BERITA JABAR NEWS (BJN), Kolom SASTRA, Minggu (09/08/2026) – Cerita pendek (cerpen) berjudul “Pagi Sejuk yang Membakar” ini merupakan karya Sarkoro Doso Budiatmoko, seorang penulis dan pengarang, alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Iowa State University, Amerika Serikat.
Baru beberapa menit meninggalkan rumah untuk berangkat kerja, di tengah jalan Dewo sudah dimaki seorang remaja naik sepeda motor. Si remaja yang berseragam sekolah tampak terburu-buru, dari belakang menyalip lalu memperlambat laju motornya dan memepetnya. Tentu saja Dewo kaget dan sedikit oleng, lalu dengan spontan berteriak:,“Hati-hati, haaiiii….!”
Si remaja bukannya minta maaf, tetapi malah dengan nada ketus menyahut, “Oom, kalau pelan jalannya jangan di tengah, di pinggir sana,” kemudian ditambah dengan kata-kata tidak sopan, “Pakai otak Om!”
Setelah puas memaki, si remaja menggeber dan memacu motornya melaju kembali dengan cepat.
Dewo kaget, tetapi tidak menanggapi. Dia berkonsentrasi sepenuhnya pada jalan di depan. Seperti biasa, pagi itu jalan sangat ramai dipadati anak-anak berangkat sekolah dan orang-orang dewasa berangkat bekerja.
Dalam satu lirikan mata, Dewo melihat si remaja tadi ceroboh. Dia memakai helm, tetapi hanya nempel di kepala, pengikatnya tidak klik. Tas punggungnya tidak ditutup rapat dan celana panjang sebelah kiri tergulung sampai di atas mata kaki.
Pasti dia tadi berangkat dari rumah sangat buru-buru ingin cepat nyampai sekolah. Dia pasti juga lagi ketakutan, gerbang sekolah sudah keburu tutup sebelum dia tiba.
Dewo yang sudah hampir 40 tahun hadir di dunia ini merasa jengah dan mangkel dipisuhi anak sekolah yang umurnya jauh lebih muda. Benaknya ngedumel: seperti itukah perilaku anak-anak jaman sekarang? Memaki-maki orang lebih tua seenak perutnya sendiri tanpa rasa hormat. Orang tuanya apa tidak mengajari sopan santun?
Sambil terus jalan, ngedumel masih bersambung: ini akibat tidak ada pelajaran budi pekerti lagi.
Kepala Dewo pagi-pagi itu penuh dengan ngedumelan. Belum lagi kepalanya berhenti ngedumel, tiba-tiba ada motor lain mendekat dari kiri, memepetnya ke kanan dan lalu memaki, “Kalau lambat kayak bekicot, jalannya ntar siang Mas, sekarang mah lalu lintas lagi padat, jangan o’on Mas.”
Wuusshhh … Lelaki separuh baya ini memacu kembali motornya. Sepertinya dia juga takut terlambat masuk kerja. Takut gaji dipotong.
“Ya Allah, gini amat sih, hari apa ini?” Dewo lagi-lagi cuma bisa ngedumel, “Memangnya kalau takut terlambat naik motornya harus sragal-srugul kayak setan, yang bener aja!”
Hanya dalam hitungan menit, Dewo sudah menerima makian dari dua orang, anak sekolah dan bapak-bapak pekerja. Tua dan muda sama-sama kasar dan sama-sama suka memaki. Dewo sungguh tidak mengerti, bingung. Begitu gampang orang mengumbar caci-maki.
Dewo mau tepok jidat, tetapi kepalanya tertutup helm. Nggrundelnya dilanjut, “Gak yang tua, gak yang muda, gendeng semua.”
Lalu dalam beberapa detik, mendadak Dewo harus menekan rem kuat-kuat ketika persis di depannya seorang kakek naik ontel oleng ke kanan. Terlambat sedikit bisa menabrak. Kini habis sudah ketenangannya.

Dua makian yang dia dapat dan kakek oleng di depannya membuat hati tidak tenang. Dadanya terasa sesak dan detak jantungnya bertambah cepat. Benar-benar pagi hari yang sebenarnya sejuk tapi terasa panas membara.
Dewo sangat galau dan merasa perlu sejenak menenangkan diri. Meneruskan perjalanan dalam keadaan hati gelisah bisa berbahaya. Bisa celaka. Lelaki ini tidak mau mempertaruhkan kebahagiaannya.
Gak kuat aku, kata Dewo dalam hati. Dengan hati-hati dia lantas membawa motornya mlipir ke pinggir. Dia memutuskan untuk singgah sejenak ke warung di pinggir jalan. Di dekat warung ada beberapa orang berdiri menunggu datangnya angkutan umum. Lampu merah ada di depan sekitar 200 meter.
Dewo singgah untuk membuang rasa jengah. Jam tangan di tangan kirinya menunjukkan dia masih punya cukup waktu untuk minum.
Di pintu warung dia disambut ramah oleh emak-emak penjaga warung, “Silahkan duduk Pak, mau minum atau makan pagi?”
Melihat penampilannya, usia si emak ini sepertinya belum lima puluh tahun. Wanita ini mengenalkan nama lengkapnya yang panjang dan susah diingat, tetapi dia lebih suka dipanggil Mak Izah.
Warungnya bersih, semua makanan ditutupi untuk menghindari debu dan kotoran lain. Tersedia berbagai macam makanan dan minuman sederhana untuk para pelalu-lintas yang mampir sebentar seperti dirinya.
Dewo melepas helemnya lalu duduk di bangku kayu panjang. Tas punggungnya dia taruh di bawah di dekat kaki kanannya. Dia hembuskan nafas kuat-kuat layaknya melepas beban yang amat berat.
Setelah duduk nyaman, Dewo pesan, “Kopi hitam dengan sedikit gula Mak.”

Sambil menunggu kopi, dihelanya lagi napas panjang, dadanya agak lega. Diambilnya sebuah pisang goreng, dikunyahnya pelan-pelan menikmati hangat dan manisnya gorengan.
Mak Izah datang membawa secangkir kopi hitam, lalu menyorongkannya ke meja panjang tepat di depan Dewo duduk, sambil ngomong, “Kopinya Pak, silahkan.”
“Terimakasih Mak,” sahut Dewo, lalu diseruputnya kopi panas itu pelan-pelan.
Dewo benar-benar menikmati minuman favoritnya itu. Detaknya jantungnya kini mendekati normal.
Dewo mencoba mengajak ngobrol Mak Izah, “Jalannya ramai banget ya Mak.”
“Iya betul, apalagi pagi-pagi begini, orang-orang pada ngebut, gak peduli keselamatan Pak. Orang-orang kayak punya nyawa ganda saja,” kata Mak Izah.
“Iya, mereka gak sadar kalau sebenarnya mereka sedang membahayakan dirinya sendiri,” kata Dewo.
“Iya Pak, bukan hanya membahayakan diri, tapi juga orang lain,” suara Mak Izah tercekat, lalu disambung, “Sudah banyak makan korban, tapi orang tidak ada kapoknya.”
Mak Izah lalu terdiam. Kelopak matanya merembang tergenang air, mukanya berubah sendu.
Dewo bingung dan tengok kanan kiri. Dua lelaki di sebelah kanan dan kirinya juga angkat bahu. Dewo memberanikan diri bertanya, “Oh, maaf Mak, kenapa?”
“Tidak apa-apa, saya jadi ingat almarhum suami, di lampu merah depan sana dia meninggal menjadi korban tabrak lari,” jawab Izah.
“Oh maaf, semoga almarhum suami Mak husnul khotimah,” kata Dewo.
Berbisik lirih Dewo berkata, “Parah banget perilaku orang di jalan raya ya.”
“Iya, parah,” kata si bapak berbaju hitam di sebelahnya menyahut.
Mak Izah panjang lebar bercerita tentang dirinya. Cerita bahwa sejak kejadian itu dia sendirian menghidupi dua anak yang masih sekolah dan perlu banyak biaya. Belum lagi biaya-biaya keperluan hidup lainnya.
“Tidak menikah lagi Mak? Saya lihat Mak Izah wanita yang menarik,” tanya Dewo, tapi langsung diralat karena merasa pertanyaan itu tidak tepat waktu. Dia menyadari kelancangannya, lalu menyambung, “Oh, maaf Mak.”
“Oh gak papa Pak, saya tidak berpikir menikah lagi karena lebih memilih membesarkan anak-anak saja,” jawab Mak Izah dengan suara tegar.
Sesaat mereka yang ada di warung terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Suara kendaraan yang berseliweran di jalan raya terus terdengar tiada henti. Dari suara truk, bus, mobil hingga raungan motor dengan knalpot bronk.
“Kopinya nambah Pak?” Kata si Emak Warung memecah suasana.
“Boleh Mak,” jawab Dewo.
Sebetulnya Dewo sudah minum kopi di rumah. Dia biasa memulai hari dengan segelas kopi hitam. Minuman itu memberinya semangat dan energi tambahan sebelum beraktifitas.
Entah berapa gelas kopi dia minum dalam satu hari. Di tempat kerja pun dia minum kopi. Di tengah waktu kerjanya juga minum kopi. Ketika di rumah kerja lembur, dia juga minum kopi. Bahkan, kalau orang minum kopi supaya melek, dia malah minum kopi supaya cepat tidur.
Tak perlu waktu lama, Mak Izah sudah datang menyajikan secangkir kopi tambahan dan menawarkan makan pagi, “Sarapan Pak, ada mendoan hangat dan sayur kangkung.”
“Tidak Mak,” timpal Dewo sambil menatap mata Mak Izah yang masih sembab.
Untuk basa-basi, Dewo menawari dua lelaki di warung yang dari tadi duduk tenang irit omong, “Mari bapak-bapak, minum kopi.”
Si baju hitam menjawab dengan suara berat, “Terima kasih,” sedangkan si jaket kulit coklat hanya mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit, entah apa maksudnya. Dua orang itu bagi Dewo agak misterius.
Keinginan Dewo mampir warung untuk mendapat rasa tenang agak terusik setelah mendengar cerita Mak Izah ditinggal suaminya untuk selamanya. Cerita itu membuatnya sedih.
Wanita setengah baya ini pasti bekerja sangat keras. Terbayang bagaimana Mak Izah pontang-panting membesarkan anak-anaknya. Kepala menjadi kaki dan kaki menjadi kepala. Belum lagi hidupnya dan usahanya di tepi jalan raya pasti banyak godaan dan gangguan. Mak Izah bagi Dewo benar-benar seorang wanita luar biasa.
Tapi gak tahulah, kadang yang terlihat tidak sama dengan kenyataan, apalagi baru kenal beberapa menit, kata Dewo dalam hati. Lalu pikirnya lagi, para koruptor yang ditangkap dan di siarkan TV juga banyak yang berwajah bersih.
Dewo masih duduk di bangku kayu panjang. Sesekali melihat sepeda motornya yang dia parkir tepat di depan pintu warung. Di pinggir jalan raya jangan sampai lengah, beberapa detik saja lengah bisa membuat motor lenyap dari pandangan.
Kopi dalam gelas tinggal beberapa teguk. Dewo berniat mengangkat gelas terakhir kali, meneguk kopinya lalu beranjak lanjut berangkat kerja. Namun, tiba-tiba datang pengamen muda menghampirinya.
Dewo kurang suka pada pengamen, apalagi yang muda. Baginya itu gambaran sifat malas dan tidak mau kerja keras. Oleh karena itu dia berniat membayar, lalu segera pergi lanjut jalan ke tempat kerja.
Dompet sudah dia keluarkan, uang sudah dia ambil, dompet sudah dia masukkan lagi ke dalam saku belakang celananya. Tinggal bayar. Lalu ada sesuatu yang membuat uangnya urung dia bayarkan. Ada yang memaksanya pasang telinga.
Dewo membuka lebar telinganya ketika perlahan terdengar lembut suara gesekan biola mengalunkan musik sebuah lagu. Dia mengenal betul alunan musik itu. Itu adalah interlude lagu “Firth of Fifth”. Lagu lawas, lagunya grup band Genesis, asal Inggris.
Interlude lagu “Firth of Fifth” mengalun lembut.
Lelaki berkulit bersih ini tidak kuasa menahan diri. Dia kembali duduk dan menunda jalan. Alunan suara biola itu membawa khayalnya terayun-ayun di tengah telaga kenangan saat menuntut ilmu. Lagu ini dulu sering menemaninya belajar.
Ketika lagu selesai dimainkan, Dewo minta pengamen muda itu memainkannya lagi dan lagi. Permainan biolanya sungguh piawai, Dewo menikmati sekali. Lagu lawas tapi setiap mendengarnya, meski cuma interlude, sudah cukup membuatnya terbang.
Setelah puas mendengarkan, Dewo mengulurkan uang sambil berkata, “Bagus sekali, terima kasih ya.”
“Sama-sama Om, terima kasih juga sedekahnya, cukup untuk makan dua hari,” kata si pengamen muda.
Dewo kembali berkata, “Kamu masih muda, kamu gak sekolah?”
“Gak Om, gak ada sekolah untuk anak kayak saya, liar dan susah diatur,” kata pengamen muda itu.
“Oh gitu ya. Kayaknya memang semua sekolah meminta muridnya disiplin dan tidak liar,” timpal Dewo sambil mengamati.
Ternyata pengamen muda itu, selain biola, juga membawa gitar dan gendang.
“Itu ada gitar dan gendang, untuk apa?” Tanya Dewo.
Si pengamen menjawab, “Itu untuk meladeni permintaan penggemar lagu lain seperti pop, dangdut atau campursari.”
“Wah hebat kamu, ” timpal Dewo.
Dijawab lelaki muda itu, “Biasanya, kalau lagunya sesuai selera, pendengarnya akan terlena, seperti Om tadi.”
“Ha ..ha…ha, iya,” jawab Dewo sambil ketawa, lalu dilanjut, “Bagaimana dengan dua bapak ini, seleranya?”
Dewo celingukan mencari dua orang lelaki yang tadi duduk bersama di warung.
“Nah, Om terlena kan? Dua orang itu dari tadi sudah pergi Om,” jawab si pengamen.
Dewo heran dan takjub.
Kayak siluman saja, pergi gak ketahuan, jangan-jangan belum bayar ke Mak Izah, ujar Dewo dalam hati.
Saat Dewo mau bayar, ternyata Mak Izah juga tidak kelihatan batang hidungnya. Dia tanya ke Pengamen, “Loh, Mak Izah kemana?”
Si Pengamen geleng kepala.
Dewo lihat jam tangannya, tinggal 15 menit lagi dia harus masuk kerja. Tidak mungkin menunggu lagi, ada tiga lampu merah yang harus dia lewati. Kalau terlambat taruhannya reputasi dan potong gaji.
Kemudian ke Pengamen Dewo ngomong, “Aku titip ini, tolong nanti bayarkan ke Mak Izah, kembaliannya buat kamu.”
“Siaap,” jawab si Pengamen.
Dewo buru-buru naik motor dan ngebut menuju tempat kerja. Dia mengendarai motornya bersiak-siuk salip kanan salip kiri. Tiga lampu merah, kalau tiap lampu lima menit, habis waktu di jalan.
Beruntung sekali, satu atau dua menit sebelum jam masuk kerja dia sudah sampai. Masih bisa daftar hadir dengan sidik jari.
Dewo berjalan dengan langkah kaki lebar menuju meja kerjanya. Disapanya semua teman-teman. Semangat kerja tinggi sudah ada di dada. Dari mulutnya keluar suara lirih interlude “firth of fifth”.
Tiba di meja, disiapkannya semua peralatan kerja. Diambilnya tas punggung untuk mengambil alat kerja utamanya, laptop dan handphone. Saat dibuka itulah, bumi bagai digoyang gempa. Hanya ada sepotong keramik dan batu sebesar kepalan orang dewasa. Handphone juga tidak ada.
Laptop dan handphone adalah kehidupannya, semua hal ada di sana. Kalau keduanya hilang sama saja dengan tubuhnya tersisa tinggal daging tanpa tulang.
Dewo langsung nglokro tanpa daya. Tidak pakai ba-bi-bu, dia keluar dan kembali ngebut di jalan menuju warung Mak Izah. Dewo pun menjadi tidak peduli lagi terhadap keselamatan dirinya dan orang lain. Lampu merahpun dia terobos.
Sampailah dia di warung Mak Izah. Didapatinya pintu warung tutup. Dia ketok tidak ada yang menyahut. Dewo coba intip, tidak terlihat apapun, gelap di dalam. Dia gedor, juga tidak ada yang menjawab. Dewo bertambah bingung.
Lalu Dewo melihat ada satu orang, lelaki berdiri bersandar tiang rambu larangan berhenti. Lelaki tinggi ceking berdahi lebar itu terlihat sedang melamun. Bajunya berwarna putih berlengan panjang digulung hingga ke siku.
Didekati lelaki itu dan Dewo tanya macam-macam, berharap bisa membantu, paling tidak memberitahu di mana Mak Izah si penjaga warung. Si lelaki ini tampak mendengarkan dengan seksama dan penuh perhatian. Dia berharap banyak dari lelaki kerempeng ini, lalu bertanya, “Bagaimana Pak?”
Ternyata jawabannya sangat singkat dengan nada tidak enak di telinga, “Loh ya ‘nda tahu, kok tanya saya.”
Mendengar itu, ingin sekali Dewo pukul orang ini, tapi takut banyak urusan. Dia pun kelimpungan persis ayam jago kalah bertarung. Limbung, nglokro, lalu nongkrong di emperan warung sambil memegang kepala.
Pagi belum beranjak matahari belum setinggi galah tetapi panasnya terasa membakar tubuh. Bajunya basah hingga ke dalam, kepalanya kuyup seperti habis kehujanan. Dewo tidak punya siapa-siapa untuk diajak bicara.
Tidak ada pilihan dan tidak ada harapan. Dewo tuntun motornya menelusuri tepian jalan, masuk ke pekarangan terbuka. Ambil air wudu, lalu salat, rukuk, sujud, dan berserah diri kepada Allah SWT di sebuah masjid di dekat warung.
***
Judul: Pagi Sejuk yang Membakar
Pengarang: Sarkoro Doso Budiatmoko
Editor: Jumari Haryadi
Tentang Penulis/Pengarang:
Sarkoro Doso Budiatmoko lahir di Purbalingga, Jawa Tengah dari pasangan almarhum Bapak dan Ibu Pranoto. Pendidikan formal hingga tingkat SLTA dijalaninya di kota kelahirannya ini, sedangkan pendidikan tinggi ditempuhnya di Fakultas Kehutanan (E16) IPB, Bogor dan Iowa State University, Ames, Iowa, Amerika Serikat.

Kesukaannya membaca tidak terbatas, dari buku tebal hingga sekedar bungkus kacang.Kesukaan membaca ini diimbangi dengan kegemaran menulis.Topik tulisannya tidak terbatas pada latar belakang pendidikan dan pekerjaannya saja, tetapi juga menyangkut bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, dan humaniora.
Sebagian dari tulisannya telah dibukukan dengan judul: “NAH…mengambil makna dari hal-hal kecil”, diterbitkan oleh SIP Publishing, Purwokerto, 2021. Sedangkan sebagian cerpennya telah dibukukan dengan judul: Dunia Tak Seindah Rembulan” yang juga diterbitkan oleh SIP Publishing, 2024.
Pengalaman, pergaulan, dan wawasannya bertambah luas semenjak menjalani profesi sebagai staf pengajar dari 2016 di Language Development Center (LDC), Universitas Muhammadiyah Purwokerto, UMP.
Penulis dikaruniai tiga orang anak dan beberapa cucu saat ini menetap di Purwokerto. Aktivitasnya, selain menulis dan mengajar, juga mengikuti berbagai seminar dan webinar, serta memenuhi undangan sebagai narasumber di beberapa event.
***