BERITA JABAR NEWS (BJN) – Kolom OPINI, Kamis (02/07/2026) – Artikel berjudul “Depresi Gen Z Beralih ke Resistensi” ini ditulis oleh Suryani, seorang ibu rumah tangga kelahiran Jakarta yang kini menetap di Rancaekek, Kabupaten Bandung.
Fakta yg terjadi: Berbagai survei menunjukkan bahwa Generasi Z di Indonesia memiliki prevalensi kecemasan dan gangguan kesehatan mental yang paling tinggi. Faktor pemicunya beragam, mulai dari pengaruh media sosial hingga tekanan sosial, dan faktor-faktor lainnya.
Fenomena tersebut tidak terbatas pada Indonesia saja, melainkan terjadi secara global. Adanya ketidakpastian terkait karier dan masa depan menyebabkan Generasi Z bersikap lebih skeptis. Akan tetapi, dari kondisi tersebut justru muncul gelombang resistensi yang diprediksi dapat menjadi titik balik bagi generasi ini (Kompas.com 25/05/2026).

Akar permasalahannya
Krisis multidimensi yang terjadi saat ini menjadi pemicu utama kecemasan Generasi Z. Ketidakpastian ekonomi, sosial, dan politik membuat mereka tumbuh dengan rasa cemas terhadap masa depan.
Potensi Gen Z sebagai pemuda juga sering dilemahkan. Arus sekuleristik-kapitalistik menggerus jati diri mereka karena nilai hidup digeser menjadi materi dan citra di media sosial.
Kurangnya relasi dalam membangun interaksi di lingkungan keluarga pun menjadi salah satu faktor pemicu yang menyebabkan depresi dikalangan Gen Z. Mereka kehilangan rasa kepercayaan dari keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk mereka pulang. Tangki kasih sayang yang seharusnya terpenuhi ini justru tidak ada sama sekali bahkan tidak terjalin relasi antara anak dengan orang tua yang seharusnya menjadi pelindung utama.
Selain itu, negara dinilai abai dalam menjalankan fungsi riayah-nya untuk melindungi dan membina generasi. Alih-alih dirangkul, Gen Z justru sering mendapat stigma negatif dari generasi sebelumnya. Namun di sisi lain, kecemasan dan sikap kritis Gen Z bisa menjadi peluang.
Kesadaran terhadap masalah yang ada membuat mereka lebih berani bersikap resisten. Jika diarahkan dengan baik, hal ini dapat menjadi titik balik untuk bangkit menuju kondisi yang lebih ideal.
Solusi dari segala permasalahan
Islam adalah solusi atas krisis yang melanda dunia saat ini. Penerapan Islam secara menyeluruh akan mewujudkan Rahmatan lil ‘Alamin, yaitu membawa ketenangan, keadilan, dan keselamatan bagi seluruh manusia.
Bukti nyatanya ada di masa kejayaan Islam. Saat itu, generasi muda memiliki kepribadian Islam yang kuat sekaligus cakap dalam berbagai bidang ilmu, sehingga mampu memimpin peradaban dunia.
Keluarga adalah fondasi pertama dalam membentuk generasi. Karena itu, orang tua harus berperan penuh untuk mendidik, membina, dan membimbing anak-anaknya. Terutama seorang ibu yang kedudukannya sebagai madrasah pertama sangat menentukan arah masa depan anak.
Dalam sistem Islam, negara hadir sebagai pelindung dan pelayan umat. Negara wajib menjamin kebutuhan hidup rakyat secara adil, sehingga generasi muda bisa tumbuh tanpa rasa cemas. Oleh karena itu, pemuda hari ini harus disadarkan untuk berpegang teguh pada ajaran Islam dan dijadikan landasan sebagai pedoman hidup untuk bisa peka dan memikirkan kondisi umat. Dengan begitu, cita-cita masa depan emas tidak lagi menjadi angan-angan, tapi bisa diwujudkan.
***
Judul: Depresi Gen Z Beralih ke Resistensi
Penulis: Suryani, Ibu Rumah Tangga
Editor: JHK