lagi digunakan. Tidak lagi diajarkan. Tidak lagi dianggap penting.
Aksara bisa saja tetap tersimpan rapi dalam museum, tetapi jika tidak ada lagi yang dapat membacanya, ia perlahan berubah menjadi benda bisu. Mang Ujang La’ip memilih jalan yang berbeda. Ia ingin aksara tetap bersuara. Ia ingin huruf-huruf itu kembali bertemu dengan manusia: anak sekolah, generasi muda, dan masyarakat. Bahkan, bertemu dengan generasi masa depan yang saat ini belum dilahirkan.
Lelaki yang Menjaga Sebuah Pintu
Kini, pria yang sudah memasuki usia 60-an ini masih berjalan dengan pekerjaan yang sama: menjaga agar aksara tidak benar-benar menjadi fosil. Bahkan, ia telah menyerahkan salah satu bagian penting dari hasil kerjanya kepada lembaga kebudayaan.
Pada 2012, Mang Ujang La’ip menghibahkan satu jilid naskah Kitab Primbon Buhun berbahan daluang dan beraksara Pegon berbahasa Sunda kepada Museum Jawa Barat Sri Baduga Bandung. Pada 2024, salinan Carita Parahyangan juga tercatat diserahkan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat.
Ada kebahagiaan tersendiri dalam tindakan semacam itu. Apa yang ditemukan dan dipelajari tidak berhenti menjadi milik pribadi. Ia dikembalikan kepada publik. Dikembalikan kepada sejarah. Dikembalikan kepada generasi yang akan datang.
Barangkali itulah alasan mengapa kisah Mang Ujang La’ip layak dibaca bukan sekadar sebagai profil seorang budayawan Cimahi. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang seorang manusia biasa yang memilih mengerjakan sesuatu yang luar biasa sunyi: menjaga ingatan.
Ketika dunia berlari menuju masa depan, Mang Ujang La’ip justru sesekali menoleh ke belakang. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk memastikan masa depan tidak kehilangan akar.
Sebuah bangsa boleh memiliki gedung tinggi, teknologi canggih dan kota yang modern. Namun, jika ia kehilangan bahasa, aksara, cerita dan ingatan tentang leluhurnya, ada bagian dari dirinya yang perlahan akan hilang.
Mang Ujang La’ip memahami itu. Oleh karena itu ia terus membaca, terus menulis, terus mengajarkan, terus menyalin, dan terus mengingatkan. Di tangannya, aksara bukan sekadar bentuk. Ia adalah denyut kebudayaan.
Di tengah hiruk-pikuk Cimahi yang terus berubah, pria sederhana itu seperti sedang menjaga sebuah pintu tua agar tetap terbuka—pintu yang menghubungkan kita dengan masa lalu, sekaligus mengingatkan bahwa masa depan yang kokoh hanya mungkin dibangun oleh manusia yang tahu dari mana ia berasal.
***
Judul: Mang Ujang La’ip: Menjaga Ingatan Sunda dari Goresan Aksara
Penulis: Jumari Haryadi
Editor: JHK