Dari Indonesia ke Dunia: Buku Puisi Esai Denny JA Siap Hadir dalam 35 Bahasa

BERITA JABAR NEWS (BJN) – Jakarta, Selasa (14/07/2026) – Dunia sastra Indonesia kembali mencatatkan tonggak penting. Buku puisi esai karya Denny JA berjudul “Yang Menggigil dalam Arus Sejarah” akan diterjemahkan ke dalam 35 bahasa, menjadikannya salah satu proyek penerjemahan karya sastra Indonesia dengan cakupan bahasa terluas yang pernah dilakukan.

Rencana besar tersebut diumumkan Penerbit CBI setelah Denny JA menerima BRICS Award 2025 untuk kategori Inovasi Sastra. Penghargaan itu diberikan oleh sembilan juri internasional yang mewakili negara-negara anggota BRICS, setelah melalui proses seleksi terhadap ratusan nominasi dari berbagai belahan dunia.

Semula, penerjemahan hanya dirancang untuk bahasa negara-negara anggota BRICS. Namun, gagasan itu berkembang menjadi proyek global yang bertujuan menghadirkan kisah-kisah kemanusiaan kepada pembaca lintas bangsa dan budaya.

Ilustrasi: Denny JA dengan latar belakang buku karyanya – (Sumber: BJN)

Direktur Utama Penerbit CBI, Ari Nugroho mengatakan bahwa penerjemahan bukan sekadar proses mengalihkan bahasa, melainkan upaya membangun empati antarmanusia.

“Penerjemahan adalah jembatan yang memungkinkan pengalaman kemanusiaan dipahami oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya,” ujar Ari Nugroho.

Dari delapan buku puisi esai Denny JA yang telah tersedia dalam versi bahasa Inggris, penerbit memilih Yang Menggigil dalam Arus Sejarah karena dinilai mengangkat tema yang paling universal.

Buku tersebut memuat 15 puisi esai yang mengangkat berbagai tragedi besar dunia, mulai dari Perang Dunia I, Flu Spanyol, Revolusi Rusia, bom atom Hiroshima, Pembantaian Nanking, Revolusi Prancis, Holocaust, Ghetto Warsawa, perbudakan di Amerika Serikat, kelaparan besar di era Mao Zedong, Revolusi Kebudayaan Tiongkok, hingga kisah para boat people Vietnam.

Alih-alih menyoroti tokoh-tokoh besar atau para pemimpin dunia, karya ini justru menghadirkan suara mereka yang kerap terlupakan dalam catatan sejarah. Sosok seorang ibu yang kehilangan anak akibat bom Hiroshima, bocah Yahudi yang menjadi korban Holocaust, hingga keluarga pengungsi Vietnam yang bertaruh nyawa di Laut Cina Selatan menjadi wajah utama dalam narasi puisi-puisi tersebut.

Menurut Penerbit CBI, sastra memiliki kemampuan mengabadikan pengalaman manusia yang sering kali luput dari catatan sejarah resmi.

“Sejarah biasanya mencatat para pemenang, sedangkan sastra mengingat mereka yang nyaris terlupakan,” ungkap pihak penerbit.

Keistimewaan buku ini juga terletak pada bentuk puisi esai, sebuah genre yang memadukan kekuatan bahasa puitis dengan fakta sejarah melalui catatan kaki. Pendekatan tersebut memungkinkan pembaca tidak hanya memahami kronologi peristiwa, tetapi juga merasakan dimensi emosional yang dialami para korban.

Salah satu kisah yang dinilai paling menyentuh menceritakan keluarga Nguyen, pengungsi Vietnam yang berusaha menyelamatkan diri melalui Laut Cina Selatan. Dalam perjalanan penuh ancaman, seorang ayah hanya mampu meminta putrinya memejamkan mata dan membayangkan sebuah negeri yang aman sebagai penguat harapan.

Bagi penerbit, kisah-kisah semacam itu memiliki daya jangkau yang melampaui batas negara dan bahasa. Duka seorang ibu di Hiroshima, ketakutan seorang anak Yahudi, maupun harapan keluarga pengungsi Vietnam diyakini dapat dipahami oleh pembaca di berbagai belahan dunia.

“Bahasa utama buku ini sejatinya bukan bahasa Indonesia atau Inggris, melainkan bahasa kemanusiaan,” demikian penegasan Penerbit CBI.

Proyek penerjemahan akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama telah selesai dengan enam bahasa utama dunia, yakni Inggris, Prancis, Spanyol, Arab, Rusia, dan Mandarin. Keenam bahasa tersebut dipilih karena mewakili jumlah pembaca yang besar di berbagai benua sekaligus menjadi bahasa resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa serta bahasa kerja negara-negara BRICS.

Selanjutnya, tahap kedua akan memperluas penerjemahan ke 29 bahasa lainnya di kawasan Asia, Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan Oseania. Seluruh proses ditargetkan rampung pada akhir 2027 sehingga buku Yang Menggigil dalam Arus Sejarah tersedia dalam total 35 bahasa.

Seluruh edisi terjemahan nantinya akan dipublikasikan secara terbuka melalui Google Books, sehingga dapat diakses pembaca dari berbagai negara tanpa hambatan geografis. Format digital dipilih agar semangat universalitas dan pesan kemanusiaan yang diusung buku ini dapat menjangkau masyarakat dunia secara lebih luas.

Untuk merealisasikan proyek tersebut, Penerbit CBI menggandeng berbagai mitra penerjemahan serta bekerja sama dengan jaringan BRICS di Indonesia yang dikoordinasikan oleh sastrawan Sastri Bakry dalam inisiatif BRICS Literary Innovation.

Sementara itu, Denny JA menegaskan bahwa tujuan utama proyek ini bukan semata memperluas jangkauan karya sastra Indonesia, melainkan menyebarkan nilai empati kepada masyarakat dunia.

“Tiga puluh lima bahasa bukanlah tujuan akhir. Yang ingin saya sebarkan bukan sekadar puisi, melainkan kemampuan manusia untuk ikut merasakan penderitaan manusia lain,” ujar Denny JA.

***

Judul: Dari Indonesia ke Dunia: Buku Puisi Esai Denny JA Siap Hadir dalam 35 Bahasa

Sumber: Pers Release/Neneng Salbiah

Editor: Jumari Haryadi.

***