Disabilitas Mampu Menempuh Pendidikan Tinggi: Cahaya dari UNINUS

BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom Opini, Minggu (08/03/2026) – Tulisan berjudul “Disabilitas Mampu Menempuh Pendidikan Tinggi: Cahaya dari UNINUS“ adalah karya tulis Ricka Amelia atau akrab disapa Ericka, seorang disablitas penyandang  Cerebral Palsy yang telah menulis dua buah buku berjudul “Butiran Mutiara Hati” (Terbit Januari 2023) dan “Pelangi Menembus Kegelapan” (Terbit Maret 2024).

Assalamualaikum. Halo, saya Ericka. Walaupun saya disabilitas berkursi roda, tetapi saya mampu menempuh pendidikan tinggi.

Sejak kecil, kursi roda ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas saya. Cerebral Palsy mungkin telah membatasi gerak motorik dan membuat langkah kaki saya tidak seirama dengan yang lain. Namun, kondisi ini tidak pernah bisa mengurung jiwa saya. Di balik roda yang berputar perlahan ini, ada mimpi yang berlari sangat kencang.

UNINUS, kampus tempat saya kuliah dan menyongsong masa depan yang gemilang – (Sumber: kuliah-sabtu-minggu.com)

Menembus Tembok Keraguan

Sepanjang masa sekolah, saya kenyang dengan pandangan sebelah mata. Sering kali saya mendengar bisikan-bisikan yang menyangsikan: “Apakah Ricka sanggup?” atau “Kuliah itu berat, apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?”

Banyak orang memandang kursi roda saya sebagai simbol kelemahan, seolah-olah kecerdasan seseorang ditentukan oleh seberapa tegak ia berdiri. Namun, setiap kali keraguan itu datang, saya hanya tersenyum dalam hati. Saya memilih untuk tidak membiarkan kata-kata mereka menjadi tembok, melainkan menjadikannya anak tangga untuk naik lebih tinggi.

Menemukan Rumah di UNINUS

Langkah besar itu akhirnya membawa saya ke gerbang Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Di sinilah petualangan yang sesungguhnya dimulai. Di UNINUS, saya tidak hanya menemukan gedung-gedung tinggi, tetapi saya menemukan kedaulatan atas diri saya sendiri.

Di kampus ini, saya merasakan apa itu arti kesetaraan yang nyata. Saya tidak lagi merasa menjadi “orang luar”. Di UNINUS ini saya merengkuh sepenuhnya, hak pendidikan tanpa batas. Saya mendapatkan akses ilmu yang sama dengan teman-teman lainnya.

Aku berfoto di depan gerbang kampus tercinta, Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung – (Sumber: Koleksi pribadi)

Awalnya saya merasa takut tidak memiliki teman, tetapi mereka yang mendekati saya. Saya merasa sangat senang, serta merasa disetarakan karena saya mendapatkan banyak teman di kampus. Mereka sangat baik kepada saya. Bahkan, mereka suka membantu saya. Terima kasih ya teman teman sudah mau berteman dengan saya

Saya juga mendapatkan hak untuk bersuara. Di ruang-ruang diskusi, saya belajar untuk berani menyampaikan pendapat. Saya menyadari bahwa suara saya memiliki bobot yang sama dengan siapapun dan pendapat saya dihargai secara intelektual.

Kehangatan di Tengah Civitas Akademika

Hal yang membuat perjalanan ini begitu indah adalah orang-orang di dalamnya. Para dosen di UNINUS menyambut saya dengan tangan terbuka. Mereka sangat ramah, sopan, dan penuh dedikasi. Mereka melihat saya sebagai mahasiswi berpotensi, bukan sebagai beban.

Suasana kuliah yang hangat dan menyenangkan di kampus kebangganku, UNINUS – (Sumber: Koleksi pribadi)

Tak kalah mengharukan adalah teman-teman kuliah saya. Mereka adalah orang-orang hebat yang hatinya begitu luas. Mereka selalu ada untuk membantu, menemani saya berpindah ruangan, dan memastikan saya tidak pernah merasa sendirian.

Alhamdulillah, melalui mereka, saya bisa merasakan betapa indahnya menempuh pendidikan di lingkungan umum tanpa rasa minder sedikit pun.

Puncak Pembuktian: Sang Penerima Beasiswa

Perjuangan saya membuahkan hasil yang manis. Saya membuktikan bahwa untuk dihargai, kita tidak butuh belas kasihan, melainkan bukti nyata.

Nama saya akhirnya tercatat sebagai salah satu penerima beasiswa. Ini adalah tamparan bagi semua keraguan yang dulu dialamatkan kepada saya. Beasiswa ini bukan hanya tentang bantuan finansial, tapi tentang pengakuan bahwa Ricka dengan kursi rodanya, mampu bersaing secara akademik di level tertinggi. Awalnya hanya sebuah impian tetapi alhamdulillah kini menjadi kenyataan

Pesan Moral dari Ricka

Jangan pernah memandang para penyandang disabilitas itu tidak mampu melakukan banyak hal atau tidak layak berpendidikan. Bisa jadi, di balik keterbatasan itu, mereka memiliki banyak karya, pemikiran cemerlang, atau kemampuan yang luar biasa. Mereka bisa menempuh pendidikan tinggi seperti saya.

Jadi, jangan pernah takut untuk bermimpi setinggi langit ya sahabat-sahabatku. Ingatlah satu hal yang menjadi pegangan hidup saya: Diam bukan berarti tak mampu atau kalah, tetapi diam adalah perjalanan panjang untuk membuktikan bahwa kita bisa dan pada akhirnya, kita menang.

***

Judul: Disabilitas Mampu Menempuh Pendidikan Tinggi: Cahaya dari UNINUS

Penulis: Ricka Amelia

Editor: Jumari Haryadi

Sekilas tentang Penulis

Penulis dan Penyair bernama lengkap Ricka Amelia atau biasa di panggil  Ericka ini merupakan seorang mahasiswi Universitas Islam Nusantara (UNINUS). Wanita kelahiran Kota Cimahi pada 2 Maret 2005  ini sudah berusia 21 tahun.

Ricka Amelia atau biasa di panggil Ericka
Ricka Amelia atau biasa di panggil Ericka, Penulis – (Sumber: Arie/BJN)

Remaja putri yang hobi menulis, melukis, dan menyanyi ini adalah seorang cerebral plasy ─ Suatu kelainan kongenital pada gerakan, otot atau posisi yang disebabkan oleh perkembangan gerak yang tidak normal. Namun, Ericka selalu semangat, optimis, dan pantang menyerah agar dirinya bisa memotivasi orang-orang di luar sana yang memiliki kekurangan.

Ericka berharap setiap orang, siapa pun itu berhak memiliki impian karena menurutnya, mimpi itulah yang akan membawa kita ke masa depan yang lebih baik dan cerah.

Selain kuliah di UNINUS, Ericka juga aktif dalam berbagai komunitas, seperti Komunitas SPICE Indonesia, Matahati Indonesia, Komunitas Cerebral PlasyKayumanis Foundation, BBFT, dan Dilans Indonesia. Baginya, tiada hari tanpa kegiatan yang berarti. Hidup harus diisi dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat.

“Tapi saya berbeda dengan yang lain. Karena tangan saya masih kaku, saya menulis puisi menggunakan kaki di handphone. Meskipun itu tidak mudah, tapi saya harus syukuri, jalani saja seperti air yang mengalir. Saya yakin saya pasti bisa,” ungkap Ericka dengan penuh semangat.

Berbagai prestasi telah diraih Ericka. Semua itu merupakan hasil kerja kerasnya selama ini yang selalu berjuang tak mengenal waktu dan tak mengenal lelah. Beberapa prestasinya di antaranya adalah pernah di undang dalam sebuah acara inspiratif di MQTV dengan judul “Difabel Bisa Berkarya”.

Prestasi Ericka lainnya adalah menjuarai berbagai macam lomba dengan hasil juara 1. Ia juga sering diundang untuk mengisi beragam acara yang bertujuan untuk memotivasi orang lain. Bahkan ia juga sudah berhasil menerbitkan dua buah, yaitu buku berjudul “Butiran Mutiara Hati” (Terbit Januari 2023) dan “Pelangi Menembus Kegelapan” (Terbit Maret 2024).

Sosial media:

– IG @ricka_amelia02

Tiktok rickaamelia02

Youtube Ricka Amelia

***