Kisah Pilu dari Dusun Kareung: Diterjang Air Bah

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Artikel/Opini, Senin (08/12/2024) – Artikel berjudul “Kisah Pilu dari Dusun Kareung: Diterjang Air Bah” ini ditulis oleh Beni Mardani, seorang guru, penulis, dan aktivis sosial yang saat ini tinggal di Aceh.

Pagi itu, di Dusun Kareung, Gampong Buket Linteung, Langkahan, suasana berubah dalam sekejap dari tenang menjadi horor yang mematikan. Hujan deras yang mengguyur hulu selama berjam-jam telah mengirimkan kabar buruk: gelombang air bah telah tiba. Warga yang terbiasa dengan banjir musiman segera menyadari bahwa kali ini berbeda. Ini bukanlah genangan, melainkan dinding air cokelat keruh yang datang dengan kecepatan dan kekuatan yang menakutkan.

Dalam hitungan menit, teriakan-teriakan panik mulai memecah keheningan, “Air! Air sudah naik! Cepat ke Meunasah!”

Beni Mardiani
Penulis bersama para pengungsi korban banjir bandang – (Sumber: koleksi pribadi)

Keluarga-keluarga berhamburan keluar dari rumah mereka. Tidak ada waktu untuk berpikir tentang apa pun selain nyawa. Para pengungsi bercerita dengan mata berkaca-kaca tentang detik-detik mengerikan itu, “Kami bahkan tidak sempat mengambil satu helai kain pun. Hanya bisa menggendong anak dan lari. Suara gemuruh air seperti auman raksasa di belakang kami.”

Mereka berlomba melawan waktu, air sudah setinggi lutut dan terus naik dengan cepat. Prioritas utama adalah bangunan tertinggi: Meunasah dan beberapa bangunan permanen lainnya. Mereka mendaki tangga, berdesakan di lantai dua, berharap ketinggian itu akan menjadi batas aman dari amukan alam.

Kesaksian Pilu dari Ketinggian, ketika ratusan warga telah berhasil berkumpul di Meunasah. Rasa lega sesaat itu segera digantikan oleh pemandangan yang menghancurkan jiwa. Dari atas sana, mereka menyaksikan tragedi yang tak terbayangkan. Gelombang air bah yang ganas itu benar-benar menyeret Dusun Kareung.

Beni Mardiani
Di kamp pengungsian mendengar cerita dari warga Bukit Linteung saat gelombang air besar menimpa kampung mereka – (Sumber: Koleksi pribadi)

Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rumah-rumah mereka ─ tempat mereka tumbuh dan menyimpan seluruh kenangan, kini berubah menjadi mainan bagi arus deras. Dinding kayu dan papan yang kokoh perlahan menyerah, terlepas dari fondasi, lalu hanyut dalam pusaran air.

Mereka melihat atap rumah Pak Abdullah yang berwarna biru perlahan terbalik dan menghilang. Mereka menyaksikan lemari, kursi, kasur, dan benda-benda perabotan rumah lainnya mengambang tak berdaya. Bahkan, termasuk hewan ternak. Tangisan histeris dan isak tangis mulai terdengar di dalam Meunasah. Bukan karena kedinginan, tetapi karena kesedihan yang tak tertahankan.

“Kami berdiri di sana, seperti menonton film bisu yang paling mengerikan. Kami melihat rumah kami, harta benda kami, segala yang kami bangun seumur hidup, dibawa pergi oleh sungai lumpur itu,” kenang seorang ibu dengan suara bergetar.

Harta benda—sawah, perabot, surat-surat berharga, semuanya lenyap. Dalam satu pagi, mereka menjadi orang asing bagi tanah mereka sendiri.

Penantian di Tengah Peningkatan Debit Air

Sejak pagi hari, para pengungsi telah mengirimkan kabar dan memohon bantuan segera. Mereka tahu Meunasah tidak akan selamanya aman jika debit air terus meningkat. Permintaan utama mereka adalah speed boat untuk mengevakuasi mereka ke bukit yang lebih tinggi dan mereka yakini benar-benar aman. Namun, kendala logistik membuat harapan itu terasa jauh. Hanya ada satu speed boat yang tersedia untuk mengevakuasi seluruh dusun.

Waktu berlalu dengan sangat lambat. Pagi berganti siang, lalu menjelang sore. Di setiap jam yang lewat, kepanikan semakin memuncak karena, Debit Air Terus Meninggi: Air di luar Meunasah terus naik. Para pria mulai memindahkan barang-barang ke bagian atap yang lebih tinggi, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Kelelahan dan Kelaparan: Anak-anak mulai menangis karena lapar dan kedinginan. Para lansia mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan ekstrem.

Ketika speed boat yang sangat dinantikan itu akhirnya tiba habis siang atau menjelang sore, situasi sudah sangat kritis. Proses evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan cepat, satu per satu, mengangkut mereka ke Bukit Aman.

korban banjir aceh
Menyalurkan bantuan kepada warga Dusun Kareung Desa Buket Linteung Kecamatan Langkahan, Aceh Utara – (Sumber: Koleksi pribadi)

Evakuasi yang memakan waktu lama ini menjadi ujian ketabahan terakhir mereka karena setiap detik penantian di atas bangunan tinggi itu adalah pertaruhan nyawa, diapit oleh keputusasaan melihat sisa-sisa kehidupan mereka yang telah hancur total di bawah sana. Saat mereka di jemput di Meunasah debit air sudah sepinggang orang dewasa dengan kekhawatiran dan rasa cemas yang tinggi mereka pelan² naik speed boat.

Mereka tiba di Bukit Aman sebagai orang-orang yang kehilangan segalanya, tetapi dengan satu hal yang tersisa: nyawa dan ikatan komunitas yang kuat.

Warga Dusun Buket Kareung dari dari 103 KK, kini yang tersisa tinggal sembilan rumah, sementara rumah yang lainnya sudah berantakan di bawa gelombang. Semoga saudara-saudara kami sabar dan tabah atas cobaan musibah ini. (Beni Mardani).

***

Judul: Kisah Pilu dari Dusun Kareung: Diterjang Air Bah
Penulis: Beni Mardani
Editor: JHK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *