Ketika Kuas Itu Terdiam: Nasirun dan Warisan Kemanusiaan yang Tak Pernah Pudar

BERITA JABAR NEWS (BJN), Rubrik OPINI/ARTIKEL/FEATURE, Selasa (04/08/2026) – Artikel berjudul “Ketika Kuas Itu Terdiam: Nasirun dan Warisan Kemanusiaan yang Tak Pernah Pudar” merupakan karya Jehaka Barajati, seorang penulis berdarah Baturaja (Provinsi Sumatra Selatan) dan Kediri (Provinsi Jawa Timur) yang kini berdomisili di Kabupaten Bandung Barat.

Tidak semua seniman memiliki nasib yang beruntung, memiliki banyak karya, kaya raya, dan terkenal. Tidak semua seniman juga memiliki pandangan yang luas tentang kehidupan dan kehadirannya bisa diterima banyak orang. Nasirun adalah salah satunya.

Kepergian Nasirun menghadap Sang Khalik pada 1 Agustus 2026 meninggalkan kesunyian yang tidak mudah diterjemahkan dengan kata-kata. Dunia seni rupa Indonesia kehilangan seorang maestro, tetapi sesungguhnya yang pergi bukan hanya seorang pelukis besar. Kita kehilangan seorang manusia yang menjadikan seni sebagai jalan hidup, ruang perjumpaan, dan cara untuk merawat sesama.

Nasirun
Almarhum Pelukis Nasirun (1 Oktober 1965 – 1 Agustus 2026) – (Sumber: BJN)

Kuas yang selama puluhan tahun bergerak di atas kanvas kini telah terdiam. Namun warna-warna yang pernah ia lahirkan seakan masih berbicara. Garis-garis yang pernah ia goreskan masih menyimpan jejak pergulatan batin, kegembiraan, doa, humor, dan kecintaan yang mendalam terhadap kehidupan.

Pelukis yang sangat bersahaja ini telah meninggalkan ruang fisik, tetapi ia tidak benar-benar pergi. Nasirun tinggal dalam karya-karyanya, dalam kenangan para sahabat, dan dalam semangat para pelukis muda yang pernah belajar dari ketekunan, serta kemurahan hatinya.

Siapa Nasirun?

Nasirun lahir di Karangwangkah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada 1 Oktober 1965. Ia tumbuh dari lingkungan sederhana yang membentuk kepekaan sekaligus ketangguhan dirinya. Masa kecilnya tidak selalu berjalan dalam kelimpahan. Ada keterbatasan yang harus dihadapi, ada perjuangan yang harus dijalani, dan ada keprihatinan yang perlahan membentuk cara pandangnya terhadap manusia. Namun, dari tanah sederhana itulah tumbuh seorang seniman besar.

Suami dari Supartilah ini tidak lahir dari kemewahan galeri atau gemerlap dunia seni. Ia tumbuh dari kehidupan yang dekat dengan masyarakat, tradisi, dan pengalaman sehari-hari. Kesederhanaan menjadi akar yang tidak pernah ia cabut, bahkan ketika namanya telah dikenal luas dan karya-karyanya memperoleh penghargaan tinggi di dunia seni rupa.

Perjalanan Nasirun menuju dunia seni membawanya ke Yogyakarta, sebuah kota yang kemudian menjadi rumah bagi pertumbuhan kreativitasnya. Sebelum mendalami seni lukis, ia pernah mempelajari kriya batik. Ia juga belajar dari lingkungan seni yang hidup di berbagai sudut Yogyakarta. Jalanan, kampung, ruang-ruang perjumpaan seniman, hingga denyut budaya masyarakat menjadi bagian dari sekolah kehidupan yang membentuk kepribadian dan bahasa visualnya.

Nasirun
Pelukis Nasirun (1 Oktober 1965 – 1 Agustus 2026) – (Sumber: BJN)

Nasirun kemudian menempuh pendidikan di Akademi Seni Rupa Indonesia atau ASRI Yogyakarta dan menyelesaikan pendidikannya pada 1994. Perjalanan akademik itu memperkuat keterampilannya, tetapi tidak menghilangkan sifat liar dan bebas dalam proses kreatifnya. Ia tidak sekadar melukis berdasarkan teori. Ia melukis dengan pengalaman, ingatan, kegelisahan, keyakinan, dan perjumpaan panjang dengan kehidupan.

Dari sana, perjalanan profesional Nasirun berkembang dengan penuh ketekunan. Ia mengikuti berbagai pameran kelompok dan menggelar pameran tunggal di sejumlah kota. Karyanya tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga hadir dalam berbagai ruang seni di luar negeri. Namanya semakin diperhitungkan sebagai salah satu pelukis penting Indonesia dengan gaya yang khas, kuat, dan sulit disamakan dengan siapa pun.

Ayah dari tiga anak Ima Bunga Insan Sani, Yudhistira Nurul Asmi, dan Nawarna Ratna Mutu ini dikenal melalui karya-karya yang memadukan berbagai unsur: tradisi Jawa, mitologi, dunia spiritual, tokoh-tokoh imajiner, simbol kehidupan, serta pengalaman manusia yang kadang jenaka, kadang ganjil, tetapi selalu penuh makna. Dalam kanvasnya, batas antara kenyataan dan khayalan sering kali melebur. Sosok manusia dapat berubah menjadi makhluk imajinatif. Bentuk-bentuk yang tampak sederhana dapat menyimpan renungan yang dalam.

Karya Nasirun tidak selalu meminta untuk dipahami secara harfiah. Ia mengajak penonton memasuki ruang perasaan. Di sana, setiap orang dapat menemukan tafsirnya sendiri. Mungkin itulah salah satu kekuatan Nasirun: ia tidak memaksa orang untuk melihat dunia dengan cara yang sama. Ia memberi ruang bagi imajinasi untuk tumbuh. Ia membiarkan lukisan berbicara dengan bahasa yang bebas, sebagaimana kehidupan yang tidak pernah sepenuhnya dapat dijelaskan oleh satu sudut pandang.

Menariknya, kebesaran Nasirun tidak hanya terletak pada karya dan pencapaian profesionalnya. Di tengah keberhasilan yang diraih, ia tetap dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Ketika karya-karyanya telah bernilai tinggi dan namanya telah berada di jajaran pelukis terkemuka, ia tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk menjauh dari kehidupan masyarakat. Kesederhanaan bukan sekadar penampilan, melainkan bagian dari wataknya.

Nasirun tetap dekat dengan banyak orang. Ia dapat berbincang dengan seniman senior maupun pelukis muda tanpa membangun jarak yang berlebihan. Ia memahami bahwa seni bukan menara yang berdiri jauh dari masyarakat. Seni harus tetap memiliki jalan pulang kepada manusia.

Sifat humanis itu tampak dari caranya menghargai sesama seniman. Nasirun tidak hanya membangun namanya sendiri, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya orang lain. Ia memahami bahwa dunia seni tidak akan berkembang apabila hanya dipenuhi persaingan. Seni membutuhkan kebersamaan, dialog, saling menguatkan, dan keberanian untuk berbagi pengalaman.

Bagi para pelukis muda, Nasirun meninggalkan pelajaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar teknik melukis. Ia mengajarkan bahwa menjadi seniman bukan hanya tentang menghasilkan karya yang indah atau mengejar pengakuan. Menjadi seniman berarti memiliki ketekunan untuk terus berkarya, keberanian untuk menemukan jati diri, dan kerendahan hati untuk tetap belajar. Seorang pelukis tidak harus meniru gaya orang lain agar diterima. Ia harus berani mendengarkan suara batinnya sendiri.

Nasirun juga menunjukkan bahwa kesuksesan tidak harus menghapus kesederhanaan. Seorang seniman boleh dikenal luas tanpa kehilangan kedekatan dengan akar kehidupannya. Seorang pelukis boleh memiliki karya bernilai tinggi tanpa merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan melalui popularitas, harga karya, dan pengakuan, keteladanan Nasirun menghadirkan pengingat yang penting: nilai seorang seniman tidak hanya terletak pada seberapa mahal lukisannya, tetapi juga pada seberapa besar kemanusiaan yang ia rawat.

Kepergian Nasirun dan Jejaknya yang Abadi

Kepergian Nasirun membuat dunia seni rupa Indonesia kehilangan salah satu warna penting. Akan ada ruang yang terasa kosong. Akan ada percakapan yang tidak lagi terdengar. Akan ada kanvas yang tidak lagi disentuh oleh tangannya. Namun, seni memiliki cara sendiri untuk melawan keterbatasan waktu.

Seorang pelukis mungkin berhenti menggenggam kuas, tetapi karya yang telah lahir akan terus berbicara kepada generasi berikutnya. Lukisan-lukisan Nasirun akan tetap hadir di ruang pamer, museum, galeri, koleksi, dan ingatan. Lebih dari itu, semangatnya akan terus hidup dalam diri para pelukis yang memilih untuk berkarya dengan jujur, rendah hati, dan penuh kasih kepada sesama.

Nasirun telah menunjukkan bahwa seorang seniman tidak harus menjadi manusia yang jauh dan sulit dijangkau. Ia dapat menjadi sahabat. Ia dapat menjadi guru. Ia dapat menjadi pengingat bahwa kreativitas yang besar seharusnya berjalan bersama kemanusiaan yang besar.

Saat kita mengenang Nasirun, jangan hanya mengenang lukisan-lukisannya. Kenanglah anak dari Cilacap yang tumbuh dari kesederhanaan, lalu menempuh perjalanan panjang hingga menjadi maestro. Kenanglah seorang seniman yang tidak berhenti mencari makna melalui warna dan bentuk. Kenanglah pribadi yang tetap dekat dengan manusia meskipun namanya telah menjulang tinggi.

Kepada para pelukis muda, warisan Nasirun mungkin dapat dirangkum dalam sebuah pesan sederhana, “Teruslah melukis, tetapi jangan kehilangan hati. Berkaryalah setinggi mungkin, tetapi tetaplah berpijak pada kemanusiaan. Temukan warna sendiri, tanpa melupakan orang-orang yang berjalan bersama.”

Kuas Nasirun memang telah terdiam. Namun warna-warnanya belum selesai berbicara. Ia telah pergi dari hadapan kita, tetapi jejaknya akan terus tumbuh dalam kanvas-kanvas masa depan.

Selamat jalan, Maestro. Terima kasih telah mengajarkan bahwa seni bukan hanya tentang menciptakan keindahan, melainkan juga tentang menjadi manusia yang mampu menghadirkan kehangatan bagi sesama.

***

Judul: Ketika Kuas Itu Terdiam: Nasirun dan Warisan Kemanusiaan yang Tak Pernah Pudar

Penulis: Jehaka Barajati

Editor: JHK